
Rumah kosong. Tak ada Jihan dan anak-anak. Berulangkali aku memanggil sambil memeriksa keseluruh ruangan tetapi tak ada jawaban. Aku menunggu hingga setengah jam, siapa tahu ia keluar untuk membeli sesuatu meski agak ganjil mengingat ini sudah sangat larut dan harus membawa kedua bayi kami yang sudah mulai besar. Jihan akan sangat kesulitan. Begitu aku ingin menghubungi Hpnya, ada panggilan tak terjawab sebelumnya dari Jihan. Sekitar dua jam lalu. Tapi saat ku hubungi balik, nomornya sudah tidak aktif. Kemana dia? Apa jangan-jangan Jihan marah lalu pergi. Mengingat itu membuatku jadi tak tenang.
Rumah yang cukup besar ini terasa aneh. Sekarang baru terasa, tak ada Jihan dan kedua bayi kami yang belakangan ini selalu jadi sasaran kemarahanku rasanya benar-benar tidak nyaman. Pulang, sendiri. Tak ada yang menyiapkan makanan dan minuman untukku, juga baju ganti sebelum aku berangkat tidur.
"Jihan kamu dimana? Tolong jangan pergi. Oke aku akui kalau aku belakangan ini tidak adil padamu, selalu menjadikan kamu sebagai sasaran kemarahanku tapi sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku hanya sedang berusaha melakukan sesuatu agar orang-orang tak menyalahkan aku dan menyebutku tak berbakti pada ibu." Aku menunduk. "Aku benar-benar suami dan ayah yang buruk!" Kataku. Menyadari betapa emosi ini sangat sulit dikendalikan belakangan ini. Setiap ada masalah selalu Jihanlah yang jadi sasaran. Ia seperti samsak kemarahanku. Padahal, ia juga manusia biasa yang punya perasaan. "Maafkan Abang, dik." Lagi-lagi aku menyesali setelah membuat luka yang teramat dalam di hatinya. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya meski mungkin Jihan sudah terluka lagi. Penyesalan memang selalu datang belakangan.
"Pak Hasan!" tiba-tiba tetangga depan rumah kami menghampiri. "Bapak sudah pulang? Bapak pasti nyariin Bu Jihan? Bu Jihannya ada di rumah sakit, pak. Membawa bayi bapak. Tadi itu Nadira demam tinggi, kejang juga. Bu Jihan minta tolong sama saya dan suami untuk nganter ke rumah sakit, katanya pak Hasan sedang kerja dan belum bisa dihubungi. Syukurnya sekarang Nadira sudah ditangani. Semoga kondisinya baik-baik saja. Bu Jihan pesan, kalau bapak ke sana Tolong bawakan pakaian Bu Jihan dan anak-anak juga Hp Bu Jihan. Tadi Bu Jihan nya buru-buru, kewalahan juga kayaknya karena harus menghandle dua bayi sekaligus. Oh ya, mereka di UGD ya pak." Pesan tetangga depan rumah kami
"Oh ya, terimakasih ya Bu, terimakasih Banyak sudah membantu istri dan anak-anak saya." kataku.
"Iya pak, tidak masalah. Sesama tetangga harus saling membantu. Namun, maaf ya pak, saya kasihan saja sama Bu Jihan, sepertinya sangat kerepotan sekali menjaga dua bayi sekaligus." lagi-lagi ada orang yang menyatakan penilaian mereka tentang Jihan yang seharusnya aku sadari dan ditindak lanjuti. Jujur, aku kembali merasa sangat bersalah, selalu terlambat jika menyangkut urusan Jihan namun ia tak pernah protes.
"Baik Bu, InshaAllah nanti akan saya Carikan yang bantu-bantu." kataku, lalu Buru-buru aku masuk ke rumah, membawa pakaian ganti miskin Jihan dan anak-anak yang aku ambil sedapatnya saja sebab aku benar-benar tak tahu pakaian mereka. Selama ini Jihan yang mengahandle semuanya. Tak sengaja, saat aku mengambil baju Jihan di rak bajubya, tanganku mengambil sesuatu yang disisipkan di antara baju. Sebuah buku catatan kecil milik Jihan. Rupanya ia punya catatan juga. Aku menimbang-nimbang catatan itu, karena buru-buru makanya ku bawa sekalian, lalu diletakkan di dalam laci mobil agar nanti bisa ku baca.
__ADS_1
Setelah yakin semuanya beres, aku langsung tancap gas menuju rumah sakit yang dimaksud. Sepanjang jalan aku tak henti beristighfar. Sudah terlalu banyak dosa yang ku buat karena abai padanya yang seharusnya mendapatkan prioritas perhatian paling pertama.
"Maafkan Abang, dik. maafkan Abang." berulangkali aku mengucapkan permohonan maaf di dalam hati. Berharap bisa memperbaikinya.
Sampai di rumah sakit, sedikit berlari aku menuju UGD. Malam semakin larut, aku menemukan Jihan tengah terkantuk-kantuk menunggui Nadira yang tubuhnya dipenuhi selang, sementara Nabila berada dalam dekapannya.
Perempuan itu benar-benar sudah bersusah patah untuk aku dan anak-anakku. Pengabdiannya luar biasa padahal hidupnya tidaklah bahagia bersamaku. Aku merasa sangat jahat padanya. Air mata langsung menetes. Tak tahu harus bicara apa padanya. Saat ia kebingungan, khawatir dengan kondisi anak kami, dengan tidak tahu dirinya aku malah bersenang -senang dengan Ica. aku benar-benar laki-laki yang buruk, dengan alasan berlindung dari tuduhan sebagai anak yang tak berbakti tapi justru terang-terangan menyakiti istri. Aku benar-benar manusia yang jahat. Suami yang tak tahu diri.
"Bang?" Jihan menyadari keberadaanku. "Abang sudah datang?" katanya. "Abang bawa baju ganti?" ia mendekat ke arahku, memberikan Nabila hingga aku sadari pakaiannya berdarah.
Ia mengangguk, lalu mengambil tas berisi pakaiannya, berjalan dengan gontai menuju kamar mandi.
"Hasan ... kamu benar-benar laki-laki terkutu*!" aku memakai diri sendiri. Menyesali betapa jahat dan bodohnya aku.
__ADS_1
Ibu ... Aku dan ibu baik-baik saja. Aku hanya takut dengan penilaian orang, tak terima dikatakan buruk padahal di akhir berkat Jihan hubungan kami telah baik. Bahkan ibu menyatakan keridhaannya padaku. Ibu juga menginginkan agar aku menyayangi dan menjaga Jihan dengan baik karena kami berdua; aku dan ibu, berhutang banyak pada istriku tersebut.
Tapi bisa-bisanya aku melakukan kesalahan sefatal ini. Menyakiti istrimu sendiri hingga ia benar-benar sehancur itu.
Ya Rabb ... aku tak pantas dimaafkan. Aku suami yang buruk!
Tiba-tiba monitor yang ada di samping ranjang Nadira berbunyi. Aku melihat anakku kejang sesaat sebelum akhirnya ia kaku tak bergerak. Tenaga kesehatan, dokter dan perawat berdatangan. Mereka berusaha memberikan bantuan pada Nadira namun harus monitor menunjukkan garis lurus.
Netraku menangkap Jihan yang berlari kencang menuju bilik Nadira. Ia yang semula tenang tiba-tiba histeris mengetahui bahwa salah satu putri kembar kami sudah pergi mendahului. Ia berusaha menjangkau Nadira sambil berkata bahwa putrinya baik-baik saja, bayi Kami hanya tertidur, perawat berusaha menenangkan Jihan sambil memeluknya. Aku tahu, istriku kembali hancur setelah kehancuran berulangkali yang ia rasakan.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.
Mungkin, Nabila merasakan kepergian kembarannya. Ia menangis dalam pelukanku. Bodohnya, sebagai ayah aku tak bisa menenangkan putriku. Aku hanya bisa menangis bersamanya.
__ADS_1
"Ya Allah ... ya Allah." aku hanya bisa menyebut nama Tuhan. Berharap Dia mengirimkan kekuatan untuk Jihan dan Nabila.
Tak mengapa aku hancur sebab aku pantas mendapatkannya. Aku bukan lelaki yang baik. Aku jahat, sangat jahat.