
Di pagi hari yang tenang suara panggilan dari handphone ibu Raya terdengar, Raya yang sedang makan dengan tenang di meja makan langsung berlari ke kamar ibu nya saat ini ibu nya tengah keluar sebentar untuk beli sayur dan lauk di pedagang sayur keliling. Terpampang sebuah nama dan profil seorang cowok di dalam nya Radi, abang nya Raya.
"Assalamualaikum abang...." ujar Raya dengan senyum cerah nya.
"Waalaikumsalam dek.." jawab Radi.
"Udah lama banget abang gak video call, lagi sibuk banget ya bang di sana?" tanya Raya, dia membawa handphone ibu nya ke ruang makan.
"Lumayan dek, banyak tugas yang harus di selesaikan secepat nya sih ini aja abang baru dapat libur." jawab Radi di balik handphone nya.
"Iihh sibuk banget jadi asisten dosen ternyata ya bang." keluh Raya.
"Heem dek." jawab Radi dengan mengangguk.
"Abang kapan sih pulang nyaa, lama banget di negeri orang Raya kangen tau." rengek Raya setiap kali dia video call dengan abang tapi Radi hanya tertawa setiap mendengar hal itu, Radi juga belum bisa pasti kapan pulang nya.
"Ibu mana dek?" tanya Radi karna sedari tadi tak melihat keberadaan ibu nya.
"Ibu lagi di... aahh ibu ada abang video call." seru Raya ketika melihat ibu nya baru pulang.
Mendengar hal itu ibu nya Raya langsung meletakan belanjaan nya di dapur dan berjalan menuju meja makan, dia merindukan anak laki-laki nya yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga di negri orang.
"Ya Allah nak kamu kurus banget..." ucap ibu nya dengan mata berlinang, Radi akhir-akhir ini emang jarang menghubungi keluarga nya jadi pantas saja jika ibu nya sekarang rindu.
"Kamu makan teratur di sana kan nak?" tanya ibu nya lagi.
"Radi makan makanan enak kok bu di sini.." ucap Radi menenangkan ibu nya.
"Syukurlah.. kamu kapan pulang nak?" tanya ibu nya sama seperti Raya.
"Radi belum tau bu, kontrak Radi disini masih belum selesai tapi insya Allah secepat nya apalagi kalau ada libur panjang Radi bakalan pulang." jawab Radi.
Bagi Raya jauh dari keluarga adalah salah satu hal terberat dalam hidup nya, ayah nya yang berada di dalam kubur dan abang nya yang gak tau kapan pulang ke Indonesia.
"Rayaaaa...." teriak seorang wanita dari luar, Raya mengenal nya.
"Ibu, Raya berangkat sekolah yaa." ucap nya pamitan, Raya juga pamitan dengan abang nya lalu mengendong tas nya di belakang punggung juga tak lupa tote bag milik Adam yang harus dia kembalikan.
"Ray..." teriakan Tika terpotong ketika melihat Raya membuka pintu rumah nya.
"Salam dulu kali Tikaaaa.." balas Raya.
"Ehh hehehe lupa bestie." cengir Tika.
"Assalamualaikum tuan putri..." ucap Tika dengan nada yang di buat-buat nya.
"Waalaikumsalam resee.." ujar Raya yang mendapat sambutan kesal dari Tika.
"Enak aja rese..." ucap Tika tak terima namun Raya hanya tertawa menjauh dari rumah nya.
"Ray, udah mikirin masuk ekskul apa?" tanya Tika setelah menyusul langkah Raya.
"Udah." jawab Raya singkat dan padat.
"Apa?" tanya Tika lagi.
"LP sama teater." ujar Raya.
"Teater? emang kamu bisa akting?" singgung Tika soal nya Raya itu wajah nya flat.
"Bisa lah, kamu aja yang gak tau." ucap Raya.
"Aahh masa... coba akting kesurupan!" seru Tika.
"Emang kamu mau bayar berapa kalau aku akting itu?" tanya Raya, dia tau Tika sedang mengerjai nya.
"Gratis dong, kan harga teman." ujar Tika sambil terkekeh.
"Lambe mu!" jawab Raya dan Tika hanya menanggapi nya dengan tawa.
Langkah mereka tak terasa lama hingga melewati pagar sekolah, sekarang pukul 07.10 menit 20 menit lagi bel masuk namun sekolah tampak nya masih sepi hanya ada beberapa siswa yang keliatan sedang bersih-bersih di halaman depan.
Di pertengahan lapangan saat Raya dan Tika hendak ke kelas mereka langkah kaki kedua nya berhenti ketika seorang laki-laki yang seumuran dengan mereka berdua memanggil salah satu dari mereka.
"Raya!!" teriak laki-laki itu.
"Ya?" jawab Raya, laki-laki itu mendekati nya hingga berjarak beberapa meter dia menyerahkan sesuatu dari balik tubuh nya.
"Ini buat kamu.." ucap laki-laki itu menyerahkan sebuah coklat Silverqueen dan surat dengan amplop berwarna peach.
"Apa itu?" tanya Raya sebelum menerima itu.
"Surat cinta." ucap laki-laki itu, mendengar perkataan nya membuat otak Raya tiba-tiba tidak bisa mencerna yang di ucapkan nya. Merasa Raya tak segera mengambil pemberian nya membuat laki-laki itu sedikit memaksakan kehendak nya hingga secara tak sadar Raya menerima surat beserta coklat itu.
Laki-laki itu pergi ke kelas nya meninggalkan Raya yang sedang loading dan Tika yang kaget. Juga jangan lupa tatapan penasaran dari Adam yang tak sengaja melihat kejadian itu dari arah belakang Raya.
Dalam pikiran Adam sekarang hanya ada rasa penasaran 'siapa laki-laki itu?' , 'mengapa dia memberikan itu?' tapi dia segera menampik perasaan penasaran nya itu karna dia merasa bukan urusan nya lalu berjalan melalui mereka berdua.
"Uwahhh gilaakk!!! akhirnya sahabat ku dapat surat cinta!!!" teriak Tika tanpa kenal tempat, mendengar suara teriakan Tika membuat Raya langsung membekap mulut nya, menyuruh nya diam.
"Tika.... iihh kamu mah!!" sahut Raya kesal, 'gimana coba kalau beberapa siswa dengar atau Kak Adam dengar, ehh...' ucap batin nya.
Namun ketika seseorang berjalan melewati nya Raya langsung mengenali orang itu, Adam baru saja melewati nya. Secara otomatis Raya melepas kan bekapan nya di mulut Tika dan menatap sepenuh nya Adam yang menjauh.
'Apa dia dengar? kita kan sudah bertemu beberapa kali mengapa ya dia tak menyapa ku?' tanya batin Raya.
Melihat sahabat nya yang tiba-tiba terdiam dan memandang lurus ke depan membuat Tika diam-diam mengambil surat cinta itu dari tangan Raya.
"Ehem Ray ku baca ya?" tanya Tika meminta izin.
"Ya?" sahut Raya yang masih belum sadar.
"Dear Raya,
Sejak melihat kamu yang aktif menjawab setiap sesi game dan mendapat hukuman membuat ku jatuh suka pada mu seperti lagu yang kamu nyanyi kan.
^^^Tertanda Raja."^^^
"Ciiee Raya..." seru Tika dengan menggoda.
"Ihh apaan sih Tik, baca-baca surat orang." semprot Raya mengambil kembali surat itu.
"Lah kan kamu udah izini, gimana sih." ucap Tika dengan bingung.
"Mana ada." jawab Raya.
"Ihh ada, tadi kamu jawab iya." sahut Tika.
"Iya kah?" tanya Raya sedikit bingung, dia sedari tadi hanya menatap kepergian Adam tanpa memperhatikan Tika.
"Tapi tetep aja gak boleh baca." Ujar Raya.
"Terus sekarang kamu mau gimana? balas surat nya? tu cowok ngaku suka sama kamu." tutur Tika mengalah.
__ADS_1
"Ya gak lah!" jawab Raya dengan cepat dan yakin.
"Lah kok gitu?"
"Ya kenapa? harus gitu aku balas? aku aja gak kenal." bela Raya.
"Tu di surat udah di sebutkan nama nya tau, Raja!" jawab Tika mulai kesal.
"Gak deh Tik, nih kalau kamu mau ambil aja coklat sekalian surat nya." ucap Raya memberikan dua barang itu pada sahabat nya, dia sama sekali tak tertarik.
"Woi Raya ini buat mu bukan buat ku!" teriak Tika melihat Raya menjauh.
"Buang aja kali ya surat nya terus coklat nya ku makan.." ucap Tika dan membuang surat itu ke tong sampah terdekat lalu menyusul Raya ke kelas.
Saat sudah sampai di kelas Raya meletakan tas nya di kursi nya lalu mengeluarkan baju olahraga yang akan di kenakan nya selesai istirahat pertama. Tika memasuki kelas sembari memakan coklat nya, beberapa teman kelas nya menyapa Tika dengan ramah dan juga begitu sebaliknya.
Raya melangkah menuju loker nya yang ada di belakang sudut kelas, di sekolah ini bagian belakang kelas di letakkan loker untuk menyimpan barang-barang siswa dan di kasih kunci untuk mengunci nya. Tiaap loker terdapat sebuah lubang panjang yang tipis yang Raya tak tau apa fungsi nya namun sekarang dia mengerti ketika melihat 3 tumpukan surat di dalam loker nya padahal loker nya di kunci oleh nya.
"Surat apa lagi ini?" tanya nya sendiri.
Raya memperhatikan ke-tiga surat itu namun tak menemukan nama pengirim nya, dia penasaran 'apakah surat ini sama seperti surat yang tadi?' tanya batin nya.
Saat membuka nya sudah terlihat jelas bagian depan nya kalau itu adalah surat cinta sama seperti tadi. Raya langsung memasukan baju olahraga nya ke dalam loker dan membuang surat-surat itu ke tong sampah yang agak jauh dari kelas nya, kalau tidak mungkin saja ada siswa yang iseng dan melihat nya, bakalan berabe!
Ketika membuang surat itu pikiran Raya sudah merasa kesal, ntah ini efek dari dia nyanyi atau doa sembarang dari Tika beberapa waktu yang lalu. Raya terus berkecambuk dengan pikiran nya sendiri tanpa menyadari kehadiran Adam di koridor kelas nya.
Saat Raya hendak balik ke kelas nya dia melihat Adam tengah berbicara dengan seorang wanita dan seorang laki-laki, untuk beberapa saat dia diam memperhatikan Adam hingga sebuah hal muncul di kepala nya, tote bag Adam!
Raya langsung berlari ke dalam kelas nya, nafas nya yang terengah-engah mendapatkan perhatian dari teman-teman nya tak terkecuali Mila dan Tika yang sedang asik ngobrol.
"Loh Ray mau kemana..." tanya Tika namun pertanyaan nya di hiraukan Raya yang keluar kelas denga terburu-buru.
Saat tiba di luar tepat nya koridor kelas 10 Raya tak menemukan Adam padahal beberapa menit yang lalu laki-laki itu masih di sana, dia terlambat.
"Apa aku kembali kan langsung ke kelas nya aja ya?" tanya Raya bingung, dia gak mau kejadian kayak di kelas Bara terulang tapi buat nemuin laki-laki itu terasa sulit sekali padahal mereka masih di sekolah yang sama.
Setelah berpikir dengan cepat dia memutuskan menuju kelas Adam, bagi nya tote bag ini harus di kembalikan secepat nya karna kalau lama-lama dia bakalan lupa. Tapi seperti nya waktu memang masih belum mau membuat Raya mengembalikan tote bag milik Adam, bel masuk kelas sedang berbunyi mau tak mau membuat Raya kembali lagi ke kelas nya.
Sesampai di kelas Raya menghiraukan tatapan tanya dari Tika, dia meletakan kembali tote bag itu ke dalam tas nya dan mulai mengeluarkan peralatan belajar nya.
1,5 jam berlalu begitu saja, pelajaran kimia yang menguras otak para siswa-siswi kelas 10 IPA 3 telah berakhir dengan tugas yang harus di kumpulkan senin nanti. Tika salah satu siswa yang otak nya terasa sesak dengan kimia menarik Raya ke kantin untuk bersama-sama merefresh otak dengan makanan. Raya mengikuti Tika dengan tote bag di tangan kanan nya.
"Mau makan apa Ray?" tanya Tika membuka suara setelah tiba di kantin.
"Sempol deh 5 ribu." jawab Raya memberikan uang pas.
"Oke, tunggu bentar di meja itu Ray ntar gak kebagian." tutur Tika lalu berjalan ke stand Sempol Uweenaak 👍🏻
Raya hanya mengangguk dan duduk tenang di salah satu meja, mata nya celingak-celinguk melihat tanda-tanda hadir nya laki-laki itu.
"Hallo Raya..." sapa seorang laki-laki.
'Bukan nya dia yang tadi pagi ya?' tanya batin Raya.
Raya tak menjawab sapaan laki-laki bernama Raja itu tapi Raja yng merasa di cueki oleh wanita yang di sukai nya langsung duduk di samping Raya yang tempat nya kosong.
Raya menatap tak suka dengan tingkah nya yang tiba-tiba mendekat, merasa tak nyaman Raya mencoba pindah ke meja yang lain tapi tangan Raja mencegah nya untuk melangkah.
"Mau ke mana Ray?" tanya Raja.
"Mau pindah." jawab singkat Raya.
"Kok pindah? disini kan masih bisa duduk." ucap Raja.
"Lepasin." perintah Raya.
"Gak, kamu duduk sini aja. Aku mau ngomong sesuatu." tahan Raja.
"Soal surat cinta?" tanya Raya memastikan.
"Iya, gimana jawaban kamu? mau gak jadi pacar ku?" tanya Raja tanpa melepaskan genggaman tangan nya.
"Gak, makasih. Aku gak tertarik pacaran." tolak Raya dengan jelas, dia gak mau pacaran dan ingin fokus ke pendidikannya.
"Loh kenapa? kamu cantik, kamu pinter masa gak mau pacaran sama aku yang ganteng gini?" tutur Raja dengan pede nya.
'Idih, kepedean baget!' rutuk batin Raya.
"Karna aku cantik dan pinter maka nya gk mau pacaran." balas Raya.
"Udah lepasin!" perintah Raya sekali lagi dengan nada ngebentak.
Mendengar wanita membentak diri nya membuat rasa kesal Raja naik, 'nih cewek di baik-baikin malah ngelunjak! kalau gak karna taruhan gak bakalan gua mau saya cewek jutek ini.' rutuk batin Raja.
"Kalau aku gak mau lepasin gimana?" tanya Raja dengan wajah songong nya.
'waah baru di bentak gitu aja udah keluar sifat asli nya.' ucap batin Raya.
"Kalau gak aku bakalan...." ucapan Raya terpotong oleh seseorang.
"Dia bilang lepasin ya lepasin, cowok kok kasar sama cewek, sehat lu?!" hardik Bara.
"Lu siapa nya Raya? pacar nya? ikut campur aja!" balas Raja tak mau kalah. Bara yang awal nya berada beberapa meter dari mereka berdua perlahan mendekati Raja dengan wajah serius nya.
"Lu tanya gua siapa nya?"
"Gua abang nya! gua gak rela ya tangan adek gua lu pegang-pegang sesuka jidat lu. Lepasin sekarang atau gua tarik paksa tangan lu?!" lanjut Bara. Beberapa siswa mendengar keributan di kantin, mereka tak menyangka kalau Bara yang di idola-idola kan di sekolah ini bisa juga marah.
"Eeh kenapa tu?" bisik siswa yang lain.
"Gak tau juga tapi kayak nya lagi ngerebutin cewek deh." sahut yang lain.
"Itu bukan nya Kak Bara gak sih? gila beruntung banget cewek itu si rebutin Kak Bara." tutur yang lain.
"Pssstt!! Tika itu bukan nya Raya ya? kok kayak berantem yaa." tanya Mila yang baru masuk kantin dan sama-sama mengantri dengan Tika.
Tika menoleh ke arah yang Mila tunjuk betapa kaget nya dia melihat Bara, Raya dan seorang laki-laki tengah di kerubungi siswa lain nya.
"Mil, titip antrian ku ya!" ujar Tika pada Mila tanpa menunggu jawaban Mila.
Tika mendengar teriakan Bara yang mengatakan dia abang nya Raya, 'pernyataan macam apa itu?' tanya batin nya.
Mendengar jawaban Bara membuat Raja terdiam dan mengendurkan cengkraman nya, Raya yang melihat celah itu langsung menghempaskan tangan Raja lalu mundur beberapa langkah.
'gila nih orang, sakit banget tangan ku.' ujar batin nya.
"Udah yaa.. mending kamu pergi aja, aku udah nolak jadi jangan main kekerasan kayak tadi, sakit tau." ucap Raya dengan tegas, dia gak pengen di ganggu lagi kayak tadi apalagi oleh laki-laki.
"Loh Ray, ada apa?" tanya Tika menghampiri, wajah khawatir nya terlihat dengan jelas.
"Mungkin pikiran kamu bakalan berubah, nanti aku datang lagi." ucap Raja yang mulai beranjak pergi.
"Lu gak usah datang-datang lagi!!" teriak Bara menggelegar seisi kantin.
__ADS_1
Raya tak menanggapi ucapan Raja, dia malah langsung buang muka. Inilah yang dia takuti ketika ada cowok yang munyukai nya, ketika dia sudah menolak dengan begitu keras cowok-cowok yang menyukai nya gak bakalan berhenti buat terus ngejar dia dan memaksa menjadi pacar Raya.
"Kamu gak apa-apa dek?" tanya Bara tapi sedetik kemudian pandangan nya teralihkan dengan ramai nya orang-orang di sekitaran mereka.
"Apa lu liat-liat? bubar bubar!! gak ada yang perlu lu lihat di sini." usir Bara pada mereka, dia tau Raya sekarang sedang merasa risih.
Dengan tuntunan sahabat nya Raya di dudukan kembali ke meja tadi, Tika mengambilkan segelas air minum untuk nya mungkin saja Raya lagi shock dengan kejadian tadi.
"Ray, kamu gak apa-apa?" tanya Tika sama dengan yang Bara tanyakan.
"Aku hanya merasa gak nyaman aja Tik." jawab Raya selesai meneguk minuman nya.
Disalah satu sudut kantin yang lain Adam tengah memperhatikan Raya sejak keributan tadi, ketika Adam melihat seorang laki-laki bertindak kasar pada Raya dia hendak melerai nya namun kalah start dengan Bara. Alhasil dia hanya diam dan memperhatikan hingga menunggu teman nya datang, Malik.
"Lah Dam kok berdiri aja, gak mesan makanan?" tanya Malik.
"Tadi kata nya nyuruh tunggu." balas Adam tanpa melepaskan pandangan nya ke Raya.
"Eeh tadi aku dengar pas jalan ke sini kata nya ada yang lagi ribut-ribut yaa?" tanya Malik menuju ke stand makanan.
"Iya." jawab singkat Adam.
"Bu, orem-orem 1." ucap Malik pada penjual makanan itu.
"Kamu apa Dam?" tanya nya.
"Samain aja." jawab Adam.
"Orem-orem nya jadi 2 ya buk, minuman nya es kosong 2 buk." ucap Malik kembali.
"Baik nak ditunggu sebentar yaa." ucap penjual itu.
Adam dan Malik pun menunggu di meja yang telah kosong, dia dan Raya hanya berjarak 5 meja namun tampak nya wanita itu tak melihat ke arah Adam.
'Terlihat banget wajah nya shock.' tutur batin Adam.
"Dorrr!!!!" kejut Alesha tiba-tiba.
Malik yang sedang main handphone terkejut dengan aksi Alesha sedangkan Adam yang terlalu fokus ke arah Raya malah biasa-biasa aja dengan kejutan Alesha, di perasaan Alesha dia merasa sedikit kecewa dengan sikap yang di tunjukan Adam pada nya.
"Iihh Adam gak terkejut." rengek Alesha, dia mulai duduk dan bergabung dengan 2 orang laki-laki itu.
"Gak baik tau Sha ngejutin orang, gimana coba kalau yang kamu kagetin bisa serangan jantung kan kasihan." tegur Malik.
"Betul." sahut Adam.
"Hmm maaf Lik, Alesha gak bakalan ngulangin lagi kok." ujar Alesha dengan nada suara yang di buat imut.
"Untung kamu sepupu nya Adam, Sha." ucap Malik.
"Kalau bukan emang kenapa Lik?" tanya Alesha.
"Ya aku tampol." jawab Malik dengan bercanda.
"Gak boleh kasar sama wanita." ucap Adam mengingatkan sedangkan Malik hanya cengengesan.
"Permisi nak ganteng, ini orem-orem nya." tutur ibu penjual itu dengan membawa satu nampan yang berisikan 2 piring orem-orem.
Malik langsung memindahkan nya ke meja mereka lalu dengan tenang menyantap nya, begitu juga dengan Adam. Alesha tersenyum hanya melihat Adam makan sedangkan diri nya tidak makan, melihat Adam makan dengan lahap membuat nya sudah kenyang begitu lah kira-kira yang di rasakan Alesha.
"Sha, gimana anak-anak teater? udah ada nambah anggota?" tanya Malik.
"Belum nih Lik, kek nya pada banyak ke nari, basket, paskibra sama PMR." jawab Alesha.
"Kalau ekskul mu gimana Lik?" tanya nya balik.
"Kalau futsal sih ada beberapa tapi kalau pramuka baru 3 orang." jawab Malik dan Alesha hanya ber-oh ria.
"Dam, makanan nya enak banget ya sampai gak lihat kemana-mana?" tanya Alesha, laki-laki ini terlalu fokus makan dan tak melihat wajah nya padahal sahabat nya sudah beberapa kali mengajak Alesha berbicara sambil makan.
"Kalau makan itu baik nya gak sambil bicara." tutur Adam setelah selesai makan.
"Hehehe sorry Dam lupa." sahut Malik yang orem-orem nya masih tinggal setengah.
"Dam jangan salahin Malik, aku juga salah." ucap Alesha.
"Aku gak nyalahin siapa-siapa, aku hanya mengingatkan." jawab Adam menepis rasa bersalah sepupu nya.
"Kamu baik banget.." ujar lirih Alesha, pandangan nya tak pernah lepas dari laki-laki ini. Namun Adam tak menanggapi nya, melihat kejadian amat canggung itu membuat Malik berdehem.
"Eheemm!!"
"Kenapa Lik?" tanya Adam, gerak mata Malik bergeser ke arah Alesha. Dia mengkode-kode pada Adam kalau wanita itu terlalu memperhatikan nya.
"Wanita dan laki-laki itu harus nya bisa menjaga pandangan, Sha." tegur Adam.
"Hehehe kelepasan Dam." cengir Alesha.
"Maaf nih ganggu waktu makan kalian" ujar sebuah suara.
"Ehh Didi gak apa-apa kok." sambut Alesha dengan ramah, Didi pun membalas senyuman itu dengan sapaan hangat nya.
"Hallo Alesha, aku pinjam Adam nya bentar ya." ucap Didi meminta persetujuan.
"Oh ya silahkan Di." ujar Alesha masih dengan senyum full nya.
"Dam, ngumpul bentar yuk ada yang mau di bahas." ajak Didi dan Adam mengangguk, Dia pamit pada Malik dan Alesha lalu berjalan melewati meja Raya.
Saat Tika tengah membicarakan soal surat cinta yang di terima Raya pagi ini ke Bara orang yang menerima surat cinta itu langsung berdiri ketika melihat sesosok laki-laki pemilik tote bag itu.
"Kak! Kak Adam tunggu!" sahut Raya sedikit berlari ke arah Adam.
"Di, kamu pergi dulu aja nanti aku susul." ucap Adam.
"Ok" dan Didi pergi sendirian ke ruangan OSIS meninggalkan Adam.
"Ada apa?" tanya Adam tanpa basa-basi.
"Hmm ini kak..." sembari menyerahkan tote bag itu.
"Sudah saya cuci bersih, setrika dan kasih parfum jadi kakak gak bakalan nemu bau yang gak enak, kotor atau pun gak rapi hehehe." ujar Raya dengan sedikit tawa nya. Tapi mendengar penuturan Raya membuat Adam seketika tertawa, 'wanita ini terlalu rajin.' tutur batin Adam
Tawa Adam yang terdengar renyah di telinga Raya membuat jantung nya berdisko ria lagi bahkan ketika Adam diam terlihat ganteng apalagi ketika ketawa ganteng nya jadi nambah berkali-kali lipat. Raya tersenyum tipis tapi di mata Adam terlihat begitu lebar, ntah mengapa juga detak jantung Adam berdegup kencang hanya karna sebuah senyuman itu.
"Terima kasih ya kak, karna bantuan kakak waktu itu berkurang kerepotan saya." ujar Raya, dia memberanikan diri menatap mata indah laki-laki yang di kagumi nya. Adam pun begitu namun beberapa detik kemudian dia teringat ucapan nya pada Alesha, jaga mata!
"Baiklah, terima kasih kembali." ucap Adam.
"Saya permisi, assalamualaikum." salam Adam dan di jawab oleh Raya.
"Waalaikumsalam Kak Adam."
Di meja lain Alesha merasa cemburu, seorang wanita yang tak di kenal nya tiba-tiba saja membuat Adam tertawa dan tawa itu belum pernah Alesha lihat. Begitu juga pada Malik, Tika dan Bara yang melihat kejadian aneh itu di meja masing-masing.
__ADS_1
'Siapa wanita yang bikin Adam dengan mudah tertawa itu?' tanya batin Alesha.