
Author POV
Hmm... Tidak terasa, buku hitam itu sebentar lagi akan mengakhiri tugasnya. Sebab kertas yang ada di buku itu sudah hampir habis.
Karena itu, Alfian pergi ke toko buku setelah mengambil beberapa lembar uang dari dalam brankas nya.
...~•~•~•~•~...
“Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir"
Alfian bernyanyi pelan sambil menepuk-nepuk pelan setir berwarna hitam yang dia pegang. Saat ini lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna merahnya.
Pria itu harus menunggu beberapa saat sampai lampu menunjukkan warna hijau.
...~•~•~•~•~...
Alfian berjalan memutari rak-rak yang memberi pemandangan berbagai jenis buku tulis.
Saat ini, dia terus melihat buku tulis berwarna hitam dengan sentuhan warna emas di sudut-sudutnya, membuat kesan mewah pada buku tulis tersebut.
“Udahlah, ambil ini aja." gumam lelaki itu pelan, tangannya bergerak mengambil buku hitam itu, dan sebuah buku lagi, berwarna merah maroon dengan bintik-bintik hitam. Totalnya hanya dua buku tulis.
Tapi, bukannya langsung menuju ke kasir, Alfian meneruskan langkahnya ke rak yang berisi novel-novel fiksi.
__ADS_1
Alfian mengambil salah satu buku berjudul Seaside, setelah membaca deskripsi buku, pria ini memutuskan untuk membelinya sekalian.
Tidak hanya itu saja, beberapa buku karangan anak indigo pun ia ambil.
Setelah puas, barulah dia pergi membayar buku-bukunya.
“Ini saja buku-bukunya?" tanya si kasir ramah. Alfian mengangguk.
“Baik totalnya, Rp245.000." Wanita itu membungkus buku-buku ke dalam sebuah plastik dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Alfian mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu, lalu meletakkan uang itu di meja kasir.
Sudah menerima kembalian dan bukunya, Alfian segera beranjak pergi dari toko buku tersebut.
...~•~•~•~•~...
Kamis, 15 Juli 2021
~ Jangan kau anggap diamku adalah tanda kelemahanku. Aku diam karena aku sedang mengumpulkan kekuatan terbesar untuk melawanmu. Jangan kau anggap remeh hatiku yang tampak lembut, karena sesungguhnya di dalam hati itu terdapat banyak kesukaran dan dendam. ~
~ Aku membencimu. Sangat membencimu, kau membuatku seolah-olah lemah. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, aku berpura-pura lemah agar kau merasa dirimu itu kuat. Tapi, setelah kau berhasil, kau malah menganggap remeh aku. ~
~ Hati ini bingung, sebenarnya, dimana letak kesalahanmu? Dimana letak kesalahanku? Kenapa bisa sampai serumit ini? Dimana titik terangnya? Kenapa kita tidak bisa menemukannya? Aku terus bertanya-tanya, kenapa, dan dimana. Banyak pertanyaan melanda otakku dan diriku. ~
~ Mengapa kita tidak berdamai saja? Aku ingin berdamai. Tapi, kau dimana sekarang? Kita sudah menjadi orang asing yang tidak saling mengenal sekarang. Bahkan mungkin kau dan aku sama-sama tidak mengetahui seberapa jauh jarak kita. ~
~ Aku disini, kau disana. Saat kau tertawa bahagia, aku menangis pilu. Saat kau sedang berkumpul bersama teman-temanmu, aku duduk sendirian ditengah kegelapan yang menghantuiku. ~
~ Kenapa kita tetap tidak bisa menemukan lentera kecil yang dapat menerangi ruangan yang kita bentuk? ~
~ Aku lelah, kau pun lelah. Kita sama-sama lelah, apa yang dapat kita lakukan untuk kembali bersemangat menjalani rutinitas kita masing-masing? ~
Tertanda,
Alfian.
Pria itu menutup buku tulis yang baru ia beli, karena setetes air mata sudah merusak tulisannya di buku.
__ADS_1
“Menulis itu memang menyakitkan, kalau lo gak ngungkapin hal yang lo tulis ke orang lain. Lain hal, kalau tulisan itu lo beritahu to other people." tiba-tiba Vito masuk ke kamar Alfian dengan membawa dua gelas teh hangat.
Tuk.
Suara gelas yang beradu dengan meja kayu menggema kecil di ruangan lebar itu.
“Maksud lo?" Alfian mengusap kasar kedua matanya, secara diam-diam tentu saja.
“Gue tahu kenapa lo sering duduk diem di kamar ini, tapi gue tetap nggak tau apa masalah lo sekarang." Vito menyeruput tehnya.
Alfian terdiam, ia tak menyangka ada seseorang yang mengetahui apa aktifitas yang dia lakukan di kamar ini.
“Kenapa lo selalu nyembunyiin masalah lo dari kami? Lo anggap gue siapa? Siapa Pierro, sama Xavier di dalam hidup lo? Gue kira lo anggap gue, Pierro, Xavier, itu sebagai best friends lo sendiri. Tapi kayaknya gue salah ya?" Vito langsung bercakap ke inti.
Alfian menelan sesuatu di mulutnya, “Karena gue nggak mau ada orang yang jadi terbebani gara-gara masalah gue yang nggak seberapa ini, dan gue juga anggap kalian itu lebih dari sahabat, gue udah ngerasa kalian itu keluarga gue sendiri."
Bahkan Alfian masih sempat tertawa di saat seperti sekarang.
“Gak usah sok ketawa-ketawa pas lo mau nangis. Gak usah sok tegar, gak usah sok kuat." Vito menatap mata Alfian dengan tajam.
Alfian menghentikan tawa yang sejak tadi terus keluar dari bibirnya.
“Cerita sama gue. Apa yang lo rasain. Kali ini gue maksa." Vito memutar jari telunjuk kanannya di pinggiran gelas.
Alfian menggeleng, “Gak. Udah gue bilang, masalah gue nggak besar-besar banget kok."
“Kalau itu gak besar, terus kenapa lo sering nangis sambil nulis di buku lo itu?" Vito menunjuk buku hitam yang lama.
Alfian tertegun, pria ini benar-benar terkejut, ternyata Vito mengetahui itu! Padahal biasanya Alfian selalu mengunci pintu saat ingin menulis, sehingga takkan ada orang yang tahu. Bagaimana sahabatnya bisa tahu?!
“Diem kan lo? Gak bisa jawab kan? Berarti apa yang gue omongin bener. Mungkin lo bingung, kenapa gue bisa tau, alasannya karena ada hari dimana lo nulis, dan lupa nutup pintu. Udah dua kali gue dapatin lo nulis, punggung lo getar."
Oh tidak, Alfian kecolongan! Vito berhasil menguak sedikit rahasianya. Hanya sedikit memang, tapi memiliki dampak yang sangat besar terhadap rahasia yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat selama ini.
“Gue... Gue, cuman, nulis cerita fiksi doang kok. Emm... Terus, gue.. kebawa suasana aja. Gak ada apa-apa kok." Alfian kembali menelan salivanya.
“Ohh... Cerita fiksi ya? Coba mana sini, gue mau baca ‘cerita fiksi' yang lo buat. Setau gue, lo gak pernah nulis sampai dua buku, kalau itu cerita fiksi. Soalnya lo itu orangnya bosenan." Vito mengangkat alis.
__ADS_1
Deg!