
~ “Halo Al?"
“Lo dapet nomor gue dari mana?" Aku mengernyit. Darimana Yovinka dapat nomorku?
~ “Dari dosen. Hihihi..."
“Dosen? Siapa?"
~ “Pak Haryo."
“Ooh... Ya udah. Ada apa nelfon?"
~ “Gini Al. Aku udah baca semua bab di buku yang kamu kasih tadi siang."
“WHAT?! ALREADY?!" Sungguh, aku benar-benar kaget. Bagaimana bisa anak itu membaca dengan sangat cepat!!
~ “Yeah... Why?"
“Gimana bisa lo baca secepat itu?"
~ “Yaa... Gitu. Oke, back to topic, aku mau coba buat novel. Please, bantuin aku yaa??"
“Hmmm... Oke. Besok setelah selesai ngampus, kita jumpa di Cafe Zie. You got it?"
~ “Yeah. Thanks, Al."
Yovinka memutuskan sambungan telepon.
... ~•~•~•~•~...
“Hey, Al. Aku udah bawa nih, laptop buat ngetiknya." Yovinka menunjukkan padaku tas laptop jinjing berwarna baby blue miliknya (mungkin).
“Good. Duduk sini." Aku menepuk kursi di sebelahku.
“So, lo mau buat novel yang temanya apa?" Aku melihat mata coklat Yovinka.
“Mmmm.... Aku tuh mau buat novel tentang percintaan anak SMA." dia mengetuk-ngetuk dagunya.
“Ooh... Romance." Aku mengangguk.
“But, gue bakal bantu lo sesuai cara yang pernah gue lakuin. Is it okay?" Itu benar kan? Aku harus meminta persetujuannya dulu sebelum mengajarinya.
“Okay. No problem." Dia mulai membuka laptopnya.
“First, lo buat nama tokoh-tokohnya, dan sifat mereka masing-masing. Already?" Aku melihat layar laptop Yovinka.
__ADS_1
“Yep. I already made it yesterday." Yovinka menunjukkan beberapa nama tokoh-tokoh yang ia buat, beserta sifatnya. Sudah lengkap.
“Wait. It's my name." Aku menunjuk salah satu nama, itu namaku!
“Emang. Aku suka nama kamu. Tapi nama terakhirnya beda dengan nama kamu, mungkin."
“Okay, lo mau alur maju, mundur, atau campur?" Aku bertanya lagi.
“Maybe, aku bakal pakai alur campuran."
“Nice. Now, you can make the first chapter." Aku tersenyum singkat, lalu mengalihkan pandanganku ke ponselku.
Gak lama waktu yang dibutuhkan, Yovinka kebablasan buat sampai 9 chapter.
“Ups, sorry. Aku nulis sampai 9 chapter."
“Hahaha... Gapapa kok. Sini aku liat dulu." Aku membaca satu-per-satu chapter yang dia buat. And, not bad, dia udah nulis sesuai dengan tema yang udah ditentuin, dan susunan kalimat, serta bahasanya juga nggak amburadul.
“Very good. Lo bisa lanjutin sampai selesai. Nanti kalau udah selesai, lo boleh buat judulnya, wait, lo udah buat cover?" Yovinka menggeleng.
“Lo udah bisa buat covernya. Kalo udah selesai, bilang ke gue. Biar novel lo bisa dibuat jadi buku fisik. Gue punya temen penerbit buku-buku." Aku berdiri.
“Iya, thanks udah bantuin aku."
“Iya. Tanggung." Yovinka tersenyum kecil.
“Okay, bye... See you next time." Aku berbalik, meninggalkan Yovinka yang masih sibuk dengan novel buatannya.
Aku bakal nunggu sampai novelnya selesai. Biar novel itu bisa terbit. Siapa tahu dari novel itu dia dapat banyak penghasilan? Tapi sejak kapan aku mulai peduli dengan dia? Ah, tak apalah, dia cuman teman. Sesama temen harus saling membantu. Iya kan?
... ~•~•~•~•~...
Tidak!!! Aku teringat sesuatu. Sesuatu yang buat rasa sesal ku kembali lagi.
Jangan lagi, ku mohon... Mungkin _dia_ udah lupa denganku, kan? Dia udah senang kan sekarang? Tapi, kenapa sih aku ngerasa, aku salah? Kayaknya itu bukan satu kesalahan! Itu bukan kesalahan... Semoga bukan...
“WOI!" Manggala menepuk pundakku dengan sangat kencang.
“Apa?"
“Lo ngelamunin apa sih? Daritadi si Langit manggilin lo!"
“Eh? K-kenapa, Lang?" Aku menatap Langit yang sudah berdiri didekatku.
“Tante tadi bilang, kalau Langit sama Cece mau makan, kasih tau ke bang Alfi." Langit menatapku dengan polosnya.
__ADS_1
“I-iya. Mau dimasakin apa?"
“Ayam goreng." jawab Cece yang tiba-tiba masuk ke kamar.
“Oke. Yuk, kita turun ke bawah." Aku mengajak kedua sepupuku.
Aku memasakkan makanan makan malam untuk kami semua. Manggala, Pierro, dan Vito menginap disini. Dan syukurnya, waktu itu mereka bertiga beli ranjang 2 tingkat sama rangjang single tambahan serta kasur- kasurnya buat mereka kalau nginap.
“Langit sama Cece pergi ke kamar ya, bang? Mau bobok." pamit Langit pada kami.
“Iya. Jangan lupa sikat gigi dulu, cing!" ejek Pierro. Dan entah kenapa, Cece tidak membalas Pierro lagi. Mungkin dia lelah.
“Lo tadi kenapa?" Vito menatapku intens.
“Gue? Gue kenapa?" Aku mengangkat sebelah alis.
“Ditanya tuh jawab, jangan nanya balik, setan!" Pierro mengambil ancang-ancang untuk memukulku, tapi tidak jadi.
“Lah gue serius ga tau gue kenapa. Emang kenapa sih?"
“Lo ngelamun. Lo tenggelam dalam pikiran lo sendiri. Gue tau, selama ini, lo sering nunjukin fake smile sama kita. Sampai kapan lo bakal sembunyiin masalah lo dari kita. Stop, bro. Itu bakal nyakitin diri lo sendiri." Baiklah, semuanya sudah terbongkar di depan mereka.
“Gue ga mau bagiin masalah gue sama yang lain. Cukup gue yang tau dan selesaiin masalah gue. Orang lain cukup tau kalo gue itu ‘orang yang ga punya beban hidup', mereka ga perlu tau masalah besar gue."
“Kita ini sahabat lo, Al. Kita ga akan ngerasa keberatan, kalau lo mau curhat tentang masalah lo. Sahabatan itu, susah senang harus dilaluin sama-sama. Lo numpuk masalah lo sendiri, itu bakal buat lo stress." Manggala ikut menasehatiku.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Manggala itu benar, semuanya benar. Tapi aku masih tak ingin mereka tahu, seberapa besar masalah-masalahku.
“Okay. I know, but, gue masih belum mau kalian tau masalah yang lagi himpit gue." Aku tak bisa menahannya lagi, air mata itu turun sendiri, aku buru-buru menyekanya.
“We don't ask you to tell us now. Lo bisa curhat ke kita kapanpun lo mau. Kapanpun, kita semua siap denger cerita lo." Vito menepuk punggungku pelan.
“Ni ngapa pada nangis sih, aelah... Cengeng banget lo pada. Liat gue! Nangis juga" Pierro menyeka bulir-bulir air mata yang jatuh di pipinya.
“Bacot lo ah!" Manggala menepuk kepala Pierro menggunakan buku yang ia pegang.
Makasih buat kalian yang mau dengerin ceritaku, tapi maaf. Aku belum mau buka masalah ini di depan kalian.
Dadaku sesak karena menahan air mata agar tidak luruh membasahi pipiku.
Sesakit inikah hati saat memiliki beban yang tidak berkesudahan? Kenapa banyak orang yang tidak mengerti kenapa aku menjadi seperti ini? Tuhan, ku mohon bantu aku.... Masalah ini berat. Tapi aku tau, Engkau takkan memberikan masalah yang tak dapat ku selesaikan.
Tertanda,
Alfian.
__ADS_1