Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Berita Duka Dari Kampung Jihan


__ADS_3

Suara tangis bayi yang saling bersahut-sahutan membuat bising kondisi rumah. Aku sudah berusaha menutup telinga dengan bantal namun tetap saja suara itu terdengar, bahkan semakin tinggi. Karena kesal aku buru-buru bangkit untuk mengingatkan Jihan agar ia mendiamkan anak-anak, entah kemana istriku itu hingga kedua anak-anak bisa menangis bersamaan. Namun sebelum aku menyusul Jihan, aku menyadari kalau hari sudah terang, cahaya matahari sudah bersinar di balik jendela kamar. Sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Apa, sudah jam segini? Jihan nggak ngebangunin. Padahal aku harus berangkat kerja jam setengah tujuh. Benar-benar keterlaluan dia. Sudah membuatku di begal tadi malam, sekarang dia membiarkan aku terlambat berangkat kerja. Apa sih maunya perempuan itu?" Aku mengomel, turun dari tempat tidur dengan hati kusut, lalu menuju dapur untuk melihat Jihan. Yang ku lihat di sana, dua bayi kami sedang menangis di atas ayunan kecilnya, sementara Jihan menangis di sampingnya sambil memegang Hp. "Kamu dengar anak-anak nangis nggak sih? Itu, mereka sampai nangis kejar begitu, bukannya ditenangkan malah ikutan nangis. Ibu macam apa sih kamu? Ini juga, aku sudah terlambat berangkat kerja, kenapa kamu nggak ngebangunin aku. Kamu tahu nggak, kantor itu sangat disiplin urusan absen kedatangan, kalau aku terlambat bisa kena denda atau bahkan turun jabatan." Kataku dengan geramnya. Jihan masih menangis, ia mengabaikan kata-kqtaku


"Bang," katanya, sambil memperlihatkan pesan di Hpnya.


[Dek Jihan, segera pulang, bapak dan ibu kecelakaan tadi saat berangkat salat subuh ke masjid An Nur. Motor mereka ditabrak mobil.] Pesan dari saudara Jihan.


Badanku langsung lemas membacanya. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Kedua mertuaku meninggal dunia. Berarti firasat Jihan tentang suasana hatinya yang tak enak tentang orang tuanya benar. Mereka akan meninggal, makanya Jihan begitu ingin bertemu dengan ayah dan ibunya. Mengingat semua itu membuat badanku merinding. Perasaanku tak karuan. Antara sedih, takut, merasa bersalah. Andai kemarin-kemarin aku memulangkan Jihan, pasti ia bisa ketemu dengan kedua orang tuanya.


"Dik, jangan menangis. Tenanglah." Kataku, sambil meraihnya dalam pelukan. Jihan menurut saja. Tapi aku harus bertindak cepat, mencari tiket pesawat penerbangan siang ini ke kampung Jihan agar ia bisa mengantarkan ayah dan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. "Dik, kamu bisa beberes pakaian, nggak? Aku akan menjaga sikembar sekalian mencari tiket pesawat. Semoga saja masih ada tiket agar kita bisa berangkat siang ini." Kataku


Setelah scrolling beberapa menit, akhirnya dapat juga tiket ke Sumatra untuk dua orang dengan harga dua juta rupiah ditambah Carter mobil ke kampung Jihan lima ratus ribu rupiah. Aku juga harus menyiapkan uang pegangan, makanya aku menghubungi Ica, meminta pembayaran di awal sekaligus minta keringanan penyelesaian proyeknya diundur dua pekan dengan alasan bahwa orang tua Jihan meninggal.

__ADS_1


"Iya, enggak apa-apa mas. Pulang saja dulu. Utamakan keluarga. Salam untuk mbak Jihan dan tolong sampaikan kalau saya turut berdukacita." Kata Ica saat aku menghubungi lewat panggilan telepon.


***


Perjalanan kali ini agak sedikit repot. Aku harus menggendong sikembar dua-duanya karena kondisi Jihan sangat lemah sekali. Ia sepertinya masih syok dengan kabar kepergian orang tuanya secara bersamaan. Untung saja Jihan sudah menyediakan asip sehingga aku tak perlu mengganggunya saat sikembar rewel. Perjalanan selama hampir satu jam ini hanya diisi dengan saling diam. Jujur aku merasa sangat bersalah padanya sebab sudah membuatnya gagal bertemu dengan orang tuanya. Bagaimanapun pasti rasanya sakit sekali kehilangan kedua orang tua sekaligus. Apalagi Jihan itu anak kesayangan. Satu-satunya anak perempuan yang hubungannya sangat dekat dengan ayah dan ibunya.


"Kamu mau makan?" tanyaku, saat kami mendarat di bandara. Jihan menggeleng. Tapi aku tetap menepi sejenak, memesan dua buah burger, kentang goreng, susu coklat dan nasi untuknya. Dalam kondisi seperti ini akan sangat mudah diserang penyakit, apalagi kalau ia tak mau makan dan minum.


Di dalam mobil carteran, aku memaksa Jihan agar mau makan sambil mengingatkan tentang anak kami yang masih butuh ASI dari Jihan. Ia yang awalnya menolak akhirnya mau juga makan beberapa potong kentang dan meneguk susu hingga habis. Saat ku minta untuk makan lagi, ia menolak tak sanggup.


***


Tangis Jihan pecah ketika kami sampai di depan masjid tempat ayah dan ibunya ditempatkan untuk di salatkan. Bahkan, di pintu masjid, Jihan nyaris roboh. Untungnya ada saudara-saudara Jihan yang membopongnya mendekat ke jenazah mertuaku.

__ADS_1


"Ibu ... Ayah, Jihan pulang. Ibu ayah ayo bangun. Jihan kangen." Katanya dengan suara menyayat hati


Astagfirullah astagfirullah. Aku baru menyadari betapa jahatnya aku padanya. Betapa zalimnya aku. Perempuan itu menanggung rindu, bersabar menanti hingga aku menunaikan janjiku. Tetapi aku malah ingkar. Aku memeluknya setelah saudara-saudara Jihan mengambil sikembar.


"Sayang, sabar ya. Ayo kita bersiap ikut salat jenazah." Kataku, sambil menyerahkan mukena untuknya. Jihan di tuntun untuk berwudhu sebab ia sudah terlalu lemas


***


Jenazah mertuaku sudah dimakamkan, saru persatu pelayat pulang kembali ke rumah masing-masing. Kini, hanya tersisa aku dan Jihan di makam. Aku mengajaknya segera pulang karena khawatir dengan sikembar. Takutnya mereka haus, sementara Asip sudah habis diminum saat di perjalanan tadi.


"Bu, ayah ... Jihan ingin di sini saja bersama ayah dan ibu. Jihan nggak kuat." Katanya.


Seperti mendapat sebuah tamparan. Aku memeluk Jihan, memohon maaf padanya. Tapi ia masih tak bicara sepatah katapun. Ia masih sibuk bicara pada kedua orang tuanya. Kehilangan orang tua, apalagi keduanya secara bersamaan dan dalam keadaan dadakan memang menimbulkan luka yang amat dalam, aku mengerti kenapa Jihan begitu terpukul hingga ia segalau ini.

__ADS_1


"Bawa Jihan sih pak, bu," katanya. "Jihan nggak mau ditinggal bapak dan ibu. Jihan mau ikut. Kita pergi sama-sama ya. Bapak ibu jemput Jihan." Ia bicara dengan nada memelas.


"Astagfirullah sayang. Jangan bicara begitu dik. Abang memang salah, pantas mendapatkan hukuman, tapi tolong jangan ikut pergi. Abang, Nabila dan Nadira masih membutuhkan kamu. Jangan tinggalkan kami. Tolong bertahanlah untuk kami." Aku mengguncang lengannya, memohon padanya dengan penuh harapan agar ia tak patah semangat seperti itu. Aku benar-benar sudah bersalah, tapi tidak dengan sikembar yang masih sangat butuh ibunya.


__ADS_2