Dear Adam

Dear Adam
Salah Tingkah


__ADS_3

Tepat di depan cermin yang ukuran 138x48 cm itu Raya berdiri di sana selama beberapa menit, mencoba mencocokan pakaian yang akan di gunakan nya nanti malam. Mungkin sekarang sudah 5 pasang pakaian yang dia coba cocokan di tubuh nya tapi dari semua itu tak ada yang sesuai.


"Kenapa sih gak ada yang cocok" ucap Raya dengan kesal, dia menyerah lalu menjatuhkan diri nya di atas kasur empuk milik nya.


"Kenapa juga aku harus pusing banget mikirin mau pakai baju apa... aaahh aneh banget aku ini..." gerutu nya pada diri sendiri.


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


Tttookkk!!!


"Dek, keluar bentar." ketuk Radi dari balik pintu kamar nya.


Raya langsung beranjak dari rebahan nya, membereskan se-ala kadar pakaian nya yang tengah berserakan di lantai kamar baru lah dia membuka kan pintu untuk abang nya.


"Ada apa bang?" tanya Raya buru-buru keluar dari kamar nya, kalau abang nya lihat kamar nya sekarang berantakan pasti dia akan ngomel-ngomel.


"Tuh di luar ada sesuatu buat kamu." ucap Radi yang berjalan ke luar dan di susul Raya.


Tepat saat diri nya membuka pintu rumah mereka terlihat sebuah sepeda sama persis seperti yang di tunjukan abang nya kemarin seketika itu juga Raya merasa amat sangat senang apalagi sepeda itu bau-bau nya sepeda baru.


"Nih buat kamu." ujar Radi yang berdiri di samping sepeda itu. Raya mendekat, dia mengecek kebagusan sepeda itu setelah merasa puas baru lah dia berlari ke arah Radi dan memeluk nya sangat erat.


"Makasih abang ku.... semoga abang panjang umur, abang sehat selalu, rezeki abang makin banyak biar makin banyak pula kasih hadiah buat Raya... muaachhh" ucap Raya lalu spontan mencium pipi kanan Radi, dia bahkan tak tau kalau di teras ada ibu nya yang tengah melihat tingkah menggemaskan mereka berdua.


"Aamiin..." sahut Radi, dia merasa senang karna adik nya senang akan pemberian nya sampai-sampai di cium juga tapi saat dia hendak mencium balik pipi adik nya, Raya malah langsung menjauh karna dia gak mau di cium tapi malah seenak nya mencium abang nya.


"Eettt no... no.... no... Raya udah pakai skincare ya bang." peringat nya tak jauh dari Radi.


"Emang kamu kira abang gak pakai gitu? main nyosor aja, luntur nih skincare abang." jawab Radi tak mau kalah.


"Kalau luntur berarti skincare abal-abal wlee..." ejek Raya dan mendapatkan jitakan pelan di kepala nya.


"Eehhh kok malah jadi berantem." intrupsi ibu nya.


"Eehhh ibu? kok ada di situ?" tanya Raya yang kebingungan, dia merasa tadi hanya ada diri nya dan Radi saja.


"Ibu udah dari tadi di sini nak." jawab ibu nya.


"Kalian ini kayak tom dan jerry, berbaikan sebentar lalu berantem lagi." lanjut nya dan di balas cengengesan oleh mereka berdua.


"Abang nih bu, nyebelin." ujar Raya yang mendekat ke tempat duduk ibu nya.


"Enak aja.. udah abang beliin sepeda kamu bilang abang nyebelin? abang jitak lagi nih." tampik Radi yang juga ikutan mendekat ke arah mereka berdua.


"Ibu...." rengek Raya.


"Udah-udah.... masa kalian mau berantem hmmm." elus Nina di kedua kepala anak-anak nya.


"Untung ada ibu ya kalau gak bakalan abang jitak beneran." ucap Radi lalu memeluk tubuh ringkih Nina namun Raya mengulurkan lidah nya dan mengejek abang tersayang nya.


Namun momen pelukan mereka harus terhenti ketika sebuah motor berhenti di depan rumah mereka, Tika yang sedang di antar abang nya langsung turun dan berpamitan pada Dafa.


"Abang nanti jemput ya kalau Tika telfon." ucap nya sebelum memasuki halaman rumah Raya, Dafa hanya mengangguk dan membunyikan klakson sebelum pergi lagi.


"Hai bestieee!!!" seru Tika.


"Cepat banget kamu datang, Tik." ujar Raya yang langsung berdiri menyambut sahabat bawel nya itu.


"Oh iya dong, aku ini orang nya on time bahkan cepat datang dari yang di janjikan." sahut nya membanggakan diri.


"Eleehh! biasa nya juga suka ngaret." timpal Raya dengan kedua tangan di pinggang nya.


"Enaak aja, aku gak gitu ya." tutur Tika yang semakin mendekat ke arah mereka bertiga, melihat ada ibu dan abang nya Raya dia langsung menyalami mereka berdua.


"Assalamualaikum ibuk... gimana kabar ibuk?" tanya Tika dengan nada sopan.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah ibu sehat-sehat saja nak Tika." jawab Nina dengan senyum ramah nya.


"Apa kabar dek? tumben sore-sore ke sini?" tanya Radi.


"Tika mah always baik bang! ini mau minta temenin Raya ke cafe dekat sekolah bang, mau ngerjain tugas hehehe." jawab Tika, dia menoleh ke arah Raya dari tatapan nya seakan-akan mengatakan 'Gak kamu kasih tau Ray?' pada sahabat nya itu.


"Jauh banget ke cafe dek." ucap Radi.


"Hehehe iya bang, gak jauh kok cuma beberapa menit kalau jalan kaki." jawab Tika dengan perasaan canggung.


"Abang mah nanya nya bikin Tika takut tau!" timpal Raya.


"Lah? abang gak niat gitu." elak Radi.


"Yaudah... bu, Raya izin keluar ya habis maghrib nanti mau nemenin Tika ngerjain tugas di cafe dekat sekolah." tutur Raya pada ibu nya.


"Berduaan aja?" tanya ibu nya, dia merasa sedikit khawatir pada Raya.


"Gak kok bu, di sana ramai ada siswa lain juga kok. Ibu tenang aja ya Raya bakalan pulang cepat dan jaga diri, kalau ada apa-apa nanti Raya telpon abang atau ibu deh." ujar nya meyakinkan ibu nya.


"Yaudah, yang penting kamu hati-hati aja ya nak." jawab Nina memberikan izin nya dan Raya mengangguk lalu menarik masuk lengan Tika ke kamar nya.


"Ya ampun Ray... abang mu ternyata juga agak seram yaa gak kamu aja." tutur Tika yang langsung duduk di kasur empuk milik Raya tanpa di suruh.


"Biasa lah Tik, emang nya abang kamu gak?" tanya Raya yang kini sudah mengunci pintu kamar nya dari dalam.


"Bang Dafa mah gak gitu sih cuman kalau lagi nyebelin ya nyebelin banget." sahut Tika mengingat tingkah menyebalkan abang nya.


"Yaudah berarti sama dengan abang ku dong!" timpal Raya, dia kini mememunggut kembali pakaian nya yang berserakan itu lalu membawa nya ke atas kasur. Tentu saja Tika juga memperhatikan sahabat nya yang lagi beres-beres itu.


"Tumben banget kamar kamu berantakan gini Ray." ucap Tika.


"Oohh ini... ini lagi pengen aja berantakan." jawab Raya ngasal.


"Eehhh? jawaban macam apa itu bestie?" tanya Tika tak mengerti.


"Aahhh atau jangan-jangan kamu bingung ya mau pakai apa nanti?! ecieee sahabat ku ternyata udah pubeeerrr." goda Tika dengan wajah menyebalkan nya dan Raya tentu saja mendadak salah tingkah.


"Iihhh apaan sih Tikaaaa...." elak Raya, dia bahkan menunduk tak ingin melihat wajah menyebalkan Tika yang lagi menggoda nya.


"Utututu..... ciee Raya cieee... ciee yang mau ketemu si doiii..." goda Tika lagi yang langsung mendapatkan pukuluan ringan dari Raya menggunakan bantal tidur nya.


"Iihh Tika diam!!!" seru Raya dan pertengkaran kecil mereka pun berlanjut hingga maghrib tiba.


Beberapa waktu yang lalu Tika sudah keluar dari kamar Raya setelah selesai shalat maghrib baru setelah itu Raya menyusul langkah Tika ke arah meja makan karna ibu nya tadi menyuruh mereka berdua untuk makan malam terlebih dahulu baru pergi keluar.


"Makan yang banyak ya nak." tutur Nina pada Raya dan Tika, mereka pun langsung mengangguk paham dan melahap habis makan malam yang di bikin oleh Radi.


Karna tak mau telat dengan janji yang di buat Tika dan Adam, mereka berdua langsung bergegas pergi mereka takut Adam menunggu terlalu lama apalagi yang perlu tugas itu adalah Tika. Dengan memakai pakaian yang di pilih nya secara cap cip cup, Raya akhir nya memakai pakaian sederhana dengan rok A-line warna coklat tua, sebuah hoodie oversize berwarna putih tulang dan hijab segi empat yang berwarna senada dengan rok nya juga tak lupa tas kecil milik nya dan dia sudah siap untuk pergi walau dada nya sekarang mulai berdegup.


Perjalanan dari rumah Raya ke cafe yang di katakan Adam pada Tika itu hanya menempuh waktu 15 menitan kalau jalan kaki tapi kalau naik kendaraan mungkin lebih cepat. Dari yang Raya dengar kata Tika cafe itu sering di kunjungi sama murid-murid di sekolah mereka tapi Raya baru tau karna dia kurang update tentang gituan. Tika juga bilang kalau di sana tu sering banget jadi tempat tongkrongan atau tempat anak-anak lain pada ngerjain tugas, pantas saja Adam meminta mereka berdua kesana.


"Ray! lihat deh, dari luar aja keliatan cakep banget cafe nya" tutur Tika, sebuah plang yang bertuliskan Z.A Cafe dan lampu yang terang benderang hingga ke jalan terlihat di hadapan mereka berdua, disisi kanan dan kiri cafe itu pula ada beberapa tanaman yang sengaja di biarkan sebagai alat keindahan.


Mereka langsung masuk ke dalam cafe itu dan sebuah kerincingan terdengar dari dalam, menandakan ada nya pelanggan yang baru datang. Sang pemilik cafe yang tak lain dan tak bukan ayah nya Adam menyambut mereka di meja kasir dengan senyum yang ramah.

__ADS_1


"Assalamualaikum, selamat datang di Z.A Cafe mau pesan apa dek?" tanya Rahman.


Mata mereka berdua langsung mengarah ke papan menu yang terletak di depan meja kasir, melihat-lihat minuman yang hendak mereka minum juga harga nya yang sesuai kantong pelajar.


"Saya mau mango thai satu pak." ucap Tika.


"Saya yang alpukat kocok satu pak." disusul Raya.


"Mau di bawa pulang atau minum di sini?" ujar Rahman.


"Minum di sini pak." jawab mereka denga serentak, Rahman pun langsung mencatat pesanan mereka dan menyuruh mereka menunggu di salah satu meja yang sedang kosong. Raya dan Tika pun mengerti lalu duduk denga tenang di meja kosong dekat dari jendela yang mengarah ke jalan.


"Tik, udah kamu hubungi?" tanya Raya membuka pembicaraan, jujur saja perasaan deg-degkan nya masih belum hilang tak seperti wajah nya yang tenang.


"Tadi pas mau pergi udah sih Ray, udah ku WA juga cuma belum di balas." jawab Tika yang tengah melihat pesan yang dia kirimkan pada Adam.


"Aku coba telpon atau aku tunggu aja kali ya Ray?" tanya Tika meminta persetujuan sahabat nya.


"Iihh kok tanya aku sih Tik." tutur Raya yang juga merasa bingung.


"Yaahh siapa tau kalau aku telpon ntar kamu cemburu." godaan Tika di mulai.


"Iihh apaan sih Tik, kalau mau telpon ya tinggal telpon aja apa susah nya sih!" ujar Raya yang kesal pada sahabat nya, dia mengalihkan wajah nya ke arah lain mencoba memperhatikan se-isi cafe yang tak terlalu ramai ini.


Terlihat susunan kursi dan meja yang rapi juga selaras warna nya, gaya cafe nya juga terlihat minimalis dan terasa santai kalau berada di dalam nya. Suasana nya juga cukup menyenangkan apalagi di tambah lagu-lagu dengan bahasa asing yang mengalun indah menambah nilai aestetik nya dan jangan lupa kan wangi harum dari cafe ini bisa menenangkan perasaan yang mungkin saja sedang gundah gulana. Raya menikmati suasana cafe yang tentram ini sampai seseorang tiba membuat nya kaget bukan main, laki-laki yang nyata nya mereka tunggu kapan sampai nya di sini sedang membawa sebuah nampan dengan minuman yang mereka pesan tadi.


"Kak Adam..." ucap lirih Raya, mata nya sepenuh nya menatap ke pakaian yang sedang Adam kenakan.


'Bukankah itu pakaian yang di pakai pemilik cafe ini?' tanya batin Raya.


"Assalamualaikum." salam Adam kepada dua wanita yang ada di hadapan nya lalu dia meletakan kedua gelas pesanan mereka di atas meja.


"Waalaikumsalam." jawab mereka berdua.


"Eehh kakak kerja di sini?" tanya Tika yang sama penasaran nya dengan Raya.


"Oh ini cafe milik keluarga saya." jawab Adam.


"Eehhh?? milik kakak?" tanya mereka berdua dengan wajah yang kaget. Adam melirik bergantian ke arah mereka berdua lalu tersenyum kecil ketika melihat wajah kaget Raya.


"Iya, ada lagi yang mau kalian pesan?" tanya Adam sebelum balik ke belakang dan menganti celemek yang sedang dia kenakan. Sebenar nya sejak mereka memesan minuman tadi Adam sudah tau kalau mereka sudah tiba namun karna dia masih ada urusan di dapur jadi tak bisa menyambut mereka dan ketika urusan nya telah selesai baru lah dia pergi ke meja mereka sembari mengantar minuman. Tapi satu hal yang baru dia sadari antara diri nya dan wanita yang di sukai nya, saat ini mereka tengah memakai pakaian yang warna nya senada.


"Aahh gak ada kak." tutur Tika sedangkan Raya menunduk diam menyembunyikan wajah senang nya dari Tika maupun Adam.


"Baik, saya ke belakang dulu." ucap Adam pamit sebentar dan di balas anggukan oleh Tika.


Raya menatap loafers milik nya, dia menaut-tautkan kaki nya beberapa kali dan meminta perasaan nya tak berdebar-debar lagi tapi hasil nya nihil apalagi di tambah ucapan Tika yang menggoda nya ingin rasa nya Raya timpuk pakai suatu benda.


"Eheemm!!! ada yang lagi senang nih." ujar Tika.


"Apaan sih Tik" sahut Raya.


"Eehh Ray, kamu tu emang paling gak bisa nyembunyiin sesuatu dari sahabat mu ini tau!" tutur Tika yang mulai mencicipi mango thai milik nya.


"Diih, kayak dukun aja!" sarkas Raya.


"Aku ini dukun cinta." lanjut Tika dengan senyum nya yang menyebalkan di mata Raya.


"Tapi Ray, ini aku benaran yaa dan kamu harus percaya!" ucap Tika dengan semangat.


"Apaan sih Tik?" tanya Raya yang sedang memfoto minuman nya sebelum di minum lalu setelah itu dia kirimkan lewat story whatsapp nya dengan caption 'Manis' yang juga mewakili perasaan nya sekarang.


"Kalian couplean!" seru Tika.


"Iiihh kamu mah maka nya jangan nunduk mulu." ujar Tika yang mulai kesal.


"Ya suka-suka aku dong Tik, jadi couplean apaan?" tanya Raya lagi.


"Itu loh warna pakaian kalian berdua samaan atau jangan-jangan sengaja nih samaan!" beber Tika.


'Baju? aku dan Kak Adam?!' teriak batin Raya yang tak percaya.


"Lambe mu! udah jelas aku gak punya nomor WA Kak Adam, iihh jangan ngarang-ngarang deh Tik." tutur Raya menolak apa yang di katakan sahabat nya itu.


"Iiihhh bebal banget sih kamu Raya, aku gak ngarang loh. Tuh... tuh lihat Kak Adam ngarah ke sini, lihat warna pakaian yang dia kenakan sekarang sama kayak yang kamu pakai." tunjuk Tika dengan isyarat wajah nya ke arah belakang Raya, Raya yang merasa tak percaya dengan ucapan Tika pun menoleh ke belakang dan menemukan Adam yang tengah berjalan santai.


Di mata Raya, Adam kini terlihat begitu tampan dengan pakaian simpel yang dia pakai, celana berwarna coklat tua dengan kaos oblong berwarna putih persis seperti warna pakaian nya saat ini. Mendadak Raya merasa salah tingkah, apa yang barusan di ucapkan sahabat nya ternyata benar ada nya.


'Please... jangan berdebar lagi.' tutur batin nya.


"Maaf ya menunggu lama." ucap Adam ketika sampai di depan meja mereka. Tika menjawab tak masalah namun sahabat nya yang ada di hadapan nya ini tengah bermasalah, Tika merasa cukup puas ketika melihat wajah salah tingkah yang pertama kali Raya tampilkan di hadapan nya apalagi itu terjadi karna seorang laki-laki dan sekarang rasa nya dia ingin menggoda Raya habis-habisan hingga wajah nya memerah karna malu!


"Silahkan duduk kak." ujar Tika pada Adam, sekarang Adam tengah duduk di antara dua wanita itu.


"Ini mau langsung di mulai atau gimana?" tanya Adam pada Tika tapi lirikan mata nya mengarah pada Raya yang sedang terdiam dan menunduk seakan-akan di lantai ada sesuatu yang menarik.


"Langsung di mulai aja kak, sebentar ya kak saya siapin alat rekam nya." tutur Tika yang mulai mengeluarkan alat-alat nya.


Mendengar hal itu Raya berniat pergi atau sedikit menjauh dari mereka berdua biar mereka bisa fokus dan juga mengontrol dada nya yang sedang berdisko ria.


"Hhmm Tik, Kak saya pindah saja ya biar kalian bisa fokus." tutur Raya yang hendak bangkit dari duduk nya namun tertahan oleh perkataan Adam.


"Gak apa-apa kamu tetap di sini saja, saya tak keberatan kalau kamu di sini." ucap Adam, mendengar hal itu Tika tersenyum kearah Raya dan mencoba menggoda nya lagi tapi hanya pelototan dari mata Raya yang di dapati nya.


"Tenang aja Ray... pasti fokus kok." sahut Tika yang tersenyum dengan artian yang lain.


"Iii...iya kak, baguslah." lirih Raya dan sekarang dada nya makin berdebar kencang.


Dan wawancara mereka pun di mulai, Tika melontarkan beberapa pertanyaan yang sudah di susun nya sedari kemarin malam dan Adam menjawab semua pertanyaan itu sesuai pengalaman nya. Awal nya terasa sangat santai obrolan mereka berdua tapi lama-kelamaan berubah menjadi serius dan suasana nya menjadi canggung bagi Raya. Kalau seandainya saja nih dia bisa sedikit jauh dari mereka berdua pasti debaran di hati nya perlahan menghilang.


Suasana cafe saat ini sedikit agak berisik karna beberapa orang mulai berdatangan dan singgah sebentar tapi bagi Raya hanya terdengar suara laki-laki itu di telinga nya, suara yang selalu lembut kalau berbicara dengan nya, suara yang bikin perasaan Raya berdebar tak karuan apalagi ketika dia memanggil nama nya, Raya merasa amat sangat suka.


"Raya..."


'Coba saja Kak Adam memanggil nama ku.' tutur batin nya.


"Raya..."


'Iya seperti itu, aku pasti akan cepat menjawab.' lanjut batin nya.


"Raya..."


'Kalau saja Kak Adam memanggil... eehh tunggu?! barusan itu suara apa?' tanya batin nya tiba-tiba. Raya mengangkat kepala nya dan mencoba mencari arah sumber suara itu tapi ketika dia melihat wajah Adam dia terperangkap lagi di balik mata yang indah itu. Hanya dalam beberapa detik, jantung nya kembali berdebar ketika mata itu melihat nya dan malam ini kedua hati itu kembali bermekaran lagi seperti saat di perpustakaan.


"Woi Ray!" seru Tika dan menyadarkan nya.


"Eehh apa Tik?" tanya Raya yang mencoba mengalihkan pandangan nya dari laki-laki itu.


"Ngelamun apaan sih Ray? sampai gak nyahut udah di panggilin dari tadi." tutur Tika.


"Siapa yang manggilin?" tanya Raya.


"Noohh Kak Adam." ujar Tika langsung melirik ke Adam, Raya pun ikutan melirik dan senyuman canggung pun muncul di wajah nya.

__ADS_1


"Hhmmm maaf kak, kenapa ya kak?" tutur Raya memberanikan diri nya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Adam memastikan dengan wajah bingung nya.


"Aahh saya gak apa-apa kak hanya lagi kepikiran sesuatu." jawab Raya.


"Sesuatu apa sesuatu hmmm" ucap Tika mulai menggoda nya lagi. Namun mimik wajah Raya langsung mencibir perkataan Tika barusan, sahabat nya ini emang suka banget godain dia.


"Kamu ada masalah kah?" tanya Adam lagi dengan nada suara yang lembut, berbeda saat dia di wawancara tadi.


"Saya gak ada masalah kok kak." jawab Raya, dia mencoba tersenyum untuk meyakinkan Adam dan Tika tapi batin nya berkata lain.


'Ada kak, masalah sama perasaan ku.'


"Aahhh apa wawancara nya belum selesai? maaf ya kak kalau saya menggangu harus nya tadi saya..." ucapan Raya terputus.


"Tak apa... tak apa Raya. Saya tak merasa terganggu oleh diri mu" sanggah Adam, dia tak ingin wanita itu beranggapan yang lain.


"Lagian wawancara nya juga udah selesai kok, Ray." timpal Tika yang menghabiskan minuman nya.


"Eehh iya kah? gak kerasa ya wawancara nya cepat." tutur Raya.


"Cepat? udh tiga puluh menit lebih loh Ray, maka nya jangan kebiasaan melamun mulu iihh." cicit Tika.


"Iya betul, melamun itu juga gak baik." sahut Adam membenarkan perkataan Tika.


"Eehh iya kak, makasih udah ingatin." ujar Raya dengan tulus walau pun dia masih canggung.


"Makasih buat Kak Adam aja nih?" sindir Tika namun Raya langsung mendekat kan kursi nya ke kursi Tika lalu memeluk gemas pada sahabat nya yang sangat nyebelin itu.


"Makasih juga buat bestie ku yang nyebelin di mana pun diri nya berada." ucap Raya dengan pelukan sangat erat.


"Eetttdah buset! Ray kalem Ray.." seru Tika yang mulai merasakan berat nya tubuh Raya. Melihat tingkah lucu dua orang wanita ini membuat Adam tertawa kecil, ntah sejak kapan dia dengan mudah tertawa di hadapan wanita tapi yang pasti Raya adalah satu-satu nya wanita yang membuat Adam bahkan tak jaim hanya untuk sekedar tertawa.


Hari itu pun berakhir dengan perasaan senang yang di rasakan Adam setelah bertemu dengan Raya dan Raya pun merasa amat sangat salah tingkah saat bertemu dengan Adam. Masing-masing di hati mereka mengucapkan syukur untuk malam yang di lalui sangat indah itu lalu hari pun berganti.


Pagi kali ini, Raya tak berangkat sekolah bareng Tika. Tadi malam setelah pulang dari cafe milik Adam, dia bilang bahwa besok bakalan ketemu langsung aja di sekolah karna hari ini Raya bakalan membawa sepeda baru nya ke sekolah plus nya makin cepat dia sampai di bandingkan berjalan kaki. Tika pun mengerti dan kini tengah menunggu sahabat nya itu di parkiran khusus sepeda, yap Tika pun membawa sepeda lama nya ke sekolah.


Kkkriiinnnggg!!


Kkkriiinnnggg!!


Terdengar sapaan bel dari sepeda yang Raya kendarai, dia menyapa beberapa teman yang di kenal nya lalu masuk ke parkiran sepeda dan menemukan Tika yang tengah memakan cakwe sendirian. Sekarang jam masih menunjukan pukul 07.05 pagi, masih ada sisa 25 menitan untuk siswa lain sampai ke sekolah.


"Ray!" sapa Tika yang berjalan mendekat ke arah Raya.


"Widiihh aroma-aroma sepeda baru nih." seru Tika memandang sepeda baru milik sahabat nya.


"Oohh jelas dong, Raya gitu loh!" sahut nya dengan sedikit sombong.


"Elehh!! sombong amat!" ucap Tika menirukan suara tokoh di salah satu drama Indonesia.


"Yyuukk aahh ke kelas." timpal Raya setelah mengunci sepeda nya.


Suasana pagi ini terasa begitu menyegarkan, pagi-pagi kayak gini nih yang bagus baget karna polusi udara nya masih sedikit sekali. Seandai nya aja gitu ya kan rakyat Indonesia itu bisa mengurangi polusi udara nya pasti bisa jadi hal yang bagus untuk kedepan nya dan tentu saja Raya maupun Tika berharap yang terbaik buat negri Indonesia.


Sembari berjalan menuju kelas, Tika membuka pembicaraan tentang obrolan kemarin malam. Dia merecoki Raya dengan argumentasi-argumentasi nya yang membuat perasaan Raya bergejolak.


"Ray! nih ya kemarin tu kalau aku pikir-pikir lagi ucapan Kak Adam ada maksud tersembunyi deh." ucap Tika.


"Dah-dah mulai.... masih pagi loh Tik." ujar Raya.


"Iihh dengerin dulu Ray..." tutur Tika sembari menarik lenga Raya.


"Dengerin apa sih!" ujar Raya.


"Kalau aku perhatiin lagi Kak Adam di depan kamu sama gak di depan kamu tu dia beda banget Ray. Masa selama wawancara dia serius amat sampai-sampai aku ngerasa suasana nya kaku kayak kanebo kering eehh pas bicara sama kamu di mencair bak es batu di kasih air panas." ucap Tika tanpa rem.


"Iihh perumpamaan kamu aneh banget sih Tik!" ujar Raya.


"Iihh biarin... masa kamu gak ngerasa gitu sih Ray? dari kemarin malam aja nih ya walau aku gak terlalu akrab sama Kak Adam tapi tiap kalian bicara tu wajah nya memancarkam aura senang gitu, kamu pun juga gitu." lanjut Tika.


"Gitu apa?" tanya Raya.b


"Kamu salting kan! ayo ngaku...." seru Tika sembari membekap mulut nya dan lirikan mata nya yang hendak menggoda Raya.


"Sotoy!" teriak Raya lalu berjalan cepat meninggal Tika. Namun Tika tak mau kalah, dia langsung menyusul Raya dan menggoda nya terus-menerus hingga Raya kesal di buat nya.


Hari ini pelajaran di kelas 10 IPA 3 hanya ada Matematika, Bahasa Inggris, TIK juga Biologi dan pelajaran Matematika pun selesai saat bel pertama berbunyi. Setelah guru-guru meninggalkan kelas yang mereka ajari baru lah di susul murid-murid nya ke jamin sekolah yang akan selalu ramai. Begitu juga dengan Raya dan Tika yang hendak jajan bakso bakar tapi langkah Raya terhenti ketika salah seorang guru nya meminta bantuan nya jadi untuk urusan jajan dia titipkan pada Tika.


"Iya buk, ada apa ya buk?" tanya Raya di depan kantor guru.


"Ibuk mau minta tolong buat bantuin nge-hekter kertas, gak banyak kok di dalam juga ada yang bantuin." jelas guru nya, Raya pun mengangguk jika dia tolak dia pasti merasa gak enak. Melihat jawaban Raya, guru tersebut masuk ke dalam kantor nya dan di susul Raya.


"Nah ini nak, tolong ya." tutur guru tersebut menyerahkan setumpuk kertas di hadapan Raya.


"Baik bu." jawab Raya lalu membawa tumpukan kertas itu ke kursi kosong yang sudah di sediakan guru nya itu. Setelah merasa cukup aman meninggalkan mereka berdua, guru tersebut langsung berpamitan untuk makan dulu karna maag nya sudah menyerang sejak tadi.


Awal nya Raya tak terlalu memperhatikan siapa saja di sekitar nya namun suara deheman seseorang membuat nya menoleh ke kanan dan terlihat lah seorang laki-laki yang membuat nya tadi malam salah tingkah.


"Eehh Kak Adam ada di sini juga?" tanya Raya tak percaya, padahal sejak masuk tadi dia tak melihat ada tanda-tanda laki-laki itu.


"Iya, beberapa menit setelah kamu masuk." jawab Adam dengan meng-hekter lembaran kertas itu dan sesekali dia melirik ke arah Raya.


"Aahhh gitu." tutur Raya yang bingung mau mengatakan apa.


"Kamu gak istirahat?" tanya Adam, dia tak ingin suasana nya menjadi sangat akward.


"Mau nya sih gitu kak." tutur Raya jujur, sekarang perut nya sedang berbunyi walau gak kencang-kencang amat.


"Kakak gak istirahat?" tanya balik Raya, di juga tak mau suasana nya menjadi canggung.


"Ini saya sedang istirahat." jawab Adam begitu singkat.


"Owhh gitu." tutur Raya.


'iihh gak berbobot banget pertanyaan ku.' rutuk batin nya.


Sebelum suasana kembali canggung dan mereka diam-diaman, Adam mengeluarkan sebuah biskuit wafer coklat kesukaan nya lalu memberikan nya kepada wanita yang ada di samping nya, barangkali Raya merasa lapar karna tumpukan kertas ini masih tersisa banyak.


"Ini buat kamu." tutur Adam menyerahkan biskuit wafer itu.


"Eehh gak apa-apa kak, saya gak lapar-lapar amat kok." Raya mencoba menolak nya.


"Tak apa, saya ikhlas berbagi dengan kamu. Ambil dan makan lah, kertas-kertas nya juga masih banyak takut nya gak keburu dengan waktu istirahat yang sebentar." ujar Adam, mendengar hal itu Raya pun langsung menerima nya.


'Apakah ini salah satu bentuk perhatian dari Kak Adam?' tanya batin nya.


'Kalau iya, mungkin kah yang Tika katakan itu benar? gawat, bisa-bisa rasa suka ku pada Kak Adam semakin membesar!' lanjut batin nya.


"Kak Adam, makasih ya." tutur Raya dengan menampilkan senyum manis nya dan sekarang Adam yang malah di buat salah tingkah oleh nya.


'Manis, manis sekali!' sahut batin Adam.

__ADS_1


__ADS_2