
*Author POV
“WOI!!! PITOO!!! MATI KAH?"
“Lo nyumpahin gue mati?" Vito muncul di belakang Manggala dengan wajah yang sangat tidak santai •_•
“Lah? Lo kapan keluar kamar coy?"
“Tadi gue di kamar mandi, kebelet. Pas lo berdua lagi tidur." Vito kembali meminum jus apel di gelas yang ia pegang.
“Oalah... Gue kira lo mati." tutur Manggala.
“Kurang ajar emang lo."
“Pier mana?" Alis kiri Vito terangkat ketika menatap Manggala.
“Ntah. Berkebun kali?" Manggala menjawab acuh.
“Di rumah gua mana ada kebun astaga!" Muncullah Alfian dengan muka bantalnya.
“Huaaahahahaa!!!"
“Kenapa lo berdua? Sakit? Gila kah?" Alfian duduk saat ia minum.
“Muka lo! Kayak monyet kejepit!" Manggala memegangi perutnya.
“Sukur gue baik ya sama lo! Kalo nggak, udah gue usir lo dari sini!" Alfian meneguk segelas air putih.
“Lo liat Pier?" sela Vito.
“Ya nggak lah, kan gue baru bangun. Gimana sih?"
“Kenapa cariin gue? Kangen yaaa??" Akhirnya Pierro muncul dengan tubuh yang basah kuyup.
“Lo habis ngapain cuy? Basah gitu." Alfian menatap aneh Pierro.
“Berenang lah. Apa lagi?" Pierro mengeringkan tubuh menggunakan handuk yang entah dari mana ia dapatkan.
“Tunggu, tunggu. Itu handuk siapa? Lo dapat dari mana?" Semua mata memandang pada handuk yang dipegang Pierro.
“Dari kamar lo lah. Gue ambil yang baru, belum dibuka sama sekali dari plastik nya. Hehehehe,"
“Soalnya, gue gak nemu handuk yang udah dicuci plus disetrika di kamar lo. Ga mungkin kan, nyari handuk di kamar emak lo?"
__ADS_1
“Astaga.... Di kamar kalian kan ada handuk-handuk bersih, Pierro Zygonio!!!!" Alfian merebut handuk itu dan memukulkannya berkali-kali.
“Lah masa'? Kok gue ga liat tuh?" Pierro menggaruk puncak kepalanya.
“Dahlah," Alfian meninggalkan mereka bertiga.
“Hayo lo... Babang Pian merajok..." Muncullah si kecil Cece dan kakak lelakinya.
“Halah, banyak cakap kau cacing kremi!" Pierro yang masih basah kuyup mengangkat tubuh Cece dan memeluknya dengan erat.
“BASAHH!!! IIIHHH!!! LEPASIN PIERRO!" teriak Cece.
“Wow..." Vito bertepuk tangan pelan.
“Impresif." sambung Manggala.
“Lepasin Cece, bang Pier!" suruh Langit.
“Gak! Biarin dia basah!"
Pada akhirnya, Cece menggigit leher Pierro dengan gigi-gigi kecilnya.
“AAA ADUUH!!!" Pierro melepaskan Cece secepatnya, lalu memegangi lehernya yang sudah membiru.
Pierro tampaknya tak mengindahkan kalimat Manggala, dia tetap fokus pada lehernya.
“Wey! Klean tawuran kok gak ngajak-ngajak?! Yok lah gelud kita!" Alfian datang menggunakan kaus dan celana yang sudah berganti.
“Tawuran apaan!" cibir Vito, dagunya mengarah ke Pierro, dimana pria itu terduduk di lantai, tangannya masih memegangi leher.
“Kenapa ni anak?" Alfian mendekati mereka.
“Leher gue digigit ama sepupu lo!"
“Ahahaha, emang lo ngapain dia?"
“Ga ada woy!"
“Ada, bang! Tadi bang Pier peluk-peluk Cece." adu Langit.
“Fitnah!" bantah Pierro.
“Ngga, Al. Emang si Pierro peluk si Cece, mana badannya masih basah lagi." timpal Vito.
__ADS_1
“Salah sendiri." Alfian mengedikkan bahu.
... ~•~•~•~•~...
*(back to) Alfian POV
Dari layar ponselnya, Alfian melihat bahwa dia baru saja mengunggah sebuah foto langit malam dengan sedikit bantuan efek untuk memperindah tampilan langit itu.
“....…....." Alfian terus menatap beranda media sosialnya, yang menampilkan foto itu.
“Hey? You okay?" Yovinka, gadis itu kembali mendatangi Alfian.
“Ciee.... Buka akun medsos siapa tuh?" goda Yovinka.
Buru-buru, Alfian menutup media sosialnya.
“Nggak."
Tanpa Alfian ketahui, Yovinka sekilas melihat apa yang pria itu buka di sosial medianya, “She is your girlfriend?"
“Nope, I think." Alfian tersenyum lebar, tapi Yovinka tahu, itu bukan senyuman tulus.
“It's a fake smile. I know." ucap Yovinka lirih.
Alfian tak menjawabnya, lelaki itu tetap diam, dan menatap lurus ke depan.
“If you have a problem, you can share it to other people. Itu bisa bikin kamu sedikit lega."
“No, I don't want. Ini masalah gue, kalian gak perlu tau. Cukup gue yang tau." Alfian sama sekali tak mengubah arah pandangnya.
“Huh.... Okay, up to you. Eh, maaf ya. Pacarku udah jemput." Yovinka menunjuk pria yang menunggunya, jaraknya agak jauh dari mereka.
Tapi tunggu, sepertinya Alfian mengenal pria itu, tubuhnya mirip dengan tubuh... Ah sudahlah, mungkin dia hanya salah lihat.
“Actually I want to share my problem to you. Tapi gue ga mau bikin beban pikiran lo jadi nambah." bisik Alfian. Ia kembali membuka media sosialnya.
... ~•~•~•~•~...
“Alfian, I'm still waiting for you... Where are you?" dia menatap foto wajah Alfian, matanya berkaca-kaca.
“Come on..."
__ADS_1
“Alfian..." dia terus menggeser layar ponsel, tampak banyak foto Alfian terpampang disitu.