Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Jihan Vs Ica


__ADS_3

"Nak Ica, besok ke sini lagi ya. Jangan lupa hubungi ibu juga. Ibu senang sekali lho bisa ketemu dan ngobrol sama nak Ica. Coba kalau dahulu ibu ketemu duluan sama nak Ica, pasti ibu ngelarang Hasan nikah sama Jihan supaya nikahnya sama nak Ica saja." celetuk ibu saat Ica pamit pulang, membuat kami berdua sama-sama terdiam.


Astagfirullah. Aku yang sempat begitu kesal pada Jihan tiba-tiba tersadar akan kebaikan perempuan yang sudah menemaniku berjuang dari nol, bahkan mungkin minus karena memang untuk bertahan di tahun pertama kami malah memakai semua perhiasan dan tabungan yang diberikan orang tua Jihan sebagai hadiah pernikahan. Semuanya terjual habis untuk biaya hidup sehari-hari, juga kebutuhanku bekerja.


Jihan yang biasanya hidup serba cukup rela kekurangan. Ia tak pernah mengeluhkan apapun padaku, baru kemarin ia membantah keinginanku yang sekarang baru aku sadari sebab ia pun punya hak untuk menjenguk orang tuanya. Siapa yang sanggup menahan rindu teramat dalam pada orang tua, apalagi ketika ternyata harus menjumpai mereka dalam keadaan sudah tidak ada . Sejujurnya saat ini aku menyesal sebab kemarin-kemarin sudah melarangnya, harusnya aku menepati janji, saat ada kesempatan maka langsung dilaksanakan.


"Bu, Hasan nggak suka ibu bicara seperti itu sama Ica ataupun perempuan lain. Ibu nggak lupa kan kalau Hasan sudah menikah dengan perempuan yang sangat Hasan cintai, perempuan yang untuk mendapatkannya saja Hasan harus berusaha lebih karena begitu sulitnya ia didapat, jadi jangan diulangi ya Bu. Bagaimana kalau Jihan sampai mendengar atau Ica menyampaikan padanya. Ia pasti akan sakit hati sekali, bisa kecewa sama ibu. Padahal bakti Jihan pada ibu sangat luar biasa sekali." Aku mengingatkan ibu sesopan mungkin agar ia tak salah paham.


"Halah San, apa yang ibu katakan itu sungguh-sungguh. Bukan sekedar basa-basi karena ketemu Nak Ica. Coba saja kamu dulu mempertemukan kami, San. Ibu restui kamu dengannya. Bukan dengan yang sekarang." Kata ibu.


"Astagfirullah Bu, kalau Hasan tak berjodoh dengan Jihan, mungkin Hasan tak akan bisa mencapai apa yang Hasan dapatkan sekarang. Bisa jadi ini berkat doa-doanya Jihan yang begitu sabar dan ikhlas menemani perjuangan Hasan."


"Ya anggap saja kalau tidak menikah dengannya kamu nggak akan bisa jadi manager, tapi kalau sama Ica mungkin kamu bisa lebih. Mungkin malah jadi bosnya kamu San mengingat sekarang saja dia yang ngasih kamu job dan orang tuanya itu orang kaya rasa kan San? Jadi ya nggak ada salahnya ibu berandai-andai seperti itu " kata ibu.


"Ya Allah Bu, Hasan tetap tidak setuju!" Aku kesal, makanya segera masuk ke rumah, tak ku hiraukan lagi panggilan ibu yang biasanya seperti kalimat sakti dan tak bisa dibantah bagiku. Ku putuskan untuk mengunci pintu kamar rapat-rapat.

__ADS_1


Jihan, aku sungguh-sungguh merindukan kamu. Aku ingin bertemu.


***


Entah ini keputusan terburu-buru atau apa, pagi ini aku kembali izin kerja, langsung berangkat ke kampung Jihan untuk menjemputnya dan anak-anak. Aku ingin membawanya kembali ke rumah kami terutama agar ibu tak lagi membahas Ica terus. Ku harap dengan Kepulangan Jihan bisa membuat ibu kembali baik padanya seperti dahulu.


"Aku tahu aku bersalah, tapi haruskah kita mengorbankan pernikahan kitta? Apa kamu gak kasihan pada anak-anak, dik?" Aku berupaya membujuknya. Menyadari kesalahanku dan menyatakan siap untuk mengubahnya. Untunglah Jihan bisa luluh, ia akhirnya mau pulang denganku.


Kami memutuskan kembali besok pagi sebab Jihan perlu waktu untuk bersiap-siap sekaligus aku bisa mendekatkan diri dengan keluarganya. Tetapi ibu terus saja menelepon, mempertanyakan kepulanganku. Ibu memang masih berada di rumahku, katanya belum mau pulang. Ibu memintaku untuk segera pulang, kalau Jihan tak mau pulang maka biarkan saja.


[Bu, Jihan mau pulang kok, tapi ia butuh waktu untuk beberes serta pamitan pada keluarga besarnya. Tidak bisa main pergi-pergi saja, apalagi Hasan menjemputnya dadakan. Lagipula Hasan juga masih ingin silaturrahim dengan keluarganya juga.] Kataku


***


Sedih sekali rasanya melihat Jihan menangis di makam kedua orang tuanya. Ia yang semula sudah bisa tersenyum akhirnya terlihat pucat lagi. Tampak tak bersemangat. Aku memaklumi sebab ia kehilangan dua orang yang disayang dalam waktu bersamaan dengan kondisi menahan rindu. Padahal sebenarnya bisa bertemu.

__ADS_1


Kesedihan itu juga tampak ketika ia berpamitan pada satu-persatu keluarga besarnya. Aku sampai berjanji pada diri sendiri, sebisa mungkin, minimal sekali setahun akan mengantarkan ia pulang agar Jihan tak perlu lagi menahan rindu.


"Sudah? Ayo kita berangkat." aku mengajak Jihan kembali sebab waktu keberangkatan pesawat kami sangat pas-pasan. Jihan menurut, ia mengikuti langkahku masuk ke dalam mobil sambil menggendong Nabila, sementara Nadira aku yang menggendong. "Abang janji, kita akan pulang ke sini lagi begitu Abang dapat cuti." Aku berbisik di telinganya hingga wajahnya yang sempat mendung perlahan berubah jadi lebih cerah.


"Maaf ya bang, kalau aku merepotkan Abang." Kata Jihan.


"Enggak dik, kamu benar-benar nggak pernah merepotkan Abang. Justru kamu istri yang sangat memahami suaminya. Abang yang minta maaf sebab karena kebodohan dan kekurangan Abang makanya kamu harus mengalami ini semua."


Perjalanan pulang kali ini memang masih menyimpan kesedihan, namun Jihan juga sudah bisa tersenyum dan banyak bicara denganku. Ia mengatakan sudah sangat bersyukur sebab akhirnya aku memahami isi hatinya. Kami sama-sama berjanji akan memperbaiki hubungan yang sempat memburuk kemarin. Aku akan lebih memahami Jihan dan mengutamakan keluarga dibandingkan mengikuti gengsi.


***


Ada Ica di rumah kami. Entah bagaimana ceritanya tapi ibu menyambut kedatangan kami bersama Ica di pintu rumah. Tak hanya aku yang terkejut, Jihan pun sama, meski ia berusaha bersikap biasa. Usai menyapa Ibu dan Ica, Jihan langsung pamit ke kamar bersama si kembar, katanya ia lelah. Tetapi selain itu, aku juga tahu ia menghindari Ica.


"Kenapa ada kamu di sini?" Tanyaku pada Ica.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Ibu yang suruh nak Ica datang ke sini. Ibu kesepian, nggak punya teman. Berkunjung ke rumah anak bukannya di temani malah ditinggal ke kampung istrinya. Harusnya kamu makasi sama Ica sudah menemani ibu saat anak ibu meninggalkan ibu." Kata Ibu.


"Ibu kan tahu, Hasan harus menjemput Jihan dan anak-anak. Hasan juga sudah pamit." Kataku. "Ya sudah, makasi Ca sudah menemani ibu saya. Sekarang kamu boleh pulang, maaf kalau merepotkan." Aku berharap Ica bisa segera pulang dan nggak kembali lagi ke sini.


__ADS_2