
Ponselku berdering cukup keras dari dalam saku celana, seketika itu juga, aku ambil benda pipih itu, dan mengangkat panggilan dari.. nomor yang tak
dikenal.
“Halo?" kataku.
~ “Apa benar ini dengan saudara Alfian Mercurius?"
“Ya. Benar, itu saya."
~ “Saya dari pihak kepolisian ingin menginfokan, bahwa seorang pria yang bernama William Mercurius mengalami kecelakaan cukup mengerikan di jalan raya XX. Sekarang korban tengah dibawa ke rumah sakit Z."
Aku terpaku, itu.. itu nama ayah! Apa mungkin teleponnya salah sambung? Tapi.. kalau itu tidak benar, darimana polisi bisa tau nomorku?
...~•~•~•~•~...
Aku berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari meja resepsionis.
“Hh... Suster, apa ada pasien atas nama William Mercurius? Yang baru mengalami kecelakaan disini?" Aku memegang erat pinggiran meja itu, membuat ujung jariku memutih.
“Mmm... Iya benar, pasien sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut di lantai 3. Anda..."
“Saya anaknya." sambarku.
Aku kembali berlari menuju lift, ketika aku sampai di lantai 3, kebetulan ada pintu ruangan yang sedikit terbuka. Perlahan-lahan ku dekati ruangan itu, dan sedikit mengintip. Ternyata memang benar, ada ayah disitu!
“Oh, anda keluarga pasien?" seorang dokter dengan badan yang cukup tinggi berbicara denganku. Lantas, aku mengangguk.
“Pasien membutuhkan beberapa kantong darah golongan A sekarang, karena kecelakaan tadi membuat pasien kehilangan darah yang cukup banyak."
“Darah saya saja, dok. Golongan darah saya A." jawabku lantang.
Dokter itu membawaku ke sebuah ruangan lagi, di dalam ruangan itu, darahku diperiksa. Setelah selesai pemeriksaan barulah beberapa orang perawat mengambil darahku, aku tak melihat berapa kantong darah yang mereka ambil. Dan aku tak peduli, asal ayahku selamat.
“Baik, terimakasih. Anda bisa menunggu di depan kamar operasi." Dokter berlalu pergi dengan perawat-perawat yang mengikut di belakangnya.
Saat aku berdiri, kepalaku sedikit pusing, aku harus berjalan dengan memegangi tembok rumah sakit agar tidak terjatuh.
Kali ini ponselku berdering lagi dan layarnya menampakkan nama ‘Vito', tapi kenapa tiba-tiba dia menelponku?
__ADS_1
“Halo?"
~ “Halo? Woi, Al, lo dimana?"
“Gue lagi.. di rumah sakit."
~ “Hah? Rumah sakit? Ngapain? Lo sakit?"
“Bukan gue. Ayah."
~ “Lah, Om? Om kenapa? Sakit apaan?"
“Kecelakaan."
~ “Astaga! Oke, gue sama yang lain nyusul kesana. Eh rumah sakit apa?"
“Rumah sakit Z."
~ “Oke."
Aku mengakhiri panggilan tersebut. Kurasa mereka akan langsung menyusul kesini.
Em... Sepertinya aku membawa buku dan pulpenku di tas.
...~•~•~•~•~...
Selasa, 20 Juli 2021
~ Kenapa alam semesta sangat tidak adil padaku? Ayahku kecelakaan hari ini. Kuharap pria tangguh itu selamat. Aku masih membutuhkannya dalam hidupku. Kau tahu? Aku sedang sangat khawatir sekarang. Takut jika ada kabar buruk yang menimpaku dan keluargaku. ~
~ Apakah semesta masih belum berpihak padaku? Lalu kapan _dia akan membantuku menghapus segala masalah ini? Sudah cukup lama aku menunggu dan terus menunggu. Tapi masalah ini tak kunjung usai. Sudah lama aku berusaha memerangi berbagai masalah, tetapi tetap tak usai. ~
~ Sampai seberapa lama lagi aku terus berperang? Saat aku _membunuh satu persoalan, tak lama kemudian, muncul masalah lainnya. Terkadang aku sudah lelah. Ingin rasanya menjadi seseorang yang tidak memikirkan tentang beban hidup. ~
Tertanda,
Alfian.
...~•~•~•~•~...
__ADS_1
“ALFIAN!" Xavier meneriakkan namaku dengan kencang. Aku menoleh ke arah mereka bertiga.
“Om kok bisa kecelakaan sih? Dimana kejadiannya?" tanya Pierro.
“Kejadiannya di jalan raya XX, kata polisi, tapi kalau rincian pasti tentang kecelakaan itu, gue masih belum tau. Polisi belum kasih kabar lebih lanjut." jawabku tanpa menoleh ke arah mereka.
“Emm.... Terus, Tante udah tau? Tentang kecelakaannya Om?" Vito menggigit bibir bawahnya sekilas.
“Nggak, bunda belum tau. _Please, kalian semua jangan kasih tau sama bunda dulu. Gue takut dia kenapa-kenapa setelah tau." Aku memegang pundak Pierro dan Vito.
“Iya. Kita gak bakalan ngasih tau ke Tante kok. Semoga bisa cepat ketahuan sih sebenarnya kejadian itu gimana." Xavier menatap ke depan, tepat ke pintu kamar operasi.
Lampu di atas pintu ruangan masih menampakkan warna merah terang. Kami terus menunggu, kurasa hampir 5 jam, atau mungkin lebih, aku tak tahu.
“Maaf ya, Al. Tapi nggak tau kenapa, gue punya firasat, kalo Om kecelakaan itu, bukan dengan ketidaksengajaan. Lo tau kan apa maksud gue?" Vito meneguk salivanya.
“Maksud lo, ada orang yang sengaja buat hal ini, gitu?" Aku menatap kedua mata Vito. Pria ini mengangguk pelan.
“Gue gak nyalahin firasat lo sih. Tapi, selama ini, gue belum pernah percaya sama yang namanya firasat. Tinggal nunggu kabar terbaru dari pihak kepolisian." tuturku. Jujur saja, aku memang tak percaya dengan firasat.
Tak lama kemudian, lampu merah di atas pintu itu padam. Aku spontan berdiri tegak sambil menunggu dokter keluar dari ruangan.
Dokter itu meremas jari-jarinya, aku bingung, ada apa dengan sikap dokter ini? Apa ada yang salah didalam? Apa darahnya kurang?
“Gimana, dok? Operasinya sukses, kan?" Xavier menatap lekat dokter di depan kami ini.
Sejenak ia menelan sesuatu didalam mulutnya, “Maaf, tapi..."
Aku dapat menebaknya sekarang! Sudah selesai...
“Iya, nggak usah dilanjutin lagi, saya tau kok apa yang dokter mau bilang." Aku tersenyum kecil.
“Maaf, tuan. Kami sudah sekeras mungkin berusaha agar pasien tetap selamat. Tapi..."
Aku mengangguk, “Nggak masalah, itu terjadi diluar kehendak anda, mungkin ini yang terbaik buat pasien. Makasih buat tenaganya." Bibir ini tersenyum kembali.
“Sama-sama tuan. Sudah menjadi tugas kami." Dokter kembali masuk ke ruangan.
“Al..." Mereka semua memelukku dengan sangat kencang. Aku terus tersenyum, tanganku menepuk pundak mereka semua.
__ADS_1
“Gue ok kok, gak perlu khawatir sama gue. Tapi sekarang, gue malah takut dengan bunda. Gimana cara gue ngomongnya?"
“Kami bakal bantuin lo. Tenang aja."