Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Mulai Berselisih


__ADS_3

Malam harinya, Jihan demam tinggi. Ia sampai tak sadarkan diri. Saudara-saudaranya meminta agar aku membawa Jihan ke rumah sakit. Si kembar disuruh tinggal saja di rumah, kebetulan ada saudara Jihan yang datang melayat dan malam itu menginap, ia juga sedang menyusui, jadi Nabila dan Nadira bisa ikut disusui sekalian. Mendengar itu hatiku agak tenang. Malam itu juga, dengan mobil keluarga Jihan, aku dan dua saudaranya membawa Jihan ke rumah sakit.


"Demamnya terlalu tinggi, sampai mengigau seperti itu. Sebaiknya di rawat saja, khawatir nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan otaknya. Sangat rawan sekali." Kata dokter, mengingatkan kami tentang kondisi Jihan yang bisa dikatakan sedang dalam masa kritis.


Aku mengikuti saja semua petunjuk yang diberikan. Malam itu aku menginap di rumah sakit bersama Jihan. Sementara saudaranya kembali pulang karena mereka harus mempersiapkan untuk acara pengajian mertuaku.


"Bu .... Ibu. Ibu jangan pergi. Ayah, ayah ... Jihan jangan ditinggal sendirian. Jihan ingin ikut." Jihan kembali mengigau. Ia berusah menggapai-gapai. Melihat kondisinya seperti itu, hatiku semakin merasa bersalah. Jihan teramat rindu dengan keluarganya, ia benar-benar rindu ayah dan ibunya. Harusnya aku tak egois, mengambil mobil dan rumah duluan. Harusnya aku mengajaknya pulang kampung. Penyesalan memang datangnya belakangan. Kini aku hanya bisa menggenggam erat tangan Jihan, berusaha menyalurkan energi agar ia bangkit lagi.


"Sayang, bangunlah. Kamu harus kuat sayang. Ingat, ada Nabila dan Nadira yang masih sangat membutuhkan kamu. Jangan sakit sayang, kamu harus kuat." Kataku. Semalaman aku tak bisa tidur, terus menemani Jihan. Jika ia mulai mengigau aku akan membangunkan, berusaha agar kesadarannya kembali. Begitu terus sepanjang malam hingga pagi menjelang.


***


"Bang, anak-anak mana?" Jihan yang baru sadar seperti berusaha bangkit untuk mencari anak-anak. Tapi setelah ku katakan anak-anak di rumah orang tuanya, barulah ia tenang. "Ibu akan menjaga Nabila dan Nadira dengan baik." ia mengoceh, apa yang dikatakannya itu membuatku bingung.


"Sayang, ibu dan ayah kamu kan sudah nggak ada." Kataku.


Jihan diam, ia menatap langit-langit.


***


Hari ini aku harus membuat keputusan, saudara Jihan yang kebetulan menyusui Nabila dan Nadira harus kembali pulang ke kota sebelah. Itu berarti tak ada lagi yang bisa menyusui anak-anak. Padahal Jihan masih belum sadarkan diri. Makanya ku putuskan untuk memberi susu formula saja. Aku menitipkan sejumlah uang pada keluarga Jihan untuk membeli susu dan perlengkapan yang diperlukan sebab anak-anak juga tidak boleh dibawa ke sini karena khawatir dengan kondisi kesehatan mereka yang bisa dikatakan cukup rentan.

__ADS_1


Selama tiga hari Jihan di rawat, hari ini ia minta pulang. Kebetulan kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Panasnya sudah turun, hanya saja ia masih teramat lemas. Untuk berjalan saja ia harus dipapah. Aku pun harus menyampaikan kabar yang mungkin akan membuatnya sedih bahwa kami harus segera kembali ke Jogja sebab izinku akan habis. Aku harus segera kembali bekerja karena banyak tugas yang Belum terselesaikan.


"Bagaimana dik, kita pulang besok ya?" kataku. Jihan tak menjawab. "Maafkan Abang, nanti kalau pekerjaan Abang sudah selesai kita ke sini lagi. Abang akan ambil cuti lebih panjang." aku masih men


"Aku di sini saja dulu ya." Katanya.


"Maksudnya?"


"Abang pulang sendiri saja dulu. Aku ingin di sini bersama ayah dan ibu."


"Dik?"


Keputusan Jihan untuk tetap di sini didukung oleh semua saudara-saudaranya. Mereka malah meminta agar aku pulang sendiri saja, nanti saja menjemput Jihan kalau kesehatannya Sudan membaik agar selain bisa istirahat, Jihan juga bisa melepas rindunya setelah beberapa tahun tak pulang kampung. Lagian, perjalanan yang akan kami tempuh cukup lumayan, meski memakai kendaraan udara tapi tetap saja harus transit satu kali di Jakarta dan juga masih melewati perjalanan darat beberapa jam.


***


Sudah sepekan Jihan di kampungnya. Tadi, waktu aku menghubungi, ia terlihat lebih segar, namun belum ceria. Hanya bicara sedikit lalu mengarahkan kamera Hp pada sikembar. Aku hanya bisa masem-masem, padahal kangen ibunya, tapi ibunya malah ngumpet, yang ditampakkan malah anaknya. Hanya saja mau protes tak enak pada saudara Jihan yang masih ramai di rumah orang tuanya.


[Kapan kamu mau pulang? Abang jemput, ya?] kataku.


[Nanti saja bang.] Jawab Jihan, lalu ia memberikan banyak alasan agar panggilan telepon diputus.

__ADS_1


Ahhh istriku, tak tahu kah kamu berapa menderitanya aku disini menahan rindu?


Efek perpisahan ini memang luar biasa, tentu saja membuatku resah, rindu pada anak dan istri, tapi sepertinya Jihan tak merasakan apa yang aku rasa. Kesepakatan yang ku buat di awal diabaikan.


***


Hari ini ibu datang ke rumah secara tiba-tiba. Tujuannya selain ingin menyatakan duka cita pada Jihan, juga ingin bertemu dengan anak, menantu dan cucunya. Sayangnya, ibu harus menelan kekecewaan karena yang dicari tak ada.


"Padahal ibu sudah datang jauh-jauh. Kanu sih San, pakai ninggalin cucu-cucu ibu segala." ibu merajuk.


"Jihan yang minta, Bu. Saudaranya juga mendukung semua. Hasan nggak bisa nolak juga." Kataku.


"Terus kapan mereka kembali?"


"Entah, kemarin Hasan telepon, Jihan masih belum mau pulang."


"Lho, kenapa? Kamu kan suaminya, San. Kok sekarang Jihan aneh ya, enggak nurut lagi sama suaminya. Beda dengan sebelumnya yang selalu ngikutin apa kata kamu, makanya ibu sayang sama dia." ibu mengeluh kan perubahan sikap Jihan.


Kedatangan ibu yang tiba-tiba menjadi masalah baru untukku. Ibu ingin bertemu Nabila dan Nadira karena ia merasa kedatangannya sia sia kalau tak bertemu. Sementara Jihan tak memberi kepastian kapan akan kembali. Mau dijemput atau diantar saudaranya. Ia seperti menggantung ku.


"Pokoknya ibu nggak mau tahu, kamu jemput Nabila dan Nadira. Kalau istrimu ga mau kembali ya sudah. Yang penting cucu-cucuku pulang!" Kata ibu yang sudah tak sabaran.

__ADS_1


"Ya Hasan harus bagaimana, Bu. Jihannya belum mau pulang " kataku


"Ya mana ada seperti itu, harus nurut sama suami. Masa sudah menikah maunya di kampungnya saja." ibu mulai menunjukkan egonya, padahal sebelumnya ia dan Jihan selalu akur, mungkin benar yang dikatakan ibu, akurnya mereka karena ibu suka dengan sikap Jihan yang penurut padanya. Sekarang, saat Jihan mulai membuat keputusan yang bertentangan dengan keinginan ibu maka ibu pun menunjukkan kemarahannya. "Ingat ya San, besok jemput Nabila dan Nadira. Kalau nggak, ibu pulang dan nggak mau lagi ketemu kamu dan keluarga kamu!" ibu mulai mengancam dan aku tahu itu bukan ancaman kosong.


__ADS_2