
“Siapa kalian! Kenapa kalian tahu tempat ini memiliki penghuni, bukankah formasi pelindung yang ada di luar masih terpasang dengan rapi!” protes salah satu orang yang tersandera.
“Waktu terus berjalan, jika kalian tidak segera menjawab pertanyaanku, maka satu persatu dari kalian akan mati mengenaskan! Contohkan!” perintah Qin Shi Huang.
“ARGH!” Wang Zhao Jun yang pertama membunuh sandera yang ada di tangannya dengan pedang miliknya, dia memotong kepala lawannya itu seperti menyembelih hewan.
*GLUDUK!
Kepala orang mati itu dilemparkan begitu saja ke tanah agar membuat efek ketakutan pada sandera lainnya.
“Jadi apakah masih tidak ada yang mau bicara!”
“Sa– saya akan bicara … ”
Akhirnya Pria Berkumis yang sebelumnya di temui oleh Qin Shi Huang tidak tahan lagi dan berniat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Lima Orang itu.
“Maafkan kami pahlawan bertopeng, kami semua hanyalah sebagian kecil bawahan saja dari tuan kami yang sebenarnya, bahkan kami sendiri hanya pernah bertemu sekali dengannya,” jawab Pria Berkumis.
“Kapan?” tanya Qin Shi Huang.
“Ketika kami menerima Kalung Gerhana Bulan Sabit ini, setelah itu kami semua bahkan tidak pernah menemuinya lagi dan hanya menerima tugas melalui Token Giok Komunikasi,” jelas Pria Berkumis.
“Dimana, kalian menemui tuan yang memberikan kalung itu?” tanya Qin Shi Huang meninggikan suaranya.
“Di Ibukota Kekaisaran Benua Selatan! Uhuk … uhuk … ” Pria Berkumis itu mengeluarkan darah dari mulutnya setelah Dagger Api Ganda Qin Shi Huang menembus jantungnya.
“Sekarang kita sudah mendapatkan informasi yang kita cari, bunuh mereka semua!” perintah Qin Shi Huang.
Puluhan orang yang ada di dalam gubuk reyot itu terbunuh dalam waktu singkat. Qin Shi Huang dan lainnya mengambil Token Giok Komunikasi yang dimaksud dan menghilang dari sana.
***
Di ruang bawah tanah sebuah mansion ibukota.
__ADS_1
“Aku kehilangan beberapa suplai energi qi, sepertinya beberapa bawahanku terbunuh oleh seseorang. Apakah mereka bertemu musuh yang kuat ya?”
“Tidak masalah juga, aku masih memiliki ribuan anggota yang bisa aku serap semua energi qi milik mereka, aku tidak akan memedulikan semut seperti bawahan tidak berguna yang mati itu.”
Seorang Wanita Cantik berpakaian hijau gelap ketat terlihat sedang minum teh sambil melihat banyak laporan yang ada di mejanya.
“Nyoya saya disini, apakah ada perintah?” Seorang bawahan yang tampak kuat memasuki ruangan itu dengan sopan.
“Kamu kemarilah mainan terbaikku, perintahkan pada yang lainnya untuk terus meningkatkan perekrutan orang-orang yang hendak bergabung ke kelompok kita.”
“Bagi semua orang yang tidak bisa ganti rugi uang, selama dia seorang kultivator, jadikan mereka sebagai anggota kelompok, kamu mengerti?”
Wanita itu memberi perintah sambil mengendus tubuh bawahannya yang berotot itu, dia juga menyentuh beberapa area vital yang bisa membuat laki-laki terangsang.
“Saya akan segera melakukannya, Nyoya. Saya–”
“Kenapa buru-buru, setelah kamu memuaskanku, maka aku akan membiarkanmu pergi.” Wanita itu langsung ‘memakan’ bawahannya dengan paksa.
Wanita itu memiliki kebiasaan bermain dengan banyak laki-laki, setiap bawahan yang menurutnya memiliki ‘senjata’ yang besar, sudah pasti akan menjadi santapannya.
Setelah melakukannya seharian penuh, bawahan itu pamit undur diri untuk menjalankan perintah Wanita Baju Hijau Gelap itu.
“Hahaha! Sangat menyenangkan bisa meningkatkan kultivasi hanya dengan ‘berhubungan’ seperti ini. Aku juga menggunakan kalung untuk menyerap energi semua orang, aku sangat cerdik,” tawa Wanita itu keras.
***
Sampai di Ibukota Kekaisaran Benua Selatan.
“Kita tidak akan langsung menyebar, gunakan mata dan telinga kalian untuk mengumpulkan informasi. Atau jika kalian bisa membeli informasi, lakukan!” perintah Qin Shi Huang.
“Baik, Tuan.”
Wang Zhao Jun ke bagian utara, Sun Diao Chan ke bagian barat, Yang Gui Fei ke barat, Qin Nu Long ke bagian selatan dan Qin Shi Huang sendiri ke jantung ibukota.
__ADS_1
Qin Shi Huang langsung menyusuri sepanjang jalan di jantung ibukota, dia menyamar menjadi orang biasa dan berpakaian seperti orang pada umumnya.
Dia mengincar sebuah pasar barang antik yang terindikasi merupakan salah markas kelompok itu, menurut pendengarannya selama perjalan menuju tempat ini.
“Kakek Penjual bolehkah saya bertanya berapa harga barang antik ini? Sepertinya barang ini memiliki harga yang mahal,” tanya Qin Shi Huang pada seorang penjual.
“Selamat datang di kedai kami, Tuan. Barang ini murah saja, harganya 1.123 keping perak saja, jika Anda membeli banyak barang, saya akan memberi potongan harga,” jawab Kakek Penjual itu.
“Kalau begitu bungkuskan ini, ini dan ini,” pinta Qin Shi Huang sambil menunjuk beberapa barang yang digunakan sebagai alibi menuju rencana utamanya.
“Saya akan memberi potongan harga, silakan membayar 2.000 keping perak saja,” jawab Kakek Penjual itu senang.
“Ini uangnya!” Qin Shi Huang menyerahkan beberapa ribu keping perak.
“Tuan ini terlalu banyak, dalam kantung ini ada lebih dari 4.000 keping, apa maksud Tuan dengan sisa uang ini?” heran Kakek Penjual itu.
“Bukan apa-apa, aku hanya ingin bertanya, apakah Kakek Penjual pernah mendengar mengenai Kelompok Gerhana Bulan Sabit? Saya sedang mencari markas mereka di sekitar sini,” bisik Qin Shi Huang.
Kakek Penjual itu langsung menoleh kesana kemari, dia memastikan keadaan bahwa tidak ada orang yang mendengar mengenai perkataan pembelinya yang dermawan itu.
“Tuan, aku tidak tahu kenapa Anda mencari mereka, tapi jika saya boleh memberi saran, jangan berurusan dengan mereka, atau hanya ada hal buruk yang menanti Anda,” saran Penjual itu.
“Tidak masalah, saya akan baik-baik saja, sepertinya Kakek Penjual mengetahui beberapa informasi penting, bolehkan saya mendengarkannya?” pinta Qin Shi Huang.
“Mari masuk ke dalam kedai saya, saya akan memberikan semua informasi yang saya miliki pada Anda. Tapi, jangan lupa saya sudah memperingatkan Anda,” ingat Penjual itu lagi.
Kedua orang itu masuk ke dalam kedai barang antik kecil ukuran 6 x 10 meter, disana Qin Shi Huang disuguhi secangkir teh hijau oleh Si Kakek Penjual.
Kemudian, Kakek Penjual itu mulai berbicara …
“Saya akan langsung masuk ke topik utama saja, markas yang mereka miliki di ibukota ini tersebar di beberapa tempat dan salah satunya ada di pasar barang antik ini,” ucap Kakek Penjual.
“Letaknya di sebelah toko antik guci, beberapa blok di belakang jalanan ini, kamu bisa kesana dan akan menemukan kedai minuman keras, disanalah markas mereka,” jelas Kakek Penjual.
__ADS_1
“Terima kasih Kakek Penjual, kalau begitu saya pergi dulu.” Qin Shi Huang tidak menghabiskan teh miliknya, dia berlalu begitu saja menuju ke tempat yang dimaksud.
“Sepertinya akan ada masalah sebentar lagi, aku harus memberitahu Nyonya Besar,” batin Kakek Penjual itu sambil memasang wajah menakutkan, berbeda sekali dengan wajah penuh takut sebelumnya.