
Di antara banyak nya orang yang berlalu-lalang di hadapan nya tapi entah mengapa ketika Adam memikirkan wanita itu dia langsung bisa menemukan nya, seperti saat ini. Alesha yang berjalan di belakang nya mendadak berhenti ketika Adam berhenti, dia mengikuti ke arah mana pandangan yang membuat laki-laki itu terdiam sejenak. Tepat berjarak beberapa meter dari mereka berdua terlihat seorang wanita yang kalau dia tak salah ingat adalah wanita yang membuat laki-laki yang dia sukai tertawa dengan mudah, Raya.
'Apa karna wanita itu dia berhenti?' tanya batin Alesha.
Adam hendak melangkah kan kaki nya menuju Raya namun baru tiga langkah dia berhenti lagi melihat Raya yang tiba-tiba berlari ke arah seorang pria asing. Dari jarak ini Adam bisa melihat tangisan Raya yang dia tak tau alasan nya apa.
"Aaabaangg.... huhuhu..." tangis Raya pecah melihat abang nya yang mendekat. Radi langsung memeluk adik satu-satu nya itu, sikap nya masih saja sama walau sudah kelas 1 SMA, sama-sama cengeng.
"Raya kangen banget sama abang..." ujar nya sesegukan.
"Cengeng banget sih tuan putri." sahut abang nya tanpa melepaskan pelukan nya, sudah lama rasa nya dia tak memeluk tubuh lemah Raya.
"Yyee.. biarin." jawab nya, Radi mengangkat wajah adik nya yang cantik itu tapi ketika dia menangis bagi Radi wajah nya terlihat jelek.
"Dasar jelek." ucap Radi yang di balas cubitan Raya di pinggang nya.
"Uuhhh enak aja.... walau nangis gini Raya tetap cantik ya." sahut Raya tak terima tapi Radi hanya tertawa, adik nya bahkan tak berubah seperti sebelum nya.
"Dam... lihat apa?" tanya Alesha dengan berdiri di hadapan nya, dia nencoba menutupi pandangan Adam yang terlalu fokus pada Raya.
"Eeh Alesha... ayo, abi udah nunggu pasti." hanya itu jawaban Adam, dia bahkan mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan Alesha.
'Jangan-jangan Adam suka sama dia?' tanya batin Alesha, seketika saja mood nya berubah gara-gara hipotesis nya sendiri.
Empat orang itu kembali berjalan menuju ruangan yang ingin mereka kunjungi, begitu juga dengan Tika dan Bara yang baru sampai di RSUD Kota Malang. Setengah jam lalu mendadak Dafa tak bisa mengantar kan Tika ke rumah sakit karna ban motor nya kempes setelah dia keluar sebentar jadi alhasil Tika menghubungi Bara gak jadi pergi ke sana tapi Bara menawarkan diri nya untuk menjemput Tika dan di iyakan oleh Tika, tentu saja dia kesenangan bahkan setelah tiba di rumah sakit senyum manis nya masih tetap mengembang.
"Tika." panggil Bara.
"Ya kak?" jawab Tika masih dengan senyum nya.
"Kamu kenapa? senyum-senyum terus dari tadi." ujar Bara, sedari tadi dia perhatikan ada yang aneh dari wanita itu.
"Hmm lagi senang aja kak." jawab Tika.
"Hayoo... senang karna apa.." goda Bara, dia masih belum sadar.
'Karna kakak lah, siapa lagi!' ingin nya Tika menjawab itu tapi di urungkan nya karna belum waktu nya.
"Senang karna.... rahasia." jawab Tika, perasaan nya pada Bara memang masih rahasia.
"Oohh gitu, jadi main nya rahasia-rahasian yaa" tutur Bara lalu meninggalkan Tika di belakang nya.
"Eehh Kak Bara... tungguiiiinnn." sahut Tika lalu menyusul nya.
Sepanjang perjalanan tadi memang mereka berdua banyak bicara, ntah itu obrolan yang di mulai dari Tika berlanjut ke Bara hingga ke hal-hal random pun mereka berdua bicarakan, mereka berdua begitu nyambung kalau bicara tapi sayang hati nya tidak.
Sampai di lorong tempat ibu Raya di rawat, mereka berdua melihat Raya dan seorang pria sedang berjalanan di membelakangi mereka berdua sontak saja Tika memanggil nya.
"Bestiiieee!!!" teriak Tika yang membuat Raya juga Radi kaget.
"Sstttt!!! dek jangan teriak-teriak." tegur Bara.
"Hehehe maaf kak, kebiasaan kalau manggil." ujar Tika salah tingkah, 'nih mulut kalau teriak kencang banget iihh!' salah nya pada diri sendiri.
"iihh Tika..." ujar Raya menghampiri nya.
"Tika Alfifa.... kamu tu ya kebiasaan kali teriak-teriak." dihadapan nya terlihat Raya yang sedang berkacak pinggang.
"Uuhhh kangen berat bestiiiee..." peluk Tika yang tiba-tiba, alih-alih minta maaf karna kebiasaan nya yang satu itu dia malah membuat Raya tambah gemes.
"Eehh tapi aku bawa catatan pelajaran kok." ujar nya lagi.
"Nah bagus gitu dong." tutur Raya yang kesal nya langsung menghilang, 'emang paling betul nyogok Raya kalau lagi kesel.' ujar batin Tika.
"Eeehhheeeemm!!! enak banget ya yang peluk-pelukan, kakak juga mau di peluk dong.." intrupsi Bara, tangan nya sudah siap buat memeluk Tika dan Raya tapi langsung di hindari Raya sedangkan Tika diam mematung.
"Eeettt gak boleh kak." ujar Raya.
"Bercanda doang dek." sahut Bara, namun bagi Tika hal itu bukan bercanda. Seandai nya... seandai nya Bara beneran meluk diri nya pasti hangat banget! padahal dia udah berharap banget.
"Raya sih ngerti kak tapi kayak nya Tika gak deh." sindir Raya pada nya.
"Iihh apaan sih bestiee.." cubit Tika, bisa-bisa nya Raya bicara seperti itu pada Bara. Raya hanya bisa tertawa melihat tingkah Tika yang salah tingkah.
"Btw dek, ini siapa? pacar kamu?" tanya Bara ke arah Radi.
"Oh bukan kak, ini abang Raya nama nya Radi." ujar Raya memperkenalkan abang nya. Mendengar jawaban Raya, Bara buru-buru minta maaf.
"Sorry ya bang saya salah kira."
"Oohh gak apa-apa, saya Radi abang nya Raya." Radi pun mengulurkan tangan nya dan di sambut Bara.
"Saya Bara, senior nya Raya di sekolah."
"Saya baru tau loh kalau dek Raya punya abang, saya pikir cuma anak tunggal." ujar Bara.
"Oh ya? mungkin karna saya gak di sini kali ya." sahut Radi.
"Iya nih, Bang Radi tambah ganteng sejak tinggal di Hong Kong, tips cantik dong bang kayak cewek-cewek Hong Kong." ucap Tika, memang sih selama tinggal di Hong Kong dia keliatan tambah ganteng apalagi bergaul dengan orang-orang yang selalu merawat diri nya maka nya Radi pun ikut terbawa ke hal yang baik.
"Apa hubungan nya cantik sama Bang Radi sih Tik? modus aja kamu nih." ujar Raya mengandeng lengan abang nya seakan-akan posesif.
"Ada dong, Ray." jawab Tika.
"Gak ada." sahut Raya.
"Ada." balas Tika.
"Udah-udah... kok kalian jadi berantem?" tanya Radi.
"Tika yang duluan modus bang." ucap Raya.
"Enak aja, posesif banget sih jadi adek." ledek Tika.
"Tuh kan... abang.." rengek Raya pada Radi tapi hanya di sambut gelengan kepala oleh nya sedangkan Bara hanya diam menyaksikan pertengkaran kecil mereka, dia bahkan kaget dengan perubahan sikap Raya yang tiba-tiba jadi kayak bocah SD.
"Kamu ini udah besar tapi sifat manja nya gak pernah ilang ya." ujar Radi sembari mengacak-acak pashmina Raya.
"Iya nih bang, di sekolah aja muka nya jutek plus cuek banget masa ya cewek kayak Raya ini di hari ke empat sekolah udah ada yang kasih surat cin.." perkataan Tika yang bagaikan kereta api yang gak terputus-putus itu langsung berhenti ketika Raya membekap mulut nya, mulut ember kalau yang Raya juluki.
"Eehhh kok di bekap gitu mulut nya dek? kasihan Tika nya." tutur Radi.
"Gak kok kak, Tika ini kalau ngomong gak bisa ngerem jadi Raya cuma bantu aja hehehe" jawab Raya, jujur saja dia gak mau abang nya tau soal surat cinta itu namun sebuah cubitan kecil di pinggang nya membuat nya terperanjat lalu melepaskan bekapan mulut Tika.
"Ya ampun Rayaaaa... bisa-bisa aku kehabisan nafas tau!" ujar kesal Tika.
"Tapi yang di bilang Tika benar sih bang, Raya yang di sekolah sama di sini tu beda banget ya. Apa jangan-jangan kalau bareng Tika dia bisa kayak anak kecil?" timpal Bara yang juga penasaran.
"Eehh gak kok kak, saya itu ya emang gini mungkin aja orang lain yang nganggap nya berlebihan." sahut Raya meluruskan nya, dia gak mau nanti gosip keluar kalau diri nya bermuka dua atau apalah yang jelek-jelek gitu tapi toh ya dia juga emang cuek sama gosip-gosip yang lain.
"Tapi dek, apa maksud nya surat cinta?" tanya Radi, kalimat terakhir dari Tika membuat nya penasaran.
'Mampus, mau jawab apa aku?' tutur batin nya.
__ADS_1
"Hmmm itu bang... surat gak penting lah pokok nya." jawab Raya.
"Dek, ingat ya jangan pacar-pacaran dulu sebelum lulus SMA." Radi memperingati nya karna dia juga tau masa-masa SMA adalah masa-masa cinta membara.
"Siap bos!" sahut Raya dengan cepat, dia paham akan kekhawatiran abang nya.
Di sisi lorong lain terlihat Adam dan Alesha yang masih mencari-cari di mana letak ruangan pakde nya di rawat, dia sudah berjalan sesuai arahan dari abi nya yang sudah tiba di sana lewat pesan whatsapp namun seperti nya dia salah mengambil jalan hingga tiba di lorong ibu nya Raya di rawat.
Awal nya dia belum merasa kehadiran wanita itu karna Adam masih sibuk membalas pesan ayah nya sedangkan Alesha masih setia menatap punggung Adam lalu mengikuti nya bak anak ayam. Tapi ketika dia mendengar suara yang tak asing baru lah saat itu dia mendongak ke depan dan terlihat lah empat orang tengah berdiri di pinggir lorong.
"Raya..." ucap Adam dengan pelan. Dan saat itu juga Raya menoleh ke arah kiri nya, mata nya menangkap sesosok laki-laki yang membuat dada nya bergetar lagi.
'Kak Adam kenapa di sini?' tanya batin Raya.
Tika yang awal nya asik mengobrol bersama Radi dan Bara mendadak melihat ke arah Raya yang tiba-tiba terdiam, pandangan Raya yang lurus ke depan, mata nya yang terlihat bulat sempurna seakan sedang kaget membuat Tika penasaran apa yang sedang Raya lihat.
"Loh itu bukan nya Kak Adam ya Ray?" ujar Tika, mendengar ucapan Tika dua orang laki-laki itu pun ikut-ikutan melihat ke arah pandangan mereka.
"Siapa Adam?" tanya Radi di sela-sela itu.
"Loh Dam? kenapa berhenti? salah lagi?" tanya Alesha yang belum tau namun Adam tak menjawab membuat nya makin penasaran lalu berjinjit melihat ke depan, tepat saja dia melihat wanita itu lagi bersama seseorang yang dia kenal, Bara.
"Bang Bara!" ujar Alesha sembari melambaikan tangan nya dan di balas lambaian tangan oleh Bara.
"Kakak kenal mereka?" tanya Tika mewakili rasa penasaran Raya.
"Tentu dong dek, siapa yang gak kenal wakatos sama Alesha di sekolah kecuali anak baru." jawab Bara, mendapat balasan dari Bara membuat Alesha dan juga Adam yang di tarik nya mendekat ke arah mereka berempat.
"Sha, lepasin." ujar Adam dengan pelan, dia gak mau bikin salah paham apalagi pada Raya namun Alesha tak menggubris nya.
"Hai Bang Bara." sapa Alesha masih memegang lengan Adam.
Bagaimana dengan Raya? tentu saja sejak mereka berdua berjalan mendekat ke sini Raya tak pernah melepaskan pandangan mata nya ke arah genggaman Alesha di tangan Adam, sekira nya mereka terlihat cocok begitulah pemikiran Raya.
"Alesha.." sahut Adam lagi.
"Eehh Adam.. sorry refleks hehehe." cengir Alesha seraya melepaskan lengan Adam yang di genggam nya.
"Waahh... saya kira kalian pacaran tadi, datang berdua sambil pegang tangan." ujar Bara melihat wajah salah tingkah Alesha, siapa saja yang melihat hal itu mungkin saja akan berpikiran sama dengan Bara tak terkecuali Raya dan Tika.
"Aahhh gak kok bang.." jawab Alesha yang mencoba menetralisir kan rasa salting nya.
"Abang kok disini? siapa yang sakit?" tanya Alesha mengalihkan pembicaraan.
"Gak atau gak..." goda Bara.
"Oohh ini mau jenguk ibu nya Raya bareng Tika, kalian juga ngapain di sini? mau jenguk ibu Raya?" tanya Bara, dia sengaja meletakan lengan kanan nya di baha kecil milik Tika dan si empu nya bahu kaget.
'Ya ampun... Kak Bara ngagetin.' tutur batin Tika.
"Oh iya kah? Alesha gak tau bang kalau ibu nya Raya di sini, tadi ikut Adam doang mau jengukin pakde nya di rumah sakit ini eehh tapi malah salah lorong dan berakhir ketemu Bang Bara." jawab Alesha.
Raya, Tika, Radi dan Adam hanya menyimak obrolan mereka berdua, Tika bahkan baru tau kalau Alesha maupun Adam ini terkenal banget di sekolah sama dengan Kak Bara. Sedangkan Raya hanya diam saja padahal Adam ada di hadapan nya, dia menjadi diam karna ucapan Adam di hari minggu kemarin, dia tak marah tentu saja hal itu gak ada guna nya kalau marah pada Adam tapi dia merasa tak pantas saja lalu membatasi diri nya agar perasaan nya juga terbatas pada Adam. Tapi berbeda dengan Adam, rasa nya dia ingin menanyakan siapa pria asing di samping Raya namun di tahan nya karna bagi Adam dia tak punya hak apalagi Raya juga terlihat lebih pendiam.
"Raya..."
"Raya...." ujar Alesha lagi, si empu nya nama baru tersadar dari lamunan nya ketika Radi menepuk pundak nya.
"Dek.. itu teman mu manggil." bisik Radi.
"Eehhh.. iya?" tanya Raya dengan wajah bingung nya, saat dia dengan asik mengingat kejadian hari minggu kemarin dia bahkan tak menyadari Alesha yang sudah memanggil nya.
'Nih anak mikirin apa sih?' tanya batin Alesha.
"Ibu mu gimana keadaan nya?" tanya Alesha karna Bara menyinggung soal ibu nya Raya jadi mau tak mau dia harus bertanya hal itu biar terkesan dia sopan.
"Ohh.. ibu saya masih belum sadar kak." jawab Raya dengan wajah yang tertekuk sedangkan Radi hanya mengusap pelan punggung adik nya yang masih sedih. Adam melihat itu, perasaan tak senang muncul di hati nya tapi dia bisa apa selain hanya melirik Raya sebentar lalu beristigfar?
"Semoga ibu mu lekas sembuh ya.." tutur Alesha dan langsung di jawab serentak oleh Raya dan Adam.
"Aamiin."
Mendengar ada suara yang sama Raya menoleh ke arah Adam sedangkan Adam tak berani menatap Raya seperti apa yang di lakukan wanita itu pada nya.
"Makasih kak atas doa nya, semoga kakak juga sehat selalu." balas Raya dengan sepenuh hati nya dan juga tertuju pada Adam.
"Aamiin... oh iya Raya itu pacar kamu?" tanya Alesha merujuk pada Radi yang sedari tadi diam.
"Eehhh bukan kak." tutur Raya dengan cepat.
"Ini abang saya, abang kandung nama nya Bang Radi." lanjut Raya, dia tak mau ada yang salah paham terutama Adam.
"Oohh abang toh... aku pikir pacar haha.." ujar Alesha dengan tawa canggung nya.
"Pantesan ya kalian kalau di lihat lagi emang mirip, saya Alesha bang." lanjut nya.
'Syukurlah abang nya...' lirih batin Adam, sebuah senyum kecil muncul di kedua pipi nya dan Raya tak tau itu.
"Oh ya salam kenal Alesha, saya abang nya Raya tapi kadang juga di anggap pacar nya eehh tapi bisa sih merangkap pura-pura biar gak ada yang dekatin, ya kan dek?" colek Radi pada adik nya.
"Bener tu bang." timpal Tika.
"Tapi di sekolah Raya ini emang gak suka dekat-dekat cowok sih jadi aman-aman aja kecuali satu." lanjut Tika.
'Kecuali satu? siapa?' tanya batin Adam yang masih menyimak obrolan mereka.
"Tikaa..." pelotot Raya, seakan-akan mata nya berkata 'jangan ngomong aneh-aneh.'
"Kecuali siapa dek?" tanya Radi yang penasaran begitu juga dengan Alesha.
"Kecuali... Kak Bara! Kak Bara itu baik banget, supel juga orang nya jadi mudah bergaul, Tika aja gak nyangka orang setenar di sekolah kayak Kak Bara mau gabung sama kami yang boring." jawab Tika dengan membalas pelototan mata Raya yang seakan-aka berbicara 'aman kan bestie.'
"Gak deh Tika ralat, yang boring itu cuma Raya, Tika mah orang nya asik ya gak Kak Bara?" tanya Tika pada Bara sedangkan Raya mencibir sahabat nya yang kayak bunglon ini.
"Hahaha bisa aja kamu dek." ucap Bara dengan tawa nya yang khas. Sedangkan Radi dan Alesha hanya ber-oh ria mendengar penuturan Tika tapi Adam berbeda, entah perasaan dari mana dia merasa kalau yang satu itu diri nya namun segera di tepiskan nya.
"Adek abang yang satu ini emang boringan banget Tika, maklum aja ya." ujar Radi sembari mengusap kepala Raya yang di balut jilbab.
"Kayak abang gak boringan aja." ledek Raya.
"Oh iya ini siapa? senior Raya juga?" tanya Radi kepada Adam yang sedari tadi diam sembari mengulurkan tangan nya dan di sambut oleh Adam.
"Saya Adam bang." tutur Adam.
"Oh iya, saya Radi salam kenal." ujar Radi yang di balas anggukan oleh Adam.
'Abang, gimana rasa nya berjabat tangan dengan laki-laki itu? apakah tangan nya hangat atau dingin seperti sikap nya pada wanita lain? aku ingin menyentuh nya.' tutur batin Raya namun dia langsung menggeleng, 'dosa Ray! dosa.' ingat batin nya.
"Karna senior Raya ada di sini saya cuma mau bilang, mohon bantuan nya ya buat Raya, dia emang anak nya gampang ceroboh tapi bisa di andalkan kok." ucap Radi dengan sepenuh hati, dia tak bisa selalu ada di samping adik-adik nya tapi bukan berarti dia tak memperhatikan adik satu-satu nya ini, maka karna itu dia bilang hal tersebut sebagai bentuk perhatian diri nya.
"iihh abang kayak Raya anak kecil aja." cibir Raya, dia malu apalagi ada Adam.
"Emang kamu masih kecil." balas Radi dan tak bisa di elakan nya sedangkan Tika tertawa melihat sahabat nya.
__ADS_1
"Mumpung ada di sini gimana kalau kita foto bareng? buat kenang-kenang aja sih karna ketemu nya kebetulan." ucap Tika mengeluarkan handphone nya dan di setujui semua pihak kecuali Adam yang masih terdiam. Dengan meminta bantuan Ners yang lewat mereka mengatur formasi agar terlihat rapi dan bagus didalam foto.
Tika menyuruh Raya berdiri di tengah di susul diri nya di sebelah kanan dan Alesha di sebelah kiri sedangkan tiga laki-laki itu berdiri di belakang mereka dengan Radi yang berada di belakang Raya disusul Bara di belakang Tika dan Adam yang berdiri di belakang Alesha. Ners mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda untuk foto terakhir Adam melirik ke arah Raya yang tengah tersenyum manis, bahkan terlihat dari samping wanita itu tetap saja manis di mata Adam.
"Makasih ya Ners." ucap Tika yang di balas senyuman oleh Ners itu.
Tika yang tengah asik melihat foto-foto tadi menarik Raya untuk melihat foto terakhir, feeling Tika emang benar terlihat Adam yang tersenyum tipis ke arah sahabat nya sedangkan Raya menepik kuat-kuat argumentasi Tika.
"Tika, tolong kirim kan foto-foto tadi ke Whatsapp saya ya." tutur Alesha, dia penasaran dengan hasil foto itu apalagi Adam ada di belakang nya. Tika hanya mengangguk lalu meminta nomor Whatsapp Alesha, tentu saja foto terakhir tak dia kirim kan. Selagi mereka mengobrol dan foto di kirimkan sebuah telpon berdering di saku celana milik Adam, terlihat panggilan dari ayah nya.
"Sebentar ya bang." tutur Adam kepada Radi dan Bara.
"Assalamualikum abi." salam Adam.
"...."
"Maaf abi tadi gak sengaja salah jalan dan ketemu junior Adam di sekolah, ibu nya sedang di rawat di sini jadi sekalian mampir saja." jawab Adam.
"....."
"Iya abi, ini juga mau pamit dulu baru ke sana." sahut Adam.
"..."
"Waalaikumsalam abi." dan panggilan berakhir.
Raya yang di samping Tika pun melirik ke arah Adam, bahkan untuk mengangkat telpon saja dia terlihat sopan dan santun apalagi bicara dengan orang lain. Laki-lak seperti Adam ini bahkan lebih dari kriteria nya tapi Allah menghadirkan nya berada tak begitu jauh dari Raya. Sejak pertama kali bertemu dengan Adam saja Raya langsung menyukai nya tapi apakah itu sebuah pertanda atau pembelajaran bagi nya?
"Kenapa Dam?" tanya Bara.
"Oh ini bang abi saya tanya lagi di mana, seperti nya saya harus pergi, maaf ya gak bisa lama-lama." jawab Adam yang di balas anggukan Radi juga Bara.
"Sha, ayo." tutur Adam pada Alesha.
"Sudah?" tanya Alesha pada Tika.
"Sudah kak." jawab Tika.
"Oh oke makasih ya, kami balik dulu." ujar Alesha yang di balas anggukan Tika dan Raya.
"Semoga ibu mu segera pulih, ya." ucap Adam pada Raya.
"Aamiin, terima kasih kak." jawab Raya dan pergi lah mereka berdua ke arah yang sama.
Dengan diam Raya memperhatikan mereka berdua pergi walau ada perasaan tak suka nya dia pada Alesha yang bisa sedekat itu pada Adam sedangkan diri nya tidak. Tika seakan-akan tau isi hati sahabat nya hanya memegang bahu Raya lalu menepuk nya pelan sedangkan Radi yang dari awal memperhatikan raut wajah adik nya kebingungan sendiri akan sikap adik nya yang mirip bunglon, tadi aja sebelum mereka berdua datang dia terlihat seperti adik nya yang biasa tapi ketika mereka datang Raya mendadak diam seribu bahasa, menjaga sikap dan perilaku nya jad hal itu tentu saja mendarat kan beberapa pertanyaan di kepala Radi.
"Ayok Tik, Kak Bara masuk ke dalam gak enak berdiri mulu." ujar Raya mempersilakan mereka masuk, mereka pun masuk dan melanjutkan obrolan hingga malam tiba.
Selesai maghrib tadi Bara berpamitan pulang terlebih dahulu karna ada urusan dan tinggal lah Tika, Raya juga Radi di ruangan itu. Selesai maghrib juga ibu nya baru sadar setelah seharian lebih tak sadar kan diri tentu saja tangisan bahagia terpancar di mata Raya maupun abang nya. Dan sekarang sudah pukul sembilan malam, besok pagi Raya harus sekolah seperti biasa nya begitu juga dengan Tika alhasil mereka pulang bareng sedangkan Radi akan menginap semalaman di samping ibu nya.
"Abang, kami pamit dulu yaa..." ucap Raya dan menyalami tangan Radi.
"Ibu, Raya pulang dulu yaa... ibu cepat sembuh nya kalau gak ada ibu di rumah sepi kali rasa nya." lanjut Raya sembari memeluk lembut ibu nya. Nina hanya mengangguk mendengar keluhan putri nya, di susul juga dengan Tika yang berpamitan kepada mereka berdua lalu keluar dari ruangan.
"Ray.." panggil Tika saat mereka keluar.
"Apa?" jawab Raya, dia sedang memesan grab car untuk membawa mereka pulang.
"Kalau menurut aku ni ya kayak nya Kak Adam juga ada rasa deh sama kamu." tutur Tika, dia kembali memperhatikan foto mereka yang tadi.
"Jangan ngawur kamu." tampik Raya.
"Lah kok ngawur, nih ada bukti nya. Masa di foto terakhir dia lihat ke arah kamu terus tersenyum kayak gini." ujar Tika yang meng-zoom foto Adam. Memang di foto itu terlihat Adam tengah tersenyum tapi dikiiiittt kali.
"Tika Alfifaaa...." panggil Raya yang membuat Tika berhenti di tempat nya.
"Iya Adiba Rayanyaaaa..." balas Tika dengan berkacak pinggang.
"Dengar ya, kamu jangan berargumen tanpa bukti yang konkret nanti malah jadi fitnah kan dosa." tutur Raya, memang secara foto itu bisa saja di salah pahami karna awal nya dia juga beranggapan sama dengan Tika tapi sekali lagi dia tegasi kalau laki-laki itu tidak punya perasaan apa-apa apalagi pada diri nya.
"Kok kamu menampik terus sih Ray? kata nya kamu suka dia." ucap Tika yang tak habis pikir.
"Terus aku harus senang gitu dengan pemikiran yang gak berdasar? atau dengan harapan yang ternyata gak benar?" serang Raya.
"Kamu kenapa sih Ray? demam ya? aneh banget." sahut Tika.
"Udah lah Tik, aku udah capek banget seharian di rumah sakit dan nangis jadi aku gak mau nambah beban pikiran ku." jawab Raya lalu sebuah telpon berdering di handphone nya.
"Hallo pak?" angkat Raya.
"...."
"Oh udah di depan ya pak? iya ini saya kesana pak, dua menit lagi pak." jawab Raya dan meninggalkan Tika yag sedang tercengang, tiba-tiba saja sahabat nya berkata bijak sampai membuat nya kaget.
"Iihhh Tika.... kok diam aja sih, ayok ke buru supir nya ngomel-ngomel." seru Raya yang kesal dan Tika pun menyusul nya.
Selama di perjalanan pulang Tika tak mengatakan apa pun, dia tau sahabat nya ini juga sedang tak mau di bahas apa pun terutama tentang laki-laki itu. Sedangkan Raya menatap dari balik jendela mobil betapa ramai nya malam ini di jalanan tapi tidak dengan perasaan nya saat ini dan mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing termasuk supir grab car.
Waktu berlalu dengan cepat tak terasa pagi sudah menyambut mereka untuk kembali beraktifitas seperti biasa nya. Di sebuah rumah yang hanya di tinggali seorang wanita, Raya sudah sejak subuh tadi bangun dan bergulat di dapur untuk membuat tiga buah sandwich dengan isian kornet daging sapi juga telur di dalam nya. Satu buah sandwich ukuran besar untuk abang nya dan 2 buah sandwich ukuran sedang untuk sarapan pagi dan cemilan nya nanti, abang nya sebentar lagi akan pulang setelah di ganti kan tante nya. Raya juga buat smoothies buah naga dengan pisang untuk di bawa abang nya dan diri nya.
Setelah berkutat dengan dapur dan pekerjaan rumah nya selesai baru lah dia pergi ke sekolah nya dengan berjalan kaki seperti biasa nya, masih ada 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Di sepanjang jalan dia menyapa para tetangga tak terkecuali Bu Atun yang bertanya tentang kondisi ibu nya, sebelum berangkat juga dia udah hubungi abang nya kalau ada sarapan yang dia buat di atas meja makan dan kunci rumah dia titipkan lagi pada Bu Atun.
Sesampai nya di sekolah, Raya langsung menyapa sahabat nya yang sedang asik mendengarkan lagu galau di pagi hari.
"Woi!! pagi-pagi udah galau aja." ucap Raya.
"Ini nama nya ritual anak indie." jawab Tika tak bersemangat.
"Ritual apaan? ritual gaib?" tanya Raya tak mengerti.
"Bukan." jawab singkat Tika.
"Terus apaan?" tanya Raya lagi.
"Iihh pengen galau aja gitu loh." sahut Tika gemes.
"Lah, aneh! orang itu pengen nya yang happy-happy nih anak malah ke pengen galau, galau beneran baru tau rasa." cibir Raya.
"Ya jangan di doain dong Ray." ucap Tika cemberut.
"Aku ngingetin aja, nih mau gak?" tawa Raya, dia mengeluarkan setengah potong sandwich yang di buat nya tadi. Tika langsung memakan nya dan melanjutkan kegalauan atau ritual anak indie yang dia kata kan tadi.
Bel berbunyi pun terdengar, pelajaran pertama pun berjalan hingga pukul 09.30 bel kembali berbunyi menanda kan istirahat pertama telah tiba. Tika mengajak nya untuk ke kantin seperti biasa nya tapi Raya menolak dengan alasan mau ke perpustakaan padahal asli nya mau mengembalikan buku yang di pinjamkan oleh Adam hari minggu kemarin, bisa berabe jika dia bilang gitu kan apalagi sama Tika yang kemarin menggoda nya.
Awal nya dia berniat begitu tapi ketika memasuki kawasan kelas 11 dia menggerungkan niat nya dan malah pergi ke perpustakaan, kalau ke kelas Adam dia merasa seperti caper banget dan gak mau jadi pusat perhatian yang lain karna Adam idola sekolah gak sama seperti diri nya.
Perpustakaan di sekolah nya ini berada di ujung kelas 12, hanya perpustakaan ini saja yang memiliki dua lantai. Lantai pertama tempat di simpan nya banyak buku-buku sedangkan lantai ke dua adalah tempat membaca yang tenang. Di perpustakaan ini juga di lengkapi wifi gratis plus nya ada komputer sekalian alat buat foto copy, jadi lengkap banget deh. Tapi kalau mau menggunakan fasilitas perpustakaan ini harus punya kartu perpus dan udah izin sama guru yang mengelola nya.
Raya memasuki nya, di lantai satu ada beberapa siswa yang sedang asik memilih buku atau sedang mengerjakan tugas nya di beberapa komputer atau ada juga yang sedang antri untuk memfoto copy sesuatu. Raya berjalan menelusuri rak-rak buku tentang novel, dia mencari buku bacaan ringan biar gak bosan-bosan banget pas di rumah sakit atau di rumah nya sendirian. Saat menelusuri itu lah dia menemukan sebuah buku yang sampul nya menarik perhatian tapi sayang banget buku itu terletak di rak ke empat, rak paling atas.
Raya berjinjit tapi dia tak bisa mengapai buku itu, beberapa kali dia coba mengapai buku itu tapi tak bisa juga hingga percobaan nya yang ntah ke berapa kali nya dia hampir berhasil meraih buku itu tapi mendadak dia kehilangan keseimbangan nya lalu terjatuh menimpa seseorang di belakang nya, seseorang yang di cueki nya kemarin sore.
"Maaf.... maaf Kak Adam... saya gak tau... maaf ya kak.." ucap Raya merasa bersalah dan refleks tangan nya memegang tangan hangat milik Adam.
__ADS_1