
‘Orang Tanpa Beban Hidup,' ‘Hidup Ternyaman Sedunia', ‘Orang Tersantai'. Banyak manusia yang memanggilku dengan julukan aneh-aneh itu.
Mereka selalu bilang kalau aku terlihat sama sekali tak punya beban dalam hidup. Terkadang paman dan bibiku pun mengatakan itu.
Dalam kenyataannya, tidak, ada banyak masalah yang tertimbun dalam diriku. Tunggu, bukan hanya banyak, tapi sangat banyak!
Sebenarnya, aku punya 3 orang sahabat, mereka selalu ada di sisiku, saat aku susah, dan senang.
Tapi tetap saja, saat aku didatangi masalah, aku tak mau untuk berbagi cerita pada orang lain. Mereka sering mendesakku untuk bercerita sebanyak-banyaknya. Aku tak mau, itu bisa mempersulit mereka juga.
Cukup aku yang tahu!
__ADS_1
Daripada bercerita, aku lebih suka menulis. Menuliskan segala curahan hatiku ke dalam sebuah buku hitam bergaris putih milikku. Disitulah segala masalah yang menekanku, aku tuangkan habis.
Oh ya, mengenai buku hitam itu, hanya aku yang mengetahui keberadaannya, orang selain aku, tak ada yang tahu. Mereka pun tidak tahu kalau aku menulis banyak hal di buku itu.
Buku itu tahu segala masalah dalam hidupku, dialah satu-satunya yang mengetahui keluh kesahku.
Memang sedikit aneh, tetapi itulah aku.
Hey, jika kalian menginginkan sebuah cerita romansa, maaf aku tak punya yang seperti itu. Aku hanya punya cerita tentang persahabatanku.
Rabu, 7 Juli 2021
__ADS_1
~ Hujan, sekarang hujan. Rintik-rintik air terus turun dengan semangat yang membara. Semakin banyak air itu turun, maka semakin lega lah awan. Aku ingin menjadi awan, ia bisa meluruhkan bebannya sesuka hatinya. Kapanpun yang ia mau. Jika aku menjadi sebuah awan, dapatkah aku meluruhkan butiran hujan yang terus memenuhiku? ~
~ Masalah ini semakin menghimpitku, menghimpit hatiku. Seandainya otakku bisa menghancurkan beban, sama seperti alat penghancur sampah, mungkin itu bisa membantuku melepas semua masalah. Syukurlah, masalah yang ku pendam ini, bukan kanker yang ganas, yang bisa menghancurkanku perlahan-lahan. Tapi... Tetap saja, masalah ini memang tidak membuat tubuhku sakit. Melainkan hatiku. Hatiku yang sakit. ~
~ Jika masalah bisa hilang semudah menarik dan menghembuskan napas, aku takkan menjadi begini. Menjadi seperti orang bisu yang tak mau menceritakan apapun pada manusia yang lainnya. Asal kau tahu, akupun tak ingin menjadi seorang manusia semacam ini. ~
~ Kalimat-kalimat ini aku tuliskan di buku hitamku. Memang, menulis tidak menghilangkan beban hatiku. Tapi bisa sedikit membuatku lega. Hanya sedikit, mungkin tidak sampai seperempat bagian kelegaan memenuhi hatiku yang sesak. Ini menyakitkan, aku tidak dapat membuka seluruh keluh kesahku pada orang lain. Seolah ada sebuah tangan yang menutup mulutku dengan rapat, sangat rapat. Kapan tangan ini bisa melepas mulutku? Aku sesak. Sepertinya ia hanya menutup mulutku, saat aku ingin membagi kisahku pada manusia lain. Mengapa tangan ini tak kunjung membiarkanku mengadu? Apa dia tak mau aku terbebas dari himpitan ini? Apakah tangan ini tidak senang bila aku hidup bebas tanpa masalah sedikitpun? ~
~ Jika aku keluar ruangan, membiarkan angin berhembus ke tubuhku ini, apa itu bisa menghilangkan masalahku? Ku rasa tidak. Itu hanya akan membuat kulitku sejuk, tidak dengan hatiku. Percuma saja... Entah kenapa, aku selalu berharap, angin dapat menghembuskan masalahku, pergi menghilang ditelan angin yang lain. Tapi itu takkan bisa, itu hanyalah angan-angan. Hanyalah sebuah impian bodoh. Percuma... ~
~ Cukup! Tak perlu berharap pada angin! Tak perlu berangan-angan menjadi sebuah awan! Tak perlu berpikir bahwa otakmu bisa menjadi seperti penghancur sampah! Tak perlu berandai bahwa kau bisa menghilangkan masalahmu semudah bernapas! Kau takkan bisa! ~
__ADS_1
Tertanda,
Alfian.