
Tepat pukul 08.55 Raya baru sampai di depan gerbang sekolah nya yang sudah terbuka sejak tadi, terdengar nafas terengah-engah nya setelah berlari dari area cfd ke sekolah dan bagi Raya ini di sebut lari maraton nya yang pertama kali. Setelah sampai di depan sekolah dia baru menyadari kalau tadi seharus nya dia naik angkutan umum saja atau pesan ojek online tapi dia benar-benar lupa. Pak satpam yang sedari tadi berada di dalam ruangan kecil tepat di samping gerbang terkaget melihat Raya yang seperti hampir ke habisan nafas saking capek nya.
"Neng gak apa-apa?" tanya pak satpam mendekat.
"Haa... haa.. paakk... haaa... haa.. ada... air pak?" tanya Raya ngos-ngosan, sekarang yang di butuhkan nya air. Pak satpam langsung masuk ke dalam ruangan nya dan mengeluarkan segelas air untuk Raya, dengan rasa haus dan kekeringan di tenggorokan nya Raya dengan cepat menghabiskan air minum itu.
"Kenapa neng lari-larian gitu kayak di kejar dedemit?" tanya pak satpam itu lagi. Raya melirik ke arah nama yang tertera di baju seragam nya, 'Pak Mahmud ya..' ujar batin nya.
"Saya telat ekskul pak.. haaa... saya permisi dulu." jawab Raya yang kembali berlari ke arah taman khusus LH, dia berjanji nanti bakalan balas kebaikan Pak Mahmud.
Beberapa siswa lain yang ekskul juga pagi ini melihat Raya yang tengah berlari sangat kencang, beberapa dari mereka berbisik-bisik dengan tingkah Raya tapi ada juga yang langsung menghiraukan nya. Pagi ini tak banyak ekskul yang berlatih hanya ada ekskul LH, PMR, Basket dan Jurnalistik, di sela-sela lari nya dia berharap gak kena omel pembina atau pun kakak kelas nya walau pun dia tau harapan nya itu kemungkinan kecil karna dia udah telat 15 menit lama nya.
Hanya berjarak beberapa meter dari nya, Raya dapat melihat sekumpulan orang-orang yang tengah duduk melingkar, dia bisa melihat mereka sedang menuliskan sesuatu dan diri nya baru sampai dengan nafas yang terengah-engah lagi.
"Haaa...haa...haa...." detak jantung nya bahkan terasa jelas di seluruh tubuh nya.
"Ibuk... bapak... dan kakak-kakak.... haaahh.. maafkan saya... saya telat... haaa..." ucap Raya dengan keringat yang membanjiri tubuh nya, dia masih belum bisa melihat dengan jelas siapa orang-orang yang sedang berdiri di tengah-tengah lingkaran jadi dari pada salah sebut dia menyebut semua panggilan dengan sopan.
"Kamu gak apa-apa? ini saya punya air, minum lah dulu." ucap suara yang tak terasa asing di telinga Raya, Raya mengangkat wajah nya untuk melihat siapa orang itu dia juga mengucek-ucek mata nya berulang kali barang kali dia salah melihat tapi laki-laki yang ada di hadapan nya adalah Adam. Raya terkaget dan spontan memundurkan diri nya, dia tak menyangka jika diri nya dan Adam satu ekskul.
"Kenapa kamu pusing?" tanya Adam lagi, tangan nya masih setia mengulurkan sebotol aqua yang masih tersegel. Jelas saja sekarang semua tatapan siswa yang mengikuti LH kini beralih ke arah Raya namun beberapa bisikan terdengar disekitar nya.
"Psstt!! itu cewek kok kayak caper ya sama Kak Adam?" bisik seseorang pada teman nya.
"Iya yah.. masa tiba-tiba telat apa dia gak lihat jam?" bisik yang lain.
"Eehh eeh tapi aku dengar-dengar ya kata nya dia itu suka caper, masa gara-gara dia Raja bertengkar sama kakak kelas." sahut yang lain.
"Yang kejadian di mana tu?" kepo yang lain.
"Yang di kantin waktu itu, aku lihat di antara Kak Bara sama Raja ada dia sampai-sampai aku dengar Kak Bara marah-marah." bisik yang lain.
"Aahh ii..iya kak terima kasih." Raya mengambil minuman itu dengan ragu lalu dia duduk di celah-celah yang lain.
"Jadi kamu yang nama nya Raya?" tanya seorang laki-laki yang juga ikutan berdiri di tengah-tengah lingkaran.
"Benar kak." sahut Raya, dia menunduk.
"Lain kali tu jangan telat dek! ini udah 25 menit lebih dan kamu baru sampai nanti gimana coba kalau yang lain ngikutin kebiasaan kamu?" timpal seorang wanita yang juga ikutan berdiri di tengah lingkaran.
'Kebiasaan? kok dia nyimpulin seenak nya sih?' tanya batin Raya namun yang keluar di mulut Raya hanyalah "maaf kak."
"Sudah lah, dia juga udah minta maaf karna telat." bela Adam.
"Tuh kan! Kak Adam sampai ngebelain dia loh, caper banget sih." bisik yang lain.
"Iya nih, pasti dia kesenangan banget." sahut yang lain.
Mendengar itu Raya makin menunduk kan kepala nya, dia merasa malu karna di jadikan bahan gosip teman-teman yang belum dia kenal. Dia juga ngerasa di bully halus sama yang lain tapi dia gak bisa balas karna emang nyata nya dia salah.
"Gak bisa gitu Dam, setiap orang harus menghargai waktu. Jadi kalian jangan coba-coba buat telat karna yang telat bakalan dapat hukuman." tutur wanita itu.
"Kamu! sekarang kutip semua sampah yang ada di sekolah ini." lanjut wanita itu.
Adam sebenar nya ingin mencegah hukuman itu karna melihat Raya yang terengah-engah datang ke sini, wanita itu juga baru istirahat sebentar untuk memulihkan kondisi nya langsung di beri hukuman. Adam merasa kasihan pada nya tapi mengingat kembali bisikan-bisikan yang terdengar dari beberapa adik kelas nya membuat Adam ragu, dia takut Raya berlanjut menjadi gunjingan yang lain.
"Baik kak." jawab Raya dan berdiri kembali. Dia berjalan mencari sampah-sampah sebagai hukuman nya dan Adam hanya terdiam melihat kepergian nya.
Ekskul LH berjalan dengan damai selama kurang lebih 1 jam setelah Raya menerima hukuman, beberapa siswa kelas 10 yang ikut ekskul LH sedang menulis hal-hal penting dari senior nya dan ekskul berakhir beberapa menit sebelum Raya datang dengan dua karung sampah yang dia kutip.
"Lama banget sih, dia ngelaksanai hukuman nya atau gak sih?" tanya wanita itu dengan kesal.
"Ya tungguin aja kali kan kamu juga yang ngasih dia hukuman ngutip sampah di sekolah yang besar ini." sahut laki-laki itu.
"Itu resiko dia, Rik! aku kan gak bilang ke semua sudut sekolah harus nya dia pake otak dong!" seru wanita itu.
"Lah? salah kamu dong Put, coba kamu bilang cuma di bagian ini atau bagian itu bukan nya di sekolah ini!" sahut Erik.
"Kok jadi salah aku sih? kok kamu belain dia sih?!" ucap Putri tak terima.
"Mikir dong Put, tu anak baru datang terengah-engah dia belum minum bahkan baru duduk bentar udah langsung kamu kasih hukuman kan bisa nanti selesai ekskul." tutur Erik.
"Kok kamu..." ucapan Putri terhenti.
"Udah... udah... mau sampai kapan kalian berdebat? adu mulut kayak gini gak bisa bikin dia datang ke sini dengan cepat, sebaik nya kita cari dia bersama." sahut Adam, dua orang insan ini kalau gak di tengahi bakalan ada yang terluka.
Adam memimpin jalan disusul dengan Erik dan Putri yang masih kesal tapi langkah mereka terhenti ketika melihat sesosok wanita yang tengah berlari membawa dua karung sampah.
"Haahhh.... haahhh... kak maaf... saya sudah.... menyelesaikan... hukuman ini..." ucap Raya dengan nafas yang naik turun, dia merasa lelah sekali kalau gak ada pak satpam yang membantu nya pasti butuh berjam-jam untuk mengutip sampah di seluruh sekolah belum lagi sampah yang ada di selokan sekolah nya.
Keringat deras terus mengucur di tubuh nya Raya, baju, celana bahkan dalaman nya juga ikutan basah. Tubuh nya terasa begitu panas apalagi dengan uap yang seakan-akan keluar dari tubuh nya. Dia ingin sekali duduk tapi dia kuat-kuati dihadapan 3 orang kakak kelas nya.
"Tuh kamu lihat Put, masih mau negatif thingking sama dia?" sindir Erik.
"Apaan sih." jawab Putri dengan gerakan mata yang tak suka pada Erik.
"Maka nya lain kali jangan telat!" tekan Putri dihadapan Raya, dia meninggalkan 3 orang itu begitu saja dengan perasaan kesal di dada nya terutama pada Erik.
"Sorry ya dek, kayak nya si Putri lagi PMS kamu boleh pulang. Oh ya satu lagi jangan lupa minta saling catatan sama teman-teman kamu ya karna minggu depan bakalan di tes apa yang kalian ingat dari catatan itu." Ujar Erik sebelum pulang.
"Baik kak." jawab Raya, sekarang dia harus menyalin catatan tapi catatan siapa? Raya sibuk dengan pikiran nya sendiri sedangkan Adam masih setia berdiri tak jauh dari nya.
"Sini biar saya bantu." ucap Adam ketika melihat Raya sama sekali tak beranjak.
"Eehh... ahhh gak usah kak, saya bisa kok." tolak Raya, dia tak ingin Adam yang pakaian nya bersih itu terkena noda sampah yang basah ini.
"Gak apa-apa, kamu keliatan nya terlalu susah membawa dua karung sekaligus biar kan saya membantu kamu." jawab Adam, dia begitu ingin menolong wanita ini. Mendengar perkataan Adam yang tulus membuat Raya menyerahkan sekantong karung kepada lai-laki itu.
Dalam keadaan diam dan hanya angin yang berhembus mereka berjalan tak beriringan, Adam memimpin langkah dan Raya mengikuti nya. Sepanjang perjalanan Raya tersenyum dengan perlakukan yang Adam berikan pada nya dari banyak gosip yang Raya dengar selama makan di kantin akhir-akhir ini ada gosip yang mengatakan kalau Adam itu lebih dingin ketimbang Zero, dia gak mau dekat-dekat dengan wanita bahkan terkesan menghindar. Udah banyak wanita yang modus minta bantuan nya tapi selalu dia tolak halus namun ketika berhadapan dengan nya Adam terlihat sedikit berbeda.
__ADS_1
'Boleh kah aku berharap lebih?' tanya batin nya.
Adam pun begitu, selama perjalanan menuju bank sampah dia memikirkan kembali perlakukan nya pada wanita yang sedang berjalan mengikuti nya.
Sesampai nya di bank sampah Raya dan Adam memisahkan kembali sampah sesuai pembagian nya, ada 5 tong sampah yang sedang tersedia sesuai nama nya di awali dengan sampah daur ulang, sampah organik, sampah b3, sampah guna ulang dan terakhir sampah residu kurang lebih 10 menitan mereka di bank sampah dan azan dzuhur berkumandang.
"Sudah azan, kamu shalat?" tanya Adam.
"Aahhh saya lagi gak shalat kak." jawab Raya dengan sedikit malu, pasal nya sekarang dia masih haid.
"Oh gitu, saya permisi dulu." ujar Adam mengarah ke masjid sekolah nya namun tiba-tiba langkah nya terhenti ketika dia mengingat sesuatu.
"Ini catatan yang harus kamu hafal minggu besok, salin lah sekarang." ucap nya pada Raya lalu melanjutkan kembali langkah nya.
Raya langsung mendekap buku yang tak terlalu tebal itu di dada nya, senyuman nya terus mengembang bahkan ketika Adam tak terlihat lagi di jangkauan mata nya, 'aku ingin sekali mendekat pada nya.' ujar batin nya.
Selang beberapa menit setelah Adam pergi, Raya menyusul nya ke masjid. Dia memang tak masuk ke ruang shalat tapi hanya duduk di teras masjid sekolah nya yang juga luas. Dia memotret catatan yang di berikan Adam pada nya dengan menggunakan handphone karna Raya sama sekali tak membawa tas, dia hanya membawa diri nya dan pakaian yang melekat pada nya.
"Tulisan Kak Adam ternyata rapi dan bagus juga, pasti Kak Adam nilai nya tinggi." ucap Raya sendirian, dia duduk di sini menunggu Adam selesai shalat.
Kurang lebih 15 menit Raya menunggu laki-laki itu siap, beberapa siswa wanita yang ikutan shalat juga mulai ke arah teras dan beberapa dari mereka berbincang-bincang dengan teman nya yang lain.
"Aku baru pertama kali shalat nya di imami Kak Adam." ujar seorang wanita dengan jilbab berwarna merah.
"Aku udah beberapa kali dan tiap dengar suara Kak Adam tu rasa nya tenang banget." timpal wanita berjilbab putih.
"Lah kan tiap dzuhur tu bacaan nya gak di keras kan?" tanya wanita berjilbab abu-abu.
"Ya kan pas Kak Adam bilang Allahuakbar nya atau pas dia doa." jawab wanita berjilbab putih tadi.
"Doa? iih aku belum pernah dengar.." sahut wanita berjilbab merah.
"Kak Adam doa nya jarang di keraskan sih suara nya tapi waktu itu doa nya panjang banget tanya aja si Santi walau panjang rasa nya tu sebentar doang kalau Kak Adam yang doa." ucap wanita berjilbab putih.
'Seperti apa ya suara Kak Adam kalau mengimami shalat? aku jadi penasaran.' tutur batin Raya.
"Eehh eehh lihat itu Kak Adam baru keluar." ujar wanita berjilbab abu-abu tadi. Raya langsung menoleh ke arah yang mereka tunjuk, terlihat sesosok laki-laki yang di mata Raya ke gantengan nya nambah seakan-akan wajah Adam terlihat bersinar dengan air wudhu nya. Raya tersenyum melihat nya, begitu juga dengan siswi-siswi tadi.
"Masya Allah ganteng banget gak ada obat kalau habis shalat." puji wanita berjilbab putih.
"Ayoo buruan Liv, kata kamu mau nyatain rasa suka sama doi." sahut wanita berjilbab abu-abu.
"Tapi aku takut ntar di tolak." jawab wanita berjilbab putih itu dengan ragu.
"Atau gak gini aja kamu tanyain dia apa tipe wanita yang dia sukai." timpal wanita berjilbab merah.
"Boleh juga tu, ayo Liv sebelum keburu pulang." ucap wanita berjilbab itu, teman-teman nya memberi kan semangat. Wanita yang bernama Livy itu pun melangkah mendekat ke arah Adam, mereka bahkan tak menyadari ke hadirkan Malik di samping Adam karna terlalu fokus ke Adam.
Melihat tingkah Livy, Raya juga ikut-ikutan mendekat. Dia dengan pura-pura baru keluar dari samping tempat shalat menuju teras utama masjid yang di mana hanya berjarak beberapa meter dari Adam.
"Assalamualaikum Kak Adam.." ucap salam Livy.
"Eeeh ada Kak Malik jugaa." ujar Livy merasa canggung, dia pikir Adam sendirian tadi ternyata ada Malik juga.
"Ada apa ya?" tanya Malik mewakili sahabat nya.
"Hmm ini kak, saya mau tanya sesuatu sama Kak Adam." jawab Livy.
"Tanya apa?" sekarang giliran Adam yang bertanya.
"Begini kak.. hmm saya penasaran, tipe wanita yang kakak sukai itu yang seperti apa ya kak?" tanya Livy dengan jantung yang mulai berdetak kencang.
"Kenapa tanya begitu ya?" sahut Malik, dia maupun Adam sama sekali tak mengenal wanita ini tapi dengan tiba-tiba dia bertanya hal yang aneh.
"Saya hanya penasaran aja kak." jawab Livy, sejujur nya dia udah merasa amat sangat canggung.
Raya masih memperhatikan mereka bertiga, dari jarak yang tak terlalu jauh ini dia masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Apalagi dia melihat secara langsung bagaimana Adam bersikap di hadapan wanita yang menyukai nya, dia masih bisa menunduk kan pandangan nya dan hanya menjawab seperlu nya.
"Kamu suka sama Adam ya?" tanya Malik tiba-tiba dan membuat wajah Livy memerah.
"Kamu tau kan kalau Adam tak suka berpacaran? jadi apa tujuan kamu bertanya hal itu?" lanjut Malik menginterogasi nya.
"Sa... saya..." ucap gugup Livy, dia seperti di tekan halus Malik.
"Maaf ya tapi saya tak berniat membuang waktu untuk pacaran, saya permisi." begitulah jawab Adam sebelum pergi namun jari jemari Livy menahan lengan nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Adam tanpa melihat ke arah Livy.
"Kak apa saya salah kalau punya perasaan sama Kak Adam? Apakah itu sebuah dosa yang membuat Kak Adam gak mau membuka hati untuk saya? saya sudah menyukai kakak sejak pertama kali melihat kakak, apakah kakak gak ada niatan untuk membalas rasa suka saya?" tanya Livy bertubi-tubi, dia menahan lengan Adam dan hal itu membuat teman-teman nya, Malik bahkan Raya kaget.
'Wanita itu gak bisa baca situasi ya?' tanya batin Raya, rasa nya dia ingin menghampiri Livy dan melepaskan lengan nya dari Adam tapi siapa Raya? dia bahkan tak punya hak atas Adam. Raya hanya wanita yang sama seperti Livy, sama-sama menyukai Adam dan hanya itu yang dia punya.
"Lepaskan tangan nya." ucap Malik yang mulai kesal.
"Jawab dulu Kak Adam baru saya lepaskan." ucap Livy.
'Haahhh wanita dan rasa suka nya yang seperti ini lah yang tak ku sukai.' ujar batin Adam.
"Kita bisa bicara baik-baik jadi tolong lepaskan dulu lengan saya." ucap Adam dengan sopan.
"Tapi nanti..." ucapan Livy terhenti.
"Laki-laki itu yang di pegang omongan nya, saya pun begitu." ujar Adam, dengan satu kalimat Livy langsung melepaskan cengkraman nya dari Adam.
"Hakikat nya perasaan yang timbul pada lawan jenis itu tak salah tapi yang salah adalah cara nya. Bagi saya perasaan yang bernama cinta itu suci, saya tak mau menodai nya dengan pacaran yang di anggap zina oleh Allah. Dalam surah Al-Isra ayat 32 berbunyi,
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً
'Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." tutur Adam.
__ADS_1
"Saya gak mau mendekati atau mencicipi dosa itu, saya sudah berprinsip kalau suatu hari saya jatuh cinta saya akan langsung menikahi wanita itu tapi jika saya jatuh cinta sedangkan saya belum mampu untuk menikahi nya maka akan saya pendam hingga waktu nya tiba, jadi saya tak bisa membalas perasaan kamu." lanjut Adam yang di balas anggukan setuju oleh Malik.
"Apa kakak gak takut kalau yang kakak katakan ini bisa di musuhi orang-orang?" tanya Livi, sedari tadi jawaban Adam membuat nya tertampar.
"Saya tak pernah takut akan penilaian orang lain, saya hanya takut sama Allah dan dosa-dosa yang saya perbuat. Terserah orang lain mau berkata apa tentang saya tapi saya selalu percaya pada janji Allah yang satu ini, kamu bisa cek dalam surah An-Nur ayat 26,
ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia surga." jawab Adam.
Raya tersentak mendengar penuturan laki-laki itu, di satu sisi dia merasa takjub dengan prinsip yang di pegang Adam namun di sisi lain dia merasa malu karna laki-laki seperti diri nya mampu berpikir dewasa untuk diri nya maupun untuk kebaikan orang lain. Raya jadi merasa ciut tentang perasaan nya terhadap Adam, dia yang berharap untuk dapat bertemu dengan Adam di setiap kesempatan tapi laki-laki itu begitu menjaga diri nya.
'Wanita yang jilbab nya panjang kayak gitu aja di tolak nya apalagi yang seperti aku ini?' tutur batin Raya.
Mendengar jawaban Adam membuat Livy mengerti kalau laki-laki yang ada di hadapan nya ini susah di gapai. Dengan kepala tertunduk dan rasa malu yang meliputi nya, Livy perlahan berjalan menuju tempat sendal nya berada dia pergi dengan perasaan sedih dan di ikuti teman-teman nya di belakang.
"Aku harap dia mengerti." ucap Adam lirih, tentu saja di dalam hati nya dia berdoa agar wanita itu terbuka hati nya.
"Dia pasti mengerti." sahut Malik seraya menepuk bahu Adam.
"Ayo pergi." ujar Malik, Adam pun mengikuti langkah sahabat nya. Raya yang tadi berniat untuk mengembalikan buku Adam pun menggurung niat nya, Raya kembali kerumah nya dengan perasaan bimbang.
Sesampai di rumah Raya hanya mengucapkan salam seadanya lalu masuk kamar, dia bahkan tak melihat ke arah ibu nya yang kini tengah mempersiapkan sesuatu.
"Ada apa dengan Raya?" ucap ibu nya heran.
Raya mengambil baju ganti nya dan keluar kamar menuju kamar mandi, dalam pikiran yang masih berputar pada ucapan Adam tadi bikin diri nya tak fokus. Hingga di meja makan saat mereka berdua tengah makan siang bersama.
"Kamu kenapa nak? sedari pulang tadi ibu perhatikan kok tampak lesu?" tanya ibu nya.
"Aahh... gak apa-apa bu." ucap Raya mencoba kembali seperti diri nya yang biasa nya. Namun seorang ibu tetaplah ibu, tanpa sepatah kata pun dari anak nya dia bisa tau ada sesuatu yang tak beres.
"Kamu gak mau cerita nih sama ibu?" tanya ibu nya lagi. Raya terdiam sesaat, dia merasa bingung tapi pada akhir nya dia putuskan untuk mencurahkan isi hati nya.
"Bu, salah kah kalau ada wanita yang suka dengan seorang laki-laki?" tanya Raya.
"Suka? gak ada yang salah, kan dari zaman Nabi Adam Allah sudah menciptakan seorang wanita dari tulang rusuk nya untuk melengkapi Nabi Adam." jawab ibu nya.
"Tapi kenapa ada orang yang menolak perasaan seorang wanita hanya karna beberapa potongan surah?" tanya Raya lagi, dia bertanya begini hanya untuk memastikan jawaban yang dia dengar dari Adam tadi.
"Berarti dia laki-laki yang taat agama, laki-laki seperti itu takut sama Allah dia bahkan menjalankan apa yang ada di dalam Al-Qur'an." jawab ibu nya.
"Kenapa? kamu sedang suka dengan seseorang?" sekarang giliran ibu nya yang bertanya.
"Iyaa bu.." jawab Raya pelan.
"Tapi Raya milih menyerah saja karna seperti nya gak ada peluang." lanjut nya dengan menunduk.
"Anak ibu ternyata sudah puber ya..." ucap ibu nya lalu mengelus kepala Raya.
'Ibu, kalau dulu Nabi Adam pasangan nya Hawa pasti sekarang juga begitu kan? Adam akan cocok dengan Hawa dan Hawa nya bisa siapa saja namun di antara kemungkinan seperti nya Raya tak termasuk.' lirih batin nya.
Suasana menjelang sore begitu tak terasa panas seperti siang tadi, selepas makan siang tadi ibu nya meminta Raya untuk bersiap-siap karna sore ini mereka berdua akan pergi ke sebuah tempat yang asing bagi Raya dan sebuah tempat yang sudah lama tak di kunjungi ibu nya, rumah nenek.
Ini pertama kali nya Raya mengunjungi nenek dari pihak ibu nya karna selama di Jakarta mereka sama sekali tak pernah pulang ke Malang, Raya pun hanya melihat foto nenek nya dari handphone milik ibu nya. Sedangkan ibu nya, Nina, tak sekalipun di izinkan untuk pulang oleh pihak keluarga nya bahkan atas perintah ibu kandung nya dia tak ingin melihat Nina dihadapan nya lagi.
Mengingat peristiwa yang menyakiti hati nya membuat Nina tak berani bertemu ibu nya, pasal nya waktu Nina meminta restu ibu nya saat hendak menikah dengan Zarman (almarhum ayah nya Raya) ibu nya tak memberi restu bahkan mengancam untuk tak mengakui Nina sebagai anak nya lagi maupun anak yang akan di lahirkan nya nanti bukan bagian dari keluarga Muharto.
Namun pernikahan ibu dan ayah nya Raya dapat berlangsung ketika Muharto (ayah kandung Nina) dan adik bungsu nya yang bernama Aini datang sekaligus menjadi wali dan saksi pernikahan nya dengan Zarman.
"Ibu gak apa-apa?" tanya Raya melihat wajah pucat ibu nya dan hanya di balas senyuman oleh Nina. Mereka berangkat menggunakan grab car menuju lokasi yang di berikan adik bungsu nya, Aini. Kali ini Nina memberanikan diri nya, di sepanjang perjalanan dia berharap ibu nya mau menerima diri nya dan anak nya.
Kurang lebih 30 menit mereka di perjalanan hingga terlihat sebuah rumah tua dengan gaya belanda masih kokoh berdiri di antara rumah-rumah yang sudah berevolusi menjadi gaya minimalis. Mata Nina mulai berkaca-kaca, sudah lama rasa nya dia tak ke sini hanya karna ancaman ibu nya. Nina begitu rindu dengan ibu nya bahkan merasa khawatir ketika Aini mengatakan kalau ibu mereka sudah mulai sakit-sakitan karna usia nya semakin menua.
"Sudah sampai buk." ucap supir grab.
"Makasih ya pak." sahut ibu dan anak itu.
"Ibu... semua bakalan baik-baik aja." ujar Raya memegang tangan ibu nya, dia memang tak tau apa yang di sembunyikan ibu nya dari diri nya tapi ketika melihat di sepanjang perjalanan ibu nya gelisah dan terlihat pucat membuat Raya ingin mengatakan itu.
"Makasih ya nak." hanya itu yang ibu nya katakan sebelum memasuki gerbang rumah yang berwarna hitam pekat itu.
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
Ibu Raya mengetuk pintu yang tertutup rapat itu berharap ada yang membuka nya, di luar teras barusan Raya melihat banyak nya sendal yang berserak yang juga menandakan kalau di dalam sedang ramai orang.
Seseorang membuka pintu rumah itu, terlihat seorang wanita muda dengan pakaian modis keluar dari balik pintu itu. Wajah nya yang cantik dengan rambut yang di cat warna pink pastel tengah menatap mereka berdua dari atas ke bawah.
"Siapa ya?" tanya nya.
"Kamu pasti anak nya Bang Mustaf ya? saya tante kamu yang ke empat, tante Nina." jawab Nina dengan tersenyum ramah namun wajah wanita muda itu tiba-tiba berubah menjadi masam.
"Ayaaahhhh!!! kesini bentar yahh.." teriak wanita itu.
"Eehh kenapa teriak-teriak gitu?" tanya Raya.
"Apa lu? kenapa tante yang udah di buang datang ke sini? nenek bahkan gak pernah mau ngelihat tante lagi." ucap nya dengan remeh.
"Eh kalau ngomong bisa baik-baik gak? kamu itu bicara sama yang lebih tua harus nya sopan dong." sahut Raya mulai kesal.
"Kenapa? gak suka lu? emang fakta nya gitu!" tekan wanita itu. Emosi raya terpancing, dia ingin mendekat ke arah wanita yang tak tau sopan santun itu untuk memberi nya pelajaran tapi tangan ibu nya menahan nya.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" tanya seseorang dengan suara yang terasa tak asing di telinga Nina.
"Ibu..." ucap nya dengan mata yang berlinang.
__ADS_1