
Selasa, 13 Juli 2021
~Aku tahu aku punya banyak kekurangan, tapi tolong, jangan hina aku karena kekurangan itu. Bahkan orang suksespun ada kekurangan, kan? Semua orang punya kelemahan. Tolong, jangan hina kekuranganku, jika kau menghinaku lagi dengan hal yang sama, jangan kaget ketika akupun menghina kekuranganmu. Memang seharusnya, kita tidak boleh membalas perbuatan jahat, dengan yang jahat. Tetapi ketahuilah, AKU BUKAN ORANG BAIK, yang membalas perbuatan baik ataupun jahat menggunakan kebaikan. Orang baik, ada batas kesabaran. Ia bisa meledak di waktu yang tidak terduga. ~
“Hehelo?!! Adakah setan disini? Eh maksudnya orang?!" Anak ini berteriak lagi, dirumahku, lagi.
“Apa lo? Baru masuk ke rumah orang langsung teriak-teriak." cibirku.
“Eh? Sehat mang?" Pierro menganggukkan kepalanya singkat ke arahku. Aku sebenarnya tak mengerti apa maksudnya.
“Entah." bahuku mengedik acuh.
“Kalem, mang. Cuman nanya. Heheheh..." Xavier, anak manusia satu ini menepuk pundakku dan berlalu pergi, mengarah ke dapur? Dia memang tak punya akhlak.
“Mau ngapain?" ku cegat langkah kaki Xavier.
“Mau ngapain lagi? Ya pasti cari makanan lahhh." dia menunjukkan deretan gigi nya yang rapi.
Aku hanya mendengus kesal, jika aku memberi peringatan padanya pun, takkan ditanggapi sama sekali oleh lelaki satu itu.
...~•~•~•~•~...
Ku buka media sosialku di waktu senggang hari ini. Lalu, aku kembali melihat hal yang aku posting sebelumnya. Beberapa orang memberikan like, dan aku terpaku pada sebuah nama. Dia memberikan like di gambarku.
“............."
“WOI! NGAPA LO SINI HAAHH???!" anak kurang ajar ini mengejutkanku dari belakang.
“Harusnya gue yang nanya ke lo, ngapain disini?" Aku mengangkat alis kananku.
“He? Iya ya..." Xavier menggaruk tengkuknya.
“Gak sopan lo sama tuan rumah." cibirku kesal.
“Halah bodo amat. Gak ada tuan rumah disini, semuanya setara heheheh."
“Ehm... Ehm..." Xavier menyambar gitar yang tergeletak di rumput.
“Everyone can see
__ADS_1
There's a change in me
They all say
I'm not the same kid I used to be-"
“Buset. Bagus juga suara lo." selaku. Tapi ia tak menjawab, dan terus melanjutkan lagunya.
“Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Cause I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all?
Will he ever notice me
Could he ever fall?
__ADS_1
Tell me, teddy bear
Why love is so unfair
Will I ever find a way
And answer to my pray
For my first love
What I dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Cause I'm feeling my first love
My first love...."
“Nape lo? Galau? Baru patah hati ye?" tebakku asal.
“Eh enak aja lo! Iya sih." jawabnya lesu.
“Lah? Lo pacaran? Kapan woy?! Kok kami ga tau?"
“Iya gue pacaran sama-"
“HEHEHEYYYY!!! Klean gak homo kan?" Pierro bergidik geli. Sungguh saat ini aku ingin membunuhnya.
“Gak lah bodo!" Xavie menjitak kepala Pierro dengan, emm.. cukup, keras, aku pikir.
“Gue udah masak buat makan siang." muncul Vito yang masih menggunakan apron sambil memegang spatula.
__ADS_1
“Okey..." gumamku.