
Di sebuah rumah yang awal nya terasa tenang karna obrolan ringan dari beberapa orang mendadak kacau ketika salah satu anggota keluarga nya berteriak. Awal nya Marwa menghiraukan teriakan dari cucu nya yang satu itu, memang dengan kehadiran mereka membuat suasana rumah ini terasa hidup tapi tetap saja ada yang terasa hilang. Tapi semakin lama suara cucu nya itu semakin meninggi apalagi terdengar suara cekcok dari luar.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" tanya Marwa meminta penjelasan kepada cucu nya, Bella.
"Ibu..." ujar seorang wanita, Marwa mengenal suara ini.
"Kamu..??" ujar Marwa dengan ragu.
"Ibu ini saya, Nina anak ibu." tutur Nina mulai terisak.
Dia melihat penampilan ibu nya yang begitu berbeda dengan di foto, dia terlihat kurus bahkan dengan pakaian mewah yang dikenakan nya sekarang.
"Aku tak punya anak bernama Nina!" ujar Marwa, setelah sekian lama anak yang dianggap nya sudah putus hubungan nya dengan diri nya kembali lagi di hadapan nya.
"Ibu... huhuhu maafkan Nina..." isak tangis ibu Raya terdengar, Raya yang bingung dengan kondisi seperti ini mencoba menengangkan ibu nya yang sedang menangis.
"Ibu ada apa?" tanya Raya pelan.
"Maaf? sudah saya bilang saya tak punya anak bernama Nina lagi!" rutuk nenek nya, Marwa.
Semua orang yang ada di dalam rumah mulai berkumpul ke pintu utama, mereka melihat ada keributan apa yang terjadi saat ini namun sebuah pandangan mata terperanjat ketika melihat seseorang yang sudah lama tak bertemu dengan nya kembali dengan linangan air mata.
"Kak Nina!" seru Aini, adik bungsu nya.
"Kak Nina... Ya Allah kak kok kakak terlihat kurus sekali..." ujar Aini memeluk Nina.
"Ngapain kamu peluk-peluk dia, Aini! Dia bukan Nina." teriak Marwa mencoba menjauhkan tubuh Aini dan Nina.
"Waahhh lihat itu.. anak yang sudah di usir kembali ke sini lagi? padahal di sini bukan rumah nya." sahut seorang wanita yang terlihat lebih tua dari ibu nya Raya.
"Gila ya, kok masih bisa dia punya muka ke sini?" timpal seorang pria tua.
"Kok kalian berbicara begitu pada Kak Nina?!" tanya Aini dengan kesal.
"Loh kenapa kamu masih membela nya? kamu gak tau apa yang dia perbuat hingga di anggap tak ada di keluarga ini?" tanya wanita tua itu.
"Apa? apa!!!" teriak Aini.
"Diam kamu Aini! jangan buat kesabaran ibu habis." ujar Marwa.
"Lihat? bahkan ibu pun tak membela anak bungsu nya yang satu ini. Dengar ya, yang nama nya Nina udah lama mati di keluarga ini semenjak anak bebal itu memilih bersama si pria brengsek itu jadi sekarang mending kau pergi dari sini!" ucap pria tua itu dan di balas anggukan setuju oleh wanita tua di samping nya.
"Diaamm!!! ayah ku bukan seorang brengsek seperti yang kalian katakan!" teriak Raya emosi. Dia memang masih belum mengerti ada apa dengan keluarga ibu nya tapi ketika ayah nya yang sudah jadi almarhum di sebut sebagai orang yang brengsek membuat emosi nya mendidih.
"Oh jadi kamu anak nya?! pantesan gak ada sopan santun nya." ucap wanita tua itu lagi.
"Sopan santun? sejak tadi kalian yang tak sopan! tiba-tiba menyerang ibu saya dengan perkataan jahat itu, sekarang saya yang kalian bilang tak sopan?!" tutur Raya dengan amarah nya, mendengar pembelaan dari anak nya membuat Nina mengenggam tangan nya.
"Sudah nak.. sudah.." lirih ibu nya.
"Bu, lihat bu! bahkan anak nya sendiri pun sangat kurang ajar." adu wanita tua itu pada Marwa.
"Diam!! diam kalian semua!!" teriak Marwa, sekian lama dia tak meninggikan suara nya membuat tenggorokan terasa sakit.
"Kalian semua masuk ke dalam, kau juga Aini masuk! Dan kalian berdua pulang sekarang! saya tak akan pernah menerima kalian di rumah ini! jangan coba-coba lagi muncul di hadapan saya seperti ini! atau akan saya laporkan kalian ke polisi karna menganggu ketenangan saya." ucap Marwa sebelum masuk ke dalam rumah.
Aini yang mendengar perintah ibu nya memilih untuk bertahan bersama Nina namun kedua abang nya memaksa nya masuk ke dalam sebelum pintu rumah itu di kunci dalam dan sekarang hanya tinggal lah Raya juga ibu nya yang masih menangis.
"Ibuu...." ucap Raya, mata nya mulai memanas ketika melihat tagisan ibu nya yang tak mau berhenti.
"Ibuu... jangan menangis seperti ini..." dekap Raya yang pada akhirnya ikutan menangis.
"Maafkan ibu nak... maafkan ibu karna ibu kamu jadi melihat hal yang seperti ini..." ujar ibu nya.
"Ibu, Raya tak apa-apa, sungguh tak apa-apa." jawab Raya, dia ingin menenangkan ibu nya walau di kepala nya begitu banyak pertanyaan tentang keluarga ibu nya. Namun untuk sekarang dia mengurungkan rasa penasaran nya dan membawa ibu nya pulang sementara semilir angin dingin berhembus hingga matahari tenggelam.
Tahukah kamu, di antara banyak nya harapan saat menjelang maghrib tiba ada harapan seorang ayah yang menginginkan anak nya menjadi anak yang shaleh, ada juga harapan seorang wanita yang menginginkan beberapa hati mencair untuk nya dan ada juga beribu jenis harapan yang di lontarkan masing-masing hati mereka salah satu nya Adam.
Beberapa menit lagi azan maghrib akan berkumandang namun pandangan nya masih terlihat sama ke arah luar tanpa bergerak sedikit pun dari posisi duduk nya saat ini, pikiran nya sekarang berkelana pada kejadian zuhur tadi. Pasal nya saat dia mengatakan 'akan menikahi wanita itu' pandangan nya tak sengaja menangkap sesosok wanita yang mengusik perasaan nya.
'Apa dia mendengar pembicaraan ku tadi? tapi bukan kah kata nya dia sedang tak shalat lantas mengapa dia berada di teras masjid?' tanya batin nya.
"Loh kok termenung aja kamu, Dam?" tanya ayah nya.
"Eehhh abi... kenapa bi?" tanya balik Adam.
"Sedari tadi abi panggilan kamu ternyata lagi termenung, mikirin apa sih?" tanya ayah nya lagi.
"Hanya memikirkan kejadian siang tadi bi." jawab Adam, dia ingin mengatakan kalau gak ada yang di pikirkan nya tapi itu sama saja berbohong pada ayah nya.
"Emang kejadian apa?" tanya ayah nya.
"Tentang wanita dan perasaan nya, menurut abi boleh gak Adam menikah setelah tamat?" ucap Adam. Mendengar pertanyaan Adam, Rahman berpikir anak nya sudah tumbuh dewasa bahkan bisa bertanya tentang menikah pada nya.
"Kamu sudah yakin?"
"Adam hanya ingin bertanya pendapat abi saja." jawab nya singkat.
"Abi gak masalah kamu mau menikah di umur yang terbilang muda namun kamu harus sudah siap secara materi maupun mental." ujar ayah nya.
"Makasih abi." hanya itu yang di ucapkan Adam sebelum kembali masuk ke dalam cafe. Dia sebenar nya sudah tau apa jawaban dari ayah nya dan perasaan nya sudah mantap, dia tau kalau sekarang diri nya mulai tertarik pada Raya tapi karna sekarang dia tak mampu untuk menikahi wanita itu maka dia akan pendam sesuai prinsip nya.
Disisi lain sebuah mobil bermerk toyota agya berwarna putih baru tiba di depan halaman rumah Raya, mereka pulang dengan kondisi ibu nya yang terlihat lemah seusai dari rumah nenek nya.
"Ibu, duduk dulu di sini ya Raya mau buka pintu rumah." ujar Raya mendudukkan ibu nya.
Raya kembali ke depan pintu yang sedang terkunci itu, dia merogoh kunci yang di letak kan nya di dalam tas kecil nya. Tapi beberapa menit dia mencari baru di temukan nya kunci yang tersalip di antara kunci-kunci yang lain hingga sebuah suara ambrukan terdengar ketika dia memasukan kunci di lubang pintu. Raya menoleh ke arah ibu nya yang tadi tengah duduk tapi kini dia dapati ibu nya sudah tergeletak tak berdaya di lantai teras rumah nya.
"Ibu!!!!" teriak Raya dengan panik.
"Ya Allah ibu.... ibu sadar buu...." ujar Raya, dia mencoba membangunkan ibu nya namun tak berhasil. Raya memeriksa denyut nadi ibu nya namun yang di rasakan nya hanya lah denyut yang lemah dan Raya tambah panik. Azan maghrib pun berkumandang di tengah-tengah kepanikan nya, Raya meninggalkan ibu nya sebentar untuk meminta pertolongan ke tetangga terdekat nya.
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu Atun..."
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
Tttookkk!!!
"Bu... Bu Atun..." ujar Raya tak sabaran, dia terus mengetuk pintu rumah itu berulang kali dengan terburu-buru hingga seorang wanita tua keluar.
"Waalaikumsalam, iya ada apa?" tanya Bu Atun membuka pintu nya, dia melihat Raya yang memasang wajah panik.
"Bu... tolong saya bu... ibu saya tiba-tiba pingsan!!!" ujar Raya histeris, dia tak tau harus melakukan apa sekarang yang Raya tau hanya meminta pertolongan dari tetangga nya.
"Astagfirullah... di mana ibu kamu pingsan?" tanya Bu Atun yang ikutan panik, dia mengikuti Raya kerumah mereka dan tampak lah tubuh seorang wanita tergeletak.
"Sebentar yaa, ibu coba telpon ambulans." ucap Bu Atun kembali ke rumah nya, dia menelpon menggunakan handphone anak nya.
Tak berapa lama setelah Bu Atun balik ke rumah nya beberapa tetangga lain yang mendengar teriakan panik Raya ikut-ikutan keluar rumah dan melihat apa yang terjadi. Beberapa dari mereka mencoba menangkan Raya yang makin menangis sedangkan yang lain hanya melihat tak tau harus melakukan apa hingga 10 menit kemudian ambulans yang di telpon Bu Atun tiba.
Tiga anggota medis langsung keluar dari ambulans dengan membawa Ambulance Stretcher menuju tempat ibu nya pingsan, seorang petugas medis memeriksa kondisi ibu nya Raya lalu memindahkan nya kedalam ambulans menggunakan ambulance stretcher. Raya menitipkan kunci rumah nya pada Bu Atun sedangkan diri nya ikut naik bersama anggota medis yang lain.
'Seandai nya ibu tak ke sana pasti ibu tak akan seperti ini.' tutur batin Raya, air mata nya masih terus mengalir bahkan setelah mereka sampai di rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit, ibu nya langsung di arahkan oleh petugas yang sudah menunggu di parkiran ambulans ke UGD. Selama ibu nya di periksa Raya di suruh menunggu di kursi tunggu sebelum di panggil dokter. Ditengah-tengah ke kalutan nya sebuah telpon berdering di tas nya, Raya mengangkat nya.
"Halo... ini benar dengan Raya?" tanya seorang perempuan di telpon.
"Iya, ini siapa?" tanya Raya balik dengan suara serak nya.
"Ini saya tante kamu, Aini. Saya hanya ingin tanya apa kalian sudah sampai di rumah? soal nya nomor nya Kak Nina tak bisa dihubungi." ujar Aini. Raya mengingat kembali kejadian tadi, hanya ada satu orang yang membela ibu nya dan orang itu sedang menghubungi nya sekarang. Dengan isak tangis yang mulai kembali Raya memberi tau keadaan ibu nya sekarang.
"Huhuhu.... tante... tadi kami sudah sampai di rumah namun tiba-tiba ibu pingsan dan di larikan ke rumah sakit huhuhu..." tangis Raya pecah. Mendengar jawaban dari keponakan nya membuat kaki Aini mendadak lemas, dia hampir terjatuh mendapati kabar buruk itu.
"Ya Allah... di mana? di rumah sakit mana nak?" tanya Aini yang buru-buru turun dari lantai dua rumah ibu nya, Marwa.
"RSUD Kota Malang tante..." jawab Raya sebelum telpon di matikan.
"Oke tante ke sana sekarang." ucap Aini lalu menutup telpon nya. Melihat anak bungsu nya yang tergesa-gesa turun membuat Marwa kebingungan.
"Mau kemana kamu? kenapa kamu terlihat terburu-buru begitu?" tanya Marwa menghentikan langkah kaki Aini. Saudara nya yang lain dan beberapa keponakan nya menoleh ke arah Aini, malam ini mereka mengadakan acara makan-makan bersama merayakan ulang tahun Marwa namun karna perintah Marwa untuk menunggu Aini turun dulu baru acara itu di mulai tapi lihat lah sekarang orang yang di tunggu itu malah melangkah ke pintu luar ketimbang bergabung dengan mereka.
"Saya mau ke rumah sakit bu, Kak Nina pingsan dan di larikan ke rumah sakit." jawab Aini.
"Apa?" Marwa mencoba mencerna kembali apa yang yang di katanya anak bungsu nya itu, jauh di dalam lubuk hati nya sebuah perasaan yang sudah lama terpendam itu bergeming.
"Ngapain kamu ke sana? kamu gak ngehargai ibu ya?!" ujar abang nya.
"Bu saya harus kesan sekarang, anak Kak Nina menunggu saya bu." ucap Aini dengan lembut, tak ada guna nya dia meladeni ucapan saudara-saudara nya apalagi tiba-tiba ibu nya terdiam mendengar kabar itu.
"Bu, jangan izinkan dia kesana bu... anak ini sudah menikah pun masih tetap bebal." kini giliran kakak nya yang berbicara. Namun tak ada jawaban dari ibu mereka malahan dengan tiba-tiba Marwa berdiri dari kursi nya dan melangkah menuju kamar nya meninggalkan anak-anak nya yang kebingungan akan sikap ibu nya. Aini melihat kesempatan itu dan berlari keluar rumah sebelum saudara-saudara nya mencegah nya untuk melangkah, Aini mengeluarkan motor nya melaju ke tempat kakak dan keponakan nya berada.
Sedangkan di sisi lain Tika baru saja keluar dari rumah nya, dia menenteng sebuah kotak makanan yang isi nya lumpia. Sebenar nya dia bersama ibu nya membuat lumpia namun karna kebanyakan dia punya ide untuk memberikan lebih nya pada Raya dan juga memamerkan keahlian nya dalam memasak. Bersama dengan abang nya, dia pergi menuju rumah Raya seusai maghrib dan berniat main bentar.
Tapi ketika dia tiba di depan rumah sahabat nya, sama sekali tak ada lampu rumah yang hidup bahkan saat dia mengetuk pintu rumah itu tak ada yang menjawab nya. Tika mengeluarkan handphone nya mencari nomor Raya dan mencoba menghubungi nya.
Di layar ponsel Tika terdapat tulisan berdering di panggilan nya namun telpon nya tak di angkat Raya, lalu dia mencoba lagi tapi dari tulisan dering terdengar operator mengatakan kalau handphone Raya sedang berbicara dengan telpon yang lain. Hingga ketika panggilan ketiga yang Tika coba dan telpon nya akhirnya di angkat Raya.
"Iya Tik? ada apa?" tanya Raya masih dengan suara serak nya.
"Kamu lagi gak di rumah Ray? aku ada di depan rumah mu nih." ujar Tika.
"Maaf Tik, seperti nya aku tak akan pulang malam ini." jawab Raya.
"Kenapa? emang nya kamu di mana sih? ibu mu juga gak ada di rumah." tanya Tika.
"Aku lagi di rumah sakit Tik, ibu ku pingsan dan di larikan ke rumah sakit." sahut Raya di sebrang telpon.
"Apa???!! Ya Allah kok bisa sih Ray?" tanya Tika yang mulai panik, Dafa menoleh ke arah adik nya yang terlihat kaget.
"Aku juga gak tau kenapa, ini lagi nunggu hasil pemeriksaan dokter." ujar Raya.
"Emang di rumah sakit mana?" tanya Tika lagi, dia berjalan menuju abang nya yang tengah menunggu di atas motor nya.
"Di UGD RSUD Kota Malang." jawab Raya.
"Yaudah tunggu aku di sana, aku sama Bang Dafa ke sana." ucap Tika lalu mematikan telpon nya.
"Bang, tolong anterin aku ke RSUD Kota Malang ya. Ibu nya Raya pingsan dan di larikan ke sana, kasihan bang dia lagi sendirian di sana." ujar Tika.
"Yaudah cepat naik, pasang helm juga." sahut abang nya lalu mengendarai motor nya membelah jalan raya.
Di antara ruang UGD yang terasa sepi dan dingin ini Raya masih setia menunggu nya ibu nya sadar, air mata nya sudah berhenti sejak menelpon Tika. Tunggu! ngomong-ngomong soal telpon dia tiba-tiba ingat satu orang yang seharusnya di kabari nya terlebih dahulu, Radi.
Tttuutt....
Tttuutt....
Tttuutt....
"Ayoo laahhh.... abaangg angkat doong..." ucap nya sendirian.
Tttuutt....
Tttuutt....
Tttuutt....
"Zzzztttt.... hallo?" suara pria terdengar.
"Hallo abang, ini Raya." ujar nya.
"Iya dek?" tanya Radi, tak biasa nya adik nya langsung telpon tanpa pemberitahuan dulu.
"Abang di mana? ada sesuatu yang mau Raya katakan." ucap Raya dengan suara serak nya, mengingat kembali ibu nya yang pingsan membuat air mata nya mulai menetes.
"Abang lagi di perjalanan pulang nih." jawab Radi.
__ADS_1
"Abang hiks.... ibu tiba-tiba pingsan.. sekarang lagi di cek dokter... Raya takut bang..." isak tangis nya.
"Astagfirullah.... dek kok bisa..." ujar Radi dengan panik, dia mempercepat langkah nya menuju apartemen yang di sewa nya.
"Ibu pingsan nya kenapa dek? habis jatuh atau gimana?" tanya Radi.
"Jadi tadi sore itu ibu ajak Raya buat ketemu nenek untuk pertama kali nya.... tapi hiks... nenek maupun saudara ibu gak mengakui ibu sebagai bagian keluarga mereka bang. Raya gak tau alasan nya setelah pulang dari sana ibu nge-drop hingga pingsan. Ini juga lagi nunggu tante Aini adik bungsu nya ibu mau datang hiks...." jawab Raya masih dengan isak tangis nya.
"Adek.. kamu tenang dulu yaa, kamu jangan sampai nge-drop juga. Abang pulang malam ini, tunggu abang di sana ya dek." tutur Radi.
"Iya bang, ibu di RSUD Kota Malang bang." ucap Raya sebelum telpon nya di tutup.
Radi dengan buru-buru memasukan beberapa pakaian nya kedalam koper milik nya, dia mulai memesan tiket sekali jalan dan berangkat jam 11 malam nanti. Di sela-sela dia mengemasi barang-barang yang akan di bawa nya, Radi menelpon pihak kampus nya untuk meminta cuti selama seminggu kemudian menelpon dosen yang memperkerjakan nya kalau diri nya akan pulang ke Indonesia sebentar. Setelah merasa semua nya sudah beres, Radi mengarahkan langkah nya menuju Hong Kong Internasional Airport.
Seorang wanita berjalan terburu-buru setelah memarkirkan motor nya di parkiran RS, Aini langsung menuju UGD tempat Raya dan kakak nya berada. Ketika jarak hanya beberapa meter dari diri nya berdiri Aini dapat melihat begitu kalut nya keponakan nya itu.
"Raya..." ujar Aini mendekat.
"Tante.." Raya langsung berdiri menyambut kedatangan adik bungsu ibu nya namun Aini langsung memeluk nya tanpa basa-basi dan di dalam pelukan Aini tangisan Raya tercurahkan.
"Gimana kondisi ibu mu, nak?" tanya Aini yang juga ikutan menangis.
"Kata dokter tekanan darah ibu rendah banget dan sekarang ibu masih belum sadar. Kata dokter juga menyarankan buat rawat inap menunggu kondisi ibu stabil tante." jawab Raya menyeka air mata nya.
"Ya Allah... pasti kamu butuh biaya banyak, biar tante yang urus administrasi ibu ya." ujar Aini meninggalkan Raya, dia berhutang terima kasih pada tante nya yang satu itu.
Raya kembali duduk di kursi nya, dia mengirimkan pesan pada abang nya memberitahukan hasil pemeriksaan dokter dan tentang tante Aini yang membayar biaya rumah sakit ibu mereka. Tak berapa lama setelah Aini pergi ke administrasi Tika datang dengan terburu-buru bersama abang nya, Dafa.
"Raya!" sahut Tika, dia langsung memeluk sahabat nya itu berusaha memberikan kekuatan dari pelukan nya.
"Kamu gak apa-apa Ray? ibu mu gimana kondisi nya?" tanya Tika melepaskan pelukan nya.
"Aku gak apa-apa kok, kata dokter tekanan darah ibu ku menurun dan di suruh rawat inap." jawab Raya.
"Sendirian dong kamu nunggu ibu mu di sini, aku bisa kok nemani kamu." ucap Tika.
"Gak usah Tik, adik ibu ku ada di sini kok dan abang ku bakalan pulang malam ini dari Hong Kong." tolak Raya.
"Syukurlah kalau ada yang nemani kamu." ujar Tika.
"Oh ya tadi kamu kenapa ke rumah ku?" tanya Raya yang kini penasaran.
"Ini... aku tadi mau kasih kamu ini. Aku dan ibu ku kebanyakan masak lumpia nya jadi daripada di buang aku kasih ke kamu aja, aku juga bisa masak." tutur Tika menyerahkan kotak makanan itu.
"Sekalian karna kamu di sini buat jaga-jaga kalau nanti kamu lapar." lanjut Tika.
"Makasih ya Tik, maaf ngerepotin kamu sampai ke sini." ucap Raya tak enak.
"Gak apa-apa kali, kita kan best friend hehe.." sahut Tika dengan senyum nya, Raya pun bersyukur punya sahabat seperti Tika walau nyebelin tapi dia tetap baik hati.
"Dek, pulang yuk... Ibu nyariin nih." ucap Dafa yang sedari tadi hanya memperhatikan obrolan mereka.
"Yaahh abang... Tika masih mau di sini sebantar." rengek Tika.
"Tapi ini ibu kamu loh yang nyuruh pulang." lanjut Dafa memperlihat kan isi chat nya.
"Pulang aja Tik, udah malam lagian." timpal Raya, padahal sekarang jam baru menunjukan pukul 8 malam.
"Yaudah deh... btw besok kamu sekolah gak Ray?" tanya Tika sebelum pulang.
"Gak dulu Tik, aku mau tunggu abang ku tiba dulu. Kasihan ibu gak ada yang jaga, aku masih gak enakan sama tante ku yang baru aku jumpai." jawab Raya.
"Oh yaudah nanti aku bantu sampai kan ke wali kelas aja kali ya." ucap Tika.
"Iya gitu juga gak apa-apa." ujar Raya.
"Yaudah aku balik duluan yaa, semoga ibu mu cepat sembuh." seru Tika.
"Kami balik duluan ya dek, yang kuat ya!" ucap semangat Dafa dan di balas anggukan oleh Raya. Raya memperhatikan langkah mereka berdua hingga kedua nya menghilang setelah belok ke kanan.
Setelah selesai mengurus administrasi kakak nya, Aini kembali ke tempat ponakan nya berada.
"Raya pulang lah biar tante yang jaga ibu kamu di sini." ujar Aini.
"Gak apa-apa tante, Raya di sini saja." jawab Raya, dia tak bisa meninggalkan ibu nya di sini.
"Bukan nya besok kamu sekolah nak?" tanya Aini.
"Besok Raya niat libur sehari tante, abang bakalan sampai besok pagi jadi Raya gak bisa ninggalin ibu sendirian di sini." jawab Raya.
"Abang kamu memang nya gak di kota ini?" tanya Aini lagi, dia baru tau kalau mereka hidup terpisah.
"Gak tante, abang sejak ayah meninggal sudah pergi merantau ke Hong Kong dan belum pulang sampai saat ini tadi kata nya bakalan pulang hari ini." jawab Raya lagi.
"Tante baru tau nak, maaf ya gara-gara keluarga tante kamu, ibu dan abang mu hidup terpisah setelah ayah kalian meninggal." ujar Aini dengan tertunduk sedih. Pasal nya setelah Zarman meninggal keluarga nya bahkan tak pernah datang melayat yang ada hanya cacian dan rasa benci yang tertanam di dada mereka hingga melupakan darah daging mereka sendiri. Raya tak menjawab permintaan maaf dari tante nya, dia masih belum mengerti dengan jelas kenapa keluarga ibu nya tak mau menganggap ibu nya dari bagian keluarga mereka.
"Tante, tolong jelaskan pada saya kenapa ibu saya di perlakukan tak adil seperti tadi? Apa salah ibu saya hingga mereka berkata kejam seperti itu?" tanya Raya.
"Tolong tante jelaskan agar saya paham." lanjut nya lagi. Aini terdiam untuk beberapa saat, dia memikirkan mulai dari mana pembicaraan yang akan sangat panjang untuk di ceritakan ini.
"Jadi.... dulu nya ayah kamu yang nama nya Bang Zarman adalah seorang pebisnis yang cukup sukses, dia bertemu Kak Nina di salah satu acara yang di adakan kampus Kak Nina saat itu kalau gak salah judul acara nya 'bincang-bincang seputar bisnis' nah ayah kamu salah satu narasumber nya dari situlah mereka saling kenal." ujar Aini memulai pembicaraan nya.
"Awal nya semua berjalan baik, di keluarga tante ibu kamu adalah anak paling di sayang sama nenek kamu bahkan di utamakan dibanding saudara nya yang lain. Nah waktu itu Bang Mustaf atau paman kamu punya teman yang juga pebisnis suatu ketika dia cekcok sama ayah kamu tante gak tau karna apa tapi setelah itu ada gosip aneh yang menyebar, dikatakan kalau ayah kamu berbisnis dengan cara yang curang dan suka main wanita. Dulu emang main wanita itu termasuk tindakan kurang ajar dan rendahan apalagi kalau sampai ketahuan setelah gosip itu menyebar pada akhir nya sampai ke telinga nenek dan kakek mu."
"Tentu saja saat itu kakek kamu tak mempercayai gosip itu karna hampir setiap hari kakek kamu bertemu dengan ayah mu di luar rumah membicarakan tenang bisnis masing-masing tapi berbanding terbalik dengan nenek kamu yang langsung mempercayai itu dan mulai membenci ayah mu. Di tambah lagi hal itu di kompor-kompor saudara ibu yang lain nya, tante gak termasuk karna tante percaya sama kayak kakek kamu. Nenek kamu merubah pikiran nya dan tak merestui hubungan yang akan di langsung kan oleh ayah dan ibu mu, terjadi lah cek cok yang cukup hebat di keluarga tante. Kakek berusaha menjelaskan dan meluruskan gosip itu tapi nenek kamu selalu menyangkal nya di tambah saudara yang lain pun ikut-ikutan berkata tak merestui hingga membuat hati ibu mu dilema."
"Ayah kamu bahkan sempat datang ke rumah untuk menjelaskan secara langsung tapi nenek kamu langsung mengusir nya dan mengancam akan melaporkan ayah mu ke polisi atau gosip itu. Di situ ibu mu, kakek bahkan tante di buat pusing dengan ke kerras kepala nenek mu. Gak sampai di situ, teman nya Bang Mustaf yang tante bilang tadi tertarik sama Kak Nina. Dia meminta langsung pada nenek mu untuk menikahi nya dengan alih-alih mahar nya yang berjuta-juta, nenek kamu kalap dan langsung setuju tapi kakek kamu tidak makin benci lah nenek dan saudara-saudara tante ke ayah kamu." lajut Aini mengingat kembali kejadian itu.
"Selama hampir sebulan ibu mu terus-terusan menangis tak ingin di jodohkan dengan teman Bang Mustaf, Kak Nina dan tante tau kalau orang itu sama sekali tak baik bahkan sudah banyak rumor yang beredar kalau dia sudah mengamili banyak anak gadis orang tapi nenek kamu gak percaya dan mengatakan kalau hal itu omong kosong. Di antara kegalauan hati ibu, Bang Zarman masih tetap berusaha untuk meminta restu nenek mu hingga pada akhir nya saudara tante menyerang mental nya dan membuat nya mundur dengan terpaksa." Ucap Aini dengan mata yang berkaca-kaca begitu juga dengan Raya yang mendengar nya, seakan-akan dada nya terasa sesak.
"Terus gimana tante?" tanya Raya.
"3 bulan berlalu setelah kejadian itu tapi ibu mu masih tetap kekeh dengan keinginan nya bersama Bang Zarman, ibu mu mencoba bicara pada nenek mu tapi jawaban nya tetap sama. Hingga tiba-tiba ibu mu berkata seperti ini 'jika bukan dengan Bang Zarman saya tak akan pernah mau menikah dengan pria mana pun' ibu mu bilang begitu di hadapan kami semua. Mendengar anak kesayangan nya yang membangkang membuat kesabaran nenek mu habis dan mengusir Kak Nina dari rumah tentu saja kakek mencoba menahan nya namun karna terlanjur sakit hati Kak Nina tetap pergi dan menginap di salah satu kos-kos-an teman nya." ucap Aini
"Selama beberapa hari ibu mu demam dan kakek tau keberadaan Kak Nina hingga menjemput nya untuk pulang, dalam linangan air mata ibu mu meminta kakek mu untuk menikah kan nya dengan Bang Zarman dan terjadi lah pernikahan itu. Tapi tetap saja nenek mu tak pernah merestui hal itu hingga sekarang dan mulai memutuskan hubungan dengan Kak Nina saat itu juga. Sejujur nya tante sangat merasa kasihan dengan Kak Nina tapi setelah melihat betapa bahagia nya dia didalam pernikahan nya membuat tante juga ikutan bahagia." lanjut Aini sembari mengusap air mata nya.
"Mengingat kejadian itu tante jadi ingat juga ucapan terakhir kakek kamu sebelum meninggal dunia, kakek kamu bilang sama nenek kamu kayak gini 'jangan terlalu membenci Nina dan Zarman, mereka saling mencintai dengan keimanan dan ketaqwaan. Selama mengenal Zarman aku sudah merasa sangat yakin kalau dia adalah laki-laki yang baik untuk Nina, pesan ku hanya satu Marwa... maafkan lah mereka.' ucapan itu sangat membekas di hati tante, Raya." tutur Aini.
__ADS_1
Raya yang mendengar nya hanya bisa menangis terisak, dia memang tak ada saat itu tapi seperti yang diceritakan tante nya barusan bahwa ayah nya adalah ayah yang terbaik di dalam hidup nya Raya. Begitu berat nya hidup yang di tanggung ibu dan ayah nya membuat Raya tak berhenti menangis di pelukan tante nya hingga mata nya tertidur karna kelelahan menangis.
'Ayah, Raya rindu..' ujar batin nya sebelum ketiduran di pelukan Aini.