
Aku mulai memetik gitarku, menciptakan melodi lembut. Perlahan, suaraku mengikuti alunan gitar yang aku petik.
Aku menyanyikan sebuah lagu favoritku dibawah pohon rindang, kebetulan, angin sepoi-sepoi sedang berhembus, ini menenangkanku.
“I look up from the ground to see your sad and teary eyes
You look away from me and I see
There's something you're trying to hide
And I reach for your hand but it's cold, you pull away again
And I wonder what's on your mind
And then you say to me you made a dumb mistake
You start to tremble and your voice begins to break
You say the cigarettes on the counter weren't your friend's
They were my mate's
And I feel the color draining from my face
And my friend said
I know you love her, but it's over, mate
It doesn't matter, put the phone away
It's never easy to walk away, let her go
So I asked to look back at all the messages you'd sent
And I know it wasn't right, but it was fucking with my head
And everything deleted like the past, yea it was gone
And when I touched your face, I could tell you're moving on
But it's not the fact that you kissed him yesterday
It's the feeling of betrayal, that I just can't seem to shake
And everything I know tells me that I should walk away
But I just want to stay
And my friend said
I know you love her, but it's over, mate
It doesn't matter, put the phone away
It's never easy to walk away, let her go
It'll be okay
It's gonna hurt for a bit of time
So bottoms up, let's forget tonight
__ADS_1
You'll find another and you'll be just fine
Let her go
But nothing heals
The past like time
And they can't steal
The love you're born to find
But nothing heals
The past like time
And they can't steal
The love you're born to find
I know you love her, but it's over, mate
It doesn't matter, put the phone away
It's never easy to walk away, let her go
It'll be okay
It's gonna hurt for a bit of time
So bottoms up, let's forget tonight
You'll find another and you'll be just fine
Let her go
Baru saja aku menyelesaikan keseluruhan lagu, tiba-tiba...
“Hey, your voice is so awesome. Aku suka. Tapi, kamu kenapa sendirian disini?" Gadis ini menepuk pundakku, hanya sebuah tepukan pelan, itu takkan membuatku terkejut sama sekali.
“Thanks. Temen gue masih di kelas." Aku hanya menjawab singkat, itu tak masalah, kan?
“Ooh... Tapi, I think, it's a sad song. Kamu ada masalah? Boleh kok curhat ke aku. Hihihi..." dia tersenyum manis.
Aku menggeleng, sambil membalas senyumannya.
“Ooh... Gapapa kok, kalau kamu mau, boleh kok curhat ke aku. Aku mau dengerin... Masalah gak boleh dipendam lama-lama, nanti jadi stress."
“By the way, aku tinggal nggak apa-apa, kan? Soalnya, teman-teman ku udah nunggu aku disitu." Gadis ini menunjuk sekumpulan perempuan yang menatapku dengan tatapan aneh.
‘Yovinka', nama itu yang aku baca di name tag miliknya.
Ku lihat teman-teman Yovinka berbisik-bisik sembari melihatku. Aku rasa, mereka membicarakan aku. Tak masalah, itu tak penting buatku.
... ~•~•~•~•~...
Aku menunggang kuda besiku yang berwarna hitam ini untuk pulang ke rumah. Membelah jalanan dengan suara mesin yang menderu kencang.
Di depan rumah, aku melihat ada mobil yang terparkir rapi. Lantas, aku buru-buru menempatkan motorku ke garasi, lalu masuk ke rumah.
“Ehh... Ada anak lanang baru pulang!" Itu bibiku, dia sangat heboh, berbeda dengan yang lainnya.
__ADS_1
Ku tanggapi dengan tersenyum padanya. Aku tak mau dicap seorang tuan rumah yang tidak ramah pada tamunya.
“Sini, duduk dulu. Sebentar aja." Bunda menepuk bagian sofa kosong di sebelahnya.
“Masih pendiam juga ya? Sama kayak dulu, hahaha..." wanita ini terus mengoceh. Aku diam.
To be honest, aku sangat tak suka bila ada seseorang yang mengomentari sifatku, toh ini tidak merugikan siapapun? Jikalau ada yang dirugikan, itu hanya aku. Benar, kan? Bundaku saja tak pernah mempermasalahkan hal itu.
“Ngomong dong, Al. Masa' daritadi diem terus?" Aku ingin sekali menutup telingaku, setelah mendengar ucapannya telingaku berdengung kecil.
“Saya benar-benar tidak suka dengan ucapan Anda." ucapku santai. Saat berbicara, tangan kananku mengangkat sebuah gelas. Elegan, bukan? Hahaha...
“Al, kamu gak boleh ngomong gitu sama bibimu. Gak sopan!" tegur suami si wanita itu, paman Harley.
“Anda pikir ucapan istri Anda sudah dalam standar sopan?" balasku, ada sedikit bumbu penekanan di kalimat itu. Dan sedikit tambahan senyuman miring yang terpatri di bibir.
“Alfian bener! Itu sifat bawaan dia. Gak seharusnya kamu usik kehidupan pribadi dia! Itu hidupnya, dia yang jalanin, bukan kamu!" tambah bibi kesayanganku, bibi May.
“Kalau gak suka sama bang Al, bibi pergi aja dari sini! Ini rumahnya bang Al. Bukan rumah mu!" Adik sepupuku semakin menekan posisi wanita cerewet itu disini.
“Iya kan, bang?" Sekarang, kedua mata polos itu mengarah padaku.
“Iya, Ce..." Aku elus kepala Cece.
...~•~•~•~•~...
Sebelumnya, akan aku perkenalkan ketiga sahabat-sahabatku.
Vito Dirgantara
Dia sesosok manusia kalem diantara 2 sahabatku yang lain. Vito mengenakan kacamata lensa bulat berwarna hitam. Dia seseorang yang pendiam.
Pierro Zygonio
Anak ini penggemar berat sus goreng rasa coklat. Pierro juga sangat gemar menonton film barat, khususnya film thriller.
Manggala Pratama
Manusia yang satu ini sama sekali gak punya malu, suka teriak-teriak dimana aja. Hadeh...
Oh iya, Pierro itu suka banget bawa—
“WEEYY!!! PIAN?! YUHUUU!!! AING DATANG LAGI MEMBAWA SEJUTA KEBURUKAN! EH, KERINDUAN!!" kalian sudah bisa menebak siapa yang berbicara itu.
“Santai sekali Anda?" aku terkekeh pelan.
__ADS_1
Sedangkan anak itu hanya tersenyum sangat lebar. Membuatku mual.
“Al, gue ada bawa film baru. Nonton yok? Thriller kayak biasanya." ajak Pierro.