
Kejadian tadi sudah berlangsung beberapa jam yang lalu namun bagi Raya masih terasa baru terjadi, pasal nya dia masih merasa amat senang dengan perlakuan Adam pada nya. Raya masih tak menyangka kalau Adam yang gosip nya terdengar dingin itu ternyata perhatian dengan hal-hal kecil bahkan bungkus biskuit wafer itu saja masih Raya simpan padahal isi nya sudah habis di lahap nya.
Di antara tumpukan bantal dan guling itu Raya berada di sana, dia masih belum mengganti seragam sekolah nya dengan baju rumahan tapi sudah langsung rebahan di kasur itu. Jika saja abang nya melihat nya seperti ini pasti sudah kena omel.
"Kenapa ya Kak Adam itu ganteng banget." ucap nya sendirian.
"Kenapa juga Kak Adam itu perhatian banget, kan kalau gini bisa-bisa aku gak mau nyerah." lanjut nya.
Raya bangkit dari posisi tidur nya tadi, dia berjalan ke arah meja belajar nya mengambil handphone yang di letakkan nya di dalam tas. Dia kembali mengecek sebuah kontak yang sepulang sekolah tadi Tika berikan pada nya, kontak Adam.
"Tik, kamu ada nomor nya Kak Adam?" tanya Raya saat di kelas tadi.
"Ada, kenapa?" jawab Tika yang tengah menuliskan ulang tugas wawancara nya kemarin.
"Minta dong." ucap Raya, Tika mendadak berhenti menulis lalu menoleh ke arah sahabat nya untuk memastikan sesuatu.
"Waahhh ada apa nih? tumben banget." tutur Tika dengan gerakan mata sedang menyelidik.
"Iihh gak ada apa-apa, emang gak boleh?" tanya Raya balik.
"Boleh aja sih.... tapi buat apa?"
"Iihh kepo banget, udah cepetan mana nomor nya." paksa Raya, Tika hanya terkekeh lalu memberikan nomor Adam pada sahabat nya.
Begitulah dia bisa mendapatkan nomor Adam tapi Raya tetaplah Raya yang pemalu, mungkin kalau wanita lain yang udah dapat nomor gebetan yang di sukai pasti bakalan langsung menyapa lewat pesan singkat lalu berlanjut hingga membuat sebuah hubungan tapi Raya berbeda. Dia hanya menyimpan kontak itu dengan nama Dear Adam dan memandangi foto profil Adam yang terpampang jelas wajah nya di sana.
"Apa aku sapa aja ya? minta Kak Adam buat simpan nomor ku?" tanya nya bimbang.
"Aahhh gak deh.... ntar aku di kira caper banget!" ujar nya lagi lalu meletakan kembali handphone nya di atas meja sedangkan diri nya berjalan ke lemari untuk menganti baju.
Di sebuah tempat latihan futsal sudah ada beberapa orang laki-laki yang sedang pemanasan sebelum main termasuk Adam dan Malik karna hari ini ada pertandingan persahabatan antara tim futsal sekolah mereka dengan tim futsal sekolah lain. Tapi tak hanya ada mereka saja tak berapa lama setelah mereka sampai datang juga beberapa orang penonton yang kebanyakan para cewek sebab beberapa pemain di antara nya ada yang ganteng-ganteng. Adam yang baru selesai mengganti pakaian nya dan hendak menuju ke lapangan mendadak berhenti ketika salah seorang wanita memanggil nama nya.
"Adam!!" seru Alesha yang baru tiba, Alesha menenteng sebuah tote bag yang berisikan minuman dingin plus cemilan untuk di bagi kan ke tim futsal sekolah nya terkhusus Adam.
"Kok kamu di sini?" tanya Adam, dia bahkan tak memberi tahu Alesha kalau diri nya ada di sini.
"Aku mau nyemangati kalian, nih aku bawa minuman juga." tutur Alesha memperlihatkan tote bag nya.
"Malik yang ngasih tau kamu?" tanya Adam lagi, pasal nya hanya Malik yang bisa kasih tau Alesha di mana keberadaan nya.
"Iyaa jangan marah sama Malik dong, Dam. Aku cuma mau lihat kalian main aja." ucap Alesha dengan wajah yang di buat sedih. Namun Adam hanya menghempaskan nafas kasar nya, ntah harus bagaimana lagi dia menolak perasaan Alesha pada nya. Adam mengalihkan langkah nya menuju lapangan tadi tapi di sela-sela dia berjalan terdengar teriakan dari Alesha yang membuat beberapa wanita lain menoleh ke arah mereka berdua.
"Adam semangat!!!!" Adam mendengar teriakan itu tapi dia tak menoleh barang sebentar pun.
Pertandingan pun berlangsung seru, di tim yang Adam pimpin berhasil mencetak 2 point lebih unggul di bandingkan tim sekolah lain hingga tiupan pluit pun terdengar dan mereka beristirahat sebentar.
"Heeii!!! sini-sini ada minuman sama cemilan!" teriak Alesha ke arah tim sekolah nya, tentu saja mendengar hal itu membuat teman-teman Adam menghampiri Alesha yang tengah sibuk membagikan minuman dan cemilan yang dia bawa termasuk Malik namun Adam memilih kursi kosong yang tak jauh dari Alesha berdiri untuk istirahat sebentar.
"Dam, nih dari Alesha." ucap Malik yang mengambil duduk di samping Adam lalu menyerahkan minuman itu ke Adam tapi Adam hanya diam menatap minuman itu.
"Kenapa kamu ajak Alesha ke sini?" tanya Adam, dia bahkan tak berharap wanita itu ada di sini.
"Dia yang merengek minta ikut." jawab Malik setelah menghabiskan satu botol minuman nya.
"Harus nya gak kamu kasih tau." lanjut Adam menatap dingin ke arah lapangan.
"Ntar aku bohong dong, kan kamu sendiri yang bilang kalau bohong itu dosa Dam." timpal Malik dan Adam tak bisa berkata apa-apa lagi.
Malik membuka cemilan yang di berikan Alesha pada nya lalu menawarkan biskuit wafer itu pada Adam, awal nya Adam menolak karna dia juga udah merasa kenyang dengan minum air putih doang tapi ketika melihat bungkusan wafer itu dia teringat kembali pada kejadian saat istirahat pertama. Adam mengingat jelas bagaimana wanita itu enggan menerima pemberian nya, dia juga ingat bagaimana wanita itu tersenyum yang dimana senyuman wanita itu seakan-akan menghipnotis nya dan sekarang Adam tengah mengeluarkan senyuman nya.
Malik yang merasa Adam lebih dingin di bandingkan biasa nya langsung menoleh dan memperhatikan perubahan dari wajah sahabat nya itu, awal nya dia melihat Adam yang tengah memikirkan sesuatu tapi tiba-tiba senyum nya keluar dan membuat Malik merasa heran, ada apa dengan Adam?
"Dam! mikirin apa sih? senyum-senyum sendiri dah." tutur Malik di samping nya, mendengar ucapan sahabat nya Adam langsung mengatur ekspresi wajah nya.
"Eehh Lik, gak apa-apa kok." jawab Adam. Malik hendak bertanya lagi tapi wasit sudah mulai memanggil mereka untuk ke lapangan sesegera mungkin.
"Ayo balik, Lik." ucap Adam yang melangkah terlebih dahulu ke lapangan lalu di susul Malik dengan beberapa pertanyaan di kepala nya. Pertandingan pun berlanjut hingga sore tiba baru lah mereka pulang ke rumah masing-masing dan pertandingan kali ini di menangi oleh tim dari sekolah Adam.
Tepat pukul 5 sore Adam keluar dari ruang ganti pakaian laki-laki dan berjalan ke arah parkiran yang tak terlalu ramai, dia mengeluarkan kunci dari dalam tas nya untuk membuka gembok sepeda nya baru lah dia mengayuh sepeda itu keluar dari parkiran futsal. Awal nya semua berjalan baik-baik saja dan perasaan nya sama seperti biasa nya tapi dia berhenti ketika pandangan nya menemukan sosok wanita yang tak di harapkan kedatangan nya tengah berdiri diam di halte tak jauh dari tempat futsal.
Adam mengayuh sepeda nya mendekati Alesha yang tengah menunggu angkutan kota, dia berniat untuk menemani wanita itu hingga masuk ke dalam angkot karna di daerah sini terkenal banyak nya preman kalau mendekati malam pasti bahaya untuk anak sekolah apalagi wanita.
"Assalamualaikum." salam Adam lalu turun dari sepeda nya.
"Eehh Adam... waalaikumsalam." jawab Alesha dengan tersenyum.
"Aku pikir kamu udah pulang Dam." lanjut Alesha, dia merasa senang Adam menghampiri nya.
"Belum, angkot nya masih lama?" tanya Adam berdiri agak jauh, walau pun dia sudah turun dari sepeda nya Adam tetap menjaga jarak dari Alesha.
"Iya Dam, kayak nya." ucap Alesha dan Adam hanya ber-oh ria.
"Kamu tadi main nya hebat banget, Dam." tutur Alesha setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Biasa aja, Sha." sahut Adam, dia bahkan sama sekali tak tertarik.
"Kalau gak ada kamu mungkin tim sekolah kita bakalan kalah deh." lanjut Alesha masih memuji nya.
"Tiap orang punya kelebihan masing-masing, Sha. Bukan hanya aku aja, yang lain juga main nya pada bagus-bagus." timpal Adam, dia tak ingin wanita itu terlalu memuji nya bahkan terkesan berlebihan.
"Hehehe iya Dam." ucap Alesha dengan canggung lalu suasana nya kembali canggung lagi.
Alesha menatap ke samping nya, melihat ekspresi Adam yang hanya diam saja tanpa melakukan apa pun sedangkan Adam menatap lurus ke depan tanpa mau menoleh ke sana ke sini apalagi membalas tatapan mata Alesha.
"Kamu itu sederhana sekali ya, Dam." ucap Alesha lagi, saat ini hanya angin yang tak terlalu kencang bertiup ke arah mereka berdua.
"Sederhana itu lebih baik, Sha." jawab Adam.
"Banyak loh cowok-cowok yang mau ngajakin aku pacaran tapi kamu beda." tutur Alesha lagi.
"Pacaran itu dosa, Sha." sahut Adam, sekarang dia tau mau ke arah mana pembicaraan mereka.
"Kamu gak tertarik gitu sama aku, Dam?" tanya Alesha, dia ingin tau jawaban laki-laki itu. Adam menoleh ke arah Alesha, kali ini dia ingin mengatakan dengan jelas apa jawaban nya dan berharap Alesha berhenti.
"Aku hanya menganggap kamu sebagai sepupu ku saja gak lebih, Sha."
Ttesss!!!
Setetes air hujan jatuh dari langit tepat mengenai punggung tangan Adam, sekarang cuaca di langit berubah menjadi mendung dan awan kelabu mulai tampak. Adam melihat ke arah langit yang tampak hendak hujan deras namun di sela-sela dia menatap lagi dia berharap Alesha mengerti tentang jawaban nya barusan.
Alesha menatap nanar ke arah jalanan yang tampak lengang itu, bahkan untuk pertanyaan yang kesekian kali pun Adam tetap menjawab sama, apakah diri nya tidak punya kesempatan lagi?
"Dam, kamu suka ya sama seseorang?" tebak Alesha ketika dia teringat bagaimana Adam bisa tertawa dengan mudah berkat seseorang.
"Aku tak ingin menjawab itu." ucap Adam.
"Tapi kenapa?" tanya Alesha yang tak mengerti.
"Apakah itu penting buat mu, Sha?" tanya balik Adam yang tak mengerti dengan jalan pikiran sepupu nya itu.
"Bagi ku, kamu itu penting Dam." ujar Alesha dengan yakin tapi Adam tak berkata apa pun, wanita itu bahkan tak mau menyerah ketika Adam tolak dengan tegas. Melihat Adam yang tak mengatakan sepatah kata pun atau menyangkal pertanyaan nya Alesha semakin yakin kalau laki-laki yang tengah disukai nya ini sedang menyukai wanita lain dan hipotesis nya langsung mengarah ke Raya.
'Pasti Raya kan, Dam?' tanya batin Alesha.
Setelah itu mereka berdua tak mengatakan apa-apa lagi, Adam hanya menunggu Alesha naik ke angkot baru setelah itu dia pulang ke rumah nya. Tapi tanpa mereka berdua ketahui dari jarak yang tak terlalu jauh Tika melihat dua orang yang di kenal nya itu lalu memfoto nya yang kemudian dia kirimkan ke Raya dengan pesan yang tertulis seperti ini, "Mungkin kamu gak percaya Ray tapi barusan aku lihat ini." dan terpampang jelas lah dua orang itu di handphone Raya sedangkan Raya hanya membaca pesan itu tanpa mau membalas nya.
Hari pun berganti, jum'at kali ini wali kelas nya mengatakan kemarin sebelum pulang bahwa mereka besok akan memakai pakaian olahraga karna biasa nya setiap jum'at mereka akan melakukan senam bersama-sama lalu di lanjutkan dengan unjuk bakat setiap siswa. Dan sekarang Raya sudah siap dengan pakaian olahraga nya lama nya karna saat ini pakaian untuk kelas 10 belum siap.
Di luar rumah nya Tika sudah tiba menggunakan sepeda baru nya, melihat Raya naik sepeda membuat nya juga ingin punya sepeda baru lagi maka nya dia minta ayah nya untuk membelikan sepeda baru biar bisa berangkat bareng Raya.
Kkkriingg!!
Kkkriingg!!
__ADS_1
"Hai bestie! are you ready?" tanya Tika dengan bahasa Inggris nya yang pas-pasan.
"Eeleeh.. pagi-pagi sok-sok-an pakai bahasa Inggris." cibir Raya yang tengah mengeluarkan sepeda nya.
"Oh iya dong biar terbiasa." sahut Tika penuh percaya diri.
"Terserah mu Tik." tutur Raya setelah berpamitan dengan ibu dan abang nya, Tika pun menyusul Raya yang sedang mengayuhkan sepeda nya.
Selama di perjalanan mereka bedua berceloteh ringan seperti biasa nya dan di dalam obrolan mereka Tika pun mengungkit lagi soal foto yang di kirim nya kemarin sore.
"Kok cuma di read aja sih Ray?" tanya Tika.
"Emang aku harus gimana sih Tik?" tanya balik Raya.
"Ya kamu gak penasaran gitu?" tutur Tika.
"Penasaran tapi kan kamu juga gak tau kan?" jawab Raya.
"Kamu gak cemburu gitu? itu mereka berduaan doang loh Ray." ujar Tika.
"Cemburu? buat apa? kan aku bukan siapa-siapa dia Tik." jawab Raya, walau yang di tanyakan Tika ada benar nya tapi Raya siapa nya Adam? mereka berdua kan hanya tau sebatas kenalan doang.
"Iihh aneh banget kamu mah Ray, baru pertama kali aku lihat yang beginian." cibir Tika, dia gak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat nya ini.
Namun Raya hanya menghiraukan ucapan sahabat nya itu lalu mengayuhkan sepeda nya dengan kekuatan cepat dan tiba lebih cepat ketimbang Tika yang sedang mengejar nya dari belakang. Saat hendak memarkirkan sepeda nya di area khusus sepeda pandangan nya langsung menangkap seorang laki-laki yang juga baru turun dari sepeda milik nya, siapa lagi kalau bukan Adam yang bisa membuat jantung Raya berdebar-debar.
"Aa...assalamualaikum Kak Adam." sapa Raya yang baru tiba di belakang nya, Adam langsung mengangkat kepala nya melihat siapa yang sedang menyapa nya. Saat netra nya menangkap wajah Raya senyum tipis Adam pun langsung merekah.
"Waalaikumsalam." jawab Adam dengan lembut, dia tak menyangka bisa bertemu wanita itu sepagi ini. Raya turun dari sepeda nya lalu melangkah ke parkiran yang sedang kosong di samping sepeda milik Adam.
"Kak Adam pagi sekali datang nya." tutur Raya basa-basi, jika dia diam saja setelah menyapa Adam kan suasana nya nanti bakalan gak enak banget.
"Saya memang selalu datang jam segini, sepeda baru ya?" tanya Adam yang juga tak ingin suasana nya menjadi canggung.
"Iya kak, hadiah dari abang saya." jawab Raya dengan riang.
"Bagus sepeda nya." puji Adam, sepeda itu bahkan sangat cocok untuk Raya.
"Makasih kak." balas Raya dengan menampilkan senyum khas milik nya.
"Tumben kamu keliatan sendiri, biasa nya sama teman mu kan?" tanya Adam lagi, dia bahkan tak bisa menghindari senyuman manis milik Raya.
'Jadi Kak Adam tau ya...' tutur batin Raya senang.
"Oohh Tika bentar lagi sampai kok kak." jawab Raya, dia mengarahkan pandangan nya ke gerbang sekolah dan terlihat Tika yang baru sampai, Adam pun mengikuti arah pandangan wanita itu.
"Eehh buset!!! Ray kalau mau ngebut-ngebut bilang do..ng..." ujar Tika yang awal nya mengebu-gebu mendadak bicara perlahan ketika melihat Adam dan Raya bersama di parkiran sepeda.
"Eehh ada Kak Adam juga." tutur Tika turun dari sepeda nya dan menyusul ke arah Raya. Dia menyenggol lengan Raya meminta penjelasan lewat gerakan mata nya tapi Raya langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain, dia enggan menjawab tatapan mata itu karna Raya tau selesai ini dia pasti akan di goda habis-habisan oleh sahabat bawel nya ini.
"Iya, saya permisi dulu ya." jawab Adam yang berlalu di hadapan mereka berdua, Raya mengangguk dengan senyum manis nya.
"Waduh... waduh... orang nya udah pergi kamu masih senyam-senyum Ray." ujar Tika menyadarkan Raya yang bahkan tak berkedip melihat Adam berlalu sejak beberapa menit yang lalu.
"Iihh sirik aja." balas Raya yag buru-buru mengambil tas dari keranjang sepeda nya.
"Iiihh gitu tuh kalau orang lagi kasmaran gak mau ngaku!." seru Tika saat Raya hendak meninggalkan nya sendirian di parkiran sepeda. Namun Raya hanya menjulur kan lidah nya mengejek Tika yang lagi kesal pada nya.
Tak berapa lama kemudian bel sekolah berbunyi dan gerbang sekolah di tutup, siapa yang terlambat akan mendapat hukuman dan setiap siswa yang sudah ada di dalam sekolah langsung menuju ke lapangan untuk senam bareng-bareng. Raya dan Tika mengambil posisi di barisan ke tiga sebelah kiri lapangan dengan urutan ke 4 dan ke 5 untuk Tika, begitu juga di tempat Adam dan Malik mereka berada di barisan ke dua dari lapangan tengah dengan urutan ke 8 untuk Adam dan 9 untuk Malik sedangkan Alesha, Bara dan beberapa siswa lain nya di minta jadi pemandu senam dengan berdiri di barisan paling depan di setiap kelas.
Dari bagian belakang Adam dapat melihat Raya dan Tika yang tengah mengobrol kecil sebelum senam di mulai, dia dapat melihat betapa aktif nya persahabatan mereka berdua dan mudah nya Raya bergaul dengan siswi lain nya. Sebuah senyum pun muncul di wajah nya, dia mengingat kembali bagaimana mereka berdua mudah sekali bertemu apalagi diri nya pertama kali tersenyum karna seorang wanita.
"Kenapa sih Dam?" tanya Malik yang ada di samping nya.
"Kenapa apa nya Lik?" tanya Adam yang masih belum mengerti.
"Itu loh akhir-akhir ini aku lihat kamu gampang banget senyum, kamu lagi jatuh cinta ya?" tanya Malik asal-asalan.
"Aku jatuh cinta? mungkin aja Lik." tutur Adam yang membuat Malik seketika kaget.
"Kok kamu kaget gitu?" ucap Adam yang terlihat santai.
"Ya pasti lah aku kaget Dam, seorang Adam Khalav gitu loh anti sama yang jenis nya cewek tiba-tiba bilang gitu siapa yang gak kaget coba." beber Malik masih dengan wajah kaget nya.
"Terus kenapa Lik? gak boleh gitu?" tanya Adam.
"Bukan gak boleh, cuma aku kaget aja." jawab Malik, dia gak akan menyalahkan sahabat nya ini kalau jatuh cinta karna emang tiap manusia pasti akan diberikan rasa itu.
"Tapi sama siapa?" tanya nya lagi.
"Sama seorang adik kelas tapi aku masih ragu sih ini jatuh cinta atau perasaan sesaat." tutur Adam dengan ragu.
"Lah? jadi kamu belum bisa pastikan?"
"Iya begitu lah, Lik." jawab Adam, mendengar jawaban Adam membuat Malik hanya bisa menepuk pelan pundak kokoh milik sahabat nya itu, Malik bisa mengerti karna ini juga pertama kali nya buat Adam dan kegiatan senam pun di mulai.
Senam pagi ini berlangsung selama 40 menit-an, semua siswa, guru bahkan pengurus sekolah juga ikutan senam di cuaca pagi yang cerah kali ini bagi Raya ini pertama kali nya dia ikutan senam bareng yang lain. Setelah kegiatan senam selesai dengan baik mereka di berikan waktu 10 menit untuk istirahat dan minum lalu kembali ke lapangan untuk acara selanjut nya yakni unjuk bakat yang udah di nanti-nantikan siswa lain sejak selesai libur sekolah.
"Ray, skuy ke lapangan." ajak Tika yang menunggu nya di pintu kelas.
"Ya Tik." sahut Raya dan berjalan ke arah Tika, di lapangan sudah terlihat sebuah lingkaran cukup besar yang di bikin siswa lain dan mereka berdua duduk di antara mereka. Beberapa teman yang mereka kenal pun juga ikutan duduk di samping mereka termasuk Mila. Begitu juga di sisi kelas 11 dan 12, mereka menyambut acara ini dengan antusias apalagi kali ini beberapa di antara mereka bisa menunjukkan bakat yang mereka miliki. Tak berapa lama kemudian terlihatlah seorang wanita dan seorang laki-laki tengah berjalan memasuki lingkaran dengan memegang mic masing-masing.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu!!" ucap mereka dengan serentak dan di balas oleh siswa siswi yang beragama islam.
"Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua." lanjut mereka.
"Pagi juga..." sahut yang lain.
Dua orang siswa itu memperkenalkan diri mereka masing-masing sebelum acara di mulai lalu mereka meminta sepatah dua kata dari kepala sekolah dan berlanjut ke beberapa guru baru lah setelah itu acara unjuk bakat di mulai. Melalui kertas yang di pegang mc siswa wanita itu dia mulai memanggil nama-nama yang akan menampil kan bakat mereka di tengah-tengah siswa lain.
"Nah baik lah tanpa buang waktu lagi saya akan panggil Toro and the gang untuk memulai unjuk bakat nya yang kali ini bertema kan sulap, untuk Toro and the gang di persilahkan." tutur MC wanita itu.
Orang-orang yang di sebutkan tadi pun maju ke depan dengan peralatan yang udah mereka persiapkan, semua siswa berantusias ketika mereka akan mulai begitu juga dengan Raya dan Tika yang tak sabar melihat sulap. Kurang lebih 10 menitan mereka mengadakan atraksi sulap hingga membuat beberapa siswa lain nya tercengang dan tepuk tangan pun terdengar ketika mereka mengakhiri pertunjukan sulap itu.
Kemudian MC laki-laki itu bergantian memanggil nama siswa yang akan tampil hingga sebuah nama membuat Tika mulai berdebar, siapa lagi kalau bukan Bara. Yap, kali ini Bara dan teman-teman band nya akan menunjukan bakat ekskul mereka di hadapan yang lain dengan alat sederhana.
"Kali ini saya dan teman-teman yang lain akan menyanyikan sebuah lagu tapi saya butuh satu orang untuk nyanyi bersama saya." tutur Bara sebelum mulai, mendengar hal itu banyak siswi yang mengangkat tangan nya menyerukan kalau mereka mau membantu Bara tak terkecuali Tika yang amat sangat antusias dan berharap Bara memilih nya. Namun pandangan Bara terhenti ketika dia melihat Raya yang tengah bercanda dengan Tika, Bara sudah memilih siapa yang akan membantu nya nyanyi.
"Dek, mau kan bantuin saya sebentar?" tanya Bara di hadapan Raya.
"Haahh? saya kak?" beo Raya, dia bahkan tak menawarkan diri seperti yang dilakukan siswi lain nya.
"Iya kamu, siapa lagi. Suara kamu waktu di MOS juga bagus, mau kan?" tanya Bara lagi. Tentu saja Raya tak langsung menjawab, dia menoleh ke arah Tika yang ikutan kaget tapi beberapa detik kemudian Tika hanya tersenyum.
"Terima aja Ray kan emang suara kamu bagus." ucap Tika.
"Tapi Tik, kamu gak apa-apa nih?" tanya Raya berbisik tapi Tika hanya menjawab tersenyum dan berangguk kecil setelah mendapatkan persetujuan dari sahabat nya itu baru lah Raya membantu Bara kalau tidak dia takut hubungan pertemanan nya dengan Tika rusak.
Di tempat duduk Adam, dia dapat melihat dengan jelas bagaiman Bara meminta bantuan Raya sebelum menunjukkan bakat nya tapi melihat itu muncul segelintir perasaan tak suka di dalam hati nya.
Dan penampilan perdana Raya bersama Bara juga band nya pun di mulai, walau awal nya Raya merasa amat sangat gugup karna dia emang gak minat nunjukin bakat nya tapi karna Bara adalah senior nya yang baik jadi dia mau membantu nya. Kali ini Bara dan teman band nya akan membawa kan lagu Last Child - Seluruh Nafas Ini (disarankan dengar nya pakai lagu ya :)
"Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa
Tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Di saat ku tertatih
__ADS_1
Tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini." mulai Bara.
"Kita telah lewati
Rasa yang pernah mati
Bukan hal baru
Bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari
Jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku" balas nyanyian Raya.
"Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)
Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini" nyanyi mereka bersama-sama dan juga di ikuti oleh beberapa siswa lain nya.
"Dan ini yang terakhir (aku menyakitimu)
Ini yang terakhir (aku meninggalkanmu)
Tak kan ku siasiakan hidupmu lagi
Ini yang terakhir
Dan ini yang terakhir
Tak kan ku sia siakan hidupmu lagi." bagian ini beberapa siswa bertepuk tangan mendengar nada tinggi Raya dan Bara.
"Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini." Bara pun mulai bernyanyi dengan tenang.
"Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang
Membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini"
Lagu pun selesai dan di iringi tepuk tangan meriah dari siswa lain nya, duet Raya dan Bara kali ini menjadi perbincangan hangat di antara siswa siswi lain nya.
"Makasih ya dek, tadi kamu keren banget." ucap Bara sebelum mereka kembali duduk, teman-teman band Bara juga mengucapkan terima kasih mereka dan Raya hanya mengangguk lalu tersenyum meninggal kan mereka untuk duduk kembali. Sekarang wajah nya terasa panas karna malu sekaligus bangga sama diri nya sendiri apalagi suara nya di sukai banyak orang. Beberapa teman sekelas nya melontarkan kata-kata yang membuat Raya semangat lagi terutama Tika yang memeluk nya bangga.
"Kayak nya kamu cocok deh jadi penyanyi Ray." ucap Tika yang di balas gelakan tawa oleh Raya.
Tepat tak jauh dari tempat duduk mereka berdua, pandangan Adam tak pernah lepas dari awal wanita itu berdiri hingga duduk kembali. Dia menyukai suara Raya apalagi saat dia bernyanyi tapi ketika mengingat yang mengajak Raya adalah seorang laki-laki membuat nya merasa tak suka dan ingin melarang wanita itu tapi Adam tak bisa melakukan apa-apa, dia gak punya hak.
'Apakah ini yang nama nya cemburu?' lirih batin Adam.
Setelah penampilan dari Bara dan band nya berlanjut ke penampilan lain hingga bel istirahat pertama berbunyi membuat mereka semua bubar menuju kantin atau kelas masing-masing. Raya dan Tika hendak bangkit menuju kantin karna perut mereka sudah keroncongan tapi langkah mereka terhenti oleh suara yang tak di harapkan
"Raya!" ujar seorang laki-laki, Raya dan Tika menoleh ke arah suara itu.
"Loh Ray itu bukan nya yang pernah ngasih kamu surat ya?" bisik Tika, Raya pun mengangguk.
'Kenapa ya?' tanya batin nya.
"Ada apa?" tanya Raya, dia paling males berurusan sama laki-laki yang di tolak nya apalagi laki-laki kasar ini
"Boleh bicara berdua aja gak?" tanya Raja.
"Gak, bicara di sini aja." sahut Tika mewakili sahabat nya.
"Gak bisa, ini urusan pribadi." tolak Raja, dia berharap kali ini bakalan berhasil biar dia menang taruhan.
"Urusan apa lagi?" tanya Raya degan serius, 'bukan nya udah selesai ya?' tutur batin nya.
"Aku akan bilang kalau kamu mau kita bicara berdua." kekeh Raja tak mau mengalah. Raya menghempaskan nafas kasar nya, perut nya lapar sekali tapi laki-laki ini bebal dan kalau dia hiraukan takut nya dia akan terus menganggu diri nya.
"Tik, kamu pergi duluan aja nanti aku susul." ucap Raya.
"Ayo, aku gak mau basa-basi ya!" lanjut Raya berjalan mendahului Raja, semirik senyum aneh pun muncul di wajah Raja.
'Duuuhh... kok aku khawatir ya sama Raya." lirih batin Tika.
Di sisi lain Adam yang belum beranjak dari lapangan hanya bisa melihat Raya yang pergi di susul seorang laki-laki di belakang nya, Adam mengerenyitkan dahi nya lalu menebak-nebak ada urusan apa mereka berdua bahkan tanpa di dampingi sahabat Raya.
"Kenapa ya perasaan ku tak enak pada nya?" tanya Adam sendiri.
"Haruskah aku ikuti dia? aaahhh gak... gak boleh Dam." lanjut nya lagi.
"Tapi bukan kah laki-laki itu yang pernah ku lihat bertengkar dengan Bang Bara di kantin ya?" tutur nya mengingat kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Aahh bodo lah... aku harus memastikan dia baik-baik saja." dan Adam pun mengambil keputusan menyusul Raya, mencoba meyakini kalau wanita itu akan baik-baik saja.