
[Assalamualaikum. Abang sedang kerja ya? Maafkan aku, bang. Maaf sudah membuat Abang marah. Aku ingin meminta maaf dari semalam, tapi tak berani, juga tak tega membangunkan Abang yang tidur dengan lelap. Bang, tadi sarapan pakai apa? Aku sudah siapkan makan siang juga, Abang mau dikirim pakai ojek? Bang, balas ya. Aku menunggunya.] Pesan dari Jihan.
Usai membacanya, langsung saja ku tutup tanpa membalasnya. Jadi semalaman ia tak tidur, menunggui aku karena ia ingin minta maaf. Jihan memang tipe orang yang menganut prinsip jika istri berkelahi dengan suami, maka ia tak akan tidur sebelum suaminya Ridha. Tapi biar saja, kata Bram, perempuan itu kalau diperlakukan lembek maka ia akan bersikap sembarangan pada suaminya. Contohnya ya itu tadi, memaksakan kehendaknya. Mau pulang, meski sebelumnya aku sudah janji akan pulang, tapi siapa yang tahu tentang rezeki, kalau belum diberi Allah ya sabar dulu.
***
Pulang kerja, aku dan Bram menuju tempat karaoke. Awalnya kami hanya berdua dan cuma satu jam saja. Tapi tak lama, teman-teman kampus yang lama berdatangan, sepertinya Bram yang mengundang mereka. Sehingga kami jadi kumpul-kumpul reuni sambil karaoke hingga dini hari.
Badanku sudah teramat lelah, mata sangat mengantuk, makanya jalan pulang harus berhenti beberapa kali karena ngantuk. Ditambah tiba-tiba ibu menelepon. Menanyakan keberadaan ku. Jihan yang mengabaru ibu kalau aku terlambat pulang dan tak ada kabar.
"Jihan tukang ngadu sekali, Hasan itu nggak kemana-mana, ini baru pulang, Bu. Lagi banyak kerjaan di kantor, makanya Hasan harus lembur. Lagian apa sih yang ia pikirkan? Curiga suaminya ngelakuin hal yang terlarang? Kalau iya, makanya jangan banyak nuntut!" Kataku
__ADS_1
"Memang Jihan nuntut apa, San?" ibu balik bertanya.
"Ya itu Bu, dia pengen pulang katanya. Padahal kan Hasan baru ambil mobil dan rumah. Semuanya masih nyicik, duitnya ya nggak cukup kalau harus pulang sekarang. Makanya Hasan nyari tambahan, eh malah dia berprasangka begitu."aku mengadu pada ibu.
"Ya mungkin dia nggak bermaksud begitu, San. Cuma khawatir saja. Tadi suaranya serak banget, sepertinya habis nangis. Kasihan juga sikembar kalau ibunya sedih begitu. Nanti berpengaruh ke ASI-nya. Ingat lho San, jangan sampai ASI-nya seret, susu formula mahal. Kamu kan masih banyak cicilan. Sama ini San, ibu sekalian ngabarin kalau sawah yang di dekat rumah ibu itu ada yang dijual. Kalau kamu ada dana lebih, beli sawah itu ya San. Ya hitung-hitung menaikkan nama keluarga juga. Kalau kita punya harta itu orang akan melihat kita dengan lebih hormat. Setelah ayah kamu meninggal, keluarga kita benar-benar nggak dilihat orang, San. Apalagi setelah kamu menjual rumah peninggalan ayahmu untuk biaya pernikahan kamu dengan Jihan. Jadi tolong pertimbangkan pesan ibu ini ya."
Aku mengiyakan saja permintaan ini agar pembicaraan ini tak perlu diperpanjang. Semua gara-gara Jihan, kenapa juga ia harus melapor pada ibu sehingga pembicaraan merembet kemana-mana.
Bruk. Aku yang sedang larut dalam lamunan tiba-tiba tersadar ketika ada yang memukul badan mobil.. segerombolan pemuda yang jadi anggota geng motor. Entah kapan mereka datangnya, aku tak menyadari, tapi yang jelas kini ada beberapa orang turun sambil mengacungkan kayu besar, parang dan rantai motor ke arahku. Mereka memberi isyarat agar aku menurunkan kaca mobil, tentu saja tak ku turuti sebab aku takut mereka melakukan hak yang nekat.
"Dasar miskin, sok belagu naik mobil. Sadar diri, jangan berani-berani lewat sini lagi. Cepat sana pergi!" Kata salah satu anggota geng yang tadi memukul kaca depanku. Ia kembali memukul keras bagian pintu yang ku yakini pasti meninggalkan bekas penyok. Tapi aku tak peduli, yang jelas sekarang harus tancap gas sebelum mereka berubah pikiran dan menjahati aku seperti korban-korban lainnya yang bahkan tinggal nama.
__ADS_1
Aghh, menyesal sekali kenapa harus lewat jalan sini. Harusnya aku memutar saja lewat kota karena jalan ini terkenal dengan rawannya. Tak ada yang berani lewat di atas jam sepuluh malam.
Pukul empat pagi, aku sampai di rumah masih dengan gemetaran. Rupanya Jihan belum tidur, ia menunggui aku sejak semalam. Memang pesan dan panggilan telepon darinya masuk berkali-kali, tapi karena masih kesal, akhirnya aku abaikan.
"Bang, Abang sudah pulang. Abang kenapa pulang terlambat?" tanya Jihan yang menghampiri aku.
"Kamu lihat itu, mobil hancur kena begal karena ulah kamu. Suami kerja siang malam untuk memenuhi keinginan kamu pulang kampung tapi kamu malah laporan sama ibuku. Akibatnya aku harus buru-buru pulang sehingga dijalan dibegal. Sekarang sudah senang? Suami kamu kena rampok, untung saja nyawaku tak melayang." aku mengomel sambil berlalu masuk ke rumah.
Jihan tak lagi bicara apapun juga. Ia hanya membantuku berganti pakaian, menawarkan makan dan mandi air hangat. Tapi tawaran itu ku tolak semuanya. Aku hanya ingin tidur untuk mengembalikan tenagaku yang sudah terkuras karena ketakutan berhadapan dengan begal tadi.
***
__ADS_1
Rasanya baru saja mata terpejam ketika Jihan membangunkan ku. Ia mengatakan sudah pukul lima lewat, Jihan memintaku untuk bangun dan salat sebab sebentar lagi matahari terbit. Namun karena mataku sudah teramat ngantuk, panggilan Jihan aku abaikan. Bahkan aku sempat mengomel karena merasa terganggu dibangunkan.
"Selain banyak permintaan dan suka mengganggu suami, apalagi yang kamu bisa, hah? Sudah sana pergi. Jangan ganggu aku. Mataku sangat ngantuk sekali karena harus kerja siang malam!" Kataku sambil menarik selimut. Setelah itu aku tak lagi mendengar suara Jihan. Mungkin ia takut membangunkan aku lagi.