Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Terpuruk


__ADS_3

Kata-kata Uwak benar-bemar seperti sebuah tamparan. Apakah aku sebegitu buruknya, sebegitu tak berbakti pada ibu? Aku sayang ibu, sangat menyayangi ibu. Aku juga ingin melakukan banyak kebaikan untuk ibu namun masih banyak kekurangan dalam diriku hingga tak bisa sebaik Udin yang sedia di kampung saat ayahnya meninggal.


"Sebelumnya maaf Wak kalau saya ikut campur." Jihan buka suara saat mulutku terasa Kelu. Tak bisa mengatakan apa-apa. Aku benar-benar sudah tersudut. "Setiap anak itu beda-beda baktinya, Wak. Tapi saya sebagai teman hidupnya bang Hasan sangat yakin ia sangat menyayangi ibu dan sangat ingin di sini lebih lama lsgi. Andai tak ada kewajiban lain, mungkin bang Hasan akan tinggal di sini menyambut tamu-tamu seperti bang Udin yang Uwak ceritakan. Dari cerita ibu dan bibi kala itu kalau tidak salah kepulangan bang Udin karena memang sudah habis kontrak lalu ayahnya meninggal. Makanya nggak balik lagi ke Malaysia. Bukan begitu, Wak?" tanya Jihan.


"A ... apa yang kamu bicarakan? Heh, Hasan, lancang sekali istrimu ini. Kau tak pernah mengajarinya? Berani betul dia mengatakan seperti itu. Sok tahu sekali. Padahal kamu itu hanya orang asing di sinj. Atau jangan-jangan sikapmu ini karena pengaruhnya ya, San? Memang ya, kalau perempuan yang nggak satu klen dengan kita itu tak akan pernah satu pemahaman. Dia akan menganggap keluarga suaminya seperti orang asing. Aku penasaran, bagaimana ia pada ibumu? Kalau gak salah, untuk berjumpa dengannya saja ibumu harus menunggu berhari-hari bahkan sampai ditinggal sendirian. Begitu kan Siti yang diceritakan Yayuk padamu?" Uwak meminta kesaksian Tante Siti yang tinggal di sebelah rumah ibu.


"Iya mbak." Jawab mbak Siti.


"Nah kan, hahahaha. Benar kan dugaanku. Si Hasan ini jadi sombong dan tak tahu diri karena istrinya. Padahal dulu kamu gak begitu, San. Jangankan membantah, bahkan bicara dengan kami saja kamu gak berani. Memang pengaruh pasangan itu besar sekali. Makanya San, kan sudah ku bilang agar kamu menikah dengan gadis di kampung kita saja. Itu si Tia, sampai sekarang ia masih menunggumu. Jangan dengan perempuan yang buruk lakunya seperti ini!" cetus Uwak, menghina Jihan yang sebenarnya tak seperti apa yang dikatakan Uwak. Sebab dahulu aku tak berani karena ibu selalu mewanti-wanti aku agar menghormati seluruh keluarga besar kami. Hidup kami teramat miskin, selalu mengharapkan bantuan tiap bulannya. Jadi berlakulah seperti seorang babu pada majikannya.


"Sudah sudah. Hasan, kalau kamu mau kembali ke Jogja, berangkatlah sekarang. Tidak usah diambil pusing semua pertengkaran barusan. Pulanglah. Semoga selamat sampai tujuan." Pakde menuntunku menuju mobil agar tak ada lagi perdebatan. "San, baik-baik di sana. Jangan berkecil hati dengan perkataan Uwakmu. Anggap saja angin lalu. Ia memang masih suka begitu. Selalu menganggap remeh orang lain, padahal suaminya sudah bukan kepala desa lagi." tambah pakde, lalu melepaskan kepergian kami.


Mobil melaju tak terlalu kencang. Pikiranku kalut. Ada banyak hal yang membuatku tak tenang. Tentang tuduhan Uwak dan Bude. Aku tak seperti itu. Aku sayang ibu. Buktinya kami baikan di akhir hidupnya ibu, tetapi orang-orang tak tahu itu. yang mereka lihat aku cuek pada ibu. Ya


"Bang. Abang nggak apa-apa? Kalau Abang kurang sehat, kita istirahat dulu ya." Kata Jihan, menyadarkan aku dari lamunan.

__ADS_1


"Ahh apa sih. Aku sehat-sehat kok. Kamu diam saja, nggak usah ikut campur!" Kataku. Mobil terus melaju dengan pikiranku yang tak tenang. Bimbang, namun terus saja terpikirkan kata-kata Uwak. Apakah aku sebegitu tak baiknya?


"Bang, awas!" Jihan kembali buka suara dengan teriakan.


Ciiiitttt. Suara rem terdengar mencicit bersamaan dengan tubrukan ringan dengan mobil di depanku. Ahhh sial, aku menabrak bemper mobil yang ada di depanku karena tak sadar kalau sedang lampu merah. Untungnya Jihan berteriak sehingga aku bisa cepat menginjak rem, kalau tidak mungkin tabrakan besar yang terjadi.


Tak lama, seseorang dari mobil di depan menyuruhku meminggirkan mobil agar tak menghambat lalu lintas usai lampu hijau. Lalu orang itu memintaku untuk turun.


"Maaf pak, saya sedang kalut. Ibu saya baru meninggal. Saya akan tanggung jawab atas kerugian yang bapak alami." Kataku.


Setelah semua selesai, aku yang hendak kembali mobil menyadari bahwa bamper depan mobilku pun juga rusak dan jika dibandingkan kerusakannya jauh lebih parah ketimbang yang aku tabrak, sayangnya mobil tadi sudah pergi duluan. Hingga aku hanya bisa merutuki apa yang sudah terjadi.


"Kenapa enggak ngasih tahu sih di depan ada lampu merah!" aku mengomel saat masuk ke dalam mobil. "Lihat tuh, jadi harus ganti rugi ditambah mobil depan kita juga rusak!"


"Kan sudah aku katakan bang, supaya istirahat dulu. Abang sepertinya nggak fit, dari tadi terlalu sering melamun. Tapi Abang nggak berkenan mendengar." jawab Jihan.

__ADS_1


"Jadi kamu nyalahin aku juga?" kesal, aku menginjak gas, membawa mobil secara kencang dan sedikit ugal-ugalan. Jihan yang ada di kursi sebelah hanya diam, pelan terdengar ia mengucapkan istighfar berulang kali.


***


Lagi-lagi aku kena batunya. Namun tak mau menyadari kesalahan sendiri, justru menjadikan Jihan sebagai sasaran kejengkelanku. Di perempatan, mobilku di kejar mobil polisi. Aku kena tilang karena mengemudi melewati kecepatan yang sudah ditentukan ditambah melanggar lampu lalu lintas.


"Pak, apa tidak bisa damai saja?" pintaku, sedikit berbisik pada polisi yang bertugas. "Saya bayar dua ratus ribu, ya pak?" tawarku.


"Mohon maaf pak, silakan ikuti peraturan yang sudah berlaku!" kata polisi tersebut.


"Saya kasih tiga ratus ribu deh, pak. Tadi saya benar-benar sedang kacau karena baru pulang dari kampung, ibu saya baru meninggal pak." aku mencoba mencari simpati. Tetapi hasilnya tetap saja nihil.


"Mohon maaf pak, kami turut berdukacita namun peraturan tetap harus dijalankan. Selamat pagi. Semoga perjalanan bapak lancar, selamat sampai tujuan!" ucap polisi itu.


Sayangnya aku bertemu dengan polisi jujur, bukan oknum yang dengan uang maka semua masalah akhirnya dapat terselesaikan. Ia memberikan surat tilang dan aku harus mengikuti sidang sesuai dengan ketentuan.

__ADS_1


"Aghhh, kenapa semuanya jadi masalah!" pikiranku benar-bemar kalut, namun tak bisa juga melampiaskan pada Jihan sebab ia tak bersalah, bahkan ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia menutup mulutnya rapat-rapat sambil mendekap sikembar erat-erat.


__ADS_2