Damn! I Love You

Damn! I Love You
Rumah sakit


__ADS_3

Denia membuka kedua matanya. Lampu diatas tempat tidur nya sangat menyilaukan. Denia merasa sakit pada pergelangan tangan nya.


"Infus? dimana aku?" Denia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Kamu di rumah sakit". Suara pria itu mengejutkan Denia yang sedang kebingungan.


" Tuan? kenapa saya bisa disini? " Denia duduk hendak menggapai gelas air minum di samping nya.


"Kamu pingsan tadi. Sini biar aku bantu". Wilson mengambil gelas dari tangan Denia lalu membantu nya minum menggunakan sedotan.


"Terima kasih tuan". Denia memalingkan pandangan nya kesembarang arah.


jangan menatap ku!!!


Wilson hanya menjawab dengan anggukan. Lalu memilih duduk di sofa.


"Kenapa kamu bisa melewatkan sarapan mu ?" Wilson menatap Denia intens. apa dia pura pura tidak mengenaliku? gumam Wilson dalam hati.


"Oh itu... Saya bangun kesiangan tuan". Denia menunduk karena malu karena ketahuan bangun kesiangan sekaligus malu karena tatapan Wilson. Apa Wilson tidak ingat pada ku ya? tidak mungkin aku menyapa nya duluan. gumam Denia dalam hati .


" Hmm.. kata dokter kamu punya sakit maag akut. Kenapa kamu tidak ngemil di kantor tadi?"


"Maaf Tuan, tadi pagi saya sangat sibuk hingga lupa kalau saya belum makan..hehe". Denia mencoba mencair kan suasana yang canggung ini.


"Denia..."


"Hmmm? "


❣️❣️❣️❣️


Belum sempat Wilson bertanya ,tiba tiba.


tokk..tokk..tokk

__ADS_1


"Permisi Tuan dan nona, ini resep yang di berikan dokter. Nanti bisa ditebus di apotik lantai 1." . Terang seorang suster sambil memeriksa infus Denia.


"Kapan saya bisa pulang sus? " Denia duduk bersandar pada bantal sebagai alas kepalanya.


"Setelah infus nya habis, nona bisa segera pulang. Mungkin nanti malam nona sudah bisa pulang".


"Baik sus, terima kasih". Wilson berjalan mendekati Denia.


"Sama sama Tuan. Ingat, jaga kekasih tuan baik baik. Jangan sampai terlambat makan". Suster tersenyum ramah lalu meninggalkan ruangan.


"kami bukan sepasang keka....". Belum sempat Denia menjelaskan , suster sudah keluar.


"Ehem...". Wilson berdehem memecah ke canggungan ini.


"Oh ya, kenapa tuan disini? Ini sudah sore , sebaiknya tuan kembali ke kantor".


" Aku akan menemani kamu sampai pulang ". Wilson mengeluarkan hp dari saku lalu menelepon seseorang. "halo Anna? bereskan pekerjaan yang ada di meja ku. Aku tidak kembali ke kantor lagi hari ini".


"Tapi tuan.. Saya bisa sendiri. Tuan pulang saja ". Membayangkan jika harus berdua di ruangan ini sampai malam membuat Denia sakit kepala.


"Tuan, tetap lah disini". Denia menahan tangan Wilson


Wilson tersenyum lalu membantu Denia berbaring.


"Aku akan membeli beberapa makanan untuk mu. Kamu tidur lah".


"hmm.. ".


❣️❣️❣️❣️


Semua makanan yang dibeli Wilson habis di makan oleh Denia. Melihat hal itu membuat Wilson tertawa.


"Wah..kecil kecil kamu jago makan juga ya". Wilson mengambil tisue lalu membersihkan sisa makanan di bibir Denia .

__ADS_1


jantung ku! setelah maag apa aku jadi jantungan?


"Saya bisa sendiri tuan". Denia merebut tisue dari Wilson lalu mengelap bibir nya asal.


Setelah membersihkan sisa bungkusan plastik makanan tadi, Wilson pergi ke lantai bawah untuk menebus obat untuk Denia.


Tidak lupa dia membeli beberapa tambahan vitamin C untuk Denia tanpa resep dari dokter.


kasir


"Semua biaya nya 3.580.000 tuan". Seorang kasir rumah sakit mengeluarkan secarik kertas berisikan detail biaya rumah sakit.


habis lah setengah gaji ku bulan ini.. Denia nampak tidak bersemangat.


"Ini ..". Wilson memberikan kartu debit kepada kasir itu tapi di tahan oleh Denia


"Saya bayar sendiri saja tuan". Denia mencari dompet di saku baju nya".


"Sudah Denia, biar saya saja yang bayar. Gak apa apa kok".


"Tapi.." Denia masih belum menemukan dompet nya.


Setelah selesai membayar Wilson membawa Denia ke mobil nya.


❣️❣️❣️❣️


"Terima kasih tuan. Saya akan mengganti uang tuan nanti. Dompet saya seperti nya ketinggalan di kantor".


"It's okay Denia. Kamu gak perlu ganti ya. Anggap saja itu traktiran ku untuk merayakan pertemuan kita". Wilson tersenyum menatap Denia intens


"Saya masuk rumah sakit tuan bilang merayakan?" . Denia tampak kesal


"Hahaha, bukan. Bukan itu maksud ku Denia. Maksud ku adalah, hutang kamu kita anggap saja lunas. Hitung hitung untuk merayakan pertemuan kita lagi".

__ADS_1


"Lagi? Jadi Tuan mengingat ku?"


"Tentu! Kamu sudah ingat pada ku Denia?"


__ADS_2