Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Cukup satu Istri Saja


__ADS_3

"Dik ...." Aku kembali bersimpuh di hadapan Jihan. ia tetap diam. Tak bergeming, seolah aku tak ada. "Maafkan abang Dik, maaf. Tolong maafkan." Aku menangis pilu. Jihan tetap tak bergeming. "Aku tak akan meninggalkan kamu, semua yang dikatakan Ica tak benar. Aku janji tak akan menikah dengan siapapun. Istriku cuma satu dik, yaitu kamu. Maafkan dik.maaf." seperti anak kecil, aku memohon-mohon padanya. Namun Jihan tetap diam tak bergeming. Seolah ia tak ada di sini, pikirannya benar-bemar kosong.


***


Tetangga rumah kami bercerita tentang malam itu. Jihan datang, dengan wajah kacau. Matanya bengkak. Ia mengatakan butuh bantuan sebab salah satu bayinya kejang, sementara yang satunya menangis tak berhenti-henti juga. Sebenarnya tetangga sudah khawatir mendengar suara tangis yang tak berjeda sejak siang, tapi karena bayi kami kembar, makanya mengira itu dua bayi yang bergantian menangis. Tetapi ternyata itu hanya Nabila yang gak terpegang oleh ibunya karena fokus pada kembarannya. Sementara'Nadira demam lalu kejang.


Jihan sudah kebingungan. Sejak aku tinggalkan, ia memang kewalahan menghadapi bayi kami. Aku tak tahu kalau Nadira sedang demam tinggi, hanya mendengarnya menangis beberapa malam saja. Mungkin Jihan sudah menyampaikan tapi aku abai sebab hanya memikirkan egoku sendiri. Saat itu yang terpenting hanyalah perasaanku saja, sementara kondisi anak kami tak ku pikirkan. Jihan benar-bemar menghandle semua sendiri.


***


Kondisi Jihan benar-benar membuatku sedih. Ia tak bisa berkomunikasi denganku. Tatapannya kosong. Dokter yang menangani menawarkan padaku untuk membawa Jihan ke psikolog. Di sana dikatakan kalau Jihan mengalami syok besar hingga otaknya tak mampu mencerna kejadian demi kejadian. Ia terpukul. Butuh sesuatu untuk membuatnya kembali bersemangat. Sesuatu yang ia sukai yang membuatnya bahagia, aku berpikir keras untuk itu.


Sementara itu, ditengah kerepotan mengurus Jihan dan Nabila. Aku juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangga kami. Mencari pekerjaan baru tidaklah mudah sebab Ica tak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar menghadangku.


Bram menasihati agar aku berdamai saja dengan Ica. Minta maaf pasti ia akan memaafkan. Ica bisa memberiku pekerjaan, mumpung ia masih berharap kepadaku. Apalagi saat ini Jihan kondisinya seperti itu. Rasanya tidak egois jika aku menikah lagi.

__ADS_1


"Suami ... kalau istrinya kondisinya seperti Jihan, wajar-wajar saja menikah lagi, San. Menikah dengan Ica itu akan memberikan keuntungan untuk kamu. Ia sekarang direktur sebuah perusahaan swasta yang berkembang besar. Kamu bisa numpang kerja di sana. Nanti, anak dan istrimu juga bisa diurus oleh Ica. Ia tak akan keberatan mencari dan menggaji pembantu sehingga kamu enggak perlu pusing-pusing lagi." Kata Bram.


"Apa? Nasihat macam apa itu?" Kataku, memandang sinis Bram. "Kamu tahu, kekacauan demi kekacauan dalam hidupku, sedikit banyaknya ada andil kamu, Bram. Coba aku nggak kenal kamu, mungkin hidupku masih aman, istriku sehat-sehat saja meski aku juga bersalah banyak sebab sudah mau mengikuti nasihat setan!" Kataku.


"Lho kok ngamuk. Yang aku katakan itu kan benar, San. Kamu saja yang terlalu kecintaan sama si Jihan. Asal kamu tahu, San. Istrimu itu sudah mendekati gila. Hilang ingatan. Apa yang mau diharapkan dari perempuan yang ingatannya Sudah tidak baik. Untung aku masih baik sama kamu, San. Ingat, kesempatan tak datang dua kali. Kalau Ica sudah berpaling dari kamu, nggak bakal Kamu nemu cewek mapan dan cantik kayak dia. Paham!"


Aku dan Bram terlibat adu mulut. Ia terus membanggakan Ica sambil merendahkan Jihan. Aku yang tak sabar akhirnya memukul mulutnya agar ia tak banyak bicara. Pukulan ituembiat Bram marah. Ku pastikan hubungan pertemanan kami berakhir. Aku tak mengapa, lebih baik kehilangan teman seperti Bram yang harusnya aku lakukan dari awal daripada mendengarkan orang membicarakan istri sendiri dengan merendahkan.


"Aku sumpahi kamu nyesal seumur hidupmu Dan!" Kata Bram, lalu berlalu meninggalkan aku sendiri.


"Kamu yang akan menyesal, sudah mempengaruhi orang lain hingga rumah tangganya berantakan!" Aku mengumpat.


***


"Kalau main-main ke Jogja, jangan lupa mampir ke sini ya pak Hasan. Semoga mbak Jihan dan Nabila sehat-sehat serta bahagia kedepannya." Kata salah seorang ibu yang paling banyak membantu kami.

__ADS_1


Setelah semuanya terjual, aku kembali ke kampungku. Bersama Jihan dan Nabila. Kami tak lama di sini, hanya untuk menyelesaikan penjualan rumah dan sawah ibu yang otomatis menjadi milikku karena aku satu-satunya ahli waris. Sebelumnya sudah ku mintai bantuan pakde sebagai orang yang aku percaya.


Keluarga besar tentunya tak senang. Menuduh Jihan lagi. Tapi kali ini aku gak bisa diam. Ku katakan Dengan tegas bagaimana istriku. Kondisinya sekarang juga karena keegoisan aku yang tak mementingkan perasaannya. Aku memang sudah bertekad, mulai sekarang akan jadi garda terdepan untuk membela jIham. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi. Sudah cukup selama ini istriku menderita. Ia berhak bahagia!


Setelah semua urusan beres, aku membawa Jihan dan Nabila ke kampungnya. Ya, kami kembali ke Sumatra, di salah satu kota kecil di Sumatra bagian Utara. Di sini kami akan memulai kembali hidupku, bersama Jihan dan Nabila dengan membeli sebuah rumah sederhana dan juga sawah sebagai modal kami memulai kehidupan.


Aku akan mulai bertani, dibantu oleh saudara-saudara Jihan yang begitu hangat. Sementara Jihan, tanpa perlu diterapi lebih lanjut, perlahan kondisinya mulai membaik. Ia semakin hari semakin bisa merespon. Mungkin karena hatinya kembali menemukan kehangatan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Sebenarnya aku sangat sedih melihat ini, di sini ia begitu cepat pulih sementara bersamaku ia sakit-sakitan. Itu berarti aku telah gagal menjadi suami yang baik untuknya.


"Bang," Jihan mengagetkan aku. "Abang kenapa melamun?"


"Enggak apa-apa. Abang hanya sedih saja sebab kamu harus ikut ke sawah padahal selama ini kamu tak pernah melakukannya. Maafkan Abang ya, tak becus menjadi suamimu, dik." Kataku, sambil mengusap kepalanya.


"Nggak apa-apa kok bang, aku justru senang bisa membantu Abang. Lagipula kan Abang belum paham tentang bertani. Meski aku nggak pernah sebelumnya tapi dahulu aku sering melihat tetangga kami ke sawah, makanya sedikit-sedikit aku tahu cara menanam pagi. Yang penting kita bersama dan Abang nggak berpikir nambah istri." Untuk kalimat terakhir, Jihan mengecilkan suaranya.


"Aku justru takut kamu mengganti suamimu dengan laki-laki yang lebih baik mengingat aku bukan suami yang baik, dik." Kataku, dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Awalnya aku memang marah bang, sampai-sampai badanku susah digerakkan. Mulutku rasanya Kelu padahal aku ingin memaki kalian. Mungkin ini cara Tuhan menjagaku dari berkata tidak baik. Tapi sekarang aku menyadari, ada lebih banyak kebaikan yang Allah kasih tak boleh membuatku buruk hanya karena sedikit keburukanmu, bang. Kamu sudah memilih aku hingga aku bisa jadi orangtua sikembar meski membersamai Nadira hanya beberapa bulan namun aku sudah bahagia." Air mata Jihan tumpah. Ia terisak-isak. Aku mengambilnya dalam pelukan, berjanji, yang lalu-lalu tak akan terulang lagi.


___TAMAT___


__ADS_2