Complicated Lovers

Complicated Lovers
Day 2 (Bodyguard) Babak 1


__ADS_3


Keesokan pagi, Yuuna datang ke apartemen Airu tepat waktu. Pertama ia membangunkan Airu, setelah itu ia membersihkan ruangan dengan tenang. Tidak ada percakapan pun diantara mereka. Airu sibuk memoles dirinya. Yuuna sengaja tidak ingin berbicara dengan Airu, karena itu bukan bagian dari tugasnya. Airu melirik ke arah Yuuna seraya memasang kaos berwarna hitam. Mulutnya terasa kering jika tidak berbicara, apalagi keadaan hening seperti ini membuatnya bosan.


"Hei!" Airu menghampiri Yuuna.


"Hmmm..?"


"Nanti malam ke apartemenku."


"Kenapa?"


"Kau tidak ingat? Diperaturan yang kubuat, kau adalah bodyguardku. Jadi malam ini kau akan memulai pekerjaan keduamu." Yuuna mendesah.


"Iya."


"Ada apa denganmu hari ini!? Biasanya kau akan menggila?" Wanita itu tak menghiraukan pertanyaannya ia justru berpaling.


"Kau dengar aku atau tidak?"


"Aku dengar."


"Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku? Kenapa kau tidak menggila?"


"Kalau begitu kau saja yang menggantikan kegilaanku."


"Kau Berani nya kau bicara seperti itu padaku, Airu Tenjo!!!"


"Aku sudah selesai." Yuuna berbalik dan Airu berjaga-jaga, takut Yuuna akan memukulnya dengan ganggang vacuum cleaner yang ia pegang.


"Kau kenapa?" Tanya Yuuna.


"T-tidak apa-apa."


"Hmmm... Kalau begitu aku pergi dulu."


Kali ini Yuuna mendapat giliran berpatroli bersama dengan Kaiba. Perkotaan cukup padat, beberapa siswa berjalan bergandengan bersama teman mereka masing-masing. Orang-orang berjas berjalan lurus ke depan. Para maid menebar senyum terbaiknya, menawarkan untuk masuk ke dalam cafe mereka. Tumpukan salju perlahan semakin menipis, mungkin karena sebentar lagi akan memasuki musim semi.


"Jadi bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?"


"Yah, begitulah. Kali ini aku datang tepat waktu."


"Syukurlah...Bagaimana siang nanti aku traktir ramen extra pedas?"


"Okay!!!" Yuuna yang lesu kini kembali bersemangat.


"Aduh pinggangku!" Seorang nenek mengeluh sakit sambil memegang kakinya. Yuuna segera menghampiri si nenek.


"Apakah ada yang terluka, Nek?" Tanya Yuuna.


"Ah, ini hanya penyakit yang biasa dialami orang yang sudah lanjut usia." Si nenek tersenyum.


"Nenek mau kemana?"


"Aku mau ke depan sana."


"Biar aku bantu!"


"Eh, tidak perlu!" Yuuna sudah memapah sang nenek. Sebelah tangannya membawa bungkusan kantong kecil berisi permen cokelat. Yuuna berjalan dengan hati-hati, ia tidak ingin membuat keadaan nenek lebih parah dari sebelumnya.


"Kesana bukan?"


"Iya. Terimakasih sudah membantu Nenek."


"Ini sudah menjadi tugasku, Nek." Sang nenek mengagumi kebaikan hati Yuuna.


"Seandainya Nenek punya cucu secantik dan sebaik dirimu."


"Hahaha... Kita sudah sampai." Yuuna tertawa pelan.


"Terimakasih."


"Kalau begitu aku pamit pergi."

__ADS_1


"Tunggu!" Nenek mengambil dua kantong permen cokelat dan memberikannya pada Yuuna.


"Nenek, tidak per-"


"Sudah, sudah! Terima pemberianku!"


"Kalau begitu aku akan menerimanya dengan senang hati."


Airu mengendarai mobilnya perlahan, menyusuri kota dalam keadaan yang bagus.


"Lima belas menit lagi, aku ada janji bertemu Erina-san." Gumamnya.


"Tunggu! Sepertinya aku kenal dengan wanita itu." Airu memandang seorang wanita yang berbincang dengan nenek.


"Dugaanku benar, pasti si dia." Matanya sangat tajam sehingga bisa mengenali Yuuna. Ia mengamati langkah Yuuna yang menghampiri Kaiba.


"Oi!!! Kerja! Bukannya berduaan!" Seru Airu menghampiri Yuuna yang berjalan bersama Kaiba. Yuuna tak bergeming sedikitpun, seolah-olah ia tak melihat atau mendengar Airu.


"Hei! Kau mengabaikan aku!?"


Kaiba tidak ingin ikut campur dan memilih untuk mundur dua langkah.


"Kau tuli!?"


"Halo!" Airu melambaikan tangannya dari dalam mobil.


"Kaiba! Ambilah!" Yuuna melempar kantong permen yang barusan ia terima.


"Woah... Thanks!" Kaiba membuka bungkusan tersebut dengan bahagia.


"Kau sengaja tidak ingin melihatku?"


"....."


"Cih! Kau lihat saja nanti. Aku akan membuatmu menyesal karena sudah mengabaikanku."


"Idemu benar-benar brilliant! Aku suka dengan designnya."


"Terimakasih paman."


"Ryuga-san lebih hebat dariku." Ujar Sung Joo canggung.


"Akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat kalian berdua pergi bersama." Ayah Yuuna mulai menginterogasi Sung Joo. Dia tertawa pelan seraya memasukkan kembali blueprint ke dalam tas.


"Aku dan Yuuna sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadinya kami tidak punya waktu untuk bertemu."


"Benarkah? Kalau begitu nanti malam kau harus datang ke rumah untuk makan malam bersama kami. Aku tidak mau dengar penolakan darimu!" Sung Joo tidak tahu harus berkata apa. Kenyataannya memang pihak keluarga masing-masing tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Pedas sekali!! Tapi, enak!" Yuuna menyeruput tiap untaian mie, sesekali ia meneguk kuah kemerahan tersebut.


"Benar bukan!? Disini ramen inilah yang menjadi andalan!" Kaiba juga melakukan hal yang sama. Keringat bercucuran namun tak membuat dua sobat itu berhenti.


"Yuuna?"


"Hm?"


"Apakah Sung Joo ada menghubungimu?"


"Tidak, jangan bahas dia lagi. Mendengar namanya saja aku muak."


"Tapi... Hubungan kalian belum benar-benar berakhir, bukan?"


Yuuna menaruh mangkuknya dan meminum segelas air putih.


"Aku sudah mengakhirinya. Aku bahkan sudah membuang cincin pertunangan."


"Apa keluargamu tahu?"


"Belum... Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Ayahku sangat menyukainya."


"Airu-kun! Disini!" Seorang gadis menarik lengan Airu untuk masuk ke dalam boutique.


"Bagaimana menurutmu?" Erina membentangkan dress selutut berwarna baby blue.

__ADS_1


"Sangat bagus."


"Benarkah!?"


"Apapun yang kamu pakai akan terlihat bagus." Puji Airu.


"Yuuna! Makan malam sudah siap. Jangan mengurung diri terus."


"Aku segera turun." Ketika Yuuna telah turun, ia terdiam sesaat.


"Yuuna! Kenapa diam saja. Kemari dan duduk di sebelah tunanganmu." Celetuk sang ayah. Yuuna tersenyum dan menuruti kemauan ayahnya. Sung Joo melihatnya dengan wajah yang bersalah. Sementara itu Haru menatap Sung Joo kesal.


"Ibu Yuuna membuatkan makanan kesukaanmu. Jadi makanlah yang banyak!"


"Terimakasih, ayah."


Yuuna diam membisu, ia menyicip sup yang tak jauh dari jangkauannya.


"Bagaimana setelah makan malam, kamu dan Sung Joo jalan-jalan?"


Ryuga memandang ke arah Yuuna yang kini berdiri seraya memasang jaket kulitnya.


"Aku ada urusan lain, ayah."


"Urusan apa?"


"Ra-ha-sia!" Yuuna mengedipkan sebelah matanya pada ayah.


"Jangan bilang kau mau pergi minum bersama Kaiba?"


"Eh! Kenapa ayah tahu!?" Yuuna memasang wajah konyolnya, sehingga ayah, ibu, dan kakak perempuannya tertawa.


"Kalau begitu, ajak Sung Joo juga." Yuuna tidak memandang ke arahnya.


"Yah, itupun kalau dia tidak sibuk."


"Aku pergi dulu."


"Aku akan mengantarmu." Sung Joo mengekori Yuuna hingga diluar pagar.


"Berhenti." Nada suara Yuuna terdengar dingin.


"Kau belum mengatakan ini kepada mereka?" Tanya Sung Joo.


"Tidak mengatakan bukan berarti aku mempertahankan hubungan ini. Bukankah kau lihat sendiri aku sudah membuang cincin pertunangan kita? Ayahku terlanjur mempercayaimu dan menyukaimu. Aku hanya tidak ingin membuat ayahku kecewa dan sedih." Jelas Yuuna pelan.


"Yuuna... Aku minta maaf." Sung Joo menundukkan kepalanya meminta pengampunan dari Yuuna.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagipula, ini salahku. Karena tidak bisa memahami dan tidak punya banyak waktu luang seperti yang dirimu harapkan."


"Yuuna, aku..."


"Satu lagi. Mulai sekarang ketika kita saling bertemu di tempat lain, anggaplah kita tidak saling mengenal."


Sung Joo mengepalkan tangannya. Ia merasa seperti seorang iblis keji yang menghancurkan malaikat. Yuuna menunggu kedatangan bus selanjutnya. Otaknya merasa lelah, sehingga ia tidak berniat untuk jalan kaki.


Airu mengecek jam tangannya, sesekali ia menghentakkan kaki.


"Kemana wanita itu?"


CKLEK


Yuuna baru saja membuka pintu dan kini ia ditarik oleh Airu.


"Ada apa ini!?? Pelan sedikit!"


"Kita tidak ada waktu lagi!" Airu tiba-tiba saja memasangkan kacamata dan masker hitam. Rambut Yuuna diikat tinggi lalu ia menutupnya dengan topi.


"Apa-apaan ini?" Tanya Yuuna kebingungan.


"Ketika kau jadi bodyguardku, kau harus menyamar jadi laki-laki." Ujar Airu.


"Hah?"

__ADS_1


"Sudah, turuti saja perkataan ku!"


Chapter ini akan di bagi jadi 2 babak, so... Enjoy!


__ADS_2