Cukup Satu Istri

Cukup Satu Istri
Ibu Telah Pergi


__ADS_3

Azan Subuh sedang berkumandang. Aku sudah rapi, bersiap ke masjid. Sementara Jihan masih menemani si kembar. Rencananya, usai salat baru akan kembali ke Jogja. Untungnya hari ini tidak ada meeting, jadi bisa izin datang terlambat. Aku langsung keluar kamar, di ruang tengah rumah masa kecilku, ibu tengah tertidur di atas sajadah, masih mengenakan mukena. Sepertinya semalam ibu menunaikan salat tahajjud, makanya ketiduran menanti subuh.


"Bu ... Ibu, bangun Bu. Sudah azan, kita ke masjid bareng-bareng ya Bu." Kataku, sambil mengguncang-guncang pelan tangan ibu. Tak ada jawaban. Makanya ku putuskan untuk mengguncang lebih kencang lagi. Tetap saja tak ada jawaban. Perasaanku jadi tidak enak, dengan inisiatif sendiri, aku memegang nadi ibu, lalu hidungnya.


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Ibu sudah tidak ada. Aku yang semula jongkok langsung terjatuh ke lantai. Tubuhku sangat lemas sekali. Tangisku pecah. Perempuan yang telah melahirkan aku telah pergi untuk selamanya.


"Bang, Abang kenapa?" Jihan keluar dari kamar. Sepertinya ia mendengarkan aku menangis. "Ibu kenapa, bang?" Jihan ikut panik, ia mengguncang tangan ibu, sembari memanggil-manggil ibu tapi tetap tak ada sahutan. Ia pun berinisiatif untuk keluar, entah kemana. Tapi tak lama Jihan kembali bersama pakde, bude, Uwak dan beberapa saudara lainnya. Ada juga yang memanggil bidan desa untuk memeriksa kondisi ibu.


"Bu Yayuk sudah enggak ada." Kata bidan desa. Membuatku langsung berteriak. Memanggil ibu, seperti seorang anak kecil. Tapi tubuh ibu sudah tak bisa bergerak. Tak menjawab pertanyaan dariku.


***


Begitu cepat rasanya. Semuanya sepertinya mimpi. Baru semalam aku merasakan betapa aku merindukan momen kebersamaan dengan ibu. Bahkan aku bertekad akan memperbaiki hubungan dengan ibu agar kelak kami bisa menjadi lebih baik lagi sebab ibu adalah satu-satunya keluarga besar yang aku miliki selain Jihan dan anak-anak.

__ADS_1


Tapi Allah berkata lain. Hanya tadi malam waktu yang Allah berikan untukku bisa memperbaiki semuanya. Untung saja ada Jihan, yang selalu menjadi penyatu antara aku dan ibu. Kalau tidak, mungkin ibu akan menutup cerita dengan bertikai denganku. "Terimakasih sayang, terima kasih sudah menjadi penyatu antara aku dan ibu." Kataku, sambil meraih kepala Jihan, memeluknya erat. Aku butuh dia untuk menguatkan aku saat ini. Kehilangan ibu ternyata begitu membuat luka di hatiku.


"Abang yang sabar ya." Kata Jihan.


"Ya. Tapi jangan pernah tinggalkan Abang ya dik. Sekarang hanya kamu dan anak-anak yang Abang miliki. Abang kehilangan semangat hidup, dik." Ungkap ku.


"Bang, jangan begitu. Abang harus terus semangat sebab itu yang ibu inginkan. Agar anaknya jadi orang sukses dan membuat bangga keluarga." Kata Jihan.


Penolakan aku itu menjadi pembicaraan keluarga besar kami. Rata-rata semuanya memojokkan aku. Menganggap aku tak berbakti. Padahal ibu juga masih punya rumah dan sawah yang baru aku belikan. Kalau belum punya uang sekarang bisa menjual sawah beberapa petak. Tapi lagi-lagi aku menolak hingga terjadilah percekcokan. Hanya pakde yang benar-benar memahami aku.


Untuk tamu-tamu yang datang, aku dan Jihan sudah menyiapkan catering yang memang sengaja kami pesan sebanyak lima ratusan kotak. Lagi-lagi hal itu membuat keluarga besar marah. Mereka menganggap aku tak menghargai sebab harusnya menyerahkan urusan belanja dan masak-masak pada tetua di keluarga kami.


"Maafkan Hasan, tapi ini semua Hasan lakukan demi kebaikan semuanya. Kalau masak khawatirnya malah semakin lama dan dananya juga cukup besar. Kalau catering kita tak perlu sibuk dan jelas dananya sesuai budget." Kataku. Mencoba menenangkan suasana. Kalau mau mengikuti ego, aku juga gak mau di salahkan. Tetapi untuk menghormati ibu, makanya aku mencoba diam saja. Abai dari sindiran-sindiran mereka.

__ADS_1


Tiga hari kami di kampung. Setelah itu pamit kembali ke Jogja. Lagi-lagi keputusan yang aku buat mengundang protes. U ak berharap agar Jihan tetap di sini, setidaknya selam sebulan untuk menjaga rumah barangkali masih ada yang mau datang ziarah.


Dengan kondisi punya bayi kembar, tentu saja aku tak bisa membiarkan Jihan tinggal di kampungku. Apalagi aku tahu, tujuan mereka menahan kami agar mengadakan pesta yang lebih besar lagi untuk kenduri. Mungkin mereka merasa ada kemungkinan bisa mendapatkan apa yang dia mau kalau bicara dengan Jihan.


"Kita pulang sekarang!" Kataku. Bude dan Uwak langsung melotot. Mereka masih tak terima. Malu katanya, sudah tak ada kenduri mewah, rumah duka langsung kosong di hari ketiga. Tapi apa boleh dibuat, aku pun harus melanjutkan hidup, pekerjaan di kantor sudah menunggu. Sementara meninggalkan Jihan di sini jelas gak mungkin. Ia tak terlalu familiar dengan situasi di kampung ini. Bahkan kemana-mana ia selalu mengikuti aku. Ditambah ia tak terlalu dekat dengan keluarga besarku. Jadi bagaimana mungkin aku bisa tenang meninggalkan ia dan sikembar di sini.


"San, kamu itu benar-benar nggak berbakti ya sama ibumu. Tega sekali mau pulang baru tiga hari sepeninggalannya. Bagaimana perasaanmu?" tanya Uwak. "Lalu kalau ada yang datang ziarah bagaimana?"


"Wak, maafkan Hasan. Tapi Hasan juga punya tanggung jawab lain. Hasan harus kembali kerja. Ada anak dan istri yang harus Hasan nafkahi juga. Ditambah nggak ada keharusan berapa lamanya juga kan menunggui rumah duka? Hasan akan selalu mendoakan ibu. InshaAllah. Tapi tidak menunggui di sini. Lagipula, mendoakan dimana saja juga nggak masalah. Kalau ada yang mau ziarah, Hasan sudah titip ke pakde, kunci rumah juga ditinggal. Jadi semoga Uwak memahami." Kataku.


Apapun penjelasan yang aku buat, tak bisa melunakkan hati Uwak dan Bude, dua keluarga yang paling frontal menahanku. Setidaknya Jihan sebagian wakilku. Sayangnya, dua orang tetua di keluarga besar kami ini cukup berpengaruh juga terhadap anggota keluarga lain. Mereka bisa mengubah cara pandang bibi, om, paman dan juga sepupu-sepupuku. Semua langsung sinis menatap, seolah aku adalah anak paling durhaka karena langsung pulang usai tiga hari pemakaman ibu.


"Si Udin saja yang dari Malaysia, waktu bapaknya meninggal bisa tinggal di sini selama sebulan. Membuat kenduri hingga seratus hari. Kau San, hanya semalam saja. Itupun dengan makanan apa kadarnya. Kalau kau tak sukses seperti ucapan ibumu kemarin-kemarin, aku bisa memahami. Tapi kan ibumu sendiri yang ngomong kau sudah berhasil. Sudah kaya. Huhuhu, nyatanya, sama saja. Sepertinya mentalmu yang memang miskin, San. Mau sekaya apa tetap saja nggak bisa diubah. Meski punya rumah dan mobil, tapi pantasnya kau cuma punya gubuk dan gerobak reot seperti punya bapakmu!" celoteh Uwak dengan sinisnya.

__ADS_1


__ADS_2