
Rintik-rintik hujan di luar menemani waktu Raya kali ini ke rumah sakit, tempat ibu nya di rawat. Raya mengenakan kaos oblong warna putih lengan pendek di balut outer cardigan rajut warna abu-abu tua, rok panjang berwarna hitam dengan pashmina berwarna abu-abu tua di tambah sepatu sneaker berwarna putih.
**sumber google**
Sepulang sekolah tadi dia dapat pesan dari abang nya yang berada di rumah sakit kalau malam nanti ibu mereka sudah bisa di bawa pulang dengan rawat jalan namun nanti bakalan di kontrol lagi selama 3 hari sekali alhasil Raya hanya mengenakan pakaian simpel dan cukup nyaman untuk menemui ibu dan abang nya yang di rumah sakit. Setelah menunggu ojek online beberapa saat baru lah dia pergi ke rumah sakit, walau sedikit kebasahan saat di perjalanan tapi dia tetap semangat apalagi hari ini ibu nya sudah bisa pulang, rumah bakalan kerasa hidup lagi.
"Assalamualaikum ibu..." ucap Raya saat masuk ke ruangan rawat inap ibu nya.
"Waalaikumsalam." sahut ibu, abang dan Aini. Raya langsung menuju ke arah mereka bertiga dan mencium tangan mereka.
"Nunggu hujan reda juga bisa dek." ucap Radi yang baru melihat bercak-bercak air hujan di sekitaran baju yang Raya pakai.
"Bisa sih bang tapi Raya tu udah kangeeeeennnn banget sama ibu." jawab Raya, dia lalu memeluk ibu nya dengan sangat hati-hati.
"Anak ibu selalu manja yaa." tutur ibu nya dengan suara pelan dan membalas pelukan dari Raya.
"Iya nih bu, udah SMA pun." timpal Radi namun hanya di balas juluran lidah dari Raya.
"Bang Radi iri aja deh." lanjut Raya.
"Iri sama kamu? uuhh sorry yaa." ucap Radi.
"Udah-udah masa kalian mau berantem di sini." ucap Aini menengahi mereka berdua.
"Hehehe maaf tante.." ucap Raya dan Radi bersamaan, mereka lalu duduk dengan tenang di kursi yang ada di ruangan itu.
"Kak, gimana perasaan kakak hari ini?" tanya Aini yang juga ikutan duduk di samping Raya.
"Alhamdulillah, perasaan ku baik-baik saja hari ini." jawab ibu mereka.
"Ibu gak ngerasain sakit lagi? atau nyeri gitu?" tanya Raya.
"Ibu udah gak apa-apa kok nak." jawab ibu nya.
"Ibu kalau ada ngerasain sesuatu langsung bilang Radi atau Raya ya bu, jangan tiba-tiba kayak kemarin." tutur Radi, dia begitu khawatir dengan kondisi ibu nya.
"Iya, insya Allah..." jawab ibu mereka.
"Ibu mau minta tolong sama kalian berdua, nak." ucap ibu mereka.
"Apa bu?" tanya serempak Raya dan Radi.
"Ibu mau ngobrol berdua dengan tante kalian." ucap ibu mereka, mereka langsung paham lalu beranjak keluar meninggalkan ibu dan tante nya saja di ruangan itu. Setelah memastikan anak-anak nya keluar dan pintu di tutup saat itu lah Nina bertanya hal yang selalu membuat nya merasa sangat bersalah.
"Ada apa kak?" tanya Aini yang duduk mendekat.
"Bagaimana keadaan ibu, Ni?" tanya Nina yang mencoba duduk.
"Ibu baik-baik saja kak, kakak jangan mikirin ibu dulu yaa." ucap Aini dengan lembut, dia juga membantu Nina duduk dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit ini.
"Ibu makan dengan teratur kah, Ni? kemarin ibu terlihat kurus sekali." ujar Nina dengan suara serak nya.
"Ibu makan dengan teratur kok kak walau jarang habis." tutur Aini dengan jujur.
"Kenapa Ni? padahal dulu ibu selalu bilang buat habisin makanan kalau tidak ibu bakalan sedih." ujar Nina mengingat kembali masa kecil nya yang di marahi Marwa karna tak menghabiskan makanan nya.
"Semenjak kakak pergi ibu bahkan tak pernah lagi menghabiskan makanan yang di buat kan kak." jawab Aini dengan lesu, tiap dia memasakan makanan untuk ibu nya selalu saja bersisa.
"Ibu pasti kecewa sekali dengan aku, Ni." tutur Nina dengan mata nya yang berkaca-kaca.
"Ibu... ibu pasti akan memaafkan kakak kok." ucap Aini menenangkan Nina.
"Apa yang harus aku lakukan, Ni? aku ingin ibu memaafkan ku sebelum terlambat." ujar Nina, dia mulai merasakan rasa sedih nya mempengaruhi kondisi tubuh nya.
"Apa maksud kakak sebelum terlambat?" tanya Aini yang tak mengerti.
"Aku takut Aini... aku takut kalau aku telah tiada ibu tak memaafkan ku hingga akhir." ucap Nina dengan air mata yang mulai terjatuh.
"Kakak gak boleh ngomong kayak gitu... insya Allah kakak bakalan sehat lagi, insya Allah ibu bakalan maafkan kakak... kakak harus semangat." jawab Aini, dia memeluk tubuh ringkih nan kurus itu, mencoba untuk menenangkan perasaan Nina yang tengah kalut dan juga menghentikan nya dari pikiran-pikiran yang akan membebani Nina.
Seperti gerimis yang berada di luar jendela sekarang, tangisan Nina pun sama dengan hujan yang jatuh. Ingatan yang menyayat hati nya dan orang-orang yang di sayangi nya itu bakalan tak pernah hilang di hati nya. Nina memang tak tau kenapa dia bisa mengatakan hal itu tapi satu hal yang pasti semua yang bernyawa akan mengalami mati dan diri nya yakin kalau hal itu bakalan menghampiri nya.
Di luar dari ruangan tempat ibu nya di rawat, Raya mengeluarkan handphone nya selagi menunggu ibu dan tante nya selesai bicara. Dia meng-chat Tika, mereka sedang membicarakan siapa siswa-siswa yang akan mereka wawancarai untuk tugas Bahasa Indonesia kali ini.
"Tik, udah dapat belum?" pesan Raya baru terkirim dan terlihat ceklis dua dari layar handphone nya.
"Dek." panggil Radi ke pada Raya.
"Apa bang?" tanya Raya tanpa melihat ke arah Radi, dia tengah membaca balasan pesan dari Tika.
"Udah nih, baru Kak Bara kirim." begitulah kira-kira isi pesan nya.
"Abang mau beliin kamu sepeda, mau gak?" tanya Radi, sedari tadi dia melihat-lihat toko online yang menjual sepeda.
"Haahh? apa bang?" tanya Raya sekali lagi, dia sedang tak fokus pada ucapan abang nya karna sekarang dia menyeleksi nama satu siswa yang akan di wawancarai nya nanti.
"Iihh gak fokus." tutur abang nya.
"Hehehe maaf bang, lagi liat tugas." ucap Raya lalu menyimpan handphone nya di dalam saku cardigan nya.
"Abang bilang apa tadi?" tanya ulang Raya.
"Kamu mau sepeda gak? biar abang beliin." ulang Radi.
"Sepeda? mau bang tapi tumben banget nih." ucap Raya mendekat ke tempat duduk abang nya.
"Mumpung abang ada rezeki nih dari pada kamu jalan kaki mulu lebih mending naik kendaraan kayak sepeda." ujar Radi memperlihatkan sepeda yang di pilih nya.
** sumber google**
"Wiihh cantik tu bang, warna nya juga bagus, Raya mau!" ucap nya dengan semangat.
"Oke." jawab abang nya.
"Eehh tapi kamu bisa kan ngendarai nya? ntar udah di beli malah gak bisa naik nya." tutur abang nya dengan nada yang mengejek.
"Bisa dong, Raya tu ahli banget dalam sepeda. Abang ingat gak sepeda si Lily yang dulu Raya pinjam sewaktu di Jakarta? sepeda sebesar itu aja Raya bisa bawa apa lagi yang ini." jawab Raya membanggakan diri nya, balasan dari ejekan abang nya tadi.
"Oohh bagus lah... tapi awas aja kamu kalau jatuh nangis kayak dulu." lanjut Adam.
"Aneh banget abang nih, ya kalau jatuh mah siapa yang mau tapi kalau jatuh nya sakit banget ya siapa yang bakalan tahan kalau gak nangis." beber Raya, dia mengingat kembali waktu naik sepeda lalu terjatuh dan menangis kemudian di ketawain abang nya.
"Raya ini udah besar." lanjut nya.
"Iya... iya yang udah besar." tutur Radi lalu megelus puncak kepala adik nya. Walau mereka kalau bersama terlihat suka cekcok tapi asli nya mereka saling menyayangi layak nya adik kakak pada umum nya.
Sebuah notifikasi yang berulang kali berbunyi dari handphone Raya membuat nya kesal, dia kembali duduk di bangku nya tadi sedangkan Radi sudah masuk kembali ke dalam ruangan. Raya membuka aplikasi Whatsapp dan menemukan 20 spam dari sahabat nya, Tika.
__ADS_1
"P....." kira-kira ada 10 kali huruf itu muncul di handphone nya.
"Ray? udah baca belum yang aku kirim kan?"
"Udah belum Ray?"
"Ray?"
"Iiihh di cuekin."
"Itu loh ada nama Kak Adam, kamu gak mau gitu ambil dia?"
"Iiihh Raya oneeeeennnngggg"
Begitulah kira-kira isi pesan spam yang Tika kirim kan, tentu saja Raya membalas spam Tika dengan emotikon "π€π π πΏπππππΆ" untuk membuat nya tidak lagi mengirimkan spam.
Raya membaca satu-persatu nama yang di list kan oleh Bara, ada 30 orang siswa berprestasi dari kelas 11 hingga kelas 12 dan salah satu nya emang ada nama Adam.
"Gimana Ray? iiihhh di baca doang π" Tika mengirimkan pesan lagi.
"Iihhh sabar atuh, ini lagi aku baca bawel!" ketik Raya.
"Jangan Kak Adam deh, yang lain aja Ray." ucap nya pada diri sendiri. Raya membaca ulang nama-nama itu hingga sebuah nama yang begit cantik membuat nya tertarik untuk mewawancari orang itu.
"Aku pilih wawancarai yang nama nya Rasi Bintang aja deh , Tik." balas Raya di pesan nya.
"Lah? kenapa gak Kak Adam aja Ray?" tanya Tika di pesan nya.
"Ya gak apa-apa lagian aku tu terlalu malu buat minta Kak Adam jadi narasumber nya, mending yang lain aja deh." balas Raya.
"Ish aneh kamu mah! padahal kamu gak kenal sama yang nama nya Rasi Bintang." balas Tika.
"Iihh biarin lah, yang penting aku dapat narasumber nya. Minta tolongin dong sama Kak Bara buat nomor nya Rasi Bintang." pesan Raya pun terkirim.
"Awas kamu Ray, ntar nyesel." balas Tika namun Raya hanya mengirim kan emotikon.
"π"
Tak berapa lama pesan Tika muncul lagi di notifikasi nya, dia mengirimkan nomor Rasi Bintang pada Raya. Dengan cepat Raya langsung menyimpan kontak milik Rasi Bintang di handphone nya lalu baru lah dia menghubungi orang itu sebelum di ambil teman-teman nya yang lain.
Ttttuuuuttttt
Ttttuuuuttttt
Ttttuuuuttttt
Sebuah dering telpon terdengar di balik handphone Raya, dia berharap orang yang di telpon nya mengangkat panggilan nya namun panggilan pertama nya tak terangkat. Saat hendak mengulangi panggilan itu dia tiba-tiba di panggil abang nya masuk ke dalam, membantu Radi untuk mengemas-ngemas barang yang akan mereka bawa pulang. Tapi sebelum itu Raya mengirimkan pesan singkat ke nomor orang itu.
"Assalamualaikum, selama sore kak." ketik Raya.
"Maaf menganggu waktu nya kak, perkenalkan saya Raya dari kelas 10 IPA 3. Saya mau minta bantuan kakak untuk di wawancarai dalam tugas Bahasa Indonesia yang di berikan Bu Tina pada kelas saya, apa kakak bersedia menjadi narasumber dari wawancara sebagai salah satu siswa berprestasi di sekolah?" dan pesan pun terkirim, Raya langsung masuk ke dalam ruangan itu sekaligus menunggu balasan dari orang itu.
Sedangkan di sisi lain, Adam mendapatkan banyak pesan masuk di handphone nya dari nomor yang tak di kenal. Rata-rata pesan itu meminta nya menjadi narasumber buat tugas wawancara mereka nanti tapi tentu saja Adam merasa tak nyaman karna semua yang mengirimkan nya pesan adalah para wanita yang gak tau ntah itu modus atau kesempatan mereka buat kenal Adam lebih dekat dan dia juga gak tau gimana cara nya nomor handphone nya tersebar di kalangan siswa kelas 10 lain nya. Adam sedang berada di cafe untuk membantu ayah nya, sesuai janji nya tadi dia menunggu Alesha yang tak kunjung datang hingga malam tiba.
"Adam...." seru Alesha dengan terburu-buru.
"Maaf ya Dam, tadi aku ada urusan bentar." ucap nya yang masih terengah-engah.
"Assalamualaikum dulu Sha." ucap Adam sekenanya.
"eeehhh iya... Assalamualaikum." ikut Alesha.
Adam meninggalkan Alesha yang sudah duduk tanpa di suruh, dia mencoba mengatur nafas nya. Ayah Adam sedang keluar sebentar dan cuma tinggal Adam yang melayani pelanggan lain, malam ini cafe mereka lagi ramai tapi Alesha paham dan mengerti lalu membantu Adam melayani pelanggan yang lain, dia mencoba menarik perhatian Adam dengan cara ini.
"Dam, itu biar aku aja yang antar." tutur Alesha tanpa di minta dia mengambil alih nampan yang tengah di bawa Adam.
"Makasih Sha." ujar Adam dan di balas senyuman manis oleh Alesha.
Kira-kira selama 30 menit lama nya baru lah ayah Adam datang dengan membawa tiga bungkus nasi padang yang baru di beli nya di warung yang ada di ujung jalan tadi sebelum dia pergi Adam mengatakan kalau hari ini Alesha datang maka nya dia tambah nasi yang akan di beli nya sedangkan anak sulung nya akan pulang agak terlambat dari hari biasanya.
"Assalamualaikum." ujar ayah Adam memasuki cafe.
"Waalaikumsalam abi." sahut Adam yang tak jauh dari pintu masuk, dia langsung menyalami tangan laki-laki tua itu begitu pun dengan Alesha.
"Nak Alesha sudah makan belum? ini om beliin nasi juga, ayo makan di belakang." ucap ayah nya Adam berjalan mendahului mereka. Alesha pun mengekori langkah om nya di susul dengan Adam yang membawa nampan di tangan nya, ayah nya memang begitu baik dan berbagi adalah hobi yang di senangi ayah nya apalagi seperti saat ini.
"Abi sama Alesha makan duluan saja biar Adam yang jaga di depan." ucap Adam, dia masih belum terlalu lapar.
"Ya udah, tolong ya nak." ucap ayah nya dan di balas anggukan oleh Adam.
Adam duduk di kursi kasir setelah dia merasa semua nya telah beres kecuali menunggu para pelanggan nya membayar, dia mengeluarkan handphone nya yang sedari tadi bergetar karna banyak nya pesan masuk. Dia membuka aplikasi Whatsapp milik nya lalu menggulirkan nama-nama kontak yang di simpan nya salah satu nya kontak milik Raya. Dia sudah memiliki nomor wanita itu sejak sabtu kemarin sebelum ekskul LH di mulai, awal nya dia tak mau kepo dengan Raya namun bukankah tidak masalah kalau diri nya menyimpan nomor wanita yang di sukai nya? tanpa wanita itu tau. Namun dari banyak nya pesan yang tertuju ke nomor nya, Adam bahkan tak menemukan pesan apa pun dari Raya padahal setau diri nya dari pesan-pesan yang masuk itu kalau tugas itu di limpahkan ke anak kelas 10 atau jangan-jangan wanita itu sudah memiliki narasumber wawancara nya dan itu bukan diri nya?
'Aahhh apaan sih aku? gak boleh berharap, gak boleh!' tutur batin nya mencoba menyadarkan diri nya sendiri.
Waktu terus berlanjut, malam yang panjang itu berganti lagi dengan sambutan hangat dari cuaca pagi kali ini. Di sebuah rumah yang beberapa hari lalu terasa sepi kini di penuhi dengan suara-suara yang terdengar riang, yap kali ini Raya dan Radi menyuruh ibu nya hanya duduk saja melihat mereka berdua melakukan sesuatu di dapur.
Awal nya Nina hendak memasakan masakan yang selalu dia buat untuk anak-anak nya di pagi hari tapi Raya langsung melarang ibu tercinta nya untuk bergulat dengan dapur untuk beberapa waktu dan menyuruh nya duduk tenang menikmati secangkir teh melati buatan nya.
"Bang, mau bikin apa?" tanya Raya yang sudah mengenakan seragam sekolah nya.
"Abang mau bikin Tim Telur, ini salah satu makanan yang sering abang makan sewaktu di Hong Kong kamu harus nyobain." jawab Radi yang sudah mengenakan celemek masak.
Tentu saja Raya langsung membantu abang nya memotong-motong beberapa bahan, walau pun abang nya tinggal sendiri di Hong Kong dan tak ada yang mengurusi nya tapi Radi bisa memasak makanan dan mengurus diri nya selama di luar negri. Itu juga semua berkat arahan dari ibu nya selama dia tinggal di Indonesia jadi Radi tak ada kesulitan selain bahasa di sana. Hanya kurang lebih 20 menitan sarapan sederhana ala Radi dan Raya pun selesai, denga rasa senang mereka bertiga menyantap makanan itu hingga habis.
"Alhamdulillah, masakan kamu enak nak." tutur ibu mereka.
"Alhamdulillah kalau ibu suka." jawab Radi yang tengah membereskan sisa makanan mereka.
"Bu udah cocok nih kayak nya buat abang nikah!" timpal Raya, dia sengaja berkata begitu untuk menjahili abang nya.
"Kalau abang nikah ntar kamu nangis" ujar Radi.
"Ngak wleee!" ejek Raya lalu mendapatkan jitakan dari Radi.
"Iya ya... umur abang mu juga udah matang." sahut ibu mereka namun Radi langsung menekuk kan wajah nya.
"Kenapa nak?" tanya Nina melihat perubahan dari wajah anak sulung nya.
"Radi masih belum siap bu." jawab nya dengan jujur, dia gak mungkin kan nikah lalu makin jauh dari ibu dan adik nya.
"Ya ampun... gak apa-apa kok, nikah itu gak persoalan umur tapi juga persiapan mental dan materi." tutur ibu nya sembari mengelus kepala anak laki-laki nya dan Radi langsung memeluk ibu nya lalu membalas juluran lidah kepada Raya. Melihat adegan itu membuat Raya ikut gabung dan memeluk tubuh ibu nya yang terasa lebih kurus dari biasa nya.
'Pelukan ibu selalu terasa hangat tapi kenapa perasaan ku selalu tak enak?' tanya batin nya. Setelah adegan pelukan hangat itu Raya langsung berangkat ke sekolah bersama dengan Tika yang baru saja sampai di rumah nya.
"Bu, Raya pamit sekolah ya." tutur nya sembari mencium tangan ibu nya.
"Hati-hati ya kalian." ucap Nina kepada Raya dan Tika.
"Belajar yang rajin ya dek." timpal Radi dan di balas anggukan oleh mereka berdua. Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua sampai ke sekolah mungkin saja pakai kendaraan 5 menit langsung sampai dan Raya tak sabar untuk mencoba sepeda baru yang akan di belikan abang nya. Di sela-sela mereka berjalan Tika yang masih penasaran tentang siapa yang akan di wawancarai Raya pun tak sabar bertanya.
"Ray! jadi siapa?" tanya Tika.
__ADS_1
"Apa nya?"
"Yang akan kamu wawancarai itu loh!" seru Tika.
"Oohhh itu, aku sih udah hubungin Kak Rasi buat jadi narasumber wawancara ku." jawab Raya dengan enteng.
"Lohh?! ku pikir bakalan Kak Adam kamu pilih Ray." tutur Tika.
"Gak aahh aku udah mikirin matang-matang." ujar Raya, dia udah merasa amat sangat yakin untuk tak mewawancarai Adam.
"Terus kalau kamu, Tik?" tanya Raya.
"Ohh aku belum dapat Ray." jawab Tika dengan sedikit rasa sedih.
"Eeehh kok belum? terus kamu gak minta Kak Bara buat jadi narasumber nya?" tanya Raya lagi, biasa nya kalau kayak gini pasti Tika udah amat sangat gercep.
"Yaa aku telat Ray, Kak Bara udah di keep duluan sama si Mila." jawab Tika dengan lesu, padahal dia udah berharap banget kalau Bara akan jadi narasumber nya plus bisa makin dekat.
"Uuhhh kasihan cup cup cup." ucap Raya dengan nada yang di buat-buat nya.
"Terus gimana dong?" lanjut Raya dan hanya di balas gelengan kepala tanda tak tau dari sahabat nya. Mereka terus berjalan hingga sampai di kelas nya yang sudah ada beberapa teman-teman nya yang lain termasuk Mila yang tengah tersenyum sendiri, melihat wajah Mila membuat Tika kesal sendiri.
Bel pelajaran pertama pun di mulai, semua siswa duduk di bangku nya masing-masing menunggu guru tiba. Di kelas Adam jam pertama pelajaran hari ini yakni seni budaya, tiap seni budaya mereka di minta untuk masuk ke lab seni begitu pun dengan kelas lain nya.
Lalu waktu tak terasa dan bel pelajaran kedua pun berbunyi, kali ini giliran kelas 10 IPA 3 yang akan belajar seni budaya melalui ketua kelas mereka di minta ke lab seni segera oleh guru seni budaya mereka. Mereka semua langsung menuju ke lab seni yang desas-desus nya di lengkapi dengan AC yang membuat siapa saja betah di dalam ruangan itu, begitu juga pada Raya dan Tika yang ikutan semangat.
Hanya butuh 5 menit bagi mereka sampai ke lab seni tepat ketika siswa kelas 11 IPA 2 baru keluar dari ruangan itu dan sebuah wajah tak asing muncul di hadapan Raya, pasal nya wajah laki-laki itu baru dia lihat pagi ini melalui notifikasi Whatsapp yakni pesan balasan Rasi Bintang.
"Hai Raya.... oh boleh, saya ada waktu luang pas istirahat pertama. Kita ketemu di taman bunga antara kelas 11 dengan kelas 12 ya." begitulah kira-kira isi pesan balasan Rasi.
"Hallo Kak Rasi." sapa Raya dari belakang laki-laki itu. Niat awal Raya hanya ingin menyapa agar nanti dia tak merasa canggung saat memulai wawancara nya tapi Raya tampak nya tak bisa membaca situasi saat ini karna dia tak menyadari dengan siapa Rasi berbicara sekarang. Mendengar seseorang menyapa nya dari belakang, Rasi mau pun teman bicara nya berbalik badan melihat siapa orang itu. Tapi begitu kaget nya Raya ketika melihat Adam dan Adam pun juga begitu.
'Eehh ada Kak Adam juga..' ucap lirih batin nya.
"Iya... siapa ya?" tanya Rasi, dia tak mengenal Raya karna di foto profil milik nya emang tidak ada sama sekali foto.
"Ehh ini saya kak, Raya." jawab Raya dengan canggung, iya canggung karna ada Adam.
"Oohhh Raya yang tugas wawancara itu ya?" tanya Rasi memastikan dan di jawab anggukan kecil oleh Raya.
'Jadi dia minta tolong Rasi ya..' lirih batin Adam.
"Untung ingatan saya kuat ya hahaha harus nya kamu pakai foto profil biar saya gak bingung." ucap Rasi memberi saran.
"Aahh iya kak nanti saya ganti." jawab Raya sedangkan Adam hanya berdiri diam di samping mereka berdua.
"Ray! ayok masuk." sahut Tika mendekat ke arah mereka bertiga.
"Oh iya Tik." jawab Raya.
"Kak, nanti kita ngobrol lagi ya saya mau ke dalam dulu. Assalamualaikum." ucap Raya meninggalkan mereka berdua.
"Oke!" seru Rasi sedangkan Adam menjawab pelan salam dari Raya. Mereka berdua pun melanjutkan langkah ke kelas walaupun sekarang Rasi mengajak nya bicara tapi Adam masih berkutat dengan pikiran nya.
'Kenapa harus Rasi? kenapa dia tak meminta bantuan aku saja? bukankah kita sudah saling mengenal?' tanya batin nya yang dia tak tau jawaban nya apa.
Angin sepoi-sepoi bertiup tak terlalu kencang ke arah lapangan, terlihat sekarang ada seorang laki-laki dan seorang wanita tengah duduk di bangku yang tersedia di taman bunga itu. Raya sudah mempersiapkan pertanyaan berbobot nya, dia juga sudah mempersiapkan alat tulis dan handphone untuk merekam pembicaraan mereka berdua walau harus menunggu beberapa menit sebelum Rasi menghampiri nya dengan dua buah botol minuman.
"Ini buat kamu, maaf ya ada urusan sebentar tadi." tutur Rasi, dia menyerahkan sebuah Fruit tea dengan rasa Freeze yang menyegarkan sebagai bentuk ucapan maaf nya karna agak telat dari yang di janjikan dan Raya pun menerima nya dengan senang hati.
"Makasih kak." jawab Raya.
"Kita mulai aja ya kak." lanjut nya setelah meminum minuman nya, Rasi pun mengangguk setuju.
Di antara banyak nya siswa yang sedang beristirahat Adam adalah salah satu nya tapi nih ya dia sama sekali tak tertarik ke kantin seperti ajakan Malik biasa nya, kali ini dari kejauhan dia memperhatikan interaksi dari dua orang yang tengah duduk di taman bunga itu, siapa lagi kalau bukan Raya dan Rasi!
Rasa penasaran nya masih terus berputar di kepala Adam, dia ingin bertanya pada wanita yang ada di pandangan nya tapi dia sadar kalau diri nya bukan siapa-siapa, bukankah mereka hanya saling kenal nama dan tak terlalu akrab layak nya teman pada umum nya?
'Kenapa aku seperti ini sih...' ujar batin nya.
'Apa aku terlalu berharap? astagfirullah....' lanjut nya lagi, dia mencoba menghilangkan harapan yang sia-sia itu hingga sebuah panggilan membuat nya menoleh.
"Kak Adam.." panggil Tika yang baru saja sampai di depan kelas nya.
'Eehh bukan nya dia teman Raya ya?' tanya batin nya.
"Iya, ada apa?" tanya Adam tanpa basa-basi.
"Hmmm saya mau minta bantuan kakak mengenai tugas Bahasa Indonesia, kakak mau gak jadi narasumber wawancara saya?" tanya Tika, sebenar nya dia ragu kalau Adam mau membantu nya. Dia tau kalau laki-laki ini bakalan gak mau dekat-dekat sama wanita apalagi dia adalah laki-laki yang sahabat nya sukai. Tapi kalau bukan minta bantuan Adam, Tika bakalan bingung minta bantuan siapa lagi.
"Baik lah tapi saya tak ingin berdua-duan." jawab Adam tanpa pikir panjang.
'tuh kan Kak Adam bakalan... eehh apa?' tutur batin Tika.
"Eehh beneran kak?" tanya Tika terkejut, dia tak menyangka Adam langsung mengiyakan.
"Iya, nanti habis maghrib saya ada waktu. Datang lah ke cafe Z.A Cafe yang tak jauh dari sekolah, bawa lah teman mu juga biar terhindar dari fitnah." jawab Adam dengan serius.
"Oohh baik kak.... saya bakalan datang tepat waktu!" seru Tika dengan semangat, akhir nya bau-bau tugas selesai tercium dari hidung nya.
"Assalamualaikum." salam Adam lalu berbalik masuk ke dalam kelas nya meninggalkan Tika yang kesenangan banget.
Waktu pun terus bergulir hingga jam pelajaran terakhir berakhir lalu mereka pulang ke rumah masing-masing. Hari ini adalah hari Rabu, hari di mana jadwal nya Raya piket dengan beberapa teman nya.
"Ray, ntar habis maghrib temanin aku ya ke Z.A Cafe dekat dari sini kok." tutur Tika yang masih belum pulang, dia sengaja buat nungguin Raya baru deh pulang bareng.
"Ngapain Tik?" tanya Raya yang sedang menyapu lantai.
"Mau laksanain tugas dari Bu Tina." jawab Tika.
"Lah ngapain harus minta temenin? emang kamu gak bisa sendiri?" tanya Raya lagi.
"Bukan nya aku gak bisa Ray tapi yang mau aku wawancarai itu gak ke pengen berduaan aja maka nya dia nyuruh aku buat ngajak teman." beber Tika, seketika Raya berhenti dari kegiatan menyapu nya.
"Emang siapa yang kamu wawancarai?" tanya Raya 'bukan orang yang aku pikirkan, kan?' tanya batin nya.
"Kak Adam." jawab santai Tika sedangkan Raya menunjukan wajah kaget nya.
"Kok bisa?!" seru Raya tak percaya.
"Santai aja wajah kaget nya bestie.." sahut Tika yang hampir mau tertawa melihat wajah kaget sahabat nya, dia emang sudah memperkirakan kalau Raya akan kaget.
"Iihh jawab Tika...." cubit gemes Raya.
"Ya bisa aja Ray kan aku minta tolong eehh Kak Adam nya mau yaudah gitu aja." jelas Tika mengelus pipi nya yang habis di cubit Raya.
"Segampang itu? aku dengar dari yang lain kata nya Kak Adam paling susah di antara siswa berprestasi lain nya." tutur Raya tak percaya.
"Ya bisa aja atuh tuan putri... mungkin aja pelet ku kuat jadi dia mau hahahaha." dan tawa Tika terdengar. Raya yang merasa sebal dengan jawaban Tika, dia makin mencubit pipi Tika hingga puas sedangkan Tika mengaduh kesakitan.
'Kenapa dia? kenapa harus Kak Adam?' tanya batin Raya sedangkan tangan nya masih terus mencubit kedua pipi Tika.
__ADS_1