
Maura sengaja menyelimuti kembali seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang dia miliki,hal itu karena sungguh saat ini dia seperti tidak punya muka di depan Harist. Maura berharap setelah Harist selesai membersihkan tubuhnya dia langsung pergi dari apartemennya.
hal itu karena dirinya masih sangat malu untuk bertemu dengan Harist.sementara Harist setelah dia membersihkan badannya,dia langsung menuju dapur dan memanaskan makanan sisa semalam.terlebih melihat kondisi ruang tengah yang berantakan karena kejadian semalam Harist pun membersihkannya terlebih dahulu.
mendengar Harist keluar dari kamar Maura, dia pun langsung menuju ke kamar mandi.karena Maura pun sama seperti Harist yang bangun dengan tubuh yang lengket akibat keringat.
selesai membersihkan diri dan berganti pakaian Maura pun keluar dari kamarnya.dirinya keluar sambil celingukan karena masih takut bertemu dengan Harist.
"apa dia udah pulang yaa...??" batin Maura yang sambil celingukan melihat lihat ke seluruh ruangan.
"nyari apa..? Seru Harist dari belakang tubuh Maura.
"Hahh... k.. k.. kamu...!! be.. belum pulang Rist...? tanya Maura yang kaget dengan keberadaan Harist di belakangnya.
"ini baru mau pulang,, itu gue mau bilang, gue udah angetin makanan sisa semalem. loe makan dulu sebelum lanjutin kerjaannya. nanti siang gue kesini lagi. kita jemput Emran dan yang lain ke bandara. loe mau kan...? tanya Harist
"emmm gimana ya...!! kenapa gak kamu sendiri aja yang ke bandara. aku di sini aja." keluh Maura yang masih sambil membuang muka pada Harist.
"gak bisa... loe harus keluar apartemen sekali kali Maura.. ! kalo di dalem terus gimana loe mau sembuh dari trauma loe,, pokok nya nanti siang gue kesini loe harus udah siap.
"emm... ya udah.. jawab Maura sambil menundukkan kepalanya. Hal itu tak luput dari pandangan Harist.dirinya tau saat ini Maura sedang mencoba menghindarinya.
"loe baik baik aja kan...?? tanya Harist yang terus melihat Maura. namun Maura terus saja menghindarinya.
"udah gak apa apa kok..!! jawab Maura yang masih terus menghindari pandangan Harist
"loe menghindar dari gue Maura...? tanya Harist yang terus saja melihat kearah muka Maura yang tidak mau melihatnya kembali.
"mana ada... enggak kok..!! jawab Maura sambil mencoba melangkah untuk menghindari Harist.
"Hm... loe menghindar gue Maura,, gue tau..?? selidik Harist yang menyusul langkah Maura, dan kini Harist tepat berada di depan wajah Maura sambil memegang kedua pundak Maura.Harist harus melihat wajah Maura untuk memastikan dugaannya. dan memang benar dugaan Harist Maura sedang menghindarinya.
"apa karena semalem...?? tanya Harist.dan Maura pun langsung menoleh ke arah Harist.
"ya tuhan... ini orang kok gak peka ya... jelas aku ngehindarin dia karena malu." batin Maura.
"bukannya kamu mau pergi...?? ya udah sana pergi aku mau makan nih...!! kilah Maura sambil melepaskan tangan Harist yang ada di pundaknya. dan menuju arah dapur untuk duduk di hadapan makanan yang masih panas.
melihat Maura yang tiba tiba seperti itu membuat Harist merasa marah. dirinya seperti tak di hargai oleh Maura. padahal semalam suntuk Harist tak mengejapkan matanya sama sekali. bahkan dirinya harus menahan agar tak berbuat buruk pada Maura. bukan ucapan terima kasih untuknya yang keluar dari mulut Maura namun sekarang Maura malah menghindarinya. dan terkesan seperti Harist memanfaatkan sakitnya Maura yang kambuh semalam.
__ADS_1
tanpa pamit Harist langsung keluar dari apartemen Maura dengan perasaan yang dongkol setengah mati. kalau tidak ingat sakit Maura yang bisa saja kambuh,pasti Harist akan terus berdebat dengan Maura hingga masalahnya selesai. Harist bukanlah tipe pria yang selalu menghindar dari masalah.dirinya akan secepatnya menyelesaikan permasalahan sebelum menjalar kemana mana.namun kali ini dirinya harus lebih menahan diri.terlebih orang yang membuatnya dongkol adalah seorang perempuan.
Maura yang menyadari Harist pergi dengan keadaan marah pun merasa tidak enak. dirinya merasa bersalah karena mendiamkan Harist padahal Harist lah yang selalu ada di saat Maura mengalami traumanya kembali. namun kali ini Maura merasa dirinya sudah terlalu jauh dengan Harist. hal itu membuatnya menjadi malu. terlebih kejadian semalam adalah hal yang pertama kali Maura lakukan dengan seorang pria.
...----------------...
jam menunjukkan pukul 1 siang. Harist dengan mengendarai mobil miliknya kembali menuju apartemen Maura untuk menjemputnya.walaupun Harist masih marah terhadap sikap Maura,namun Harist masih bisa menguasai dirinya. berbeda kali ini Harist akan menunggu Maura di parkiran apartemennya.itu semua karena usul Maura saat Harist mengabari akan kedatangannya.
sementara Maura yang saat itu sudah siap dengan jaket Hoodie berwarna coklat tua dan juga masker di mulutnya langsung keluar dari apartemen menuju ke parkiran dan tengah menunggu kedatangan Harist.
setelah Harist tiba, Maura langsung masuk ke dalam mobilnya dan mereka berdua langsung berangkat menuju ke bandara untuk menjemput teman temannya. di dalam mobil hanya suasana hening yang terasa,keduanya sama sama tidak ada yang membuka obrolan sama sekali. hal itu tentunya tidak biasa mereka lakukan. karena biasanya jika mereka pergi bersama pasti akan ada yang di bicarakan.
Maura yang hanya melihat ke arah pemandangan di luar mobil,, sementara Harist yang hanya fokus pada setir mobilnya. walaupun sesekali mereka saling lirik di ujung matanya.
kerena sedikit terlambat akibat jalanan yang lumayan macet saat itu. akhirnya teman temannya pun yang jadi menunggu kedatangan Harits dan Maura.
setelah sampai, keduanya pun menuju ke ruang tunggu bandara dan benar saja ke empat sahabatnya sedang menunggu kedatangan mereka.
Harist dan Maura pun menghampiri mereka.
"guys.... sapa Harist setengah berteriak.
ke empatnya pun menoleh ke arah sumber suara. terlihat Harist datang bersama dengan seseorang yang pastinya mereka semua tau siapa orang itu.
"damage nya itu loh...bikin merinding..!! timpal Emran sambil bergidik Dejavu melihat kedatangan Maura.
sementara Ivan yang menatap kedatangan Maura dengan rasa penuh rindu setelah sekian lama tak bertemu. walaupun hampir tiap hari dirinya akan menelepon, melakukan chat, atau video call dengan Maura tetap saja rasa rindunya sangat jauh lebih besar.
"Maura..... !! sapa Sauki yang langsung memeluk Maura.
"gue kangen banget sama loe...!! sapa Sauki sambil memegang kedua pipi Maura dengan gemas.
"lepppaaass....!! jawab Maura sambil mencoba menepis tangan Sauki yang menangkup pipinya.
setelah terlepas dari Sauki Maura langsung menghampiri yang lainnya dan memberikan pelukan hangat pula pada yang lainnya.
"Hai semuanya... ! sapa Maura. dan memeluk Adnan terlebih dahulu.
"Hai Maura... loe udah sehat..??tanya Adnan tanpa basa basi. dan di angguki oleh Maura. kemudian beralih memeluk Emran
__ADS_1
"Hai Em... gimana kabarnya...? tanya Maura.
"gue sakit gak ada loe Ra... lebay Emran pada Maura sambil memegang dada sebelah kirinya. dan Maura hanya memanyunkan bibirnya.
beralih pada pria terakhir yang menyelamatkan nyawanya. dengan senyum manis nya Maura memeluk Ivan lumayan sangat lama. sungguh Maura pun merindukan Ivan. terlebih Maura seperti menemukan sosok kakak di diri Ivan yang terlihat jauh lebih dewasa dari yang lainnya.
ke empatnya yang melihat pemandangan itu hanya tersentuh dengan keadaan Maura saat ini.
setelah semuanya melepas rasa rindu mereka pada Maura mereka pun melanjutkan perjalannya menuju apartemen Harist yang jauh lebih besar dari apartemen Maura. kelimanya akan menginap di sana.
...----------------...
dari berangkat menuju apartemen Harist hingga di dalam mobil Harist selalu diam tak biasanya.dirinya lebih sibuk melihat ponselnya dan terus memainkannya seperti banyak sekali pekerjaan yang tengah dia lakukan,kali ini Harist tak menyetir namun Adnan yang menyetir.
Adnan,Emran dan Ivan menyadari sikap Harist yang sangat cuek dan cenderung murung pada Maura. sikap tak biasa yang di perlihatkan oleh Harist itu membuat mereka bertanya tanya ada apa antara Maura dan Harist. sedangkan Sauki yang selalu mengikuti Maura seperti prangko tak menyadari sikap Harist.
sampailah mereka semua di apartemen Harist.setelah semuanya menyimpan barang bawaan masing masing, mereka langsung berkumpul di ruang tengah apartemen Harist. semuanya tampak saling mengobrol membahas hal hal yang mereka kerjakan kepada Maura. dan sesekali senyum terbit dari bibir Maura. namun tidak dengan Harist yang hanya diam tak menimpali obrolan mereka sekali pun.
melihat tingkah Harist yang seperti itu membuat Maura menjadi baik darah juga.dan Harist pun menyadari Maura marah padanya.keduanya seperti sedang berperang dalam diam mereka.
"gue pesen makan dulu lah.... seru Harist sambil beranjak ke arah dapur dan sesekali melirik ke arah Maura dengan tatapan sinis. Harist bertujuan untuk mencari brosur rumah makan yang dia simpan di laci dapur.
sementara Maura pun yang melihat Harist meliriknya dengan sinis malah membuang mukanya dengan kesal
"kekanakan" gerutunya
ke empatnya melihat interaksi antara Maura dan Harist keheranan. ternyata bertemu hampir setiap hari pun malah bisa menimbulkan konflik antara kedua nya.
"Ra... loe lagi ada masalah sama Harist..? tanya Adnan.
"kayanya.' jawab Maura sambil terus menatap Harist
"loe berantem Ra..? tanya Sauki yang kaget tak percaya
"kayaknya.' jawab Maura yang masih menatap kearah Harist.
"kenapa Ra.. kok bisa.. ? tanya Ivan
"gak tau...' jawab Maura enteng. dan langsung melihat ke arah sahabatnya yang sangat penasaran.
__ADS_1
"sebaiknya loe selesain dulu. timpal Ivan.
"hm.. ya udah tunggu ya... !! jawab Maura sambil berlalu menghampiri Harist yang sedang terlihat menelepon seseorang.