
Denia kembali ke meja nya setelah berbicara sebentar dengan Wilson tadi.
Kenapa aku harus mentraktir dia makan ? ada apa dengan otak nya hari ini, ternyata dia bisa tertawa juga.
Denia masih berpikir keras apa maksud dari perkataan Wilson tadi. Belum memiliki keberanian untuk membuka amplop yang ada di tangan nya, dia duduk sambil membolak balik amplop itu.
Apa tuan Wilson hanya bersikap sarkas pada ku? apa aku di berhentikan ya? Gumam Denia
"Denia?"
"Oh my god! kamu ngagetin aku aja Lis!"
"Apanya yang ngagetin?haha. aku cuma panggil kamu yang lagi bengong. Gimana hasil nya?". Lisa menggeser tempat duduk nya mendekati kursi Denia.
Denia memperlihatkan sebuah amplop kepada Lisa yang bertuliskan namanya.
"Apaan ini? pesangon beb?". Tanya Lisa asal.
"Jadi aku beneran di berhentikan Lis?"
"Lah, aku mana tahu beb. Tadi kamu di kasih tahu apa sama tuan Wilson?"
" Kami semua cuma di kasih amplop ini Lis. Katanya pemberitahuan nya ada di amplop ini".
" Ya Tuhan Denia, kenapa gak dibuka? mau sampai kapan kamu mati penasaran?haha".
Lisa meraih amplop itu dari tangan Denia dan membuka nya dengan pisau lipat. Denia tidak sanggup untuk melihat isi amplop itu, jadi Lisa yang membacakan isi nya.
Namun mimik wajah Lisa malah berubah bingung penuh keheranan.
"Lis? apa isi nya? aku di pecat ya?" Denia tidak berani membaca isi amplop itu.
"Aku juga gak tau Denia. Di kertas ini cuma tertulis alamat sebuah cafe terkenal di kota ini. Kamu gak salah ambil amplop kan?" Lisa membolak-balik balik kertas itu mengecek apa ada tulisan lain di sana.
"Hah? kok gitu, sini coba aku baca".
Denia membaca sendiri isi amplop itu, dan benar saja, isi amplop hanya bertuliskan sebuah alamat.
Karena Anna yang membagikan amplop tersebut membuat kedua wanita itu berpikir apa Anna sedang mengerjai Denia?
❣️❣️❣️❣️
Setelah mempertimbangkan niat nya, akhirnya Denia pergi menemui Anna di lantai 10.
kenapa si mbak Anna harus ngerjain aku begini? padahal pekerjaan ini hal yang sangat penting untuk ku.
"Mbak Anna?" Denia mulai bicara.
"Ngapain kamu kesini? ini bukan wilayah kamu!" Jawab Anna ketus.
tuh kan, belum apa apa sudah nyolot duluan.
"Maaf mbak, saya cuma mau tanya, ketika mbak bagikan amplop di ruang meeting tadi, apa punya saya mbak salah kasih?" Denia menatap Anna intens.
__ADS_1
"Aduh Denia! Amplop itu langsung di kasih tuan Wilson sama aku buat dibagi ke kalian. Sudah ada nama kamu kan di amplop nya?" Anna merapikan meja kerja nya tanpa melihat Denia.
"Tapi mbak, isi nya..?"
"Sudah lah, sudah jam 5. Aku sudah telat mau bertemu teman.Kalau kamu mau protes soal isi amplop,kamu bisa bicara sama tuan Wilson sendiri". Anna berjalan meninggalkan Denia di sana dan berlari menuju lift yang sedang terbuka.
*kenapa jadi ribet ya? A*pa aku masuk keruangan tuan Wilson aja ya? Dia sudah pulang belum ya? Lupa tanya mbak Anna tadi . gumam Denia sambil menguping di balik pintu Wilson.
*d*rtttt..drtttttt..
unknown number calling....
"Nomor siapa ini? Nanti saja baru aku angkat. nasib ku lebih utama sekarang. Ayo Denia, ketuk saja pintu ini". Denia mengetuk pintu Wilson beberapa kali namun tidak ada jawaban.
1 missed call
"Sepertinya tuan sudah pulang. Jadi nasib ku gimana?"
drrrttttt..drrrtttt
unknown number calling...
2 missed call
Karena tidak ada jawaban, akhirnya Denia kembali ke meja kerja nya dan bersiap pulang.
❣️❣️❣️❣️
Denia membereskan semua barang nya. Melihat sekeliling ruangan kerja nya. Lalu berjalan lesu ke basement mengambil mobilnya.
Denia duduk bersandar dibalik kemudi nya, membuka jendela mobil membuat hawa panas basement masuk ke dalam mobilnya.
Sesekali dia menunduk kan kepala nya di stir mobil.
"Apa aku kurang kerja keras ya sehingga tuan Wilson tidak mau mempertahankan aku di kantor ini? Ma!!! Aku nganggur lagi Ma!!"
Denia berbicara sendiri lalu tidak sengaja menjatuhkan kunci mobil nya di dekat pijakan kaki.
"Ah! Sial sekali!! Dobel sial!!" Denia menunduk mencari kunci mobil nya.
"Kamu udah gak bisa angkat telepon ku lagi?". Pria itu mengejutkan nya lagi!
"Astaga!! oughh!! " . Denia tidak sengaja membentur kan kepala nya pada stir mobil karena terkejut.
"Kamu gak apa apa? " Suara pria itu terdengar khawatir ,bukan marah lagi.
Tuan Wilson?kenapa dia selalu mengangetkan ku! sialan!!!!
"Sa....ya gak apa apa tuan. Saya cuma terkejut saja. Maafkan saya". Denia mengelus kepala nya asal.
"Kenapa minta maaf? Oh ya, kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku dari tadi? apa kamu sudah berani mengabaikan atasan kamu?" Wilson kembali menaikkan nada bicara nya.
saya kan sudah di pecat..huh!!
__ADS_1
"Bukan begitu tuan, saya tidak tahu itu nomor tuan. Apa yang bisa saya bantu tuan?" Denia memutuskan untuk keluar dari mobil nya .
"Mulai hari ini kamu simpan nomor hape saya di hape kamu! kamu sudah buka amplop tadi?"
sudah, aku sudah tahu maksud mu tuan.
"Sudah tuan". Denia menjawab lesu
"Jadi? apa kamu senang dengan isi amplop nya?" Terselip senyum disudut bibir Wilson.
"Saya hanya diberi satu alamat tuan. Tidak ada tertulis saya menjadi karyawan tetap atau tidak. Bagimana bisa senang". Denia menunjukkan kertas itu pada Wilson.
"Loh? bukan nya dengan ada nya alamat itu sudah jelas kamu pasti menjadi karyawan tetap?"
"Maksud nya saya disuruh melamar di cafe itu tuan? saya tidak mau tuan". Jawab Denia polos.
"Haha, kata Mike kamu wanita yang pintar dan rajin. Tapi kenapa kamu gak mengerti maksud perkataan ku tadi sore?"
"Maaf tuan saya beneran gak ngerti".
"Sudah lah, disini panas sekali, kamu ikut saya pakai mobil saya aja". Wilson menutup pintu mobil Denia dan menarik Denia masuk ke mobil nya.
"kemana tuan? mobil saya gimana?" Denia terkejut dengan perlakuan Wilson.
"Mobil kamu nanti Parjo yang antar ke kos kamu".
Emang dia bisa tahu aku kos dimana? gumam Denia menatap Wilson yang sudah duduk di balik kemudi.
"Ya, aku tahu kamu kos dimana. Pakai seat belt kamu".
Selain kaya dan ganteng, dia juga bisa membaca pikiran orang ya?
❣️❣️❣️❣️
Mereka akhirnya tiba di satu cafe yang alamat nya persis seperti di kertas tadi. Cafe terkenal kata Lisa. Denia bahkan baru pertama kali mendengar nama cafe ini.
"Tuan, saya beneran gak mau kerja disini". Denia memegang seat belt nya kuat tanda dia tidak mau turun dari mobil nya.
"Siapa yang suruh kamu kerja disini? Saya mau makan di sini , kamu gak lapar?". Wilson turun dari mobil dan berjalan ke sisi pintu penumpang.
"Hah?...."
"Denia, kamu masih belum ngerti ya? kamu akan jadi karyawan tetap di perusahaan ku dan Aku bawa kamu kesini untuk menagih janji kamu tadi sore buat traktir aku". Wilson membuka seat belt Denia, wajah mereka begitu dekat. Denia hampir lupa bernapas.
"Jadi? Saya beneran jadi karyawan tetap tuan? Wah....makasih tuan". Denia tidak sadar memeluk tubuh Wilson.
"Maaf tuan. saya tidak sengaja". Denia buru buru melepaskan pelukan nya.
"Its okay Denia. Ayo masuk.saya sudah lapar". Wilson berjalan di depan, Wilson nampak tersenyum setelah dipeluk Sanny.
Syukurlah!!!!!! Ma, aku gak jadi nganggur! Tapi, apa dia serius suruh aku yang traktir? disini pasti mahal sekali! senyum Denia sirna setelah menyadari kalau dia akan kehilangan uang banyak nanti.
Bantu like dan komen yah guys
__ADS_1
terimakasih support nya untuk saya.