
“Halo... Kita ketemu lagi. Hihihi..." Yovinka tiba-tiba muncul dihadapan ku dengan tersenyum lebar, gigi gingsulnya menambah kesan manis.
“Iya..." jawabku.
“Teman lo." ucapku singkat.
“Temanku kenapa?"
“Mereka kan bilang sama lo, jangan deketin gue. Gue cowok aneh." aku mengarahkan tatapanku ke lain arah.
“Nggak kok. Kamu gak aneh. Dan mereka juga gak boleh ngatur-ngatur hidupku. Aku punya hak untuk temenan sama siapa aja." Oke, kalimatnya kali ini, sedikit membuatku tersentak.
Aku hanya menggaruk leherku.
“Kalo gara-gara gue lo dijauhin sama temen-temen lo gimana?" Aku ingin sedikit menguji Yovinka sekarang.
“Ya gapapa, kan ada kamu Kalau mereka gak mau lagi jadi temanku, ada kamu. Kalau kamu gak mau juga, ya aku paksa." Yovinka tertawa kecil.
Aku ikut tertawa kecil. Kebetulan, kami ada di kelas yang sama, tapi aku tak sadar, karena kalian tahu, aku kurang suka bergaul dengan teman-teman sekelasku.
“Awalnya, aku juga heran sama kamu. Kamu beda dengan yang lain, mereka sibuk cari temen, sedangkan kamu keliatannya gak peduli." Yovinka tersenyum kecil saat berbicara. Kurasa, gadis ini sangat suka menebar senyuman.
“Gue ga suka bergaul sama orang yang hobinya menilai sampul orang lain." Aku mengatakan itu dengan santai. Yovinka tampak memaklumi aku.
“Jangan masukin perkataan mereka ke hati ya? Mereka emang sering kayak gitu. Seenak jidatnya ngecap orang lain." Yovinka terbahak.
Yovinka selalu menjadi orang yang paling banyak bicara saat kami berinteraksi.
“Ngomong-ngomong, kamu kenapa milih masuk ke universitas jurusan sastra Indonesia?"
__ADS_1
“Because, my hobby is writing a novel with Indonesian language." jawabku.
“Hahahaha... Kamu milih belajar bahasa Indonesia buat nulis novel, tapi kamu sendiri ngomongnya pake bahasa Inggris." Aku tersenyum kecil.
“Is there something wrong?" tanyaku.
“Nope..." Yovinka mengedikkan bahunya dengan bibir yang tetap tersenyum padaku.
Oh ya, aku, Pierro, dan Vito ada di universitas yang sama, tapi dengan jurusan yang beda-beda.
Aku ambil jurusan sastra Indonesia, Pierro ambil jurusan psikologi, Vito ambil jurusan farmasi, sedangkan Manggala? Cowok itu ambil jurusan ekonomi di lain universitas lain.
“You said, you like to write a novel. So, are you already make a complete novel?"
“Belum ada yang jadi satu novel lengkap. Aku nulis sesuai mood. Jadi, banyak novel yang aku buat, berhenti disitu aja. Dan aku males untuk namatin ceritanya." Yovinka menertawakan aku. Aku tersenyum aneh, dan sedikit malu.
“What about you? Are you ever make a novel?" aku menatapnya saat bertanya.
“You have to try. Pelan-pelan, pasti bisa, apalagi lo belajar bahasa Indonesia lebih dalam lagi di sini." Aku menasehatinya. Lebih tepat, menawarkannya untuk menulis. Menurutku, menulis bisa mengasah otak untuk menerima lebih banyak kata-kata.
“Okay. I will try..."
...~•~•~•~•~...
“Hey, Al. Gue liat tadi lo akrab banget sama cewek." Pierro menyenggol lenganku.
“Gak akrab banget lah. Cuman temen biasa kok." Pierro dan Vito kaget mendengar kalimat yang terlontar dari mulutku.
“TEMEN?!"
__ADS_1
“Iya. Kenapa?" Aku sedikit memiringkan kepalaku.
“Lo serius punya temen di kelas lo?!" Vito memegang kedua bahuku.
“Iya.... Cuman dia aja, yang lain nggak, males. Mulutnya nyinyir semua."
Pierro dan Vito masih tampak tak percaya dengan ku. Karena, teman ku di universitas ini hanya Pierro, juga Vito. Tak ada yang lain.
“Berarti si cewek tadi, gak nyinyir dong?" balas Pierro. Aku hanya mengangguk sekali.
“AL!!" seseorang (mencoba) mengejutkanku dari belakang. Dia Yovinka.
“Panjang umur..." bisik Vito.
“Siapa nih, Yan?" tanya Pierro. Mereka memberikanku berbagai nama panggilan.
“Ini Yovinka. Yov, mereka temen-temen gue. Pierro, sama Vito." Aku memperkenalkan mereka.
“Hai Vin, salken ya." Pierro serta Vito tersenyum tipis.
“Salam kenal juga."
“Oh iya, Al. I want to learn, how to make a novel from you."
“Oke. You must read this book." Aku memberinya sebuah buku panduan menulis cerita dengan baik dan benar.
“Thanks. Kalau aku udah selesai baca, aku bakal balikin lagi sama kamu." Yovinka melambaikan tangannya padaku.
“Ciee..." Vito tersenyum miring.
__ADS_1
“Apasih?" Aku menatap horor Vito, tidak biasanya anak ini bertingkah seperti itu.
“Ga ada." wajah Vito kembali datar.