
Hari pertama kembali masuk kerja, aku sudah dihadapkan dengan segudang masalah yang benar-benar menguji kesabaran. Sayangnya, kesabaranku juga sedang menipis, tidak sesuai sedikit saja maka aku langsung melakukan perlawanan hingga keributan pun terjadi. Sekali, dua kali hingga tiga kali, akhirnya panggilan dari pihak HRD pun datang. Aku mendapat skorsing. Potongan gaji dan dirumahkan selama sepekan untuk memperbaiki kinerja kerja yang memburuk. Keputusan itu benar-benar membuatku terpuruk, aku terus menyalahkan semuanya, merasa ini tak adil untukku. Rasanya benci kepada pihak kantor, makanya aku buru-buru pulang, sudah terpikirkan olehku untuk berhenti saja. Aku sangat yakin, bukan aku yang akan rugi, tetapi kantor karena kehilangan orang potensial seperti diriku.
"Lho, Abang sudah pulang?" Jihan yang sedang sibuk dengan pekerjaan rumah cepat mendatangi aku yang baru masuk. Ia terkejut sebab aku pulang cepat dan tak mengabari.
"Siapkan makanan, aku lapar." kataku.
"Maaf bang, aku belum masak. Aku ...."
"Belum masak? Kamu ngapain aja sih di rumah? Ini sudah pukul sembilan dan kamu belum masak!" aku marah. Merasa Jihan tidak melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik. Padahal sebagai suami aku sudah bekerja keras demi bisa memberikan yang tebaik untuk mereka. Bahkan aku rela menghadapi banyak masalah demi keluarga yang ternyata mencukupi keinginanku saja tak bisa!
"Maaf bang, ini kan masih jam sembilan. Aku biasanya masak jam sepuluhan karena harus menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya ditambah anak-anak juga kadang minta diperhatikan juga."
"Halah banyak alasan. Kamu tahu, aku sudah capek bekerja tapi ini balasannya. Mulai besok aku nggak akan bekerja lagi, terserah. Urusan rumah tangga bukan lagi tanggung jawabku!" kataku, lalu berlalu ke kamar. "Cepat masak, begitu aku keluar, masakannya sudah harus matang!" kataku, lalu menghempaskan pintu kamar sekencang mungkin. Tak peduli setelah itu Nabila dan Nadira menangis karena kaget.
Kepalaku sudah benar -benar pusing. Aku sangat suntuk, makanya pikirannya kusut. Semua orang salah menurutku, hanya aku yang benar, akulah korban dari semuanya.
***
Selama dua pekan ini, aku dan Jihan kerap bertengkar. Ia selalu salah di mataku. Namun, Jihan tetap sabar menghadapi ku. Ia bahkan masih melayani dengan sepenuh hati. Tak RT pernah mengomel sekalipun. Atau
__ADS_1
Namun aku sudah teramat suntuk karena pada akhirnya aku dikeluarkan juga dari pekerjaan lantaran tak kunjung masuk setelah masa skorsing berakhir.
Suntuk di rumah terus, akhirnya aku memutuskan keluar, memenuhi undangan Bram untuk sekedar karaokean. Kami ngobrol ngalor-ngidul hingga ia membahas Ica lagi.
"Coba dulu jalan sama Ica, San. Siapa tahu bisa membuang suntuk. Lagian sekarang kamu kan sudah enggak punya pekerjaan, Sementara Ica itu kaya raya. Sekedar masukin Kamu sebagai manajer pasti bisa dia." kata Bram, mulai meyakinkan aku bahwa sepertinya aku membutuhkan hiburan. Ica bisa dijadikan selingan.
Sebenarnya, sehari setelah kembali ke Jogja, Ica langsung menghubungi aku. Ia mengajak bertemu, katanya mau menyampaikan belasungkawa atas kepergian ibu. Ia benar-benar sedih mendengarnya. Lalu Ica menyampaikan sebuah wasiat ibu.
"Mas Hasan, kamu harus menjalankan wasiat ibumu, bahwa ia menginginkan aku sebagai menantunya." kata Ica. Ia menunjukkan bukti pesan yang dikirimkan ibu padanya sebelum ibu meninggal. "Ia menginginkan aku yang jadi menantunya, bukan mbak Jihan! Ini adalah wasiat mas, harus dijalankan. Mbak Jihan bukan orang yang diharapkan. Kalau mas sayang sama ibunya mas, turuti keinginan ibunya, mas. Aku ngerti, mas nggak akan bisa menceraikan mbak Jihan, tetapi, aku juga nggak akan menuntut itu. Aku hanya ingin dinikahi saja, aku percaya mas bisa berlaku adil. Sebagai istri siri pun aku tak keberatan." ucapan Ica kembali terngiang di benakku.
Benarkah Ica yang ibu inginkan? Jihan, ia memang akhir-akhir ini banyak tak cocoknya denganku dan sejujurnya aku pun merasa jenuh dengannya.
"Aku rasa kalian berdua butuh bicara. Ca, aku titip Hasan ya. Kalian sudah sama-sama dewasa, silakan ngobrol. aku keluar dulu, nanti balik lagi." kata Bram, lalu keluar tanpa menunggu konfirmasi dariku.
Aku hanya diam saja, tak ada niat bicara dengan Ica tapi tidak juga untuk pergi meninggalkannya. Mungkin seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan hidup.
"Apa kabar, mas? Kok diam saja? Mas Hasan nggak suka ya aku di sini, kalau enggak, ya sudah aku pergi saja. Aku nggak pernah bermaksud mengganggu mas Hasan, aku benar-benar mencintai mas, sebelumnya aku sudah berpikir untuk menyerah saja karena tak ingin menambah beban, mas. Tetapi setelah dihubungi oleh ibu, akhirnya aku kembali membuka diri untuk mas. Hanya itu." ia bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi. Namun baru beberapa langkah dengan lancangnya aku malah memintanya untuk di sini saja sambil memegang tangannya.
"Disinilah sebentar saja Ca." kataku.
__ADS_1
Ica diam. Kami saling bertatapan, lalu ia mendekat padaku.
"Aku akan nurut sama mas, aku akan di sini kalau mas mau aku disini dan akan pergi kalau mas nggak menginginkan aku." kata Ica lagi.
Salahkah ini? Harusnya aku tak perlu bertanya sebab sudah tahu jawabannya. Namun aku memilih melakukan apa yang ibu mau. Aku ingin jadi anak yang berbakti sebab aku menyayangi ibu.
Ica semakin dekat, namun aku kembali membuat jarak. Ku tegaskan padanya tak akan melakukan hal terlarang sebelum menikah. Padahal berdua saja dengannya sudah salah, namun sisi hatiku yang lain berkata ini demi ibu.
"Kapan kita menikah?" tanya Ica. "Mas nggak usah pikirkan apapun. Semuanya aku yang urus, termasuk biayanya. Mas hanya perlu menyiapkan mahar saja. Berapapun akan Ali terima." tambah Ica.
"Nanti aku beritahu." kataku.
"Baiklah, aku akan menunggu jawaban dari mas." ia tersenyum.
Aku bermaksud hendak pergi namun Ica seolah menahan, mengambil Hp, seperti mengambil sebuah gambar, lalu kemudian baru membiarkan aku berlalu dari ruang karaoke itu.
Bu ... Hasan sudah lakukan apa yang ibu mau. Hasan sudah menerima Ica dekat dengan Hasan. Berarti Hasan sudah berbakti kan Bu? Ibu sudah senang? Uwak, bude dan saudara-saudara kita yang lain nggak boleh lagi mengatakan kalau Hasan enggak berbakti ya Bu. aku bersenandika, seolah berbicara dengan ibu. Menyatakan kalau aku sudah menuruti keinginannya.
Mobil melaju di jalanan, air mataku semakin deras. Aku benar-benar bimbang. Tahu dosa yang sudah kulakukan namun seperti tak punya kemampuan untuk melepaskan diri dari semua ini. Penderitaan yang saat ini aku rasakan karena tuduhan tak berbakti pada ibu, aku ingin membuktikan aku gak begitu.
__ADS_1