Dear Adam

Dear Adam
Hukuman


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu ayam tetangga sebelah rumah Raya telah berkokok menandakan pagi telah tiba. Beberapa rumah telah bangun dan bersiap memulai hari begitu juga dengan Raya namun tampak nya wajah Raya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, kejadian kemarin siang membuat pikiran nya masih terjaga padahal sudah tengah malam.


"Ganteng?" tanya laki-laki itu. Dengan spontan Raya menutup mulut nya menggunakan kedua tangan nya, 'ihh mulut ini' ucap batin nya.


"Ahh... hmnn gak kak.. kakak salah dengar." ucap Raya gelagapan.


"Dua kali kamu jatuh di hadapan saya dan dua kali juga kamu bilang hal yang sama, saya pikir saya gak salah dengar." ujar laki-laki itu. Hanya dalam beberapa detik mereka bertatapan namun dalam hitungan detik juga laki-laki itu mengalihkan pandangan nya sedangkan Raya masih setia menatap nya.


"Apa kamu bisa berdiri?" tanya laki-laki itu tanpa melihat Raya, mata nya melihat ke sana kemari mencari bantuan. Karna sekarang jam istirahat jadi disepanjang koridor terlihat sepi, di lapangan juga hanya ada anak-anak cowok.


"Tunggu sebentar saya mau cari bantuan." ucap laki-laki itu dan berniat untuk meninggalkan Raya sendiri. Raya mengerti niat baik dari laki-laki itu tapi dia gak mau niat minta maaf nya tertunda dan dia harus mencari lagi laki-laki itu.


"Kak tunggu sebentar!" seru Raya membuat langkah laki-laki itu terhenti. Dengan sekuat tenaga nya dia mencoba berdiri walau masih terasa nyeri di kedua lutut nya tapi dia masih bisa berdiri, laki-laki itu merasa sedikit khawatir dengan cara berdiri Raya. Dia ingin membantu wanita ceroboh ini namun sebuah halangan membuat nya tak melakukan itu.


"Kenapa?" tanya laki-laki itu.


"Hmm saya baik-baik saja kok kak." ucap Raya dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh laki-laki itu.


"Saya hanya mau minta maaf karna menabrak kakak tadi, maaf ya kak." lanjut Raya. Laki-laki itu hanya mengela nafas, dia mengingat kejadian yang tak di sengaja itu. Dia juga merasa bersalah karna menabrak tubuh seorang wanita ini.


"Sudah saya maafkan, saya juga salah." jawab laki-laki itu. Namun Raya hanya menggeleng dengan cepat, bagi nya dia yang paling bersalah.


"Saya merasa gak enak tapi makasih kak." ucap Raya dengan senyum nya. Dalam sekejap laki-laki itu terpesona denga senyum seorang Raya, Raya itu jarang tersenyum dia lebih banyak diam dan kesal nya tapi jika dia terlihat tersenyum maka saat itu dia emang benar-benar senang. Jadi bisa di bilang laki-laki itu beruntung, cielah.


"Iya, kalau gak ada lagi yang di omongi saya mau pergi." ucap laki-laki itu, bisa gawat kalau dia menatap Raya kelamaan apalagi senyum itu.


"Iya kak." ucap Raya.


"Ahh kak! kalau boleh tau nama kakak siapa?" tanya Raya sebelum laki-laki itu pergi.


"Adam." jawab nya lalu pergi meninggalkan Raya yang sedang kaget.


"Gila! aku gak percaya kalau kemarin itu Kak Adam yang di omongin cewek-cewek waktu di kantin." ujar Raya sendirian di kamar nya, gara-gara itu dia kurang tidur dan terlihat lesu pagi hari nya.


Ttookk!!


Ttookk!!


Ttookk!!


"Nak kamu udah bangun?" tanya ibu nya.


"Udah bu." jawab Raya.


"Oh baguslah, nanti kalau udah selesai langsung ke meja makan ya. Ibu udah buatin nasi goreng kesukaan mu."


"Ya bu."


Raya langsung mandi setelah nya dia membereskan semua bahan-bahan yang harus dibawa nya nanti. Sebenar nya kemarin dia dan Tika lupa mencari tau bahan-bahan itu ke kakak kelas nya tapi bukan hanya diri mereka banyak siswa di kelas nya juga lupa. Tapi seperti seorang malaikat Mila memberitahukan arti bahan-bahan itu kepada teman-teman nya jadi mereka bisa terhindar dari hukuman.


Tring!!!


Sebuah pesan masuk di handphone nya, Raya membuka nya dan terpampang jelas nama sahabat nya, Si Rese.


"Pagi tuan putri...."


"Princess Tika otw ke rumah mu ya, ntar pergi barengan. Jangan pergi duluan loh, awas aja."


Begitulah isi pesan nya sedangkan Raya hanya membalas "😝"


Raya melangkah keluar dari kamar nya dengan membawa sebuah tas sekolah di punggung dan satu tote bag yang berisi peralatan MOS. Rumah nya hanyalah rumah yang biasa, tidak bertangga hanya punya 2 kamar 1 dapur dan 1 ruang tamu. Halaman rumah nya juga kecil tapi kalau bersantai di sore hari rekomendasi. Soal nya sore hari itu adem banget plus suasana nya gak seberisik di Jakarta.


"Bu, kayak nya Raya bakalan pulang telat hari ini jadi mungkin Raya ke toko habis maghrib." ucap nya setelah duduk di meja makan.


"Loh kenapa pulang telat?" tanya ibu nya.


"Ada MOS bu selama 3 hari, kata teman-teman Raya kemungkinan bakalan pulang sore tapi kalau pulang cepat Raya langsung ke toko." ucap nya sambil mengunyah nasi goreng.


"Yaudah gak apa-apa yang penting kalau ada apa-apa kabarin ibu" ujar ibu nya, Raya mengangguk dan menggunakan tangan kanan nya seperti hormat bendera sebagai ganti kata 'siap komandan'!


"Oh ya bu, Raya mau tanya." ucap nya.


"Tanya apa?"


"Kok ada ya bu cowok gak mau bantuin cewek kesusahan?" tanya nya hati-hati tapi tampak nya ibu nya bingung akan pertanyaan yang di lontarkan nya.


"Maksud nya apa nak?"


"Kan ibu tau kalau kemarin kaki Raya nyeri karna nabrak orang dan jatuh kesandung batu, ada cowok yang tau tapi dia malah mau minta bantuan orang lain buat bantuin Raya berdiri padahal kan dia bisa aja gitu langsung bantuin Raya berdiri, aneh banget bu." ucap Raya, sedari tadi itu yang ingin dia tanyakan.


"Emang gak kamu tanyain gitu alasan nya sama dia?" tanya balik ibu nya.


"Gak, Raya malu bu apalagi jatuh dia kali di hadapan nya." ucap pelan Raya.


"Loh kok malu sih." ujar ibu nya bingung dan hanya di balas cengengesan nya.


"Mungkin aja dia lagi sibuk jadi minta tolong orang buat gantiin." jawab ibu nya.


"Kayak nya gak deh bu, kan cuma bantuin berdiri gak bakalan nyita waktu lama." bantah Raya.


"Ya udah kalau gitu berarti dia lagi jaga diri."


"Jaga diri? maksud nya apa bu?" tanya Raya tak mengerti.


"Maksud nya dia tu gak mau nyentuh kamu karna kamu bukan mahram nya. Kan dalam islam yang laki-laki dan perempuan gak boleh bersentuhan kalau bukan mahram jadi mungkin aja itu penyebab dia gak mau langsung bantuin kamu nak." jelas ibu nya.


Sekarang Raya paham, kalau benar apa yang di katakan ibu nya tentang perilaku Adam itu berarti dia salah satu orang yang taat dong.


'ternyata Kak Adam itu orang sholeh ya.' lirih batin nya.


"Memang kenapa?" sekarang giliran ibu nya yang bertanya.


"Hehehe gak apa-apa bu, penasaran aja." ucap Raya melanjutkan makan nya.


Ibu nya hanya mengeleng kan kepala melihat tingkah anak perempuan satu-satu nya, didalam hati nya begitu bersyukur dapat menghidupi Raya setelah suami nya meninggal karna pada saat itu mereka sedang susah-susah nya.


Selagi Raya makan dengan tenang ibu nya menatap nya, dia selalu mendoakan anak-anak agar di masa depan mereka bisa sukses dan hidup bahagia dengan pasangan nya masing-masing. Dan ibu nya kembali sendirian tanpa ada yang menemani nya di hari tua, 'seandai nya kamu masih hidup mas..' lirih batin nya.


Ttookk!!


Ttookk!!


Sebuah ketukan dari luar terdengar tepat saat Raya sudah selesai makan, dia bergegas memasukan bekal nya ke dalam tote bag lalu berpamitan dengan ibu nya.


"Hati-hati ya nak." ucap ibu nya.


"Ya bu."


Ibu nya mengantarkan Raya sampai ke depan pintu, Tika melihat ibu nya Raya lalu menghampiri nya dan menyalami nya. Seperti Raya yang menganggap Tika sebagai sahabat, ibu nya juga menganggap Tika sebagai anak.


"Bu kami pergi dulu, assalamualaikum!" ucap Raya dan Tika bersamaan.


"Waalaikumsalam."


Sepanjang jalan menuju sekolah Tika dan Raya mengobrol banyak hal terutama tentang Adam, bukan Raya yang memulai pembicaraan tentang laki-laki itu.


"Ray, kata nya Kak Adam itu idola sekolah loh sama kayak Kak Bara." mulai Tika.


"Iya terus kenapa?" tanya Raya pura-pura cuek.


"Kok kenapa, kita itu beruntung banget loh ketemu dua cowok idola sekolah lagi!" seru Tika.

__ADS_1


"Duh Tik biasa aja kali." ujar Raya setenang mungkin.


"Kamu tu ya emang gak punya selera cowok." cibir Tika.


"Punya!" jawab Raya tak mau kalah.


"Apa coba? Jangan bilang abang sama almarhum ayah mu." tatap Tika.


"Nah tu tau." ucap Raya.


"Iih ku toyor juga nih kepala mu." dengan gerakan mau menoyor kepala Raya.


"Wleee." balas Raya seperti apa yang dilakukan Tika pada nya kemarin dan Tika pada akhir nya kesal, jadi sekarang mereka impas.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang walau di jalan tadi Tika merasa kesal tapi ketika melihat gerbang sekolah dan siswa-siswi lain perasaan nya membaik, hari ini hari pertama mereka MOS jadi hari ini harus mereka lewat kan dengan baik!


Dihadapan mereka sudah berdiri berjejer kakak-kakak kelas dengan seragam OSIS nya, beberapa dari mereka sedang memeriksa seragam yang dikenakan siswa kelas sepuluh. Ada yang langsung di biarkan masuk ada juga yang di hukum berdiri menghormati tiang bendera.


Raya dan Tika pun tak luput dari pemeriksaan, satu persatu barang-barang MOS di sebutkan begitu juga seragam yang mereka pakai namun sebagai siswa yang baik mereka lolos dari pemeriksaan.


"Anak-anak OSIS pada cakep-cakep kan Ray." ujar Tika.


"Biasa aja." jawab Raya.


"Kalau ngomong sama kamu tu emang bikin kesal ya." ujar nya dengan kesal, sahabat nya yang satu ini emang minim memberi pujian.


"Ya kan emang biasa aja Tik." kekeh Raya.


"Ya terserah kamu deh Ray eehh tapi kalau kakak-kakak kemarin ganteng kaan." goda Tika.


"Kakak-kakak yang mana?" tanya Raya pura-pura gak tau.


"Eleh! sok-sok-an gak tau sampe kecoplosan bilang ganteng." seru Tika dengan wajah nyinyir andalan nya.


"Gak tau aaahhh." sahut Raya meninggalkan Tika di belakng nya, 'sekarang pun pura-pura gak tau bakalan tetep di godain Tika' ujar batin nya.


Sedang kan Tika hanya bisa terkekeh melihat tingkah sahabat nya yang malu-malu kucing, 'udah tercium nih bau-bau nya.' ujar batin Tika.


Ttrriiinggg!!!!


Ttrriiinggg!!!!


Ttrriiinggg!!!!


Bel sekolah sudah berbunyi, Tika Raya dan siswa lain nya meletakkan tas mereka di kelas masing-masing lalu kembali ke lapangan sekolah dengan membawa barang-barang yang di minta. Di lapangan sudah ada kepala sekolah, guru-guru dan juga OSIS, pertama kali Raya melihat segerombolan siswa yang begitu banyak di satu lapangan ada siswa kelas 10, 11 dan 12, rame banget!


Aktifitas pagi ini di mulai dengan pidato dari Kepala Sekolah, pidato nya tidak terlalu panjang tapi cukup bikin pegal telinga siswa kelas 11 dan 12 karna didalam pidato itu terdapat sindiran dan juga motivasi dari Kepala Sekolah untuk mereka. Setelah itu kata sambutan untuk siswa baru dari beberapa guru dan terakhir ucapan selamat dari OSIS yang di wakilkan oleh Ketua OSIS saat ini, nama nya Kak Linggit.


Raya berdiri di barisan tengah bersama dengan Tika, dia terlambat untuk mengambil barisan depan apalagi ukuran tubuh nya kecil dibandingkan dengan teman-teman nya yang lain. Dengan tinggi badan 157 cm dan berat badan 49 kg membuat nya tenggelam diantara teman-teman nya yang pada tinggi-tinggi jadi sekarang yang hanya bisa dia lakukan adalah menjinjitkan kaki.


Ketika dia memperhatikan satu-persatu anggota OSIS pandangan nya menangkap seorang laki-laki yang beberapa waktu ini membuat dada nya berdegup.


'Ahh jadi Kak Adam anggota OSIS juga ya..' lirih batin nya.


"Bagian apa ya dia?" ucap Raya yang kedengeran oleh Tika.


"Siapa Ray?" tanya Tika bingung.


"Ehhh bukan apa-apa kok Tik." ucap Raya gelagapan. Raya kembali seperti biasa nya, dia hanya menatap kedua sepatu nya sedangkan Tika menatap heran ke arah nya.


Sekarang sambutan dan pidato telah selesai dan waktu nya MOS di mulai! Semua siswa dan guru-guru di bubarkan barisan nya hanya tinggal siswa kelas 10, anggota OSIS juga panitia MOS di lapangan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaratu!!" ucap salah seorang laki-laki.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu!!" balas siswa yang beragama islam.


"Selamat Pagi dan salah sejahtera buat kita semua." lanjut nya.


"Mantap, nampak nya kalian semua semangat sekali ya menyambut MOS kali ini." ucap nya dengan perasaan senang.


"Apa kalian semua bawa bahan-bahan yang di minta?" tanya nya.


"Bawa kak!!" seru para siswa.


"Bagus, jangan sampai kalian di hukum ya. Adik-adik sekalian MOS kali ini akan di mulai dengan memperkenalkan semua sudut sekolah kepada kalian. Nanti akan di pandu sama Bu Ajeng dan ditemani Kak Nara juga saya sendiri, kita akan memperkenalkan bagaimana metode belajar, sarana dan prasarana hingga petunjuk maupun tata tertib yang harus kalian ketahui. Setelah itu akan ada beberapa games yang akan kita main kan, nanti nya akan ada hadiah dan juga hukuman jadi siapkan diri kalian masing-masing ya..." tutur laki-laki itu.


Kurang lebih 1 jam mereka mengikuti Bu Ajeng, ada beberapa yang mencatat apa yang penting dan ada juga yang hanya ber-oh ria walau pun begitu mereka masih tetap tertib mengikuti arahan hingga selesai. Setelah acara mengenal sekolah lebih dekat, mereka di perbolehkan istirahat selama 30 menit selesai itu akan di lanjutkan dengan pengarahan oleh Bu Nia.


"Ray, aku baru tau loh kalau sekolah kita ini punya piala banyak banget." ucap Tika takjub.


"Kan sekolah nya juga cukup besar pasti banyak siswa yang pintar-pintar, masa gitu aja gak tau Tik." ujar Raya.


Mereka berjalan menuju kantin, masih pukul 9 pagi terlalu cepat buat makan nasi lagi jadi mereka hanya ngemil dan kembali ke lapangan.


"Ya aku gak tau, abang aku aja gak pernah ngomong tentang kelebihan sekolah nya. Aku jadi kepengen deh buat nyumbang piala juga." seru Tika.


"Oke semangat Tika!" ucap Raya tak tertarik.


"Emang kamu gak mau ikut gitu lomba-lomba?" tanya Tika penasaran.


"Gak deh, kayak nya aku gak berbakat." ucap Raya begitu santai.


Mereka tiba di depan kantin yang terlihat ramai, meja-meja yang tersusun banyak itu sudah di penuhi para siswa. Apalagi kelas 10 yang udah haus banget kayak Raya dan Tika.


"Mau pesan apa Tik?" tanya Raya melirik kesana kemari, mencari penjual yang terlihat sepi tapi hasil nya nihil.


"Es deh, minuman ku habis nih." jawab Tika dengan menunjukan botol kosong.


"Kalau cemilan?" tanya Raya lagi.


"Pentol kuah enak kali yaa." jawab Tika.


"Oke, kalau gitu aku ngantri minuman dan kamu ngantri cemilan ya. Aku mau pentol kuah kacang pedes yaa, kalau kamu mau minuman rasa apa?" tanya Raya sebelum pergi.


"Boba rasa banana yang manis Ray." jawab Tika sembari mengeluarkan uang 8 ribu nya. Begitu juga dengan Raya memberikan uang 5 ribu nya untuk pentol.


"Oke." ucap Raya lalu melangkah menuju salah satu stand yang sedang ramai. Kalau seperti ini bakalan lebih cepat dan gak nguras waktu buat ngantri, begitulah prinsip mereka berdua.


Beberapa menit telah berlalu sekarang Raya berada di urutan kedua, 'akhirnya bentar lagi.' ujar batin nya. Setelah seseorang yang ada di hadapan nya pergi baru lah dia di tanya mau pesan apa.


"Mbak Hazelnut satu!" ucap Raya dan seseorang di samping nya. Raya dan orang itu sama-sama menoleh dan mereka berdua sama-sama terkejut, nyata nya kini Adam ada di samping Raya sedangkan Raya sedari tadi fokus ke depan jadi dia sama sekali tak tau kalau laki-laki yang mulai di kagumi nya itu ada di samping nya.


"Maaf nih dek tapi hazelnut cuma tinggal satu." ucap mbak minuman membuyarkan tatapan mereka.


"Oh gitu, buat wanita ini saja mbak. Saya ganti sama choco caramel." ucap Adam mengalah.


"aah kalau gitu saya hazelnut sama banana Boba ya mbak." ucap Raya untuk pesanan nya.


Raya dan Adam pun kembali terdiam, tak ada ucapan apa pun di antara mereka. Dalam diam mereka menatap kedua sepatu masing-masing dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang tau apa yang sedang mereka berdua pikirkan namun satu hal yang pasti Raya makin menyukai Adam.


Setelah membayar pesanan masing-masing, Raya mengikuti Adam yang mulai melangkah keluar dari kantin. Dia ingin mengucapkan terima kasih namun langkah nya terhenti ketika seorang wanita menemui nya lalu dengan enteng memegang lengan nya.


"Siapa dia?" Ucap Raya, entah mengapa tiba-tiba perasaan nya menjadi panas.


"Lepasin dong Sha.." ucap Adam.


"Bagi dikit dong Dam baru aku lepasin." ujar wanita bernama Alesha itu. Tanpa pikir panjang Adam langsung memberikan minuman itu membuat Alesha cukup kaget.


"Ehh Dam aku gak minta semua nya." ucap Alesha namun Adam menghiraukan nya dan berjalan menjauh sedangkan Alesha yang merasa bersalah langsung mengejar Adam. Pemandangan itu membuat Raya cemburu, 'tunggu, aku cemburu?!' tanya batin nya.


"Ray! lagi liatin apa sih?"kalian." Tika yang datang mendadak.

__ADS_1


"Ehh Tik, gak ada kok." ucap Raya berjalan mendului Tika.


'Yang bener aja aku cemburu!' cicit batin nya. Sedangkan Tika yang tak tau menahu hanya mengangkat bahu melihat tingkah aneh sahabat nya.


Pengarahan di mulai kembali namun pikiran Raya sedang tak fokus saat ini, wajah nya memang terlihat memperhatikan namun pikiran nya masih mempertanyakan siapa wanita itu, 'tidak mungkin kan pacar nya Adam?' tanya nya sendiri.


"Ray!!"


"Rayaaa!!! iihhh kok bengong." cubit Tika menyadarkan Raya.


"Aaauuwhh.." teriak kecil Raya. Dengan pelototan tajam yang mengarah pada Tika tapi Tika membalas nya dengan berkacak pinggang.


"Harus nya aku yang kesal nih, kamu tu di panggilan dari tadi kok gak nyahut-nyahut." ucap Tika.


"Apaan orang aku gak dengar." jawab Raya.


"Idih, budeg ya?" ejek Tika.


"Enak aja." bela Raya, emang asli nya Raya gak denger karna lagi gak fokus.


"Kenapa sih Tik?" lanjut nya.


"Itu loh guru udah selesai ngasih pengarahan sekarang mau masuk ke sesi game habis tu pulang. Kamu tu ya emang gak dengerin guru bicara ntar kalau ketahuan kakak kelas gimana coba. Lagian mikir apaan sih?" tanya Tika pensaran.


"Gak ada, aku gak mikirin apa-apa." kekeh Raya.


"Bohong banget!" cibir Tika, Raya tak ingin berdebat jadi dia memilih diam dan berharap cepat pulang untuk membantu ibu nya.


"Nah adik-adik sekarang waktu yang di tunggu-tunggu, kita akan main berapa games yang menarik jadi sebelum itu silahkan ambil kupon yang sudah di sediakan panitia. Didalam kupon berisi nomor grup dan nanti setelah semua kedapatan saya akan memanggil kalian sesuai urutan nomor yaa." ucap Nara.


Semua siswa kelas 10 berbaris sesuai urutan kelas, lalu mengambil kupon yang di pegang oleh beberapa panitia hingga semua nya selesai mengambil dan sekarang waktu pembacaan nomor nya.


Dari kelompok dengan urutan nomor 1, 2, 3, 4 hingga nomor Raya di sebutkan yakni nomor 9. Raya bergabung dengan 9 orang bernomorkan sama dengan nya jadi tiap kelompok terdiri atas 10 orang. Raya mencoba memperkenalkan diri nya ke teman-teman nya yang lain, hanya dua orang dari kelas nya yang dia kenal selebih nya dari kelas lain sedangkan Tika berada di kelompok 3 bersama dengan Mila.


Games pun di mulai, game pertama yaitu menebak nama pahlawan yang akan di peragakan oleh Kak Didi. Selama game itu kelompok Raya mendapat kan 5 point sedangkan kelompok Mila mendapatkan 7 point tapi ada juga kelompok lain yang mendapatkan 1 point. Kemudian game beralih ke yang lain menggunakan bahan-bahan yang mereka bawa, jika di total kan hari ini ada 4 game yang mereka lakukan hingga di ujung acara total point mereka akan di umumkan.


"Nah baik lah adik-adik sekalian, sekarang kakak akan membacakan total point yang di dapatkan semua kelompok tapi kelompok yang nilai nya tinggi akan dapat hadiah dan yang paling rendah akan dapat hukuman. Untuk yang dapat hukuman akan di pilih tiap kelompok 1 orang yang mewakilkan nya." ujar Kak Zero.


"Untuk pemenang ke-3 selamat atas kelompok 3 dengan total point 34! silahkan perwakilan nya maju satu orang ya." ucap Zero, dari kelompok 3 yang maju adalah Mila.


"Untuk pemenang ke-2 selamat atas kelompok 1 dengan total point 41! silahkan perwakilan nya maju satu orang ya." lanjut nya.


"Dan untuk pemenang ke-1 selamat atas kelompok 10 dengan total point 47! silahkan perwakilan nya maju satu orang ya."


"Yak untuk yang kalah ada kelompok 9, kelompok 4 dan kelompok 7, silahkan perwakilan nya maju kedepan." ujar Zero, semua siswa pun bertepuk tangan.


Setelah kelompok pemenang diberikan hadiah yang berisi voucher makan dan minum sekarang tiba giliran yang kalah untuk hukaman namun siapa sangka saat 2 kelompok yang kalah sudah mengirim wakil nya untuk maju ke depan dari kelompok 9 tiba-tiba saja mengusulkan Raya yang dari awal terlihat aktif menjawab game-game tersebut.


Sebenar nya Raya tak mau tapi dia tak punya pilihan apalagi sekarang Kak Zero sudah memanggil nama yang diusulkan kelompok 9 untuk maju kedepan jadi ya dia terpaksa.


"Baiklah sekarang kalian harus mengambil satu kupon yang akan berisi hukuman untuk kelompok kalian." tutur Zero.


Satu persatu dari mereka mengambil nya, dua teman Raya merasa senang dengan apa yang mereka ambil sedangkan Raya tidak, 'Kenapa harus lagu romantis sih!' rutuk batin Raya.


"Oke silahkan siapa yang mau duluan?" tanya Zero.


Wakil kelompok 7 mengambil start lebih dahulu baru disusul wakil kelompok 4 dan terakhir adalah Raya. Raya bingung harus menyanyikan lagu apa hingga ketika mata nya menemukan sosok Adam yang sedang berdiri tak jauh dari tempat nya saat ini, muncul lah sebuah lagu di otak nya.


'Kalau aku nyanyiin lagu itu apa akan kentara sekali?' tanya batin nya.


"Oke selanjut nya wakil dari kelompok 9, silahkan jalankan hukuman nya." ucap Zero melihat ke arah Raya.


Raya langsung mengalihkan pandangan nya dengan senyuman yang muncul di kedua pipi nya dia berjalan ke arah sound sistem meminta untuk memainkan musik karaoke dengan lagu Jatuh Suka - Tulus dan Raya mulai bernyanyi.


"Sungguh ku tidak memiliki daya


Di depan harummu


Sungguh terkunci kata yang tertata


Di depan ragamu"


"Hu...hu...."


"Bila kau lihat ku tanpa sengaja


Beginikah surga


Bayangkan bila kau ajakku bicara


Ini semua bukan salahmu


Punya magis perekat yang sekuat itu


Dari lahir sudah begitu


Maafkan,


Aku jatuh suka"


"Bila kau lihat ku tanpa sengaja


Hu


Beginikah surga


Bayangkan bila kau ajakku bicara


Ini semua bukan salahmu


Punya magis perekat yang sekuat itu


Dari lahir sudah begitu


Maafkan,


Aku jatuh suka"


"Bila kau berkenan biarkanku di sampingmu...


Berkuranglah satu jiwa yang sepiiii...."


"Ini semua bukan salahmu


Punya magis perekat yang sekuat itu


Dari lahir sudah begitu


Maafkan.... oh uh....


Ini semua bukan salahmu


Punya magis perekat yang sekuat itu


Dari lahir sudah begitu


Maafkan,


Aku jatuh suka hm"


"Aku jatuh suka"

__ADS_1


Dari awal hingga selesai bernyanyi pandangan Raya tak lepas dari Adam, senyum nya yang merekah membuat beberapa orang bertanya-tanya tak terkecuali Tika dan Adam. Kalau saja ada yang peka pada nya karna lagu ini adalah isi hati nya pada laki-laki bermata indah itu.


__ADS_2