
"Anna-san!"
Ketika waktu kerja sudah selesai, Airu dan Yuuma alias Yuuna bergegas menuju apartemen menggunakan mobil. Dalam perjalanan Airu terdiam. Sesampainya di apartemen, seperti yang di duga oleh mereka, sebuah kotak berada tepat di bawah pintu.
Akhirnya Yuuna mengambil sapu tangan untuk menutupi telapak tangannya. Dengan yakin ia membuka kotak tersebut. Nafas Airu berhenti ketika melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.
Kumpulan jari kuku tangan dan sebuah foto. Aku akan mengambil bukti ini.
"Aku benar-benar tidak dapat tidur dengan tenang jika seperti ini." Ujar Airu pelan.
"Jangan khawatir, setidaknya orang ini tidak mengincarmu."
Esok hari, Yuuna di sibukkan dengan beberapa reporter yang berkumpul di depan kantor kepolisian.
"Maaf mohon untuk tidak melewati batas ini." Ujar Kaiba, sementara Yuuna dalam posisi siaga. Kepala kepolisian Shimazaki Goro mulai memberikan informasi kepada reporter mengenai Spider Lily Killer.
Airu yang merasa tidak enak badan memutuskan untuk tidur. Ia terlampau lelah mendengar berita mengenai si pembunuh itu.
Apalagi ketika semua korban merupakan pelanggan tetapnya, dan memungkinkan dirinya akan di pecat.
Kerumunan reporter mulai pergi satu persatu, Yuuna merasa lega sekaligus haus karena terik matahari yang menyengat.
"Ayo kita beli es." Ajak Kaiba dan Yuuna mengiyakan ajakan sahabatnya.
Akari memeluk Sung Joo dari belakang. Sung Joo tersenyum kecil.
"Sayang...?" Panggil Akari manja.
"Hm?"
"Kapan kita akan pergi ke Disney Land?"
"Ketika aku tidak sibuk." Sung Joo mencubit pipi Akari.
"Kau selalu mengatakan itu." Cemberut Akari. Saat itu juga Ayah Yuuma menghubungi Sung Joo. Akari menyadari hal itu dan raut wajahnya menjadi muram.
"Kau tidak memberitahukan kepada mereka?" Tanyanya.
"Akari, aku mohon mengertilah. Tidak mudah untuk mengatakannya, kau tahu sendiri bahwa ayahnya mengidap penyakit jantung."
Akari menghela nafasnya berat. Sung Joo memeluknya.
"Suatu saat aku akan memberitahukan kepada mereka. Aku berjanji."
"Kaiba, kau mau yang mana?" Yuuna mengorek box ice cream dengan seenaknya.
"Aku mau chocobanana."
"Ini."
"Arigatou! Kau tahu akhir-akhir ini pencernaanku sedang tidak baik. Aku tidak bisa buang air besar dan itu sangat menyakitkan." Curhat Kaiba.
"Lebih baik kau minum obat pencahar saja. Konnichiwa, Kuro-san!" Yuuna menyapa Kuro
yang tersenyum.
__ADS_1
"Kau terlihat lelah hari ini, Yuuna-san."
"Ah, iya. Itu karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Kalian saling kenal?" Tanya Kaiba penasaran.
"Diam dan makan es mu!"
"Eh! Kenapa aku harus diam!? Kuro-san, boleh aku minta obat pencahar nya?" Pinta Kaiba.
"Baiklah." Ujar Kuro.
Bip
Yuuna mendapat pesan dari sang Ayah.
...Ayah: Malam ini jangan pulang larut malam, karena Ayah ingin mengajakmu menonton pertunjukan piano....
Mau tak mau ia menghubungi Airu untuk meminta ijin. Setelah selesai membayar mereka pergi dari minimarket.
"Anak ini! Lagi-lagi ijin." Celetuk Airu kesal ketika ia membaca pesan dari Yuuna. Tak perduli, ia justru bersiap-siap untuk bekerja. Ia memakai pakaiannya dengan rapi dan menata rambutnya sedemikian rupa.
Setelah itu dia berjalan menuju pintu. Ketika membuka pintu ia memergok seseorang tengah berjongkok. Suasana menjadi sunyi sejenak sampai akhirnya orang misterius itu berlari. Airu mengejar orang tersebut dengan cepat, dalam hatinya berkata bahwa orang itu adalah pelaku dari pembunuhan client nya.
"Berhenti!" Seru Airu. Jarak mereka tinggal beberapa inchi hingga Airu menarik tudung hoodienya hingga orang itu terjatuh. Tapi Airu tidak bisa melihat wajahnya karena ternyata orang itu memakai topeng. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Airu mengunci pergerakannya dan berusaha membuka topengnya.
"Siapa kau!? Kenapa kau melakukan ini?"
Akan tetapi Airu malah mendapat kepalan tinju yang membuatnya roboh.
Di tempat lain, Yuuna sudah berada di sebuah gedung pertunjukkan musik. Ia memberikan undangan yang dirinya dapatkan dari ayahnya.
Yuuna masuk ke dalam ruangan, menaiki balkon atas. Ia mencari ayahnya namun nihil, tak ada seorangpun yang berada di balkon atas.
"Yuuna!?" Suara yang tak asing membuat dirinya enggan untuk berbalik.
Yuuna melihat pertunjukkan dengan datar. Bukan karena ia tidak menyukai pertunjukkan dari sang pianis melainkan karena ayah telah membawa Sung Joo, Yuuna telah dibohongi.
"Kenapa Ayah berbohong pada Yuuna?" Tanya Ryuga.
"Memangnya salah? Aku hanya tidak ingin hubungan mereka menjadi senggang di karenakan kesibukan masing-masing."
"Lebih baik jika kau memberitahu yang sebenarnya." Ujar Ibu.
"Yuuna pasti akan sangat marah." Balas Haru.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Sung Joo mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Sangat baik." Jawab Yuuna.
"Rachmaninoff piano concerto number two opening eighteen."
"Salah satu lagu kesukaanmu, bukan?" Sung Joo memandang Yuuna yang menatap ke depan.
"..." Tak ada jawaban darinya.
Canggung sangat canggung.
__ADS_1
"Lebih baik aku pamit..." Ujar Sung Joo.
"Kau bisa duduk lebih lama jika kau suka pertunjukannya." Yuuna menyela.
^^^'Wanita ini walaupun telah kusakiti, hatinya tetaplah sangat luas.'^^^
Sung Joo justru semakin canggung ketika Yuuna mengatakan hal itu. Meskipun Yuuna benci dan mungkin saja dia muak, akan tetapi ia tidak pernah membalas dengan kejahatan dan menyudutkan orang yang berbuat salah.
"Ibuku mengundangmu ke acara ulang tahunnya lusa. Tapi jika kau tidak ingin datang aku akan mencari alasan untukmu." Ujar Sung Joo.
"Aku akan datang."
"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu." Sung Joo tersenyum kecil.
Yuuna mendapat panggilan Airu. Ia segera menerima dan mendapat teriakan dari seberang sana.
"OI! CEPAT KEMARI ADA YANG INGIN AKU BAHAS DENGANMU!"
"Tidak bisakah besok saja?"
"Tidak!!!"
Yuuna pun mau tak mau meninggalkan setengah pertunjukan. Sung Joo sejujurnya ingin bertanya siapa yang meneleponnya akan tetapi ia tahu bahwa ia tidak berhak untuk menginterupsi kehidupan Yuuna lagi.
"Apa kau ingin diantar?"
"Tidak perlu." Yuuna bergegas pergi dengan langkah tergesa.
Airu terlihat mondar-mandir, ia menunggu kehadiran Yuuna.
"Lama sekali dia!?"
Baru saja ia mengatakan keluhan, orang yang disinggung sudah ada di depannya.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Yuuna dengan pakaian yang membuat Airu tercengang.
"Ada apa!? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Yuuna mengenakan tanktop putih dengan potongan persegi dan rok warna senada yang menjuntai hingga di bawah mata kaki.
"Hei! Wajar aku mengenakan pakaian feminine, karena aku wanita." Tegas Yuuna. Ia tahu apa yang ada dipikiran Airu.
"Sini!" Airu pun menarik Yuuna untuk duduk di sofa.
"Aku punya petunjuk kecil mengenai Spider Lily Killer.
...Arigatou gozaimasu!!!...
...๐...
... Bagi readers karena sudah memberi waktu luang kalian untuk membaca, semoga readers merasa terhibur, ya......
...๐๐...
...๐ธJangan lupa tinggalkan track kalian berupa like, comment, vote dan share!๐ค๐ธ...
...๐ธSalam Wangwang (Hachi-san!!!๐ถ)๐ธ...
__ADS_1