Cukup Aku Yang Tahu!

Cukup Aku Yang Tahu!
Chapter 9


__ADS_3

“Ohh... Cerita fiksi ya? Coba mana sini, gue mau baca ‘cerita fiksi' yang lo buat. Setau gue, lo gak pernah nulis sampai dua buku, kalau itu cerita fiksi. Soalnya lo itu orangnya bosenan." Vito mengangkat alis.


Deg!


...~•~•~•~•~...


* (back to) Alfian POV


Bagaimana Vito bisa tahu apa kebiasaanku saat menulis?! Aku tak pernah sekalipun membocorkan tentang hal itu kepada orang lain, kecuali... VINKA?!


Apa mungkin, kalau Vinka yang ngasih tau Vito? Kayaknya gak mungkin sih, soalnya kan Vinka sama Vito tampaknya gak pernah deket.... Jadi, Vito tau dari siapa?


“Hoy! Ngelamunin apa lo? Nyari alasan?" Vito menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.


“Apaan sih lo, ngaco!" Aku mengubah arah pandangku.


“Bener kan yang gue bilang? Lo mau tau gue bisa dapat info darimana?" Pria didepanku ini tersenyum miring.


Aku berbalik melihat matanya dengan serius. Aku benar-benar penasaran darimana ia dapat mengetahui kebiasaanku.


“Gue tau dari, Vinka." Aku tertegun.


Vinka? Sejak kapan perempuan satu itu deket dengan Vito? Ah, bukan, aku bukan cemburu. Aku sama sekali tak punya perasaan pada gadis yang pernah mendekatiku. Aku hanya heran, kapan mereka bisa akrab?


“Lo tau? Gue sengaja kerja sama dengan Vinka buat deketin lo, biar gue tau, apa kebiasaan lo. Xavier juga tau kalo gue kerja sama dengan pacarnya." Sudah kuduga! Sebelumnya aku sudah menyangka bahwa Vinka itu berpacaran dengan Xavier! Tapi...


“Jadi lo sengaja setting Vinka buat deketin gue gitu?" tanyaku santai.


“Iya! Ini semua gue lakuin biar gue bisa bantu lo hadapin masalah lo itu!" Vito meremas kedua pundakku


“Liat kan? Lo sampai sibuk dan jadi terusik cuman gara-gara masalah gue." Aku tersenyum kecil, jujur aku merasa tidak enak, karena orang lain jadi repot gara-gara masalah sialan ini.


“Banyak bacot lo ah." Vito meneguk habis tehnya.


“Sini buku lo!"


Apa? Dia merintah tuan rumah?! Apa-apaan nih?!


“Seenak jidat aja lo nyuruh-nyuruh tuan rumah!" cibirku.


“Siniin cepetan." tangannya menengadah kearahku.


Akhirnya aku mengalah, kuberikan buku hitam ku yang lama padanya.


Beberapa menit ia habiskan untuk membaca isi keseluruhan bukuku.


“Lo... Sempat kepikiran buat bunuh diri nggak sih?" tanyanya tiba-tiba.


“Hmm... Jujur sih pernah, cuman ya.. nggak jadi gue bunuh diri, takut dosa." aku tertawa.


“Lo tau nggak sih? Kita semua punya masalah yang sama-sama besar, dan kita juga sama-sama nggak mau buat berkeluh kesah." Vito mengusap pelan cover buku hitamku, yang notabenenya buku (hmm... bisa dibilang) sajak-sajak yang aku tulis.


Aku menoleh, “Lo tau darimana?"


“Gue... Bisa baca roman muka seseorang. Sama kayak Xavier, Pierro, keliatan dari muka mereka itu kalo sedang ada suatu masalah, cuman ya mereka mungkin gak mau kasih tau, alasannya mungkin juga sama kayak lo."


“Suatu saat nanti, bakal ada waktu yang pas buat kita ngasih tau tentang masalah yang kita hadapin. Waktu itu pasti bakal ada. Cuman kita aja yang nggak tau kapan." Aku mulai meminum teh yang sudah mendingin itu.


“Dahlah, gue takut lo suka sama gue."

__ADS_1


“Hih! Jijik! Gue normal ya. Gak mungkin gue suka sama kue bantet kayak lo!" lawanku. Tak mungkin aku menjadi seorang _gay, itu menjijikkan.


Aku buka kembali buku yang aku tulis tadi.


~ Kita punya sebuah hubungan yang dinamakan persahabatan, kita punya ikatan yang cukup kuat, mungkin sudah sama seperti saudara kandung. Tetapi, kita semua masih belum mau untuk sekedar berbagi cerita tentang masalah-masalah yang menimpa kita. ~


~ Waktu. Ini hanya masalah waktu. Jika datang hari yang tepat untuk kita. Maka itu bisa kita pakai untuk berbincang-bincang mengenai hal serius, seperti masalah kita. ~


...~•~•~•~•~...


Jumat, 16 Juli 2021


~ Aku takkan bisa menggapaimu, aku sudah penat. Kau hanya mimpi untukku, takkan pernah bisa menjadi nyata. Segala rasa buatmu itu, harus aku akhiri, dan harus aku padamkan. Meskipun, angan-angan ku selalu bersajak tentang dirimu. Aku tak peduli. Rasa ini harus hilang, bagaimanapun caranya! ~


Tertanda,


Alfian.


...~•~•~•~•~...


Aku teringat sebuah lagu, maka aku mengambil buku tulis yang lain. Aku salin lirik dari lagu yang aku ingat itu.


...Antara Ada dan Tiada ...


...(Utopia)...


Setiap ku melihatmu


Ku terasa di hati


Kau punya segalanya


Dan anganku tak henti


Sajak tentang bayangmu


Walau kutahu


Kau tak pernah anggapku ada


Ku tak bisa menggapaimu


Takkan pernah bisa


Walau sudah letih aku


Tak mungkin lepas lagi


Kau hanya mimpi bagiku


Tak untuk jadi nyata


Dan sgala rasa buatmu


Harus padam dan berakhir


Dan anganku tak henti


Sajak tentang bayangmu

__ADS_1


Walau kutahu


Kau tak pernah anggapku ada


Ku tak bisa menggapaimu


Takkan pernah bisa


Walau sudah letih aku


Tak mungkin lepas lagi


Kau hanya mimpi bagiku


Tak untuk jadi nyata


Dan sgala rasa buatmu


Harus padam dan berakhir


Kan selalu


Ku rasa


Hadirmu


Antara ada dan tiada


Ku tak bisa menggapaimu


Takkan pernah bisa


Walau sudah letih Aku


Tak mungkin lepas lagi


Kau hanya mimpi bagiku


Tak untuk jadi nyata


Dan sgala rasa buatmu


Harus padam dan berakhir


Ku tak bisa menggapaimu


Takkan pernah bisa


Walau sudah letih aku


Tak mungkin lepas lagi


Kau hanya mimpi bagiku


Tak untuk jadi nyata


Dan sgala rasa buatmu


Harus padam dan berakhir

__ADS_1


Hmmm.... Memang di buku ini, aku ingin menuliskan beberapa lirik lagu yang aku gemari. Iya, ini buku yang aku beli kemarin. Buku berwarna merah maroon itu.


__ADS_2