
Senja telah datang,matahari telah menghilang dari pandangan manusia di bumi ini.
terang berganti gelap pertanda hari sudah malam.Namun hiruk pikuk perkotaan tetap lah sama.
Macet parah di ibukota bukan lah hal yang aneh lagi,sudah merupakan hal lazim malah.
mobil saling berhimpitan,klakson mobil seakan saling berlomba ,siapa yang lebih nyaring.sungguh menjengkelkan jika harus berada di situasi itu.
*tinnn.tinnnn..tinnnnnnnn
"woi majuin mobil loe begok!itu udah bisa jalan kan?"
"mata loe buta?lampu udah hijau bro!"
Wilson kelihatan menahan emosi untuk tidak membalas teriakan pengguna jalan yang meneriaki nya. Dia sedang bersama Denia sekarang. Jika harus emosi tidak mungkin dia tunjukkan di depan wanita pujaan hati nya.
"Mata loe yang gak ada ya! Noh liat depan simpang empat gak bisa gerak!kalau mau cepat naik jet sana!" . Denia menutup kembali jendela mobil nya.
What??
Wilson membesarkan matanya ketika mendengar Denia meneriaki balik orang yang teriak teriak pada mereka tadi.
"wahhh..daritadi aku yang tahan emosi biar dia gak terkejut,malah dia yang emosi duluan. Gumam Wilson sambil menahan tawa nya.
"Knapa kamu melotot gitu beb? udah buruan jalan ,udah lapang kan?"
"Eh ia beb.Ini aku jalan.hahhahaha".
"Apa yang lucu?kok kamu malah ketawa?"
"hahaha .kamu lucu banget tau gak Denia." Wilson mencubit pipi Denia.
"Apa nya yang lucu sih? Orang lagi emosi juga! Manusia jaman sekarang gak tau apa ya budaya ngantri.huh!". Denia mengelus pipi yang dicubit Wilson.
"Nah itu lucu. Kamu emosi gitu lucu, kayak macan beti..."
"Aww aww beb,kok di cubit sih?". Sanny mencubit lengan Wilson yang sedang memegang stir.
"Kamu mau bilang aku macan betina ?"
"Habis kamu biasa nya lembut banget sama aku, tapi ini pas emosi jadi serem.hahaha".
"Apaan lembut! ini juga bukan yang pertama kamu lihat aku emosi kan?"
Flashback off
"Eh mas! kalau punya mata dan otak itu dipakai ya! Parkir yang bener dong! liat ini mobil saya jadi lecet kena mobil kamu!"
"Maaf mbak, tadi saya buru buru jadi gak sengaja kena mobil mbak".
"Apaan maaf doang! ganti rugi buat biaya perbaikan mobil saya mas."
"Maaf mbak,tapi saya cuma supir. Saya gak punya uang buat ganti rugi".
"Kalau mas gak punya uang, ya udah telepon bos mas aja kesini buat ganti".
"Tapi mbak ..."
"Gak ada tapi tapi. Kalau gak ganti sebaiknya kita ke kantor polisi saja!
Hari ini kali pertama Denia berada disini. Di sebuah perusahaan besar, tempat dia melamar pekerjaan setelah lulus kuliah.
Interview tadi berjalan lancar. Dia diterima bekerja sebagai sales marketing di kantor itu.
Namun sialnya satu satunya mobil kesayangan nya harus lecet parah karena di senggol oleh mobil orang lain.
Cicilan belum lunas lagi pikir Denia.
kasihan juga sama mas mas nya,namun siapa yang akan kasihan sama aku buat perbaikan mobil ini?aku suruh bos nya aja gantiin kerugiaan nya. gumam Denia dalam hati.
Menit berganti jam, sang bos yang mereka tunggu tidak kunjung tiba. Denia sudah kelelahan menunggu karena panas nya basement gedung itu.
__ADS_1
Merasa ingin menyerah dan pergi saja tanpa mendapat ganti rugi dari pemilik mobi itu.
"Mas! bos kamu sesibuk apa sih sampai kita harus nunggu sejam lebih disini? Saya harus ketempat lain lagi nih. Gak hargain waktu banget si tuh orang".
"Maaf mbak. Bos saya orang penting di perusahaan ini. Jadi kita harus sabar nunggu mba. Saya gak berani jika harus telepon beliau lagi".
what? orang penting ? bagaimana jika bos yang di maksud mas supir adalah CEO disini? bisa bisa aku batal kerja disini. gumam Denia.
"Ya udah mas, saya pergi saja. Sudah gak usah ganti lagi gak apa apa mas." Denia merasa kalau dia sudah salah berurusan dengan orang.
"Loh kenapa mbak? bos saya sudah mau sampai sebentar lagi. Nanti pasti di ganti kerugian nya mbak".
"hehe,,udah gak usah mas. Saya ikhlas perbaikin sendiri saja.udah ya mas saya permisi duluan". Denia cepat cepat masuk kedalam mobil nya.
*drrrttt....drrrrttt
pak Wilson calling..
"halo pak?"
halo parjo,kamu dimana?saya sudah di basement.
"saya di blok G pak,mau saya susulin?"
"gak usah Jo,saya jalan kesana saja".
"baik pak".
tokk..tokk.. Parjo mengetuk jendela mobil Denia. Dengan berat hati Denia membuka jendela nya. Dia tidak bisa kabur karena mobil Parjo masih menghalangi mobil nya
"Mbak, bos saya sudah dekat. Sabar sebentar lagi ya.Mbak jangan pergi dulu.
"Udah mas gak apa apa. Gak usah di ganti lagi,hehe. Saya pergi saja se..".
Terdengar langkah kaki yang mulai mendekat.
tap..tapp.tapp..seakan seirima dengan jantung Denia yang deg degan karena ketakutan dengan apa yang akan terjadi nanti.
jleebbb...susah payah Denia menelan Saliva nya. Benarkan ini tuan Wilson bos diperusahaan yang aku lamar tadi. mati aku! gumam Denia
"ini pak Wilson, kenalkan ini namanya mbak Denia pak".
"bagian mana yang rusak Jo?"
Wilson berbicara pada Parjo tanpa memalingkan tatapan nya dari Denia. Entah itu tatapan terpesona atau tatapan mematikan karena Denia telah membuat dia membuang waktu penting nya dengan sia sia.
Yah..hanya tatapan datar tanpa ekspresi,semakin membuat Denia panik dan merasa malu harus bicara apa.
ekspresi apaan sih dia,datar gitu.senyum gak,marah juga kayak nya gak. dia bahkan tidak berkenalan dengan ku. Gumam Denia
"Ehem... Maaf pak sudah menganggu waktu bapak. Saya tidak tahu kalau bapak yang punya mobil ini". Denia mencoba mencair kan suasana.
"Kenapa memang nya kalau ini mobil saya?"
"Eh..itu.."
Setelah berbicara singkat,Wilson selanjutnya hanya memberikan ekspresi datar nya dan terus menatap Denia.
Sambil berbicara cepat kepada asisten nya untuk segera menyelesaikan masalah mobil ini.
Wilson meninggalkan basement dengan mobil yang lecet bersama Parjo,meninggalkan Denia dan asisten nya untuk menyelesaikan masalah ganti rugi.
dasar bos sombong!!dasar miskin ekspresi!! aku udah sapa duluan malah di tanya dengan pertanyaan gitu terus di plototin doang!huh!!
Flash back on
"hahahaha..lucu banget dulu pas kita pertama ketemu. Kamu takut sama aku kan dulu?". Ejek Wilson sambil membawa nampan pesanan mekdi mereke ke meja.
"Udah makan aja tuh burger kamu keburu dingin". Denia menyodorkan sebuah burger pada Wilson."Pakai ingat ingat kejadian memalukan itu segala! dasar cowok miskin ekspresi!" .Denia menyendok mc flury ke mulut nya.
"hahaha.. miskin ekspresi tapi kamu sayang kan?"
__ADS_1
"Ia sih.." . Jawab Denia asal sambil menyeruput soda di depan nya.
"Cih...".
hahahaha.. mereka berdua tertawa bersama.
Karena jalanan macet, mereka memutuskan untuk makan di mekdi. Sekalian mendinginkan emosi Denia tadi. Ketika dia sudah memakan ice cream nya, dia akan lupa kejadian barusan.
❣️❣️❣️
Setelah menghabiskan seluruh makanan dan es krim yang di pesan,mereka memutuskan untuk berjalan kaki mengitari sebuah lapangan di belakang mekdi.
Yah,mereka sering melakukan hal ini setelah makan. Hitung hitung untuk buang lemak yang sudah di timbun tadi.
Jika langsung pulang setelah makan pun, jalanan akan masih sangat macet. Karena sebelum jam 8 malam, hiruk pikuk jalanan masih akan sangat padat.
"Jangan pakai lari beb! Jalan santai saja.Nanti usus buntu loh habis makan malah lari!" Denia berteriak pada Wilson yang jarak nya sudah berjauhan dari nya.
"Aku gak lari kok Denia! aku cuma jalan cepat.haha". Wilson melambai lambaikan tangan nya dari jauh. "Cepat sini!".
"Udah jalan santai aja beb. Aku mau tanya sesuatu sama kamu". Denia berlari kecil menyusul Wilson.
"Mau tanya apa? kok muka kamu serius gitu sayang?"
"Itu, pas pertama kali kamu ketemu aku,apa yang ada dipikiran kamu dengan tatapan mematikan tanpa ekspresi itu?" .
"Hahaha..you still remember that baby?kenapa kamu pikirin sih,sudah lama banget juga".
"Ya ingat lah! tatapan dingin tanpa ekspresi!". Denia menatap intens wajah Wilson.
Hening, Wilson terus berjalan di samping Denia tanpa menjawab.Menambah keingin tahuan Denia akan jawaban Wilson.
"Hei beb! did you just avoid my question?"
"Hah ? Of course not beb. Aku cuma lagi bayangin wajah kamu 5 tahun yang lalu.haha". Wilson merangkul bahu Denia dan memeluk nya sebentar.
"Ya udah,jawab pertanyaan aku dong. Kamu mau aku mati penasaran?" . Denia melepaskan pelukan
"Denia..kamu tahu kan kalau ekspresi aku selalu kayak gitu ke siapa pun yang gak aku kenal?"
"Ya tahu lah,cowok jutek miskin ekspresi". Denia berjalan cepat meninggalkan Wilson yang tidak berniat memberi jawaban.
"Wait..wait beb". Wilson menarik tangan Denia. "kamu mulai lagi dengan panggilan itu ya".
"Gak tau deh" . Denia hendak mempercepat langkah nya lagi
"Listen to me beb! dulu aku lihat kamu tanpa ekspresi ya karena emang itu lah sifat ku. Kalau kamu tanya kenapa aku pandangin kamu tanpa ekspresi dan gak berpaling,Ya to be honest karena aku lumayan terpana sama wajah kamu". Wilson mencoba menjelaskan
"Ah gombal! Sesinis gitu apa nya yang terpana ? kamu jangan bohong ya!" . Denia menyelidik .
"Yah emang kayak gitu kan ekspresi aku. Bahkan sekarang kita udah pacaran pun ekspresi aku tetap sama kan kalau lagi serius ?"
"yayaya tuan tanpa ekspresi! gila aja, aku waktu itu takut banget kamu pecat sebelum sempat kerja".
"Ya gak mungkin aku pecat kamu. Aku udah lihat kamu dari jauh pas kamu interview".
"ah ciehh..jadi kamu udah suka aku duluan?haha". Denia mencubit pipi Wilson pelan.
"Aku yang suka kamu duluan apa kamu yang suka aku duluan?miss stalker?". Wilson tertawa menggoda .
"Apaan ?kamu lah pasti. wek". Denia menjulur kan lidah mengejek Wilson .
jadi dia tahu dulu aku suka stalker sosmed nya?ah...memalukan. Guman Denia dalam hati.
MAU TAHU GIMANA AWAL NYA WILSON DAN DENIA BISA SALING JATUH CINTA??
BANTU KOMEN DAN LIKE YA GUYS.
BIAR AKU NYA SEMANGAT BUAT NULIS EPS SELANJUTNYA.
MAKASIHHH ❤️❤️❤️
__ADS_1