
Waktu istirahat masih tersisa 20 menit lagi dan 10 menit yang lalu dia tak sengaja bertemu dengan keadaan terjatuh bersama laki-laki yang di sukai nya, Adam. Dan di sini lah dia terjebak bersama Adam, di perpustakaan lantai dua.
Setelah tak sengaja menubruk tubuh Adam lalu dengan refleks memegang tangan nya, Raya mengikuti Adam naik ke lantai dua tanpa di suruh ke sana. Dia membawa sebuah betadine dan satu handiplast dari UKS, setelah menubruk Adam dia tak sengaja melihat luka gores di punggung tangan Adam lalu berlari ke UKS tanpa meminta persetujuan laki-lai itu.
"Kak, ini saya bawa handiplast dan betadine buat luka kakak." ucap Raya yang tengah berdiri di hadapan nya.
"Saya tak apa-apa." jawab singkat Adam.
"Tapi kak saya merasa bersalah, kalau saya tak jatuh menimpa Kak Adam pasti punggung tangan kakak gak ke terluka kayak gini." ujar Raya dengan tulus, dia emang merasa bersalah dan rasa bersalah nya harus cepat dia hilangkan pada laki-laki ini.
"Ini bukan salah kamu." tutur Adam.
Di lantai dua perpustakaan ini hanya ada beberapa siswa yang tengah membaca dengan tenang, tak terlalu banyak karna kursi-kursi yang di sediakan juga terlihat kosong tak seperti di lantai satu. Adam tengah duduk dengan sebuah buku di atas meja yang berjudul Sejarah Dunia Yang Disembunyikan karya Jonathan Black sedangkan Raya duduk tak jauh dari Adam hanya berbeda dua bangku.
"Kak ini salah saya, biar saya obati luka kakak dulu." timpal Raya, Raya yang hendak meraih tangan Adam mendadak berhenti mendengar suara lembut Adam.
"Saya bisa sendiri, Raya."
Raya mengangkat kepala nya sedari tadi dia menahan diri untuk tidak menatap wajah Adam karna dia tau laki-laki itu juga akan berlaku sama dengan apa yang dia lakukan namun suara yang lembut itu membuat Raya tergoda untuk menatap wajah tampan Adam. Adam pun juga begitu tapi pandangan mereka terperangkap, Adam bisa melihat bola mata coklat yang jernih itu kalau di selami nya lebih lama dia mungkin bisa tau tentang perasaan Raya. Begitu juga dengan Raya yang awal nya menatap mata indah milik Adam lalu oleng ke alis nya yang tebal, ke bulu mata nya, ke hidung nya yang mancung lalu turun ke bibir nya yang berwarna merah muda, betapa tampan nya Adam di mata Raya.
"Astagfirullah...." tutur Adam tiba-tiba menunduk. Melihat tingkah Adam yang langsung beristigfar membuat Raya merasa malu.
"Maaf kak, saya tak sengaja." tutur Raya lirih, dia tak bisa mengangkat kepala nya karna sekarang malu nya lebih besar ketimbang rasa ingin melihat wajah Adam lagi.
"Tidak, saya yang minta maaf. Saya permisi dulu.." ujar Adam hendak turun ke bawah.
"Kak.. tunggu sebentar." sahut Raya menahan langkah kaki Adam. Adam menoleh sekilas lalu menunduk lagi, bisa gawat kalau dia menatap wajah wanita itu untuk kedua kali nya bisa-bisa syahwat nya bangkit.
"Ada apa?" tanya nya tanpa basa-basi.
"Ini... saya tadi berniat mengembalikan buku kakak ke kelas kakak tapi saya urungkan dan ternyata gak sengaja ketemu kakak disini, makasih ya kak." ucap Raya sembari memberikan buku catatan Adam dan betadine juga handiplast di atas buku itu. Setelah Adam menerima nya Raya langsung pergi tanpa basa-basi lagi, dia terlalu malu sekarang untung saja kata 'ganteng' seperti terakhir kali nya tak keluar dari mulut nya.
Adam hanya terdiam menatap kepergian wanita itu, dia juga tak bisa mengatakan apa pun karna wajah cantik nya selalu muncul ketika suara Raya terdengar. Ini adalah cobaan terberat bagi Adam, dia bahkan bisa menolak keras rokok yang di tawarin teman-teman sekelas nya, atau minum-minuman yang memabukan yang pernah di tawarkan pada nya atau juga sentuhan yang di sengaja wanita lain pada nya semua dia tolak dengan tegas dan sopan tapi mengapa dengan satu wanita itu dia tidak mampu menolak nya? jawaban nya tentu hanya satu, dia sudah jatuh cinta dan jatuh cinta ini membuat nya resah.
Di sisi lain Raya berjalan dengan begitu cepat hampir seperti berlari, niat nya datang ke perpustakaan untuk meminjam novel tapi berakhir dengan tak sengaja bertemu Adam. Di tambah lagi dengan wajah Adam yang terpampang jelas padahal sudah beberapa menit yang lalu dia meninggalkan perpustakaan.
'Bisa-bisa nya aku lancang begitu! pasti Kak Adam marah...' ujar batin nya.
"Raya!!!" teriak Tika yang berjalan mendekat ke arah nya dengan sebuah es krim di tangan kanan nya.
"Tikaaaa!!!!! gimana nih..." teriak balik Raya yang mendadak panik, iya dia panik kalau Adam marah pada nya.
"Eehhh napa ni bestie?" tanya Tika tak mengerti. Raya langsung menarik tangan sahabat nya itu menuju taman bunga yang ada di perbatasan kelas 10 dengan kelas 11.
"Santai dong Ray.... ada apa sih kok panik gitu." sahut Tika setelah mereka duduk di kursi yang telah di sediakan di taman bunga itu.
"Gimana ini Tika... gimana kalau dia marah?" tanya Raya tanpa menjelaskan dan membuat Tika tambah bingung.
"Tunggu dulu... tunggu. Coba kamu ceritakan yang lengkap, kalau kayak gini aku gak bisa ngasih saran." sahut Tika.
Raya pun menceritakan apa yang baru terjadi pada nya, bagaimana dia tak sengaja menubruk Adam, bagaimana dia ingin membayar rasa bersalah nya, bagaimana dia menatap Adam tanpa di sengaja dan bagaimana dia merasa malu serta khawatir kalau Adam marah pada nya. Tika menyimak dengan tenang perkataan sahabat nya sembari memakan habis es krim nya yang tengah mencair.
"Terus kamu tau dia marah atau gak dari mana Ray?" tanya Tika.
"Asumsi ku sih, soal nya kan hari minggu kemarin aku gak sengaja nguping pembicaraan nya sama seorang wanita." jawab Raya.
"Hari minggu? yang kamu ekskul itu?" tanya Tika lagi.
"Iya." jawab singkat Raya.
"Emang Kak Adam ada ekskul ya hari minggu?" lanjut Tika.
"Ada! aku juga kaget waktu lihat Kak Adam ada di sekolah apalagi kami satu ekskul Tik." tutur Raya.
"Wah! takdir itu nama nya." timpal Tika.
"Terus kamu telat?" tanya Tika.
"Ya iyalah Tik, telat 45 menit! baru juga sampai di sana eehh udah di kasih hukuman terus hukuman nya tu lama banget sampai ngabisin waktu ekskul." cerita Raya mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Hukuman nya apa?" tanya Tika yang makin penasaran.
"Ngutip sampah di seluruh sekolah, capek tau! aku lari-lari bawa dua kantong penuh isi sampah." ucap Raya.
"Terus Kak Adam gak bantuin?"
"Bantuin, habis tu aku di suruh ngapal pembahasan mereka selama aku ngutip sampah tapi untung nya Kak Adam meminjamkan aku buku nya buat di salin. Maka karna itu tadi aku mau balikin buku nya dulu kalau lama-lama ketahan sama aku bisa-bisa aku gak bisa membatasi perasaan ku Tik." lanjut Raya.
"Lah kenapa di batasi sih?" tanya Tika, Raya jelas merasa seperti sedang di wawancarai tapi kalau gak di ceritakan nya mungkin dia bakalan pusing sendiri tanpa saran dari orang lain.
"Karna waktu aku nguping pembicaraan nya dia bilang kalau gak mau pacaran, dia gak bisa balas perasaan cewek-cewek yang suka sama dia, dia punya prinsip kalau suka maka akan langsung dia nikahi atau kalau gak sanggup dia bakalan menyimpan nya rapat-rapat hingga dia sanggup. Dari situ aku sadar kalau emang gak ada harapan Tik, sekarang dia tu keliatan banget fokus belajar dan gak mau dekat sama cewek-cewek lain. Maka nya aku batasi perasaan ku karna emang gak bakalan terbalas." jelas Raya.
"Ooh terus kemarin sore kamu diam aja kayak handphone habis batrai itu karna ngebatasi diri?"
"Iya karna itu juga aku cueki dia." sahut Raya.
"Ckckck... Bukan nya gak ada harapan Ray... dengar ya sebelum janur kuning melengkung kamu masih punya kesempatan." tutur Tika mencoba menenangkan perasaan sahabat nya.
"Kan kamu juga gak tau gimana perasaan Kak Adam, mungkin saja nih ya... mungkin dia juga ada perasaan sama kamu tapi ya kayak yang kamu bilang dia gak bakalan nunjukin perasaan nya karna dia belum sanggup. Kita tuh harus positif thingking sama orang Raya, kalau negatif mulu ntar jadi beban pikiran." lanjut Tika.
"Betul Tik tapi aku gak mau berharap maka nya menyerah duluan sebelum berjuang." ujar Raya.
"Kebalik tau Ray, berjuang dulu baru bisa mutusin nyerah atau gas terus." timpal Tika.
"Kayak kamu gitu?"
"Iya dong, kayak aku pada Kak Bara." seru Tika dengan semangat.
"Ya... ya... ya... terserah kamu lah Tik." balas Raya.
"Jangan patah semangat dong bestie! aku yakin kok Kak Adam gak bakalan marah sama kamu, palingan dia takut kalau natap kamu lama-lama bakalan jatuh cinta!" timpal Tika dengan semangat, pasal nya sahabat nya yang cuek bebek ini benar-benar bisa memikat laki-laki lain apalagi kalau dia ketawa, bisa di lihat dari surat cinta dan coklat yang terus berdatangan tiap hari di loker milik Raya.
Pikiran Raya jauh terbang memikirkan hal lain begitu juga dengan Tika, mereka duduk dengan tenang dan menikmati tiupan angin yang tak terlalu kencang juga tak terlalu panas hingga bel berbunyi baru lah mereka beranjak dari duduk nya menuju kelas. Begitulah dengan Adam yang sedari tadi memperhatikan dua wanita itu tak jauh dari bangku duduk di samping kelas nya, dia ingin mengucapkan terima kasih atas handiplast dan betadine yang di bawa Raya untuk nya namun di urungkan nya dan masuk kembali ke kelas nya.
__ADS_1
Pelajaran selanjut nya pun tiba, guru-guru yang sudah selesai istirahat masuk kembali ke dalam kelas untuk mengajar dan tempat-tempat selain kelas yang tadi nya ramai menjadi sepi kembali hingga bel ke dua berbunyi kembali.
Beberapa siswa yang beragama islam dan tidak haid datang ke masjid sekolah untuk melaksanakan shalat dzuhur berjama'ah begitu juga dengan Tika dan Raya yang berjalan bersamaan. Tiap dzuhur masjid sekolah mereka selalu ramai, mungkin sebanyak 3 kali shlat mereka di imami orang yang berbeda karna luas masjid tidak bisa menampung sepenuh nya siswa mereka yang beragama islam maka nya di bikin 3 kloter. Nah kebetulan Raya dan Tika baru datang ke masjid dan dapat kloter 1 yang shalat nya akan di pimpin oleh guru agama islam mereka, Pak Ali.
Raya dan Tika yang sudah membawa mukenah dari rumah langsung mengambil shaf ke dua di bagian samping kiri jalan masuk dan keluar nya laki-laki sedangkan jalan masuk dan keluar nya wanita itu dari kanan tapi cuma barisan itu yang kosong maka nya mereka ambil sebelum di ambil yang lain. Sebenar nya di masjid ini di sediakan 20 mukenah dengan warna yang sama yaitu putih tapi kan lebih bagus kalau bawa mukenah masing-masing selain terjaga kebersihan nya juga gak bercampur dengan keringat siswi yang lain yang juga terkadang gak bertanggung jawab kayak kotor atau bau.
Shalat dzuhur berjama'ah akan di mulai dan Pak Ali meminta salah seorang siswa laki-laki nya untuk iqomah, Adam pun mengangkat tangan nya mengajukan diri nya dan Pak Ali mempersilahkan nya. Dengan pengeras suara yang sudah di sediakan Raya dapat mengetahui suara siapa yang sedang iqomah itu, dada nya pun langsung berdegup.
"Allahuakbar!!!.." ucap Pak Ali memimpin shalat. Semua yang ikut shalat pun mengikuti nya dengan khusyuk hingga selesai shalat setelah itu baru lah mereka bisa bubar untuk makan siang.
Secara bersamaan Raya dan Tika melipat mukena milik mereka ke dalam tote bag yang dibawa Tika dan menepi dari shaf shalat. Raya berjalan ke arah teras tanpa melihat kanan dan kiri, perut nya sekarang terasa amat sangat lapar apalagi sandwich yang di bikin nya tadi sudah habis. Karna tak melihat kanan dan kiri Raya tak menyadari kalau sedari tadi ada seorang laki-laki yang tengah duduk menunggu sahabat nya dan ketika Raya duduk di samping nya dia terkaget sedangkan wanita itu cuek saja.
'Raya...' lirih batin Adam.
Adam memperhatikan Raya dari samping, wanita itu bahkan tak menoleh ke arah nya atau mungkin dia ada banyak pikiran jadi tak menyadari keberadaan nya di samping diri nya?
Sebenar nya Raya itu amat sangat cuek sama di sekitar nya, sejak dia mau keluar tadi dia tau kalau di teras bakalan banyak orang dan toh dia gak mempermasalahkan siapa yang ada di samping nya tapi ketika sebuah tangan menepuk pundak nya dan memberi kan isyarat untuk melihat ke arah kiri baru lah dia ter-kbl kbl, kaget banget lohhh!
Raya menunjukan mimik wajah nya yang kaget akan kehadiran Adam di samping nya namun ketika Adam melihat wajah kaget Raya dia langsung mengalihkan pandangan nya dan tak menoleh lagi ke arah wanita itu tapi di dalam hati nya berkata lain.
'Ternyata wajah kaget nya bisa selucu itu ya.' lirih batin Adam.
Tika yang baru menyusul Raya ke teras setelah dari kamar mandi langsung berbisik yang membuat perasaan Raya menjadi geer.
"Ppssttt Ray! tau gak sih kalau Kak Adam ngeliatin kamu agak lamaan?" bisik Tika.
"Aku gak tau, aku aja kaget kalau Kak Adam ada di samping ku." ucap Raya juga berbisik. Walau mereka di batasi tiang kecil di tengah-tengah Raya dan Adam duduk tapi bagi Raya itu udah dekat banget lebih dekat ke timbang yang di perpustakaan tadi.
"Atau jangan-jangan yang aku bilang itu benar? dia juga ada rasa sama kamu Ray?" bisik Tika lagi baru memakai kaos kaki nya sedangkan Raya baru selesai.
"Aahh gak mungkin Tik, ngaco kamu." sahut Raya dan kedengaran oleh Adam yang tengah bicara dengan Malik.
"Loh Ray kok main pergi sih! tungguin tau!!" teriak Tika yang membuat hampir semua mata di teras itu melihat ke arah nya sedangkan Adam hanya menatap lurus ke arah Raya pergi.
'Ada apa dengan nya?' tanya batin Adam.
Tika berlari dengan kencang menyusul Raya yang mengarah ke kantin, 'benar-benar dah tu anak main tinggal aja.' ujar batin Tika.
Sesampai nya di kantin Raya hanya memesan 3 tusuk sate ayam dan 2 ketupat untuk makan siang nya juga dengan segelas teh es manis sedangkan Tika yang baru menyusul nya memesan ayam penyet dengan nasi dan juga minuman nya es limun lalu menunggu di meja paling ujung mengarah ke lapangan.
Begitu juga dengan Adam dan Malik yang baru sampai di kantin semua meja penuh bahkan satu meja itu terdiri dari 6 bangku yang melingkar hanya di meja Raya saja yang bangku nya terdiri dari dua bangku, melihat kesempatan duduk yang masih ada Malik langsung memberitahu Adam untuk duduk di situ.
"Dam, di sana aja yuk mumpung masih dua orang." tunjuk Malik ke arah meja Raya dan Tika.
"Aahh tempat yang lain aja Lik." ujar Adam, Adam gak mau menganggu mereka berdua terutama Raya.
"Eehh kenapa? perut aku udah keroncongan banget nih Dam gak bisa di tunda-tunda, yok buruan sebelum di ambil orang." ucap Malik yang jalan dulu, Adam tak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kaki sahabat nya itu karna perut nya juga sudah berbunyi.
"Assalamualaikum." ucap mereka bersamaan.
"Walaikumsalam." balas Raya dan Tika yang juga bersamaan.
'Loh Kak Adam? ada apa ya?' tanya batin Raya.
"Oh iya kak, kenapa ya kak?" tanya balik Tika.
"Wahh bagus lah, kami mau numpang makan di meja kalian karna meja yang lain udah pada ke isi semua nya, boleh gak kami ikutan makan di sini?" tanya Malik lagi dengan sopan.
"Oh iya kak boleh kok, boleh." sahut Tika yang langsung melirik ke arah Raya sedangkan Malik langsung duduk di kursi yang kosong.
Melihat Adam yang juga ingin duduk tapi di samping kursi Raya ada yang kosong dia tampak ragu untuk duduk tepat di samping Raya, tentu saja Raya mengerti bahasa tubuh Adam yang ragu-ragu lalu beranjak ke samping Tika.
"Ayo kak, silahkan duduk." ujar Raya dengan ramah.
Mereka berdua langsung duduk dengan tenang sembari menunggu makanan mereka di antar begitu juga dengan Raya dan Tika tapi di dada Raya sekarang benar-benar berdebar pasal nya posisi mereka duduk seperti akan double date! Jadi tu Raya dan Tika duduk berdampingan begitu juga dengan Adam dan Malik namun masalah nya di depan Raya ada Adam dan hal itu membuat Raya segan jika melihat ke depan karna tiba-tiba saja kejadian di perpustakaan tadi membuat nya teringat kembali. Raya mendadak menggeleng kan kepala nya yang membuat perhatian Adam dan Malik tertarik.
"Kenapa dek?" tanya Malik.
"Aahh gak apa-apa kak." ujar Raya dengan canggung dan Malik hanya ber-oh ria.
"Oh ya kita belum pada kenalan, salam kenal ya nama saya Malik dari kelas 11 IPA 2." tutur Malik.
"Saya Tika kak dari kelas 10 IPA 3." jawab Tika.
"Saya Raya dari kelas yang sama kak." lanjut Raya.
"Dam, kamu lagi." tutur Malik menyenggol lengan nya.
"Saya Adam dari kelas 11 IPA 2." ucap Adam.
"Iya kak, kami tau hehe." jawab Tika sambil terkekeh.
"Loh kalian udah tau? iya sih gak heran si Adam terkenal karna emang idola sekolah." ujar Malik.
"Bener kak, tips nya dong Kak Adam biar terkenal." sahut Tika dengan nada bercanda, niat nya sih gitu tapi Adam salah tangkap dan malah berbicara serius.
"Kalau kamu mau terkenal harus rajin-rajin sekolah, mau belajar, banyak bertanya, kembangkan diri dengan ikut lomba, menang lomba baru terkenal." jawab Adam dengan serius dan situasi langsung mendadak jadi amat sangat canggung.
"Hahahaha kamu Dam serius amat jawab nya." ujar Malik dengan tawa nya, dia sengaja biar suasana nya gak canggung lagi.
"Aku jawab sesuai yang dia tanya Lik." ujar Adam masih dengan serius.
"Dia niat bercanda loh, Dam." bisik Malik sedangkan Tika merasa tak enak dengan situasi yang tiba-tiba canggung.
"Ternyata Kak Adam tipe yang serius ya." sahut Raya, sejak mendengar jawaban laki-laki yang ada di hadapan nya membuat nya mantap berpikir kalau Adam adalah salah seorang siswa pintar dan berbakat bukan hanya dari tampang nya saja.
"Hahh?? apa Ray?" tanya Tika yang mendadak beo namun hanya di tanggapi senyum saja oleh Raya.
"Saya memang orang nya serius." jawab Adam, Raya hanya mengangguk dan mengerti sedangkan Tika dan Malik hanya terheran-heran melihat mereka berdua.
"Permisiii.... ini makanan nya neng" ujar penjual yang makanan nya Raya dan Tika pesan.
"Terima kasih bude." ucap Raya dan Tika bersamaan, tak lama dari makanan yang di pesan dua orang wanita itu pesanan milik Adam dan Malik datang.
__ADS_1
"Waahhh aku dah laper banget." ucap Malik yang hampir kelabakan dengan makanan di hadapan nya.
"Lik, baca doa dulu." ingat Adam lalu memimpin doa untuk mereka ber-tiga.
^^^"اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا فِيما رَزَقْتَنا وَقِنا عَذَابَ النَّارِ"^^^
"Aamiin..." ujar mereka ber-empat lalu melanjutkan makan nya dengan tenang.
Awal nya sih begitu namun dua orang tiba-tiba datang mengintrupsi dan ikut bergabung, tepat baru tiga suap Raya menyendok kan sate ke mulut nya saat itulah Alesha dan Bara yang gak kebagian tempat datang ke meja mereka.
"Eehhh Adam kok disini?" tanya Alesha, sebenar nya dari tadi dia sudah melihat laki-laki itu berada di kantin tapi dia tak menyangka jika Adam satu meja dengan Raya, tentu saja hal itu membuat nya cemburu lalu melangkah ke arah Adam meninggalkan Dara yang sudah mengosongkan tempat duduk untuk nya.
"Iya, tumben kalian di sini?" giliran Bara yang bertanya karna emang merasa asing apalagi pada Adam yang mau duduk satu meja dengan wanita lain selain Alesha.
"Eehhh Alesha, Bang Bara.." tutur Malik menghentikan makan nya.
"Meja yang lain lagi pada rame bang, ini mumpung meja Raya sama Tika cuma berdua ya numpang sebentar." jawab Malik.
"Oohh gitu... iya sih lagi pada rame bener, dek ikutan nimbrung ya." sahut Bara pada Raya dan Tika.
"Iya bang silahkan, Kak Alesha juga silahkan." tutur Raya pada mereka berdua. Alesha langsung duduk di tengah-tengah Adam dan Raya sedangkan Bara duduk di tengah-tengah Malik dan Tika.
"Hmmmm enak banget ayam penyet nya Ray, sambel nya nagih banget!" ucap Tika di sela-sela makan nya.
"Ya baguslah Tik, pelan-pelan aja maka nya ntar tersedak." peringat Raya melihat sahabat nya makan dengan semangat.
"Dengar Lik, pelan-pelan aja." tutur Adam yang membuat Alesha cukup tercengang.
'Tumben sekali Adam berbicara di sela-sela makan nya apalagi karna perkataan wanita ini.' tutur batin Alesha.
Raya yang merasa Adam menyetujui perkataan nya membuat perasaan nya senang, dia bahkan tersenyum tipis saat makan bersama dengan mereka.
"Kalian habis ini pelajaran apa?" tanya Bara yang hampir mentandas kan makanan nya.
"Bahasa Indonesia kak." ujar Tika.
"Sama Bu Tina ya?" tanya Bara lagi dan di jawab anggukan Raya juga Tika bersamaan.
"Semangat ya dek, Bu Tina terkenal galak." ucap Bara menspoilerkan dulu sebelum mereka masuk kelas.
"Eehh iya kak? waduh." ucap spontan Raya yang menarik perhatian Adam.
"Bener, kakak dulu pernah di hukum sekali habis tu kapok karna galak bener." lanjut Bara yang sudah menghabiskan makanan nya.
"Duh gimana Ray..." tutur Tika pada sahabat nya.
"Ya mau gimana dong, kita kan gak bisa pilih-pilih guru." ucap Raya memakan daging sate nya.
"Kok kamu santai banget sih." cicit Tika.
"Santai? oh tidak bestie.." ujar Raya denga meniru suara Tika dan mendatangkan gelak tawa Malik.
"Hahahahaahhaah....."
"Kamu bisa lucu juga ya, dek." ujar Malik, Adam pun setuju dengan perkataan sahabat nya. Mendengar Raya yang menirukan suara orang lain terdengar lucu di telinga Adam dan juga membuat nya tersenyum.
"Aahh iya kah kak? hehehe makasih kak." ucap Raya merasa malu namun juga senang apalagi melihat senyum Adam yang barusan terbit.
Alesha yang sedari tadi diam tenang dan menyimak obrolan mereka hingga melihat Adam yang mudah tersenyum karna wanita itu membuat nya kepanasan, dia merasa tak suka.
"Adam..." ujar Alesha dengan suara lembut yang di buat nya. Baik Raya, Tika, Bara dan Malik langsung menoleh ketika mendengar suara yang tak biasa dari Alesha tapi Adam tak langsung menoleh seperti yang lain.
"Ada apa, Sha?" tanya nya dengan sekali lirikan lalu melanjutkan makan nya.
"Nanti pas pulang sekolah ajarin aku Kimia sama Fisika dong, Dam. Ada beberapa yang gak aku ngerti." tutur Alesha sambil mengaduk-aduk bakso nya.
"Emang teman sekelas mu gak ada yang mau bantuin?" tanya Adam tanpa menoleh ke arah nya.
"Gak ada, mereka langsung kasih jawaban nya aku gak mau nyontek maka nya minta bantuan kamu." ucap Alesha.
"Ya sudah, ku bantu." ujar Adam.
"Yeeyyyy asik... nanti malam aku ke cafe yaa." ujar Alesha dengan perasaan senang sedangkan Adam hanya mengangguk.
Yap, obrolan hanya milik mereka berdua bahkan Raya hanya diam mendengar kan Alesha yang berkata dengan lembut sedangkan Adam mengiyakan permintaan nya, mereka juga terlihat di hadapan Raya begitu sangat akrab jadi jika Raya mencurigai ada sesuatu yang aneh di antara mereka bukan hal yang salah kan? Tapi... beberapa waktu yang lalu Adam menolak keras ajakan pacaran dan pernyataan cinta wanita lain, hati Raya bimbang.
Selanjut nya mereka memakan makanan dengan tenang tanpa obrolan seakan-akan tengah berkutat dengan pikiran masing-masing termasuk Adam dan Raya hingga bel berbunyi menanda kan jam pelajaran terakhir akan di mulai.
Sesuai ucapan yang di katakan Bara tadi saat di kantin kalau Bu Tina itu terkenal karna galak nya memang benar, baru juga pertama kali masuk di kelas 10 IPA 3 sudah bikin tegang suasana kelas. Pasal nya Bu Tina tak mengucapkan satu kata pun hingga 20 menit berlalu, dia hanya diam dan menatap siswa nya atu persatu guna mengingat dengan jelas seperti apa siswa baru yang akan di ajari nya baru setelah itu dia mengajar dengan normal.
"Oke anak-anak semua, untuk tugas pertama kalian ibu minta masing-masing kalian harus mewawancarai minimal satu siswa yang berprestasi di sekolah ini di sertai foto wawancara nya. Ibu mau kalian semua mewawancarai mereka dengan pertanyaan yang berbobot dan bermanfaat untuk kalian bagi kan nanti nya, tugas ini paling lambat di kumpul kan selasa depan jadi kalian punya waktu cukup lama. Dan ingat satu hal, siapa yang tak mengerjakan tugas ini atau menyalin punya teman nya akan ibu beri hukuman selama satu minggu tidak di perbolehkan masuk saat ibuk mengajar juga di anggap absen tanpa kejelasan di buku absen ibu. Jadi harus hati-hati dan kerjakan tugas ini dengan teliti dan bertanggung jawab ya anak-anak." tutur Bu Tina sebelum keluar ruangan.
"Baik bukk....."jawab serentak siswa kelas 10 IPA 3 baru lah Bu Tina keluar dan suasana kelas menjadi normal kembali.
"Gila Ray.. galak bener dah ibuk tu." ucap Tika yang sedari tadi menahan kentut nya.
"Trrrrruurrrrttttt....." suara kentut terdengar di sekitaran mereka.
"Iihhh kentut siapa itu??" tanya siswa yang duduk di depan Tika.
"Iihhh bau banget kentut nya...." sahut yang ada di belakang Tika.
"Tik, jangan-jangan itu kentut kamu?" tanya Raya tak percaya.
"Iihhhh Tika!!! kamu kentut yaa?" tuduh yang lain dan si empu nya kentut hanya cengengesan merasa tak malu.
"Sorry friends.... gara-gara Bu Tina nih aku nahan kentut saking tegang nya hehehehe."
"Ihhh Tika ihhh..." ucap Raya yag melongos pergi begitu saja.
Raya meninggalkan Tika di belakang nya, dia berpikir siapa saja siswa yang berprestasi di sekolah ini tapi kalau bisa dia harus dapat satu dan gak sama dengan yang lain biar nilai nya ada plus dari Bu Tina yang galak namun siapa? Raya terpikirkan satu orang yaitu Adam tapi kalau Adam rasa nya berat, berat di hati nya apalagi kalau wawancara berdua saja yang pasti membuat dada Raya akan terus berdisko ria selama sesi wawancara.
'Gak, gak boleh Kak Adam. Kalau Kak Adam aku jamin diri ku gak bakalan fokus.' tutur batin Raya.
__ADS_1
"Semangat Raya!!!" teriak nya di tengah-tengah lapangan sekolah.