Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Dibela Ibu


__ADS_3

"San, bisa tidak kau pinjamkan uang untukku. Usahaku sedang mengalami penurunan. Bapak dan ibuku juga gagal panen tahun ini. Kami benar-benar kehabisan modal. Bantu kami pinjami dana agak seratus juta ya, San." Kata anaknya Uwak yang tertua. "Panen berikutnya aku bayar lunas deh San. Ini kalau tidak kepepet dan adikku baru nikah, aku nggak akan minjam atau nyusahin kamu. Lha kamu tahu sendiri keluarga kami itu kaya sejak dulu..Enggak pernah kekurangan. Baru ini, San. Barangkali ini cara Tuhan untuk memberikan kamu kesempatan membalas jasa bapak dan ibuku."


"Seratus juta? Uang dari mana mas? Aku mana punya. Gajiku nggak seberapa, mas. Sudah banyak cicilan juga." Kataku. Sengaja memutuskan tanpa memberi sedikit pun celah peluang untuk mereka. Ini saja untuk pesta masih hutang. Masa mau disuruh ngutang lagi.


"Halah San, masa nggak ada sih? Untuk nyumbang saja ada. Ini statusnya pinjam, San. Jangan khawatir nggak dibayar. Hitam di atas putih juga boleh. Aku nggak masalah, San." tambahnya.


"Benar nggak ada, mas. Aku udah habis-habisan untuk bayar cicilan rumah." kataku. "Aku ingat kok mas bagaimana baiknya Uwak membantu keluarga kami. Semoga suatu hari aku bisa membalasnya ya mas. Tapi sekarang benar-bemar enggak ada, mas. Malah aku nih yang mau minjam lagi sama, mas." aku balik mencandai agar ia tak mendapatkan peluang sedikitpun.


"Kalau lima jutaan ada kan San? Anakku mau masuk sekolah. Butuh biaya pendaftaran. Bisa lah sebagai omnya kamu sumbang sekitar lima jutaan, San. Aku benar-benar lagi panceklik ini. Ingat juga San, walaupun nggak besar, bapakku dulu rajin sekali lho nyumbang untuk sekolahmu."" Kata sepupuku yang lain, anaknya pakde ku.


"Maaf mas, enggak ada. Terimakasih juga sama pakde dan bude yang sudah membantuku." Jawabku.


"Yaelah San, jangan pelit begitu. Nyumbang uwak sepuluh juta saja kamu ada, masa lima jutaan nggak mau ngasih. Pelit ih. Sama saudara kok pilih kasih." Ujarnya.


"Maaf mas, tapi benar-benar enggak ada. Kalau ada nggak perlu ngutang pun pasti akan aku bwri." Kataku.


"Lek Yayuk, Tolong bilang sama Hasan. Mbok Kami dipinjamkan gitu, pinjam ke kantornya juga enggak apa-apa. Nanti kami cicil deh tiap bulannya." Kata anaknya Uwak pada ibu.

__ADS_1


Aku diam, menanti jawaban ibu dengan harap-harap cemas. Apakah ibu akan bersikap jumawa seperti yang sebelumnya, merasa bisa menekanku?


"Kalian ini, minjam kok sama Hasan. Dia itu baru diangkat jadi manager, gajinya sudah habis untuk membangun rumah ibunya, nyumbang juga, ditambah beberapa waktu lalu mertuanya baru meninggal. Jadi wajar kalau enggak ada pegangan. Jadi jangan memaksakan anakku." Kata ibu.


"Ya elah Lek, apa ngga ingat dulu orang tuaku juga membantu sekolahnya Hasan. Kalau bukan karena bantuan bapak ibuku mungkin Hasan hanya jadi kuli panggul di pasar Jum'at saat ini." kata anaknya Uwak.


"Nasib orang sudah digariskan sama Allah. kalaupun bapakmu nggak nolong, kalau sudah takdirnya jadi manager akan ada orang lain yang memberi bantuan dengan tulus tanpa ngungkit-ngungkit kebaikannya. Hilang pahalanya. Apalagi yang ungkit anaknya yang nggak ada sangkut pautnya. Sudah, kalau nggak ada ya bagaimana. ****** dipaksakan. Hidup itu harus sesuai pasak dengan tiangnya. Makanya kamu itu jangan berkebun Nyambi judi. Nggak berkah tambah uangmu habis juga tho." kata ibu, sambil berlalu begitu saja. Sementara kedua sepupuku ikut berlalu karena gagal mendapatkan pinjaman hutang dan sumbangan untuk anaknya.


Aku dan Jihan saling pandang. Kamu kemudian melempar senyum. Betapa bahagianya saat tahu kalau ibu sudah tak memaksakan kehendaknya lagi. Tak mau ditodong lebih banyak saudara lagi, aku memutuskan membopong Jihan dan anak-anak kembali ke rumah. Lagipula acara pesta sudah berakhir sejak tadi.


***


Ibu diam saja. Namun tak lama terdengar suara Isak tangis. Aku langsung menghadap ibu, menghapus lembut air mata yang membasahi wajahnya.


"Ibu jangan nangis. Hasan sayang sama ibu." kataku lagi.


"San," ibu mengusap pelan wajahku. "Maafkan ibu ya. Ibu ini orang tua yang egois, memaksakan kehendak sama anaknya. Ibu hanya ingin merasakan sekali saja dihargai orang, San. Dan berkat kamu itu semua terwujud. Terimakasih nak."

__ADS_1


"Maafkan Hasan sempat salah paham sama ibu." kataku. Andai tak ada Jihan yang mengingatkan, mungkin aku tetap akan keras menentang ibu.


"San, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Jihan ya. Kalian harus tetap bersama hingga akhir. Ibu berhutang banyak sama Jihan. Kalau ia bukan istrimu, mungkin kita nggak akan pernah baikan hingga saat ini." kata ibu.


Harusnya sore ini kami kembali ke Jogja karena besok pagi aku harus masuk kerja. Tapi ibu meminta agar malam ini kami menginap saja dulu sebab ibu masih ingin melepas kangen denganku, Jihan dan sikembar.


Malam ini, kami ke pasar malam. Makan sate Madura yang dahulu baru bisa ku rasakan sekali setahun, saat lebaran Idul Fitri, di alun-alun kampungku.


Selain makan sate, ibu juga mengajakku jajan jenang, bubur dan manisan. Padahal biasanya ibu nggak suka terlalu banyak makan jajanan. Kami benar-benar menikmati malam ini, bernostalgia tentang masa kecilku. Bedanya, dahulu ada bapak dan kami tak banyak jajan. Hanya dia porsi sate untuk kami bertiga.


"Ibu senang?" tanyaku. Menatap wajah ibu yang sumringah sebenarnya sudah menjadi jawaban kalau ini cukup bahagia.


"Senang banget, San. Begini ya rasanya ke pasar malam tanpa perasaan was-was takut anak-anak minta jajan banyak dan nggak punya uang. Dulu, kalau mau ke sini, ibu selalu khawatir kamu minta jajanan atau balon dan mainan, San. Makanya ibu ogah-ogahan kalau diajak ayahmu meski sebenarnya iBu suka pasar malam." kata ibu.


"Sekarang ibu mau belanja apa lagi sebelum kita pulang?" tanyaku, mencoba menyamarkan haru agar ibu pun tak sedih ingat kemiskinan kami dahulu.


"Kalau balon, bagaimana San?" ibu menatapku. "Aneh ya nenek-nenek mau balon?" ibu terkekeh.

__ADS_1


"Enggak aneh kok Bu." jawab Jihan.


Aku segera bergegas menuju tukang balon. Mengambil lima jenis yang lucu-lucu. Entah apa jenis karakternya, yang jelas aku ambil saja secara acak. Ibu mengikuti dari belakang. Di depan penjual balon, ibu mengatakan kalau balon-balon itu untuk cucunya. Sambil menunjuk Nabila yang digendongan Jihan dan Nadira yang tidur di stroller.


__ADS_2