Dear Adam

Dear Adam
Siapa Dia?


__ADS_3

Di pagi hari yang mendung banyak siswa yang merasa berat meninggalkan kasur empuk nya, sedari tengah malam tadi hujan mengguyur Kota Malang dan sekitar nya baru reda ketika matahari mulai terbit. Tapi mendung ini tak menghalangi rasa semangat Adam yang ya tiap hari emang dia selalu bersemangat untuk mencari ilmu namun berbanding terbalik dengan Tika yang malas-malasan karna sahabat nya hari ini tak masuk sekolah.


Adam tengah sarapan pagi bersama ayah dan abang nya, mereka selalu makan bertiga tidak ada perempuan di antara mereka. Untuk tugas memasak ayah nya yang lakukan, untuk membeli bahan makanan itu tugas nya Adam dan untuk yang mencuci piring nya baru tugas abang nya begitulah berjalan sejak mereka masuk SD. Kalau di tanya 'apakah mereka tak merindukan hadir nya perempuan?' tentu saja jawaban nya 'iya' pasal nya rumah ini sudah lama tak di urus seorang perempuan, ayah Adam juga tak memiliki niatan untuk menikah lagi sepeninggalan Devia, ibu nya Adam. Sekarang yang di harapkan nya hanya dari kedua anak laki-laki nya ini, suatu hari mereka akan menikah dan merasakan kehadiran seorang wanita.


"Abi... Zain hari pulang terlambat ada liqo sampai isya nanti." ucap abang nya Adam, Zain.


"Iya nak yang penting kabari aja kalau sudah mau pulang ya." sahut ayah nya Adam.


"Dam, sepulang kamu sekolah nanti temani abi ya ke rumah sakit." ujar ayah nya, Adam yang sedari tadi makan mendadak berhenti.


"Kenapa bii? abi sakit?" tanya Adam, dia mencemaskan kesehatan ayah nya.


"Alhamdulillah abi sehat, tadi malam abi dapat kabar dari bude kamu kata nya pakde kamu kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit maka nya mau abi jenguk." jawab ayah nya.


"Innalillahi... ya abi, Adam temani ke sana." Adam pun melanjutkan sisa makan nya lalu berpamitan untuk pergi sekolah.


Walaupun di luar masih terasa setetes dua tetes air hujan jatuh namun tak menghalangi kebiasaan mereka yang selalu di adakan tiap sekolah pada hari senin yaitu upacara. Kali ini kelas yang bertugas adalah kelas 11 IPA 1 yang di hari sabtu kemarin sudah di latih sebentar untuk upacara, di sekolah ini setiap kelas yang akan bertugas untuk upacara akan di latih sekilas beberapa hari sebelum hari senin.


Adam berdiri di barisa tengah berdampingan dengan Malik di sebelah nya, Alesha pun begitu. Di mana saja Adam berdiri apalagi pas upacara diri nya pasti ada di dekat situ atau sejajar dengan Adam, alasan nya tak lain dan tak bukan adalah dia selalu ingin berada paling dekat dengan Adam bahkan dia merasa cemburu dengan Malik yang bisa dengan seenak nya dekat dengan Adam sedangkan diri nya baru juga mendekat eehh Adam udah ngambil jarak yang cukup lebar.


Awal nya selama upacara pandangan Adam hanya tertuju ke depan namun bisik-bisik dari siswa lain membuat fokus nya terganggu. Tak jauh dari tempat Adam berdiri ada siswa kelas 10 lain nya yang tercengang melihat ke gantengan kakak kelas nya, di sekolah ini banyak sekali kakak kelas yang ganteng dan cantik jadi wajar saja jika siswa-siswa baru belum terbiasa melihat mereka.


Adam menoleh ke arah kelas 10 itu awal nya hanya melihat sekilas namun pandangan nya tertuju pada Tika yang tampak lesu selama upacara, 'bukan nya itu teman Raya?' tanya batin nya. Untuk beberapa saat dia mencari kehadiran Raya di antara siswa-siswa yang lain tapi Adam tak menemukan keberadaan wanita itu. Malik yang pertama kali melihat tingkah Adam yang aneh tak seperti hari upacara biasa nya langsung berbisik.


"Dam, nyariin apa?" bisik Malik.


"Bukan apa-apa." jawab Adam, dia kembali memfokuskan diri nya walau di kepala nya tertera sebuah pertanyaan, di mana Raya?


Upacara pun berakhir tepat pukul 08.10 menit, semua siswa di bubarkan dan kembali ke kelas untuk pelajaran berikut nya. Adam dan Malik berjalan beriringan menuju kelas mereka namun tiba-tiba sebuah rangkulan dari belakang mengagetkan mereka berdua dan itu adalah ulah Alesha.


"Baaa....." kejut Alesha.


"Apaan sih Sha... kamu ini suka banget ngagetin orang lain." seru Malik yang menatap nya kesal, pasal nya di antara semua kejutan yang Alesha berika pada Adam selalu ada Malik di antara mereka.


"Uuhhh sorryy.." ucap Alesha dengan suara yang di imut-imuti.


"Lain kali jangan begitu Sha, aku tak suka." ujar Adam dengan tegas, dia tak mau bertele-tele. Sedikit perasaan kecewa muncul di dalam hati Alesha, dia baru tau kalau laki-laki yang di sukai nya ini tak menyukai sikap nya.


"Hmm maaf Dam, janji deh gak gitu lagi." tutur Alesha.


"Pas Adam yang bilang langsung kamu iyain tapi kalau aku yang bilang langsung tu masuk telinga kanan keluar telinga kiri." gerutu Malik.


"Yang kali ini gak kok Lik hehehe." tawa canggung Alesha.


"Gak... gak.. awas aja kalau kamu ngagetin lagi ntar aku tampol." ancam Malik, tentu saja Alesha menganggap hal itu hanya bercandaan Malik tapi berbeda dengan Adam yang langsung memelototi nya.


"Maliikkkk...." ujar Adam yang di balas cengengesan oleh Malik. Mereka lantas kembali berjalan, di sela-sela langkah mereka Malik teringat sesuatu.


"Dam, ntar pulang sekolah ke tempat futsal yok. Ada pertandingan persahabatan sama anak smansa di tempat biasa." ucap Malik.


"Aku skip dulu deh Lik, mau nemanin abi ke rumah sakit." jawab Adam.


"Om Rahman sakit Dam?" tanya Alesha yang sedari tadi hanya menyimak.


"Gak Sha." ujar Adam.


"Terus ngapain ke rumah sakit?" tanya Malik.


"Semalam pakde ku kecelakaan jadi nanti aku sama abi mau jengukin ke sana, next time aku ikutan kalau gak ada halangan Lik." lanjut Adam dan hanya di jawab anggukan oleh Malik.


"Aku boleh ikut gak Dam?" tanya Alesha, ini kesempatan nya buat makin dekat dengan Adam.


"Lah ngapain Sha?" tanya Malik bingung.


"Ya mau jegukin juga dong masa mau jualan." jawab Alesha.


"Lagian ya jengukin orang sakit itu bisa dapat berkah plus pahala, benar kan Dam?" lanjut nya menoleh ke arah Adam.


"Iya betul." ujar Adam.


"Jadi bolehkan Dam?" tanya Alesha lagi dan Adam hanya mengangguk, sebenar nya dia ingin menolak permintaan Alesha tapi dia tak boleh egois begitu dan dosa juga kalau menghalangi orang lain berbuat baik namun tetap saja dia merasa tak nyaman bersama dengan Alesha karna Adam tau kalau wanita itu menyukai nya.


"Nanti tungguin aku ya Dam!" seru Alesha meninggalkan dua orang laki-laki itu.


"Senang amat tu anak." ujar Malik yang di tinggal pergi Adam begitu saja.


Beberapa jam yang lalu Raya masih berada di salah satu kamar rawat inap, ibu nya sejak subuh tadi sudah di pindahkan ke ruangan itu. Tante nya sudah pulang sejak jam 10 malam tadi dan akan kembali saat pagi untuk mengantikan Raya bersih-bersih. Namun kemarin tepat pukul 11 malam abang nya menelpon kembali, abang nya mengatakan penerbangan nya akan tertunda selama 240 menit atau bisa lebih karna faktor cuaca.


"Assalamualaikum...." ujar Aini nya memasuki ruangan rawat inap.


"Waalaikumsalam tante..." jawab Raya yang sudah bangun sejak tadi.


"Gimana? ada kemajuan dari ibu mu?" tanya Aini.


"Belum tante, ibu masih belum sadar tapi kata dokter itu masih dalam kondisi wajar, Raya di suruh menunggu dan terus berdoa." jawab nya.


"Ya sudah kalau begitu kamu pulang dulu saja, tante yang akan jaga ibu mu. Abang mu sampai nya kapan nak?" tanya Aini.


"Belum tau tante, tadi malam kata nya pesawat nya delay." ujar Raya mulai membereskan bawaan nya. Diri nya saat ini benar-benar berantakan dan terlihat kusam, dia butuh mandi biar segar kembali biar nanti kalau ibu nya sadar ibu nya tak melihat kekalutan dari diri nya.


"Oh ya tante tadi udah bicara sama wali kelas kamu kalau kamu gak masuk hari ini." ujar Aini.


"Iya makasih tante, Raya titip ibu yaa... nanti Raya balik lagi." lanjut nya lalu berpamitan pada Aini. Aini hanya mengangguk dan menatap kepergian Raya yang menghilang dari balik pintu.


Raya keluar dari rumah sakit itu, beberapa menit yang lalu dia memesan ojek online lewat aplikasi gojek dan jemputan nya sudah menunggu di parkiran motor. Setelah memastikan kalau plat motor nya sama dengan di aplikasi dia langsung menaiki motor yang akan membawa nya pulang, 'bahkan suasana pagi saat ini sama seperti suasana hati ku.' tutur batin nya.


Hanya butuh 30 menit sampai ke rumah nya karna di jalan tadi macet parah walau pun pagi ini mendung, sesampai nya di depan rumah Raya langsung menuju rumah Bu Atun meminta kunci yang di titipkan tadi malam sebelum ke rumah sakit.


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


"Assalamualaikum Buk Atun..." salam Raya.


"Waalaikumsalam.." ujar Bu Atun setelah membuka pintu nya.


"Eehh nak Raya... gimana kondisi ibu kamu?" tanya Bu Atun.

__ADS_1


"Masih belum sadarkan diri bu." jawab Raya.


"Ya Allah... semoga cepat sadar dan pulih ya nak." ucap Bu Atun dengan perasaan iba.


"Aamiin bu makasih doa nya... saya mau ambil kunci saya bu." ucap Raya.


"Oh iya sebentar ya nak ibuk ambilkan." ujar Bu Atun kembali ke dalam rumah nya, dia mengambil sebuah piring dan mengisi nya dengan dua sendok nasi, sepotong ayam kecap, satu tempe dan tahu dan sayur bayam yang menghiasi piring itu.


"Ini nak.... kamu pasti belum makan kan, ini juga kunci nya." serah Bu Atun pada Raya, sebenar nya Raya merasa segan tapi ketulusan Bu Atun membuat nya menerima makanan itu.


"Makasih ya buk..." ucap Raya dengan air mata yang berlinang, dia merasa beruntung punya tetangga yang baik seperti Bu Atun. Bu Atun hanya mengangguk dan mengusap bahu kecil Raya, bagi nya Raya sudah di anggap seperti keluarga nya sendiri, dia juga merasa kasihan pada nya karna hanya tinggal berdua saja dengan ibu nya yang sekarang berada di rumah sakit.


Raya kembali ke rumah nya, dia meletakan nasi yang di beri Bu Atun di atas meja dan mulai membersihkan tubuh nya. Selesai mandi dia membersihkan rumah nya, mencuci pakian yang kotor lalu menjemur nya. Sebelum makan dia memanaskan ulang lumpia yang masih tersisa sebagai lauk makan nya lalu dia makan dengan tenang di meja makan yang biasa dia gunakan tiap hari tapi selama makan rasa sepi mulai menyerang nya. Perasaan takut yang ntah dari mana datang membuat nya menangis dan pikiran negatif berkeliaran di kepala nya. Namun di sela-sela dia menangis sambil makan sebuah pesanan masuk ke handphone nya.


"Dek, abang baru mau naik pesawat kemungkinan bakalan sampai siang di Jakarta." begitulah isi pesan Whatsapp abang nya.


"Iya bang gak apa-apa, semoga sampai dengan selamat." balas Raya. Dia menghapus air mata nya, mempercepat makan nya lalu pergi berbelanja bahan-bahan makanan yang belum di beli ibu nya. Setidak nya saat abang nya sampai ada bahan makanan yang bisa di olah nya.


Tteeenggg!!!


Tteeenggg!!!


Tteeenggg!!!


Di tempat lain terdengar suara bel istirahat pertama telah berbunyi dan terdengar juga perut siswa-siswi yang keroncongan. Tika keluar dari kelas nya menuju kantin bersama dengan Mila, bagi Tika makan sendirian itu emang paling gak asik maka nya saat Mila mengajak nya dia langsung let's go!


Hanya 5 menit setelah bel berbunyi hampir semua meja terisi penuh oleh siswa lain, Mila dan Tika tak masalah jika harus makan di kelas tapi suara berat seorang laki-laki memanggil Tika, menyuruh nya duduk di samping laki-laki itu.


"Tikaa!!!! duduk sini aja." ujar Bara, dia sudah sampai sebelum bel berbunyi karna emang pelajaran pertama nya di hari senin yaitu olahraga.


"Sendirian aja kak?" tanya Tika basa-basi sedangkan Mila merasa gugup berhadapan dengan Bara yang notabene nya salah satu idola sekolah.


"Kan emang selalu sendirian dek." ucap Bara meminum es kopi nya.


"Lah kamu sama siapa ini? teman baru?" tanya Bara melirik ke arah Mila.


"Ini Mila kak, dia ketua kelas kami." jawab Tika memperkenalkan Mila.


"Ohh gitu.. salam kenal ya Mila, saya Bara." ujar Bara mengulurkan tangan nya.


"Iya kak Bara." jawab Mila masih dengan gugup nya dan menjabat tangan Bara yang hangat.


"Raya nya masih di kelas?" tanya Bara ketika dua orang wanita itu duduk.


"Gak kak, Raya hari ini gak masuk. Ibu nya masuk rumah sakit jadi gak ada yang jagain ibu nya disana." ujar Tika sembari menyeruput sup ayam nya.


"Kok bisa dek? kenapa?" tanya Bara yang penasaran sedangkan Mila hanya menyimak obrolan mereka berdua sambil makan nasi uduk nya, sekarang dia merasa seperti nyamuk.


"Kata dokter sih tekanan darah ibu nya rendah kak maka nya ibu nya pingsan, itu sih yang Raya bilang kemarin malam." jawab Tika.


"Kasihan banget dek Raya." ujar Bara yang prihatin.


"Iya kak, kemarin tu dia keliatan kalut banget sih kak." sahut Tika.


"Kamu ke sana lagi gak dek?" tanya Bara yang sudah menandaskan minuman nya.


"Iya kak tapi agak sorean sih, kakak mau ikut?" tanya balik Tika yang di balas anggukan Bara dan secerca harapan muncul di dalam hati nya, 'yes! bisa berduaan bareng Kak Bara.' ujar batin nya.


'Jadi dia memang gak datang ya' ujar batin nya.


Adam mengangkat ke dua tangan nya di depan dada, dia berniat mendoakan ibu nya Raya agar di beri kesembuhan dari penyakit yang di derita nya tanpa diketahui seorang pun, Adam melakukan nya diam-diam berharap doa nya sampai kepada ibu nya Raya "Allahumma rabban naas mudzhibal ba’si isyfi antasy-syaafii laa syafiya illaa anta syifaa’an laa yughaadiru saqoman"


Setelah itu tak berapa lama datang lah Malik dengan sebuah nampan berisi tiga buah seblak paket komplit plus pedas kebangetan. Lalu di susul Alesha dengan tiga buah kantong plastik berisi dua minuman boba dan satu teh hangat untuk Adam, spesial untuk laki-laki yang di sukai nya Alesha minta tolong mbak-mbak minuman buat nambahin gula agak banyak di teh milik Adam siapa tau setelah minum teh yang manis Adam pun beranggapan wajah Alesha juga manis, begitu lah kehaluan Alesha di mulai!


"Adam... Adam aku mau tanya dong." ujar Alesha di sela-sela makan.


"Apa?" tanya Adam melirik sekilas lalu menyendokan seblak itu ke mulut nya lagi.


"Aku lebih manis kalau pakai baju yang warna nya nude atau blush?" tanya Alesha namun jawaban yang di harapkan nya berbeda dengan Adam.


"Terserah yang penting sopan." begitulah kata Adam.


"Uuuhhhuuukkk.... uuuhhhukkk!!" Berbeda dengan Adam, Malik yang awal nya sadar itu kode dari Alesha minta di perhatiin Adam tapi dia tak menyangka begitu tak ingin nya Adam memakan umpan milik Alesha hingga membuat nya keselek kuah seblak yang pedes nya kebangetan.


"Makan pelan-pelan aja Malik..." ujar Adam yang langsung sigap memberi nya minum. Tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri Malik dengan terburu-buru minum dan mendapat cubitan di lengan nya oleh Adam.


"Di bilangi pelan-pelan..." pelotot Adam.


"Gak bisa Dam, ini tenggorokan ku kepedesan banget." ujar Malik, dia berlari ke stand yang menjual aqua untuk menetralisir kan rasa pedas dan dingin yang bertabrakan di tenggorokan nya.


'gara-gara Adam nih aku jadi kaget.' ujar batin Malik.


Melihat Malik yang berlari begitu saja membuat Alesha hanya menggeleng kan kepala heran pada salah satu teman nya itu sedangkan Adam kembali lagi memakan seblak nya yang tinggal sedikit. Arah mata Alesha berubah lagi pada laki-laki yang ada di hadapan nya ini, batin Alesha mengakui kalau Adam adalah pria yang begitu cuek dan masa bodo akan perhatian wanita begitu juga pada nya tapi tetap saja dia menyukai Adam.


"Adam...." ujar lembut Alesha.


"Ya?" jawab Adam tanpa menoleh ke arah nya.


"Gimana kalau aku pakai jilbab yang besar gitu?" tanya Alesha.


"Ya bagus." hanya itu yang di katakan Adam.


"Gimana kalau kamu yang ajarin aku?" tanya Alesha lagi, sejak tadi dia hanya menyentuh sedikit seblak nya yang mulai mendingin. Adam mengangkat kepala nya, makanan nya baru saja habis ketika Alesha bertanya hal itu.


"Aku gak bisa ngajarin kamu tapi kamu bisa minta tolong anak Rohis, nanti nya mereka yang akan bantu kamu." jawab Adam.


"Tapi kenapa bukan kamu aja, Dam?" tanya Alesha yang tak mengerti.


"Kita bukan mahram Sha, aku tau kamu sepupu ku namun lebih baik seorang wanita itu bersama dengan seorang wanita juga dalam proses hijrah nya dan juga untuk menghindari fitnah." jelas Adam sebelum pergi.


"Maaf ya Sha, aku pergi dulu assalamualaikum." ucap Adam lalu meninggalkan Alesha sendirian, 'ternyata Adam memang sangat sulit untuk di dekati ya padahal kita sepupuan.' ujar batin nya.


Waktu pun berlalu begitu cepat, Raya mulai pergi lagi ke rumah sakit menggantikan tante nya yang mungkin saja ada urusan, dia tentu saja tak mau merepotkan siapa pun terutama tante nya yang baru dia temui. Semua urusan rumah sudah dia bereskan baik dari cuci piring, cuci baju, bersih-bersih, belanja kebutuhan dan cek toko roti nya takut nya ada roti atau kue yang berjamur. Setelah merasa beres barulah Raya pergi ke rumah sakit menggunakan ojek online seperti biasa nya.


Selama di perjalanan dia beberapa kali mengecek notif dari handphone nya yang di tunggu-tunggu nya hanyalah satu, pesan dari abang nya! Sekarang sudah jam 12 siang dari info google yang di cari nya jarak antara Hong Kong ke Jakarta hanya 4 jam 50 menit lalu di tambah Jakarta - Malang 1 jam 30 menit walau dia tau selama itu jam penerbangan nya tapi tetap saja dia berharap abang nya bisa sampai dengan cepat.


"Neng udah sampai." ucap driver gojek, Raya langsung turun sembari mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam rumah sakit.


Dia hanya memakai overall dress dengan gaya vintage dan pashmina berwarna hitam, sekarang penampilan nya terlihat lebih segar ketimbang tadi pagi. Sesampai nya di lorong tempat ibu nya di rawat Raya melihat tante nya yang sedang berada di depan pintu kamar tengah berbincang dengan seseorang di telpon, Raya memang baru sampai tapi dia mendengar sekilas tante nya memanggil nenek dengan sebutan 'ibu' di telpon itu.

__ADS_1


"Ibu gak mau ke sini?" tanya Aini, dia masih belum sadar akan kedatangan keponakan nya.


"...."


"Bu, Kak Nina memang benar-benar pingsan sekarang aja masih belum sadar masa ibu bicara gitu sih."


"...."


"Bu maksud Aini tu baik, Aini cuma mau ibu dan Kak Nina berbaikan lagi seperti...."


"Hallo? hallo? bu? aahhh di matiin lagi...." ujar Aini merasa kesal.


"Ada apa tante?" tanya Raya yang beberapa menit lalu berada di belakang nya.


"Eehh Raya.. gak ada apa-apa nak." Aini berbohong.


"Nenek marah ya tante?" tanya Raya lagi, dia tak bisa di bohongi.


"Nenek kamu cuma salah paham aja kok, gak usah di pikiran nak." ujar Aini, dia tak mau membebani keponakan nya. Namun Raya hanya terdiam, dia tidak mengangguk atau menjawab ucapan tante nya.


"Oh ya nak tante mau balik dulu, mau jemput anak tante di sekolah nya nanti sore tante balik lagi. Kalau ibu mu sudah siuman beri tahu tante ya." ucap Aini.


"Ya tante, hati-hati." jawab Raya dan di balas lambaian tangan oleh tante nya.


Setelah memastikan Aini pergi, Raya baru bisa masuk ke dalam ruangan rawat inap. Dia meletakan tas kecil dan air minum milik nya di atas nakas, di ruangan yang tak terlalu besar ini terlihat seorang wanita yang masih setia pada tidur nya.


"Tidur ibu nyenyak sekali... bangun dong buu biar Raya gak cemas..." ucap nya sendirian, sebelum ibu nya bangun perasaan khawatir di dada nya masih akan tetap terasa.


Di sebuah bandara yang tak kan pernah sepi tiba lah pesawat Garuda Indonesia tepat jam 12.20 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, semua penumpang keluar dari pesawat dengan tertib begitu juga dengan Radi. Baru juga melangkah keluar dia sudah di sambut dengan atmosfer Indonesia yang sangat di rindukan nya, setelah sekian lama akhir nya dia pulang juga.


Sebelum berangkat lagi ke Malang, Radi bertanya ke salah satu staf bandara di mana letak tempat shalat karna dia belum shalat dzuhur. Setelah di tunjukan arah nya baru lah dia pergi kesana tapi selama menuju tempat shalat Radi mengirim kan pesan lagi pada adik nya.


"Dek, alhamdulillah abang sudah sampai di Jakarta, jam setengah dua nanti abang berangkat lagi ke Malang. Keadaan ibu gimana?" begitu lah isi pesan nya.


5 menit kemudian pesan balasan berbunyi, "Alhamdulillah bang, kalau mau berangkat lagi bilang yaa, ibu masih belum sadar bang."


Selama shalat dia terus berdoa bahkan di dalam sujud nya memohon kepada Allah untuk di beri kemudahan pada ibu nya dan di dalam shalat juga dia memangis untuk pertama kali nya.


Waktu terus bergulir dan setiap orang terus bergerak pada poros nya masing-masing, bel pulang juga sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas nya namun ada juga yang bertahan untuk membersihkan kelas sejenak biar besok saat kembali sekolah mereka tak lagi memegang sapu, pel dan alat kebersihan yang lain nya pagi-pagi.


Begitu juga dengan Tika yang masih berada di kelas, jadwal piket nya telah di bagikan dan diri nya di letakan di hari senin sedangkan Raya di hari rabu. Bersama dengan 4 orang siswa yang lain nya Tika membersihkan bagian sudut kanan kelas nya, dia agak buru-buru karna sehabis ini akan langsung pergi bareng Bara untuk menjenguk ibu Raya yang sedang di rawat.


"Eehh Nana aku udah selesai yaa, aku balik duluan byee..." ucap nya pada teman-teman nya yang lain lalu menyusul abang nya yang kini berada di depan sekolah.


Tadi Bara singgah sebentar saat dia sedang piket, Bara bilang buat ketemuan di depan rumah sakit aja habis ashar nanti karna dia sepulang sekolah ini ada urusan bentar dan Tika hanya mengiyakan.


Sedangkan di sisi lain Adam tengah berjalan agak cepat takut nya ayah nya menunggu lama pula di rumah dan di belakang nya ada Alesha yang setia mengikuti Adam. Rumah mereka berdua memang tak terlalu jauh maka nya hampir tiap hari mereka pulang nya barengan dan sejalur walau jalan nya gak beriringan karna Adam gak mau timbul fitnah di antara mereka berdua.


"Adam tungguin aku ya nanti." ujar Alesha saat tiba di persimpangan jalan rumah nya.


"Kamu naik apa?" tanya Alesha lagi.


"Naik motor sama abi." jawab Adam.


"Yaudah aku naik motor juga sendiri, pokok nya tungguin aku ya." ucap Alesha lagi yang hanya di balas anggukan Adam. Mereka berpisah, Alesha kembali ke rumah nya dan Adam pun begitu.


"Assalamualaikum abi...." ucap salam Adam sebelum masuk rumah.


"Waalaikumsalam, nak." jawab ayah nya, dia pun tak luput mencium tangan keriput milik ayah nya.


"Kita berangkat habis ashar aja ya Dam, tanggung bentar lagi kamu langsung mandi aja." ujar ayah nya yang kini tengah menonton berita.


"Iya abi, tadi Alesha bilang mau ikutan jenguk pakde, gak apa-apa kan abi?" tanya Adam sebelum masuk ke kamar nya.


"Ya gak apa-apa nak, makin ramai yang jenguk kan makin bagus." sahut ayah nya. Adam pun langsung bergegas mandi lalu menganti pakaian nya.


Kamar yang di miliki Adam hanya lah kamar minimalis dengan satu single bed, satu buah meja belajar, dua buah rak gantung di atas meja belajar nya, dan sebuah hijang ram seperti gambar di bawah ini.



**Sumber dar Google**


Dia memang gak terlalu punya perabotan di dalam kamar nya karna bagi Adam semua yang dia miliki bakalan di hisab jadi seperlu nya saja, begitu lah yang di tanamkan ayah nya sejak dia masih kecil. Azan ashar pun berbunyi setelah Adam selesai mandi, dia dan abi nya langsung bergegas ke salah satu masjid terdekat dari rumah mereka.


Tepat saat azan ashar abang nya Raya baru tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, setelah keluar dari pemeriksaan dia menghubungi nomor adik nya.


"Hallo, assalamualaikum dek.." ucap Radi memulai pembicaraan.


"Waalaikumsalam bang, abang udah sampai?" tanya Raya. Dia baru saja keluar dari ruangan rawat inap ibu nya menuju mushala rumah sakit lalu abang nya telpon membuat nya senang.


"Alhamdulillah udah dek, tolong kasih tau alamat lengkap rumah kita abang mau pulang dulu baru ke rumah sakit." ucap Radi, dia perlu mandi sebelum bertemu ibu dan adik nya.


Raya langsung saja menyebutkan alamt lengkap nya dan meminta Radi untuk mengambil kunci rumah di tetangga nya yang bernama Bu Atun, saat Radi mengerti baru lah telpon nya di tutup. Dengan menggunakan aplikasi gojek Radi langsung meluncur ke rumah nya.


Perjalanan dari Bandara ke rumah nya menempuh jarak 45 menit apalagi dia pergi nya saat sore hari yang di mana itu waktu jam-jam orang pulang kerja dan sekolah. Dia memastikan dengan betul alamat serta foto depan rumah yang adik nya kirim kan baru melangkah turun dari mobil yang di tumpangi nya. Dengan menjinjing koper yang di bawa nya dia mendatangi rumah sebelah untuk meminta kunci rumah nya.


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


"Assalamualaikum..." salam Adam.


"Waalaikumsalam, iya ada apa?" tanya Bu Atun, dia memperhatikan Radi dari atas hingga bawah.


"Saya Radi bu, anak nya ibu Nina tetangga ibu. Kata adek saya kunci rumah kami sama ibu ya?" ucap Radi dengan sopan, mendengar penuturan Radi membuat Bu Atun terperanjat.


"Eehh anak bu Nina? abang nya Raya yang di Hong Kong itu?" tanya Bu Atun meminta konfirmasi.


"Iya bu betul." jawab Radi dengan tersenyum.


"Ya ampun... ganteng banget kamu nak... tunggu bentar ya ibuk mau ambil kunci nya." ucap Bu Atun lalu kembali dengan kunci di tangan nya.


"Ini nak." serah Bu Atun.


"Makasih ya buk." tutur Radi yang di balas anggukan Bu Atun. Dia kembali lagi kerumah nya lalu masuk ke dalam, perlu waktu kurang lebih 30 menit bagi nya untuk bersih-bersih lalu berangkat ke rumah sakit.


Di perjalanan menuju RSUD Kota Malang jalanan terlihat agak lengang, hanya tak butuh waktu lama Adam, ayah nya dan Alesha tiba di rumah sakit bersamaan dengan Radi yang juga baru tiba. Saat Adam selesai memarkirkan motor nya dan di susul Alesha ke pintu utama rumah sakit Adam melihat seorang wanita yang di kenal nya, wanita yang tadi tak masuk sekolah tengah berada di hadapan nya dan terlihat gelisah dari cara nya berjalan bolak-balik.

__ADS_1


Tentu saja Adam ingin menyapa wanita itu tapi sedetik kemudian niat nya di urung kan ketika tiba-tiba wanita yang diam-diam memenuhi perasaan nya itu berlari ke arah pria yang asing bagi nya, di dalam pelukan pria itu tangis Raya pecah.


'Siapa dia?' tanya batin Adam.


__ADS_2