
Wanita itu membantu Wilson berdiri lalu duduk disebuah kursi yang ada di pinggir jalan. Wilson seperti belum juga sadar apa yang barusan terjadi.
"Sir? are you okay? Oh no! tangan nya berdarah". Wanita itu mengeluarkan tisue dari tas nya lalu membersihkan luka di siku Wilson.
"Sir ? i'll go to buy some anti septic to clean your hand. Don't go anywhere. okay? i'll be right back". Wanita itu buru buru berlari mencari apotik atau supermarket terdekat disana.
"Fiuhhh... kenapa aku harus membantu nya? aku akan ketinggalan pesawat ku nanti". Wanita itu membeli beberapa obat merah dan plester luka.
Wanita itu berlari kembali ketempat tadi, melihat pria aneh itu masih terduduk di sana. "Dia mengerti bahasa inggris ku yang buruk ternyata". Gumam wanita itu menghampiri Wilson.
"It may be little hurt, but please hang on. i'm sorry if my english are bad". Hati hati wanita itu membersihkan luka itu dengan alkohol.
"Ouhh shit! Sakit.." . Wilson meringis .akhirnya dia hidup kembali. haha
"Kamu bisa bahasa indonesia?" . Wanita itu melanjutkan membersihkan luka itu lalu di beri obat merah dan di tutup plester luka.
"Oke done! " Wanita itu melihat Wilson intens, apa yang terjadi pada nya? dari tatapan mata nya dia sedang terluka.
"Emm.. aku rasa kamu gak akan berterima kasih pada ku. Jadi sebaik nya aku pergi. Aku sudah ketinggalan pesawat ku". Wanita pergi berjalan meninggalkan Wilson. Tapi langkah nya terhenti, Wilson menahan tangan nya.
__ADS_1
"Terima kasih. Siapa nama mu?" Wilson mengangkat kepala nya menatap wanita itu. mata yang indah..
"Ehmm.. nama ku Denia. Sudah ya, aku pergi. Hati hati ya, jangan lakukan hal bodoh seperti tadi lagi. Bye". Wanita itu berjalan meninggalkan Wilson duduk sendiri
❣️❣️❣️❣️
Denia berlari masuk ke dalam airport sambil melirik jam tangan nya sekilas.
"Please please..jangan tinggalkan aku". gumam Denia sambil terus berlari menuju ruang check -in.
"i'm sorry miss. the plane from Sg to Indonesia already take-off ten minutes ago"
"Tuhan, bagaimana cara ku kembali ke Indonesia?" Denia menutup wajah nya dengan kedua tangan. Dia menangis. Negara ini sangat asing bagi nya. Uang di dompet nya juga tidak cukup untuk membeli tiket. Jika menelepon orang tua nya, mereka pasti akan sangat khawatir. Dia juga tidak punya teman dekat yang bisa dia hubungi.
Tiba tiba Denia teringat dengan pria yang di tolong nya tadi. Mengelap air mata nya lalu berlari keluar dari airport untuk menemui pria itu.
"Seperti nya dia mempunyai banyak uang. Dia pasti tidak akan keberatan jika aku meminjam uang pada nya". Denia menaiki sebuah bis menuju halte yang dekat dengan tempat dia bertemu pria itu.
Di kursi taman, di supermarket dekat jalan bahkan di apotik terdekat, Denia mencari pria itu. Hanya dia yang bisa menolong Denia sekarang. Hari juga sudah mulai gelap.
__ADS_1
"Aku gak mungkin harus tidur di airport". Gumam Denia sambil terus berlari mengitari tempat itu. Air mata nya tidak terbendung lagi. Dia kelelahan berlari.
Akhirnya dia duduk di kursi yang mereka duduki tadi.
"Hikss...Ma ,Pa.. aku takut..". Denia menangis sambil memakan coklat yang di beli nya tadi. "Hikss.... Aku lapar". Denia memutuskan untuk kembali ke airport untuk tidur. Bagaimana besok, Denia tidak berani memikirkan nya.
"Kau mencari ku?"
Denia menghentikan langkah nya. Membalikkan tubuh nya, menatap seorang pria yang di cari nya dari tadi.
Denia berlari memeluk pria itu. Malaikat penolong nya akhirnya ketemu!
"terima kasih .terima kasih". Denia belum melepaskan pelukan nya.
"Ehem..." Wilson berdehem untuk menyadarkan Denia
"Oh God! maaf kan aku". Denia berjalan mundur lalu menatap kesembarang arah.
"Cih".. Wilson tertawa melihat tingkah Denia. Dan di sambung oleh tawa Denia .
__ADS_1
malaikat penolong ku! kau tampan sekali!! Denia baru menyadari nya