
“Yer, tolong telpon Tante yak, ngasih taunya pelan-pelan." Pierro menepuk sekali pundak Xavier.
“Ok."
Sejenak Xavier menjauh dari kami bertiga, ia terdengar bercakap-cakap dengan bunda.
Tidak lama setelah Xavier menelpon, Bunda datang dengan Bibi May dan Paman.
“Bunda..." ucapku, aku segera memeluk wanita yang merupakan bundaku ini dengan sangat erat. Aku tak mau kelihatan rapuh, aku harus tegar, agar Bunda juga ikut kuat.
“Bunda nggak papa, sebelum Xavier telpon, Bunda udah tau beritanya dari TV." Bunda melepas pelukan kami, dari suaranya, aku tau kalau Bunda sedang mencoba untuk tidak menangis.
“Itu tanganmu kenapa?" Bibi memegang lengan kiriku.
“Tadi... Aku sempat donor darah, Bi." Aku menarik tanganku perlahan.
“Astaga, Al. Pantes kamu agak pucat." Bibi mendorong tubuhku untuk kembali duduk di kursi panjang. Ia memberiku satu botol jus dingin.
“Aku nggak haus."
“Siapa yang bilang kamu haus?! Minum aja, buat ganjal perut sedikit." Bibi kembali menyodor botol itu padaku, akhirnya aku meneguk isinya sampai tandas.
Kudengar Bunda menghela napas panjang, tidak terlalu kencang memang, tapi masih bisa ditangkap oleh kedua telingaku.
“Kamu duduk juga, Mar." Bibi berdiri untuk membantu Bunda duduk di sampingku.
“Tadi darimana kamu tau tentang ini, Al?"
__ADS_1
“Pas siang, sekitar jam 12, ada polisi yang hubungin aku, Bun. Terus aku dikasih tau kalau ayah kecelakaan di jalan raya XX. Tentang pendalaman kecelakaannya masih diteliti lebih lanjut sama pihak kepolisian." jawabku dengan jelas.
“Sekarang ayah dimana?"
“Udah di ruangan lain Bun, aku nggak tau apa nama ruangannya. Mungkin dokter lagi siapin semuanya. Bunda ada bawa pakaian rapinya ayah?" tanyaku.
Bunda mengangguk sambil mengeluarkan sebuah jas hitam yang dipadukan dengan celana berwarna senada . Juga ada sebuah dasi yang berwarna biru dongker.
“Sini. Biar aku aja yang pegang." Bunda menyerahkan pakaian itu ke tanganku.
Benar saja, dokter keluar ruangan untuk meminta pakaian ayah. Ku berikan pakaian tersebut dengan kedua tanganku.
Kami harus menunggu agak lama untuk dapat melihat jenazah ayah. Kepala ayah sudah diikat dengan seutas kain putih, aku tak tahu apa fungsinya. Badannya dibalut dengan pakaian rapi. Kedua tangan ayah seperti sikap berdoa. Dan kedua jari jempol kaki ayah diikat juga dengan tali putih.
Aku melihat Bunda, matanya telah berkaca-kaca, ini pasti sangat menyakitkan bagi Bunda.
...~•~•~•~•~...
“Mas, aku gak pernah nyangka kalau kisah cinta kita berakhir sampai disini. Padahal aku pernah berangan-angan kita bakal gendong cucu bareng-bareng, main dengan anaknya Alfian... Tapi ternyata sebelum kedua anak kita menikah, kamu udah pergi ninggalin kami semua." Bunda menatap ayah dengan tatapan kosong.
“Yang kuat Tante. Tante harus bisa ngeliat Alfian sukses, nikah, dan punya anak nanti. Tante harus jadi orang ketiga yang gendong bayinya Alfian nanti." Pierro memegang pundak Bunda.
“Iya, Pierro. Bunda juga selalu berharap gitu." Bunda tersenyum kecil.
Vito melihatku dengan tatapan yang bisa aku artikan sendiri. Aku menggeleng padanya. Vito membalas gelengan kepalaku menggunakan kedua alisnya yang terangkat ke atas.
“Tante. Aku punya temen polisi, aku bakalan bantu buat selidikin kasus kecelakaannya. Boleh kan Tante?" sahut Xavier.
__ADS_1
“Boleh, tapi maaf udah ngerepotin ya, Xavier."
“Gak kok, Tan. Gak ngerepotin sama sekali." Xavier menelpon seseorang lagi melalui ponselnya. Sepertinya ia menghubungi teman polisinya itu.
2 hari setelah ayah meninggal, barulah beliau dikuburkan. Banyak taburan bunga diatas tempat peristirahatan terakhir ayah.
Aku mengelus pelan ukiran nama ayah di atas keramik. Lalu menghembuskan napas pelan. Aku juga tak pernah menyangka bahwa ayah akan pergi secepat ini.
Tiba-tiba, Xavier dan Vito menepuk pundakku secara bersamaan, “Kita perlu bicara, Al. Ajak Pierro juga."
“Ro, kita berempat harus ngobrol bentar." bisikku pada Pierro.
“Bi, nitip Bunda sebentar ya." Bibi mengangguk sekali.
Kami menjauh dari mereka, lalu Xavier memulai kalimatnya, “Kecelakaan Om itu sebenarnya bukan secara ketidaksengajaan, Al." Aku tertegun.
“Bener kan firasat gue." celetuk Vito.
“Terus, kecelakaannya ini sengaja dibuat sama orang lain gitu?"
“Iya, bener. Tapi untuk siapa orang yang buat kecelakaan ini, gue masih belum tau. Masih diselidiki lagi sama polisi." Xavier berdeham.
“Makasih banyak bantuan kalian semua. Mungkin kalau gak ada kalian, gue nggak tau lagi harus apa." Aku tersenyum.
“Santai aja, kita sahabatan." Vito menepuk kepala belakangku dengan pelan.
“Gue harap orang yang buat Om kecelakaan, dan sampai meninggal, dapat hukuman setimpal." Rahang Pierro mengeras. Mungkin dia terlalu emosional, sebab ayah selalu memperlakukan ketiga sahabatku layaknya anak kandung sendiri.
__ADS_1