
Aku benar-benar seperti patung yang tak bisa melakukan apapun selain menangis di pojokan bilik UGD tempat Nadira semula di rawat, sambil memangku Nabila. Benar-benar suami yang tak berguna. Ini seperti sebuah hukuman yang amat menyakitkan dari Tuhan sebab aku sudah berkhianat pada mereka. Aku dibuat tak bisa melakukan tanggung jawabku di waktu terakhir putriku.
Sementara itu, Jihan yang aku yakin lebih hancur hatinya atas kepergian putri kami sibuk mengurus semuanya. Mulai dari menyelesaikan pembayaran hingga mengurus kepulangan Nadira tanpa ambulan sebab ia masih bayi. Jihan memutuskan membawa pulang dengan mobil saja sebab keuangan kami memang sudah sangat pas-pasan mengingat aku telah berhenti kerja sementara hutang sudah semakin banyak saat mudik ke kampung ibu kemarin. Ditambah nanti harus ada tagihan-tagihan lainnya seperti angsuran rumah dan mobil.
Selesai semuanya, ia menggendong sendiri Nadira yang sudah di bungkus jarik, sementara Nabila diletakkan di atas carseat agar aku bisa mengemudi. Sepanjang jalan ia tak bicara sepatah katapun, hanya menangis tanpa mengeluarkan suara. Pemandangan yang sangat menyedihkan.
Sampai di rumah, Jihan mengurus semuanya, ia memandikan putri kami, lalu membungkusnya dengan kafan yang memang sudah disiapkan Jihan sejak lama. Ini adalah kebiasannya. Semua anggota keluarga sudah dibelikannya kain kafan. Lalu Jihan meletakkan jenazah putri kami di atas kasur kecil di ruang tamu. Setelah itu barulah ia mengabari tetangga atas kepergian putri kami. Saat itu Jihan masih diam, ia tak banyak bicara. Sesekali menangis. Mungkin ingat kenangan Nadira lagi.
Satu-persatu tamu-tamu datang. Mereka mengucapkan belasungkawa. Bergantian hingga pagi menjelang. Pukul sembilan pagi, Nadira di shalatkan. Lagi-lagi aku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya menjadi makmum. Begitu juga dengan membopongnya menuju makam, aku tetap tak mampu.
***
"Dik, maafkan aku, kehilangan putri kita adalah hukuman yang terbesar untukku." kataku, memulai pembicaraan sebab tak sanggup lagi melihat Jihan yang terus saja diam.
"Dik, bicaralah. Sekalipun itu adalah kemarahanmu, aku lebih baik dimaki, dicaci bahkan disalahkan karena memang aku yang salah. Tapi jangan diamkan aku, dik. Sungguh aku nggak sanggup. Bicaralah dik." pintaku lagi sambil berlutut di pangkuan Jihan namun ia tak menanggapi apapun juga.
__ADS_1
***
Pagi ini kami kedatangan tamu yang sungguh membuatku kaget. Ica datang. Ia membawa banyak buah tangan. Menyampaikan belasungkawa atas kepergian putri kami. Tetapi Jihan diam saja. Sementara aku sudah mengatakan agar ia pulang saja sebab kami masih ingin menyendiri. Tak ingin menerima tamu dulu.
"Mas, aku nggak bisa menunggu terlalu lama." kata Ica. "Mumpung semuanya yang bersangkutan ada di sini, sebaiknya kita bicarakan saja. Maaf kalau aku harus menyatakan saat mbak Jihan dan mas Hasan sedang dalam kondisi berduka. Tetapi aku sudah menunggu sepekan setelah kepergian putri kami dan aku butuh kejelasan." kata Ica.
"Ca please, pergilah. Nanti akan saya hubungi lagi. Sekarang saya dan istri saya sedang berduka. Putri kami baru meninggal." kataku, berusaha kembali mengusirnya.
"Ya mas, aku tahu. Tapi mbak Jihan harus tahu juga. Cepat atau lambat ini harus dibicarakan. Jadi mumpung ketemu apa salahnya di omongin. Papaku sudah menunggu Jawaban dari mas. Semuanya sudah disiapkan. Kami hanya butuh mas datang sebentar saja setelah itu mas boleh kembali pulang dan melanjutkan agenda berdukanya. aku janji nggak akan mengganggu, berapa lamapun mas butuh Menyendiri." kata Ica.
Ya Tuhan, melihat perempuan itu seperti ini membuatku semakin merasa bersalah. Aku tak mau ia makin terluka, makanya ku paksa membawa Ica keluar dari rumah agar Jihan tak perlu mendengar ocehan Ica lagi tapi Ica benar-benar keras kepala, entah terbuat dari apa hatinya hingga ia tega menyakiti hati Jihan dan akulah yang paling bertanggung jawab atas semuanya.
"Mbak ... mas Hasan sudah janji akan menikahi aku. Kalau anak kalian nggak meninggal mungkin hari ini kami sudah sah sebagai suami istri." kata Ica. "Mbak harus tahu, ibu menginginkan aku sebagai menantunya, bukan mbak. Jadi jangan halangi pernikahan kami. Aku menghargai mbak yang lebih dulu sebagai istrinya mas Hasan makanya aku nggak akan menggugat mbak." katanya dengan enteng. Tapi Jihan tak peduli, ia tetap diam hingga a
Ica kehabisan kesabaran. Ia menarik lengan Jihan hingga Jihan terperangah. "Ngomong dong mbak, jangan diam saja kayak orang bodoh. Kamu benar-benar aneh mbak. Suamimu mau menikah denganku dan kamu diam saja. Kamu lihat kan mbak, dahulu aku bisa kalah oleh kamu waktu di kampus, tapi sekarang nggak, mbak. Aku mengalahkan kamu! Mas Hasan akhirnya mau menikah denganku juga."
__ADS_1
"Ica!" aku menarik Ica agar menjauh dari Jihan. Sekali tarikan langsung membuatnya terpental. "Siapa yang akan menikahi kamu? Jangan gila kamu!" kataku.
"Apa maksud mas? Mas mau ingkar janji?" ia menatapku tajam. "Jangan menyangkal, mas. Mas yang menyatakan mau menikahi aku bahkan mas menciumku. Iya kan? Aku punya buktinya supaya mas nggak bisa menyangkal lagi!" ia memperlihatkan Hp nya. Ada rekaman pembicaraan kami waktu di tempat karaoke. Ternyata selain merekam, Ica juga mengambil foto kami saat berciuman.
Melihat itu, aku buru-buru menarik Jihan dalam pelukan, menutup matanya dengan badanku.
"Pergi kamu Ca. Pergi!" kataku dengan suara keras.
"Tapi mas, mas kan janji akan menikahi aku. Kali ini aku nggak mau kalah sama mbak Jihan. Aku harus bisa mendapatkan kamu, mas!" Ica mencecar. "kamu juga sudah mencium aku. Lalu apa artinya itu semua, hah? Kamu kira aku hanya perempuan murahan pelarian kamu saat kamu bosan dengan istrimu? Iya, mas? Begitu? Nggak. Aku nggak terima. Aku jauh lebih terhormat dari mbak Jihan!" kata Ica.
Ia tak kenal menyerah, terus mengulang-ulang apa yang sudah ku lakukan sehingga membuat kesabaranku habis. Kesal, aku mendorongnya, mengusirnya hingga pergi dari rumah kami.
"Jangan pernah datang ke sini lagi. Ngerti kamu!" kataku dengan tegas
"Kamu jangan main-main sama aku, mas. Aku akan buat kamu nyesal. Kamu nggak akan bisa hidup dan mencari nafkah di sini karena aku akan menghalangi kamu sampai kamu dan istri kamu yang sombong itu datang minta maaf sambil bersujud sama aku." kata Ica.
__ADS_1
Perempuan itu berlalu dengan kemarahan di hatinya. Sementara aku menyesal sebab sudah meladeninya. Aku yang membuat masalah sendiri. Namanya api, meski sekecil apapun bisa saja membakar kita. Apalagi dengan hati manusia.