Complicated Lovers

Complicated Lovers
Percakapan dan Kesepakatan


__ADS_3

"Tuan, sepertinya kita perlu berbicara empat mata." Yuuna tersenyum kikuk.


"Baiklah dengan senang hati." Airu berdiri dengan tegak menunggu Yuuna bergerak. Yuuna membawanya keluar dengan gerakan hati-hati. Ia takut orang-orang yang ada di dalam menguping pembicaraan mereka berdua.


"Hei, Nona! Tidak baik berbicara sambil berdiri seperti ini, lagipula aku juga haus." Airu tetap tersenyum sementara Yuuna memutar bola matanya dan menghembuskan nafas berat. Mau tak mau ia menarik tubuh jangkung Airu ke Cafe terdekat. Ia tak perduli dengan pandangan pejalan kaki yang terpesona dengan ketampanan Airu, ia tetap berjalan lurus dan akhirnya sampai ke tujuan.


"Tuan, kau yakin dengan biaya perbaikan mobilmu itu?" Bisik Yuuna pelan, wajah Airu berubah menjadi menyebalkan.


"Tentu saja aku yakin Nona. Ah! Aku lupa, kau juga harus melunasi bill ini dan juga mengganti kerugian lainnya." Lagi-lagi Airu menyodorkan dua kertas pada Yuuna. Wanita itu perlahan mengambil dan membaca dengan seksama. Bola matanya hampir saja keluar melihat tagihan tersebut, bahkan ia hampir tak bisa bernapas.


"Astaga! Bagaimana caranya aku membayar semua ini?" Tiba-tiba ia berdiri seraya mengamati androidnya.


"Sepertinya aku harus keluar, pimpinan kini mencariku." Ketika Yuuna hendak melenggang tentu saja Airu tak membiarkannya. Ia tahu itu hanyalah sandiwara wanita itu saja dan akhirnya ia melancarkan aksinya.


"Huwa! Malangnya nasibku, apa yang harus kukatakan pada bosku jika Nona tidak mau membayar hutangmu! Aku pasti akan dipenggal!!!! Tolonglah aku! Aku hanya pria miskin yang tak punya apa-apa! Selama ini aku tinggal di rumah yang kumuh dan jelek. Adik-adikku yang kecil masih harus bersekolah dan ibuku sakit kronis!! Oh Tuhanku!!!" Airu benar-benar berakting dengan bagus. Tatapan mata orang yang ada di dalam cafe tertuju pada Yuuna. Seolah menghakimi wanita bertubuh mungil tersebut.


Apa orang yang ada di cafe ini buta dan bodoh!? Dilihat dari pakaiannya saja sudah jelas bahwa dia bukan orang miskin. Pria ini benar-benar sulit dihadapi.


Airu menyunggingkan senyuman kemenangan, ingin sekali Yuuna mematahkan tubuh pria itu menjadi dua bagian.


"Tuan, aku tahu ini salahku. Tapi saat itu aku juga dalam situasi mengejar perampok." Jelas Yuuna, ia melanjutkan perkataannya.


"Dan aku hanya seorang polisi, pendapatan ku tidaklah besar. Aku takut tidak akan bisa melunasi tagihan sebesar ini. Kemungkinan aku hanya bisa membayar seperempatnya."


BRAK


Airu menggebrak meja dan sontak membuat Yuuna terkejut. Rautnya menjadi tajam, Yuuna tidak berani berkata-kata.


"Dengarkan aku baik-baik, Nona... Aku tidak perduli sama sekali, dan lagipula disini aku yang mengalami kerugian besar."


Yuuna menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berusaha keras memutar otaknya, mencari jalan keluar yang tepat. Airu menunggu jawaban darinya.


"Baiklah, aku akan melunasinya tapi... Berikan aku jangka waktu." Pinta Yuuna. Airu terlihat mempertimbangkannya sesekali ia mengetuk jarinya di atas meja.


"Baiklah, aku akan beri Nona waktu selama satu minggu, tidak lebih."


"Terimakasih Tuan!!! Kalau begitu aku pamit!"


"Tunggu!"


"Apa lagi Tuan?" Sepertinya Yuuna sudah mencapai batasnya. Airu memandang sesuatu yang ia genggam namun, Yuuna sepertinya tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Apa?" Sepertinya Yuuna salah sangka. Ia menutup tubuhnya dengan wajah takut. Airu bangkit dari kursi dan Yuuna melangkah mundur.


"M-mau apa!?" Airu tak bergeming tanpa ragu ia merampas android wanita tersebut. Airu menatapnya datar sementara Yuuna menjadi salah tingkah.


"Kau memikirkan apa!? Heh!" Dengus Airu sambil mengotak-atik android milik Yuuna.


"Ini... Aku sudah menyimpan ID media sosial, e-mail dan nomor teleponmu. Jadi jangan berpikir kau bisa melarikan diri dariku."


"Apa!?"


"Jika kau melanggar, tidak bisa melunasi hutangmu maka kau harus bekerja untukku."


"Gila! Aku ini seorang polisi!" Tukas Yuuna.


"Ya aku memang gila karena bertemu wanita sial sepertimu." Balas Airu lalu pergi meninggalkan Yuuna yang kesal.


Yuuna berjalan dengan lesu. Ia duduk di kursi kerjanya dengan muram, rekan kerja sebelahnya menjadi penasaran ada apa yang terjadi dengan Yuuna.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Kaiba! Apa aku boleh meminjam uang darimu?"


"Eh!?" Yuuna menceritakan semua kejadian itu pada Kaiba yang notabene adalah rekan kerja yang paling solid. Bahkan mereka selalu pergi ke warung oden terdekat hanya untuk berbagi cerita lucu. Walaupun Kaiba sudah menikah dan punya satu anak namun istrinya tak mempermasalahkan hal itu karena Yuuna sudah seperti bagian dari keluarga mereka.


"Pelan sedikit, bodoh!"


"Serius?"


"Iya aku serius." Yuuna mengangguk mengiyakan.


"Yuuna, sepertinya nasibmu benar-benar buruk."


"Kau punya segitu tidak?"


"Bodoh, tentu saja aku tidak punya segitu! Bahkan pendapatanku saja hanya pas-pasan. Uang jajanku saja diatur oleh Mirai." Kaiba menyilangkan kedua tangannya. Yuuna baru sadar kalau Kaiba itu suami takut istri.


"Tidak ada harapan."


"Kenapa kau tidak minta saja pada ayah atau kakakmu, Ryuga-san."


"Aish, aku tidak mungkin minta ke mereka. Justru mereka akan memarahiku." Gumam Yuuna.

__ADS_1


"Kalau Haru?"


"Haru!? Kau bercanda!? Bukan meminjamkan ku uang, ia justru akan membuat onar."


"Kenapa kau tidak menggadaikan barang berhargamu atau melelangnya?" Yuuna tiba-tiba bangkit dengan mata yang berbinar.


"Kaiba! Kau jenius!!!"


"Tentu saja!" Kaiba sok keren.


"Airu-kun, aku ingin makan ini."


"Pesanlah sesukamu, tuan putri."


"Oh iya, setelah ini kau tak perlu pulang menggunakan mobilmu lagi." Wanita itu tersenyum genit. Airu berusaha mencerna kata-katanya, jujur ia tidak bisa marah.


"Karenaaaa..." Airu terkejut ketika ia melihat kunci mobil yang berada di genggamannya.


"Kau serius?"


"Ini untukmu!" Airu nampak senang ketika menerima kunci mobil tersebut.


"Aku boleh melihatnya sekarang?"


"Tentu saja." Airu bergegas keluar dan mendapati sebuah mobil Lamborghini Sesto Elemento terpajang indah.


"Bagaimana?" Airu merangkul wanita tersebut dan mengelus puncak kepalanya.


"Terimakasih tuan putriku."


Ditempat lain, tepatnya rumah kediaman Hwang. Yuuna berjalan diam-diam menuju kamar kakaknya, Haru. Mengendap seperti kucing liar, ia memperhatikan sekeliling. Ia akhirnya bisa bernafas lega karena Haru tidak mengunci pintunya. Itu berarti kakaknya yang siscon itu tidak berada di kamarnya. Ia membuka pintu dan melihat terdapat banyak figure anime-anime. Poster dimana-mana dan alat menggambar dimana-mana. Tablet menggambarnya dan laptopnya bahkan masih dalam keadaan hidup.


"Pemborosan." Akan tetapi Yuuna penasaran dengan gambar yang ada di tablet Haru.


"Apa-apaan gambarnya ini. Bagaimana kakak kandungnya sendiri berpacaran dengan adiknya! Dasar maniak siscon!" Ingin rasanya Yuuna melempar tablet tersebut ke dinding.


"Lupakan saja. Aku harus mengambil beberapa figure exclusive miliknya agar bisa dijual." Tersenyum jahat.


"Maafkan aku Haru. Tapi untuk kali ini saja! Lain kali aku akan memberikanmu yang lebih bagus."


__ADS_1


"Semoga kalian suka sama storynya dan comment kalian sangat penting untuk kemajuan story ini. Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca!"


__ADS_2