Dear Adam

Dear Adam
Wanita Ceroboh


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu Adam baru sampai ke lapangan tempat para siswa kelas 10 berkumpul, menjadi wakil ketua OSIS seperti nya lebih sibuk di bandingkan ketua OSIS sendiri pasal nya sekarang Zero yang merupakan ketua OSIS di minta menjadi MC selanjut nya sedangkan mereka bakalan melakukan evaluasi singkat dengan kepala sekolah jadi Adam menggantikan nya.


"Eh Dam, habis dari mana?" tanya Malik, sahabat nya Adam.


"Biasa evaluasi singkat gantiin ketos." ucap Adam dan berdiri di bawah pohon rindang. Malik hanya ber-oh ria lalu kembali menghadap ke depan.


"Keren ya tu adek bisa stand up hahaha." ujar Malik tertawa.


"Dia ada bakat." sahut Adam dan di balas anggukan sama Malik.


"Oh ya tadi si Alesha ngadu ke aku." ucap Malik tiba-tiba.


"Soal minuman?" tanya Adam.


"Iya kata nya kamu salah paham." lanjut Malik.


"Gak apa-apa aku ikhlas." jawab Adam, asli nya memang Adam sudah mengikhlaskan minuman nya yang di minta wanita itu dan juga dia gak mau nimbulin fitnah.


"Aku juga udah bilang gitu sama dia tapi dia ngerasa gak enak." tutur Malik.


"Kalau merasa gak enak kenapa minta?" tanya balik Adam, dia merasa tak paham dengan pikiran wanita.


"Dia kan udah terang-terangan suka sama kamu Dam mungkin karna itu dia mau akrab dengan cara itu." begitulah pemikiran Malik namun bagi Adam itu salah.


"Gak gitu cara nya Malik." ucap Adam.


"Terus gimana?"


"Kalau dia paham tentang islam pasti dia tau laki-laki dan perempuan itu gak boleh bersentuhan kecuali mahram, dia emang sepupu ku tapi tetap saja kita gak mahram dan aku tak menyukai bisa kamu lihat dari sikap ku pada nya kan. Kalau dia mengerti pasti dia tau itu." beber Adam setenang mungkin.


Selama ini Adam menganggap Alesha hanyalah seorang sepupu biasa dari garis keturunan ibu nya, dia memang mengetahui kalau Alesha menyukai nya sejak SMP tapi selama itu dia tetap cuek dan menghindar dari Alesha bahkan menghiraukan pernyataan cinta Alesha yang sudah berulang kali namun seperti nya Alesha tak membaca penolakan Adam atau mungkin Alesha tak mau mengakui itu.


"Aku jadi merasa kasihan pada Alesha." ucap Malik, Adam pun juga tapi perasaan gak bisa di paksa kan.


Mereka kembali diam dan memperhatikan siswa selanjut nya yang akan mendapatkan hukuman, Adam menemukan wanita yang ceroboh itu tengah berdiri menerima hukuman nya. Terjatuh dua kali di hadapan nya membuat pikiran Adam sedikit terganggu oleh wanita itu. Ntah bagaimana mengatakan nya namun saat ini ada segelincir rasa penasaran terhadap wanita ceroboh itu.


Alunan musik terdengar di lapangan, Raya menyanyikan lagu romantis. Namun ada yang berbeda dari arah pandangan nya, 'Apakah dia sedang menatap ke arah sini?' ujar batin Adam tak yakin.


"Eehh.. eehh kok adek itu lihat ke sini dari tadi?" bisik Malik merasa aneh.


"Iya kah?" tanya Adam yang juga bingung.


"Lagu nya romantis dan pandangan nya lurus ke sini jangan-jangan dia suka aku?" tanya Malik menatap Adam.


"Ngawur banget!" seru Adam.


"Lah bisa jadi kan, aku kan ganteng." ucap Malik dengan pede nya.


'ganteng ya... ahh gak mungkin kan itu aku?' tanya batin Adam.


Nyanyian Raya berakhir dengan tepuk tangan yang meriah dan saat itu juga MOS hari pertama berakhir. Semua siswa kelas 10 di perbolehkan pulang terlebih dahulu, Raya langsung berlari ke kelas untuk mengambil tas nya lalu pulang kerumah.


"Syukurlah pulang nya jadi cepat." ujar Raya di perjalan menuju kelas nya.


"Doorrr!!!" kejut Tika dari belakang.


"Iihh Tikaaaa!!!" seru Raya yang kaget.


"Sorry Ray hehe."


"Jadi siapa Ray?" ujar Tika mulai menggoda nya.


"Apa nya." jawab Raya acuh.


"Lagu nya tadi, ayoo kamu lagi jatuh cinta yaaa..." tebak Tika namun Raya mengacuhkan nya dan memilih jalan lebih cepat tapi Tika tak mau kalah lalu berlari dan berjalan mundur di hadapan Raya.


"Udah ngaku aja Ray.." goda Tika lagi.


"Jalan tu yang bener Tika.." seru Raya memperingatkan.


"Cie malu-malu..." ucap Tika yang salah mengartikan perkataan Raya.


Tika masih dengan berjalan mundur nya dan tak melihat siapa yanh ada di belakang hingga terjadilah tubrukan antar punggung.


"Tuh kan udah ku bilang jalan yang bener." ucap Raya geleng-geleng kepala.


"Eehh maaf, aku gak sengaja." ujar Tika pada orang yang di tabrak nya namun hanya dalam beberapa detik Tika menjadi amat senang karna yang di tabrak nya adalah Kak Bara, laki-laki yang di sukai nya.


"Ohh gak apa-apa, Tika kan?" tanya Bara mengkonfirmasi.


"Hmm iya kak." jawab Tika dengan senyum-senyum namun tampak nya Bara tak terlalu melihat Tika dan beralih ke Raya.


"Ada adek Raya juga." sapa Bara pada Raya dan di balas anggukan oleh nya.


"Tadi suara kamu bagus, lagu nya juga bagus seperti bukan hukuman tapi lebih ke unjuk bakat deh hahaha.." tawa kecil Bara, melihat Bara tertawa dengan mudah membuat mood Tika naik 1000% saat ini.


"Makasih kak, saya permisi dulu mau ke kelas." ujar Raya meninggal kan Tika dan Bara berdua, Raya tau kalu Tika menyukai Bara jadi secara halus di paham kalau Tika mau lebih lama bersama Bara. Tapi sayang nya ketika Raya sudah masuk ke kelas Bara pun ikut berpamitan dengan Tika, yah walau gak bisa lama-lama denga laki-laki yang disukai setidak nya melihat nya tertawa sudah cukup buat Tika, uhuy!


"Seperti nya aku akan bucin dengan satu orang." ucap Tika dengan perasaan senang lalu menyusul Raya ke kelas, dia ingat pertanyaan nya belum di jawab.


"Raya..... I'm cominggggg!!!" teriak Tika. Terlihat kelas nya sudah sepi hanya ada Raya yang sedang berkemas-kemas.


"Ku pikir kamu bakalan lama Tik, mau ku tinggal pulang." ucap Raya.


"Gak, Kak Bara kayak nya lagi sibuk tapi yang penting mood ku udah level max." ujar Tika yang juga merapikan bawaan nya.


Mereka keluar sekolah barengan seperti berangkat tadi, dengan jalan kaki dan menikmati udara yang segar walau siang hari Malang terasa tak terlalu panas seperti Jakarta.


"Ray pertanyaan ku tadi belum kamu jawab." tutur Tika membuka suara.


"Kan tadi udah jelas kalau aku dapat hukuman nya." jawab Raya, dia masih belum mau memberitahukan perasaan nya ini.

__ADS_1


"Yakin cuma itu? yang lain pada bisik-bisik tadi pas kamu nyanyi, kayak kamu tu cuma lihat lurus aja gitu ke arah yang sama gak lihat-lihat yang lain." beber Tika.


"Terus kenapa memang nya, gak boleh aku gitu?" tanya Raya.


"Ya bukan gitu maksud aku, lagi kamu itu pertama kali loh aku lihat nyanyi sambil senyum lebar apalagi lagu nya lagu romantis." lanjut Tika.


"Biasa aja kali Tika." ucap Raya masih menyangkal.


"Ihh ngeyel, kamu tu jarang senyum tau!" seru Tika merasa kesal.


"Nanti kalau aku sering senyum ntar cowok lain banyak yang suka gimana?" tanya Raya bercanda.


"Bagus dong, kan kayak yang aku bilang kalau masa SMA itu masa-masa nya cinta membara." jawab Tika.


"Gak bagus pokok nya." bantah Raya.


"Ngeselin bangett..... aku sumpahin kamu jatuh cinta sama seorang laki-laki waktu SMA dan gak bisa move on!" teriak Raya lalu mendapatkan pukulan ringan di lengan nya, merasa tak bersalah Tika menanggapi pukulan nya dengan tertawa.


'Ini nih salah satu alasan aku masih belum siap bilang sama Tika!' rutuk batin nya.


Waktu terus berputar hingga sore tiba dengan cahaya orange nya yang menawan, kalau kata lagu senja ini 'senja-senja tai anjing' tapi bagi Adam senja adalah salah satu waktu teromantis karna di jam-jam senja dia di lahirkan dan Allah memanggil ibu nya pulang setelah tuntas menunaikan kewajiban nya lalu ayah nya melepaskan dengan ikhlas istri tercinta nya.


Adam hanya memiliki seorang ayah yang sudah tua dan abang yang sedang kuliah sambil mondok lalu diri nya yang masih sekolah. Walau Adam tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu tapi setidak nya keluarga nya yang taat agama membuat nya hidup dengan bersyukur dalam segala hal di kehidupan nya.


Adam termenung sebentar saat melihat wajah seorang wanita yang masih terlihat muda di dompet nya, foto almarhumah ibu nya.


"Nak tolong antarkan minuman ini ke meja nomor 11 ya." ucap seorang pria tua, abi nya.


"Baik abi." Adam memasukan kembali foto ibu nya ke dalam dompet lalu bergegas ke meja yang abi nya sebutkan.


Sekarang di sini lah Adam berada, di sebuah toko yang tak terlalu besar dengan gaya cafe minimalis dan siapa saja yang masuk akan mendapatkan suasana santai dan nyaman layak nya rumah sendiri. Cafe ini sudah di buka sejak dia mulai masuk SMA ketika ayah nya di PHK oleh perusahaan yang selama ini menaungi ayah nya Adam.


"Permisi, ini mas pesanan nya." ucap Adam lalu kembali ke belakang. Saat dia tengah mengelap-elap cangkir yang baru di cuci sebuah suara yang tak di harapkan nya datang seperti biasa nya.


"Adaaamm!!!" seru Alesha memasuki cafe nya dan langsung menemui Adam di meja kasir, suasana cafe yang tak terlalu ramai di saat senja selalu membuat Alesha senang karna dia bisa duduk di spot favorit nya dan memperhatikan wajah Adam.


"Assalamualaikum." ujar Adam, entah sudah ke berapa kali nya dia katakan untuk memberi salam pada Alesha tapi seperti wanita itu terlalu suka lupa.


"Eh iyaa waalaikumsalam Adam." jawab Tika dengan senyum manis nya.


"Lain kali salam dulu Sha biar berkah." tutur Adam tanpa melihat Alesha.


"Iya Dam aku masih suka lupa hehehe." jawab Tika.


Adam kembali meneruskan pekerjaan nya dan menghiraukan Alesha yang masih setia memperhatikan nya. Di mata Alesha mau apa pun pakaian yang Adam kena kan semua nya begitu cocok apalagi dengan seragam cafe berwarna dasar vanilla latte dan sebuah celemek berwarna hitam terlihat keren.


"Kok bisa ya kamu itu ganteng banget." ucap lirih Alesha.


"Loh nak Alesha sudah datang?" tanya ayah Adam yang baru datang dari luar.


"Eh iya Om Rahman." jawab Tika dan menyalami ayah Adam.


"Mau pesan apa nak?" tanya ayah Adam lagi.


"Di tunggu bentar ya nak." ucap ayah Adam meninggalkan Alesha sendiri.


Bagi Rahman, Alesha sudah di anggap sebagai anak nya juga seperti Adam. Anak perempuan yang tanpa di minta mau langsung membantu nya dan Adam di cafe, dia juga selalu terlihat ceria membuat nya merasa senang kalau Adam punya sepupu yang ceria.


Beberapa jam telah berlalu dan malam sudah datang, seharus nya disaat jam maghrib dan isya cafe nya akan tutup sebentar dan kembali setelah shalat namun karna Alesha datang semua nya jadi berjalan lancar untung nya selama Adam dan ayah nya shalat tak banyak pelanggan yang datang.


Sudah pukul 8 malam, pengunjung juga terlihat satu persatu meninggalkan cafe. Alesha mengambil cangkir-cangkir kosong untuk di cuci nya saat di belakang namun ketika dia melangkah menuju dapur sebuah kejadia nahas terjdi, Alesha terpelest lantai yang licin dan terjatuh ke lantai dengan cangkir-cangkir yang sudah pecah.


"Astagfirullah.... kamu gak apa-apa nak?" tanya ayah Adam menghampiri Alesha, mendengar ada suara barang jatuh dari luar Adam langsung beranjak melihat apa yang terjadi.


"Maafkan saya om, Alesha gak hati-hati." ujar Alesha merasa bersalah karna hal itu juga dia ingin langsung mengambil serpihan cangkir yang sudah pecah dengan tangan nya sendiri.


"Jangan di pegang nak! gak apa-apa kok asal kamu gak terluka nanti serpihan nya biar om saja yang bereskan." ujar ayah Adam khawatir.


"Biar Adam saja, abi." tawar Adam, dengan cepat dia mengambil sekop kecil dan sapu khusus serpihan kaca sedangkan Alesha di bantu duduk di atas kursi oleh ayah nya Adam.


Dengan tenang Adam membersihkan nya, Alesha menjadi sangat tak enak dengan Adam apalagi laki-laki itu tak mengatakan sepatah kata apa pun pada nya, dia takut Adam marah. Setelah memeriksa dengan teliti apakah ada yang terluka dengan kaki nya baru lah Alesha di antar pulang oleh Adam.


"Adam, tolong antarkan Alesha pulang ya kaki nya terkilir dan hari juga udah malam takut nanti terjadi apa-apa kalau wanita jalan sendirian." pindah ayah nya dan Adam hanya mengangguk.


Selama perjalanan pulang Adam tak mengatakan apa-apa, dia diam bukan karna dia marah tapi karna memang gak ada yang mau di omongi dengan Alesha. Tapi bagi Alesha itu berbeda dengan perasaan menyesal dia menyalah arti kan diam nya Adam sebagai tanda kalau Adam sedang marah.


"Adam... aku minta maaf" ucap Alesha lirih.


"Ya gak usah terlalu di pikirin." jawab Adam.


"Aku ceroboh banget gak bisa lihat-lihat kalau lantai nya licin, aku bakalan ganti rugi Dam." cicit Alesha bersalah.


'Ceroboh? entah mengapa sekarang kata itu familiar untuk seseorang.' tutur batin nya.


"Gak apa-apa, abi juga gak masalah jadi gak usah di ganti Sha." tolak Adam.


"Tapi Dam..." ucapan Alesha terhenti ketika melihat dia sudah sampai di depan rumah nya, 'jalan bersama Adam emang terasa begitu cepat ya' ujar batin nya.


"Maaf, aku mengantarkan kamu sampai di sini saja." ujar Adam.


"Iya makasih, Dam." jawab Alesha.


"Assalamualikum." salam Adam dan meninggalkan Alesha dengan satu rasa senang.


Angin malam yang perlahan masuk ke kamar Raya ketika wanita itu sedang mencari tau akun sosmed laki-laki yang mengusik perasaan nya saat ini, Adam. Namun semenjak jam 8 malam tadi hingga sekarang sudah jam 10 malam tak ada satu pun yang dia dapati.


"Apa Kak Adam gak punya sosmed ya?" tanya nya dengan bingung.


"Tapi orang macam apa yang gak punya akun sosmed di zaman ini?" tanya nya lagi. Karna rasa mengantuk yang akhirnya menyerang membuat Raya mau tak mau harus tidur, besok masih MOS dan harapan nya semoga besok bisa bertemu Adam lagi.


Namun besok nya selama dia MOS dia tak menemukan Adam di mana pun bahkan tempat yang mudah seperti kantin pun dia tak terlihat, entah mengapa ada segelintir rasa kecewa dihati nya.

__ADS_1


"Nyariin apa sih Ray celingak-celinguk mulu." tanya Tika.


"Gak ada." jawab singkat Raya dan berlalu meninggal kan Tika yang kebingungan.


Kemudian di hari berikut nya, hari dimana MOS berakhir Raya masih tetap setia berharap Adam muncul di hadapan nya atau setidak nya terlihat dalam jangkauan pandangan Raya namun seperti bukan takdir bagi nya lagi-lagi yang di harapkan nya tak bisa terjadi dan Raya kecewa lagi. Melihat wajah sahabat nya yang tertekuk lecek membuat Tika makin kebingungan.


"Ray! kalau ada masalah cerita deh ke aku siapa tau aku bisa bantu kamu." tawar Tika sembari memakan nasi udug nya.


"Gak ada, aku baik-baik aja." tolak Raya hanya hanya mengaduk-aduk siomay nya sedari tadi. Tika tak bertanya lagi, dua kali Raya menjawab seakan-akan tak ada masalah membuat Tika menyerah. Sahabat nya yang satu ini tak bisa di paksa nya bicara seperti teman-teman nya yang lain, 'atau barang kali dia emng belum siap cerita?' tanya batin nya menerka-nerka.


Setelah selesai makan di kantin Raya dan Tika kembali ke kelas untuk beristirahat sebentar namun ketika mereka melewati ruang guru salah satu guru membuat mereka berhenti.


"Nak ibuk mau minta tolong, tolong antarkan buku-buku ini ke kelas 11 IPA 2 ya, letakkan di meja guru." ucap ibu guru itu yang dibalas anggukan iya dari mereka berdua.


Di perjalanan menuju kelas 11 dada Raya mulai berdegup lagi, 'apa sekarang aku bisa melihat nya?' tanya batin nya. Ketika Raya berjalanan dengan tatapan bengong Tika dengan tiba-tiba memberikan setengah buku tulis itu pada Raya.


"Raya bawain setengah nya biar gak terlalu berat." ujar Tika dan Raya pun hanya menerima begitu saja hingga pandangan nya terhenti disalah satu buku bercorak hitam dengan nama Adam Khalav.


'Aahh jadi Kak Adam di kelas 11 IPA 2 yaa.' ujar batin nya senang.


Begitu sampai di depan kelas 11 IPA 2 Tika terlebih dulu masuk dan mengetuk pintu, tak banyak juga ternyata di dalam kelas. Barulah setelah itu Raya masuk dan berharap melihat Adam tapi kenyataan nya lagi-lagi harapan nya kecewa ketika tak melihat ada nya Adam di kelas itu. Ketika dia hendak bertanya pada salah satu siswa di dalam kelas itu tiba-tiba saja bel berbunyi dan Tika langsung menarik lengan nya untuk buru-buru kembali ke kelas.


'lagi-lagi aku tak bisa menemukan nya.' ujar batin Raya.


Selama pengarahan untuk MOS terakhir di mulai pikiran Raya tak konsen lagi, ntah mengapa sekarang dia banyak termenung 'apakah ini yang di nama kan penyakit dari cinta?' tanya batin nya. Namun Raya langsung menggelengkan kepala dan mencoba berpikir jernih, dia tak bisa seperti ini hanya karna satu laki-laki.


Sekarang di hadapan nya sudah berdiri 2 orang anggota OSIS yang tengah memperkenalkan berbagai macam ekskul yang ada dan Raya mulai menyimak nya.


"Nah adik-adik kalian bisa memilih minimal 2 ekskul dan maksimal nya bebas asalkan kalian pandai mengatur waktu. Untuk ekskul favorit selalu di raih oleh bidang olahraga yakni basket ini untuk siswa laki-laki, bidang seni yakni marching band dan yang terakhir bidang bela negara yakni paskibra. Kalian pasti tau dong kalau tiga ekskul yang kakak sebutkan tadi selalu menjuarai lomba." ucap nya.


"Nah selain itu juga ada ekskul futsal, renang, atletik, paduan suara, tari, teater, band, ECC, artemis, komputer, fotografi, pramuka, pataka, paskasis, PMR, jurnalistik, Rohis, Rohkris, kewirausahaan dan terakhir lingkungan hidup atau LP." ucap teman nya lagi. Mereka memberikan tiap siswa sebuah brosur yang didalam nya terdapat ekskul dan nama ketua yang perlu di hubungi saat ingin masuk.


"Sekian info dari kami terima kasih." ucap mereka berdua lalu pamit pergi dan begitu lah akhir dari MOS tahun ini.


Setelah ini sudah tak ada lagi kelas dan mereka di perbolehkan pulang namun sebelum pulang ada info yang di beritahukan oleh ketua kelas mereka.


"Teman-teman kata wali kelas, kita udah bisa ambil buku paket di perpus hari ini jadi jangan pulang dulu." ucap Mila mengingatkan.


Raya dan Tika pun berjalan ke arah perpus yang sudah terlihat padat dengan siswa kelas 10 lain nya, mereka berdua bersabar mengantri selama kurang lebih 30 menitan lama nya hingga sampai antrian mereka berdua.


Selama buku-buku paket mereka di periksa oleh ibuk perpus, Tika menanyakan apa yang Raya pilih tentang ekskul itu.


"Kamu ikut ekskul apa Ray?"


"Belum tau Tik, aku mau mikir dulu." jawab Raya. Buku-buku mereka sudah selesai di periksa dan mereka berjalan keluar dari perpus.


"Kalau kamu Tik?" tanya Raya balik dengan membawa semua buku yang di pinjam nya di kedua tangan nya, dia lupa membawa tote bag.


"Kayak nya nari deh tapi satu lagi aku bingung." jawab Tika.


"Emang kamu bisa nari?" ledek Raya.


"Bisa dong." ucap Tika dengan mengangkat dagu nya dan di balas kekehan Raya.


Awal nya mereka berniat pulang bareng namun sebuah motor terpampang di hadapan mereka dan terlihat seorang pria sedang menunggu adik nya pulang, dia adalah abang nya Tika.


"Loh Bang Dafa ngapain di sini?" tanya Tika.


"Halo dek Raya!" sapa Dafa pada Raya sedangkan pertanyaan adik nya di acuhkan nya.


"Eh iya bang." jawab Raya.


"Iihh pertanyaan ku gak di jawab." ujar kesal Tika.


"Abang di suruh ayah jemput anak bawel nya." ucap Dafa dengan nada mengejek.


"Ehh ayah udah pulang bang?" tanya pasti Tika.


"Iyee, buruan dah." jawab Dafa.


"Hore oleh-oleh!!!" teriak Tika kegirangan dan Raya hanya terkekeh melihat kelakuan sahabat nya.


"Ray, maaf ya gak bisa pulang bareng." ucap Tika sebelum pergi.


"It's okay Tik." jawab Raya, yah bagi nya pulang sendiri juga gak masalah.


Setelah Tika dan Dafa pergi dari hadapan nya dia melanjutkan langkah nya namun buku yang sedang di bawa nya membuat langkah Raya terasa lebih berat. Kalau dia meletakan buku-buku yang tebal dan banyak ini ke dalam tas nya yang berukuran sedang pasti akan sobek, dia tak ingin membuat ibu nya membelikan tas baru untuk nya.


"Harus nya tadi tu aku bawa tote bag aja kali ya." ujar nya.


Sekarang tangan Raya benar-benar pegal memegang buku-buku itu ditambah lagi ada telpon masuk yang membuat nya harus segera mengangkat nya tapi disaat Raya asik merogoh kantong di rok nya dan sebelah tangan memegang buku-buku itu pandangan nya tak fokus dan terjadi lah kesandung batu yang membuat nya jatuh tersungkur.


"Ahhh kaki ku..." rintih Raya memegang kaki nya yang masih belum sembuh dari bekas jatuh beberapa waktu yang lalu dan sekarang dia terjatuh lagi.


"Kamu gak apa-apa?"


Sebuah pertanyaan yang sama dengan nada suara yang sama dan orang yang sama, entah kebetulan macam apa ini atau takdir kah dia bertemu Adam dalam kondisi ini yang sudah ke tiga kali nya?


Adam turun dari sepeda nya dan mendekat ke arah wanita yang mengusik perasaan nya, dia mulai mengutip buku-buku yang berserakan di atas tanah sedangkan si pemilik buku hanya diam terbengong menatap nya.


Beberapa menit yang lalu Adam secara tak sengaja melihat Raya yang tengah kesusahan membawa buku-buku itu, dia ingin menghampiri nya dan berniat memberikan bantuan namun di urung kan nya karna Adam merasa ragu untuk mendekat. Tapi sebuah peristiwa yang tak mengenakan terjadi di hadapan nya, wanita ceroboh itu lagi-lagi terjatuh.


"Ini buku nya." ujar Adam membuyarkan tatapan Raya.


"Aahh iya kak... te...terima kasih." ujar Raya gugup.


Raya berusaha berdiri walau kaki nya terasa nyut-nyutan tapi di hadapan Adam dia bisa tahan, saat hendak mengambil buku-buku itu di tangan Adam tiba-tiba saja Adam menarik kembali dan memasuku buku-buku itu di tote bag yang dia keluarkan dari dalam tas nya.


"Ini.." ucap Adam dan menyerahkan nya pada Raya.


Setelah Raya menerima nya barulah Adam merasa tenang dan pergi dengan salam yang dia ucapkan, sekarang ada angin sejuk yang tertiup di antara mereka bedua.

__ADS_1


"Dasar wanita ceroboh." ujar Adam dengan tersenyum menjauh dari nya.


__ADS_2