Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Bisikan Teman (2)


__ADS_3

Pertanyaan Ica membuatku tersadar bahwa dalam hidupku ku saat ini sudah ada Jihan dan sikembar. Mereka adalah bagian dari fase kehidupan yang ku lalui. Mereka yang setia menantiku di rumah dan juga menyertai aku dalam doa-doanya. Aku langsung mengucapkan istighfar beberapa kali agar tak terbawa suasana. Ica memang pernah singgah di hatiku, tapi itu dulu, saat statusku masih lajang, sekarang aku sudah menikah. Sudah menjadi suami Jihan, ayah dari Nabila dan Nadira.


"Saya rasa pembicaraan kita sudah cukup. Kalau ada yang mau dikomunikasikan lagi, nanti silakan hubungi saya saja ke email." Kataku, memberikan email yang juga sudah ku berikan pada atasan Ica, yaitu Hamdan. "Saya pamit dulu karena mau makan siang." Kataku lagi.


"Sebentar dulu, mas Hasan mau makan siang?" tanya Ica. Aku mengangguk. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kebetulan saya juga sudah lapar, kalau makan siang di kantor saya bakalan lama, jam segini jalanan suka macet. Jadi saya makan siang di sekitar sini saja. Mas mau kan menemani? Saya enggak hafal tempat makan di daerah sini." Kata Ica lagi.


"Kalau kamu mau makan siang, di sekitar sini ada banyak resto, cafe sampai kaki lima. Rata-rata masakannya enak. Mereka ada di sebelah kanan, terus saja sebelum lampu merah. Jalan kaki juga bisa, naik mobil juga parkirannya luas. Pilih saja mana yang kamu mau. Tapi maaf, saya enggak bisa menemani. Kebetulan saya bawa bekal makanan masakan istri." Kataku.


"Oh, begitu ya mas. Sayang sekali kita enggak bisa makan siang bersama, padahal ada banyak hal yang ingin saya bicarakan. Mungkin lain kali kita bisa janjian makan siang bareng. Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu. Terimakasih ya mas. Saya tunggu kabar kapan mas bisa keluar makan siang bersama." Kata Ica, ia pamit. Entah aku salah, tapi terlihat raut wajahnya kecewa. Mungkin ia masih mau menawarkan kerjasama yang lain, tapi saat ini segini sudah cukup.


Baru hendak kembali ke ruanganku, tiba-tiba Bram buru-buru menghampiri. Ia mempertanyakan penglihatannya, apakah benar itu Ica atau tidak. Saat aku mengangguk, ia malah bersorak riang seperti sporter bola.


"Apaan sih, teriak-teriak di telinga orang. Bisa budek aku Bram!" kataku, dengan kesalnya.

__ADS_1


"Ternyata Ica gerak cepat juga ya." Kata Bram lagi.


"Gerak cepat nagaim?"


"Waktu reuni kemarin, dia asyik nanya-nanya tentang kamu, San. Sampai titip salam segala, itu yang waktu itu aku sampaikan, tapi kamu buru-buru dan setelah itu aku lupa. Sekarang baru ingat lagi. Kayaknya Ica masih ada rasa deh sama kamu, San."


"Hus, sembarangan kamu. Dia kan sudah nikah. Duluan lagi nikahnya ketimbang aku!"


"Iya, tapi kan nikahnya karena perjodohan, terpaksa. Enggak cinta. Buktinya, sampai sekarang dia enggak punya anak juga. Soalnya LDR sama suaminya. Konon katanya teman-teman sih dia memang menolak ikut suaminya karena memang nggak suka, sengaja menjaga jarak gitu. Mungkin dia masih penasaran sama kamu, San. Dia banyak mencari tahu tentang kamu, termasuk tentang pekerjaan kamu, bagaimana kehidupan kamu dan Jihan sekarang, pokoknya banyak yang dikorek-korek deh "


"Ngakunya sih begitu. Memang kamu fikir Ica sengaja memilih kamu untuk usaha sampingan kebetulan? Ya enggaklah, aku yakin seratus persen dia sudah merancang ini semua, cuma di soft-in seolah-olah ini sebuah ketidaksengajaan. Lha wong itu perusahaan bapaknya, bagaimana mungkin bisa disebut kebetulan. Iya, nggak?"


Apa yang diberitahukan Bram itu membuatku terkejut. Aku tak percaya, makanya langsung browsing di google dan ternyata benar, perusahaan itu milik ayahnya Ica. Duh, bagaimana ini? Apa benar ini sengaja diatur oleh Ica. Tapi untuk apa? Siapa sih aku? Ku kan sudah menikah, sudah punya anak juga. Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Masih bimbang, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bram. Tapi berdasarkan bukti, semuanya benar. Tapi masa iya Ica masih suka sama aku, sementara suaminya saja jauh speknya di atas aku. Itu juga dari hasil pencarian google.

__ADS_1


***


Aku masih sibuk dengan laporan-laporan di mejaku, tiba-tiba salah satu rekanku bernama Putro datang. Ia sama-sama manager, namun lebih senior dariku. Putro mau menawarkan rumahnya untuk ku beli. Rumah itu mau dijual karena ia dan keluarganya mau pindah ke rumah orang tuanya. Sebagai anak bungsu, sejak ayahnya meninggal, ia diminta ibu dan kakak-kakaknya untuk menemani ibu mereka. Makanya Putro ingin menjual rumahnya. Kalau mereka pindah, maka rumah itu bisa terbengkalai, biasanya rumah perumahan kalau tidak ditinggali dalam beberapa waktu akan cepat udangnya.


"Rumahnya masih bagus, San. Baru tiga tahun kami tempai. Itu juga bangunan baru. Tipe empat lima. Kamarnya sudah tiga, kamar mandi dua, dapur sudah permanen, bangunannya juga bagus senua. Lingkungannya juga enak. Tidak jauh dari kantor kita. Dekat fasilitas umum. Bagaimana?" tawar Putro sambil memperlihatkan gambar rumahnya padaku.


Memang bagus sih. Dan aku sangat yakin Jihan pun akan sangat menyukainya. Tapi aku belum punya uang tabungan saat ini. Sebelumnya gajiku habis-habis untuk makan dan transfer ke ibu.


"Kamu enggak perlu khawatir. Belinya nyicil saja. Setiap bulan minimal kamu bayar lima juta. Kita enggak perlu melalui bank. Bagaimana?" tanya Putro.


Bagus sih sebenarnya. Tapi ini akan jadi hutang yang cukup lama. Aku harus berdiskusi terlebih dahulu dengan Jihan. Ia adalah pasangan hidupku. Kalau mau memutuskan apapun aku ingin berdiskusi dengannya.


"Sip, aku suka dengan cara dan pola pikir kamu, San. Makanya aku tawarkan rumah ini ke kamu. Semoga berkah untuk keluarga kita berdua. Silahkan diskusi dulu sama istri kamu, kalau sudah ada keputusan kabari ya." Kata Putro, tentunya setelah mengirim foto-foto rumahnya untuk aku perlihatkan pada Jihan.

__ADS_1


Memandang foti rumah Putro membuat mataku berbinar-binar, inikah jawaban atas pintaku beberapa waktu lalu agar diberi rezeki punya rumah yang lebih nyaman untuk Jihan dan anak-anak sebab tempat tinggal kami sekarang terlalu di pelosok dan Jihan seperti terisolir dari sekitarnya.


"Semoga ini rezeki kita sayang " kataku, sambil mengusap-usap gambar rumah di layar Hpku. Kalau kami benar-benar memiliki rumah ini, rasanya hidup sudah lebih nyaman. Aku tak akan khawatir dengan makanan Jihan dan anak-anak karena akses yang berjualan sangatlah lengkap. Tinggal jalan kaki karena berada di kawasan perumahan tersebut. "Ya Allah, mudahkan ya Allah, mudahkan." aku mengucapkan doa berkali-kali, berharap diijabah oleh Allah. Dimudahkan proses diskusi antara aku dan Jihan agar kami sama-sama sepakat membeli rumah ini.


__ADS_2