Di Nikahi Ceo Tampan

Di Nikahi Ceo Tampan
Eps10_Merebut kebahagian


__ADS_3

Mengingat kalau Arel sudah memiliki kekasih, membuat Yuna takut menerima tawaran dari Arel yang ingin mengantarkan nya pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti


Yuna tidak dapat membayangkan bagaimana marah nya kekasih Arel saat mengetahui akan hal itu, jika dia menerima tawaran dari Arel


***


" Selamat pagi Mah Pah " Ucap Jasmine, yang baru saja keluar dari dalam kamar nya


Ia lalu duduk di kursi yang biasa nya ia tempati, untuk memulai sarapan nya.


" Iya selamat pagi sayang " Jawab Rina, ibu jasmine yang sudah lebih dulu berada disitu


Kemudian mereka pun memulai sarapan mereka.


Mawar yaitu kakak jasmine, namun mereka memiliki ibu yang berbeda. Baru saja keluar dari kamar nya, untuk ikut sarapan


" Selamat pagi Mah Pah " Sapa Mawar


Hanya Pratama yang menjawab dengan menganggukkan kepala nya, sedangkan Rina dan Jasmine nampak tetap fokus menyantap sarapan mereka.


Melihat itu Mawar sudah terbiasa, ia pun lalu duduk di kursi nya, lalu memulai sarapan nya


Mawar memang diperlakukan berbeda oleh Rina, karena Mawar bukan lah anak kandung nya. Bahkan dia tak segan memperlihatkan nya di hadapan Pratama, namun Pratama sama sekali tidak memperdulikan nya


Jauh di lubuk hati nya, Mawar menyimpan banyak dendam dengan Rina dan Jasmine, Karena kehadiran mereka merampas semua kebahagian nya. Bahkan karena mereka lah Ibu nya memutuskan untuk mengakhiri hidup nya


Diam-diam Pratama menikahi Rina tanpa sepengetahuan Wulan yaitu ibu kandung Mawar, sampai Rina melahirkan Jasmine dalam hubungan gelap mereka


Pada saat Wulan mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh sang suami, membuat nya depresi sampai-sampai ia mengakhiri hidup nya, dengan menusukkan pisau ke perutnya dengan tangan nya sendiri, hingga ia kehilangan nyawa nya.


Bukan nya bersedih akan kejadian itu. Rina malah bahagia karena akhirnya ia menjadi istri resmi Pratama, bukan lagi menjadi istri simpanan


***


" Mah Pah. Aku mau berangkat ke butik dulu ya " Ucap Jasmine, lalu mencium pipi kedua orang tua nya secara bergantian

__ADS_1


Ya di usia Jasmine yang baru 22 tahun, dia sudah berhasil mendirikan sebuah butik yang memiliki banyak karyawan


Dan karena hal itu, semakin membuat Rina terus membanding-bandingkan nya dengan Mawar, yang baru saja berhenti bekerja di salah satu perusahaan swasta.


" Tuh lihat, Jasmine masih muda tapi sudah berhasil mendirikan butik nya sendiri. Jadikan itu motivasi buat kamu, yang dikit-dikit berhenti kerja, jadi beban keluarga aja " Ucap Rina, yang setelah mengatakan itu ia langsung berlalu


Mawar menatap ayah nya, mencoba melihat tindakan apa yang akan Pratama lakukan, di saat ia selalu dibanding-banding kan dengan Jasmine.


" Sebaik nya kamu cari kerja lagi, kalau tidak ingin dibandingkan seperti ini " Kata Pratama, setelah itu ia pun berangkat bekerja


Melihat itu Mawar tersenyum pahit.


" Mamah lihat sendiri kan, bagaimana Papah setelah Mamah pergi " Gumam Mawar, seolah sedang berbicara dengan ibu nya, yang sudah pergi 10 tahun yang lalu


***


Setelah dari rumah sakit tadi, Arel lalu pergi ke perusahaan untuk menyusul orang tua nya.


" Ini berkas Papah yang ketinggalan " Kata Arel, lalu menyerahkan Map berwarna biru itu kepada sang ayah


" El. Hari ini Papah akan mengadakan rapat bersama para pemegang saham perusahaan, untuk membahas pengalihan hak kekuasaan perusahaan kepada kamu " Ucap Ferdinan, yang masih fokus dengan berkas-berkas ditangan nya


Mendengar itu Arel membulatkan mata nya sempurna. Sebelum nya mereka belum pernah sama sekali membahas masalah ini, dan lagi ia baru saja menyelesaikan pendidikan nya


Ia masih belum yakin akan kemampuan nya, untuk memimpin perusahaan besar yang sekarang masih dibawah kepemimpinan sang ayah.


" Tapi Pah. Aku masih belum siap " Jawab Arel


Ferdinan meletakan berkas yang tadi dia pegang, lalu menatap Arel dengan lekat. Tatapan mengintimidasi seolah menusuk kedalam tulang, tatapan yang waktu kecil hampir setiap hari Arel lihat.


" Coba kamu bilang sekali lagi " Kata Ferdinan, dengan terus mengarahkan pandangan nya kepada sang Putra


" Pah. Apa Papah percaya menyerahkan hak kekuasaan perusahaan ini sama aku, yang sama sekali belum mempunyai sedikit pun pengalaman "


" Kamu pikir Papah bodoh. Mengapa Papah dengan cepat menyerahkan status CEO kepada kamu, itu agar tidak ada kesempatan untuk pemegang saham yang lain merebutnya " Ucap Ferdinan

__ADS_1


" Lagi pula, Papah akan tetap membantu kamu sebisa Papah. Apa lagi yang kamu takutkan " Sambung nya.


Mendengar itu Arel hanya bisa terdiam. Begitu lah dunia bisnis, lengah sedikit saja berkemungkinan akan menghancurkan karir yang sudah diperjuangkan


Ia juga tahu, pasti lah semua ini sudah dipikir oleh ayahnya dengan sungguh-sungguh.


" Baiklah. Lakukan apa pun yang menurut ayah terbaik " Ucap Arel.


Lagi-lagi ia hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan sang ayah, jujur ia masih belum siap, jika harus memimpin perusahaan sebesar ini, meski pun Ferdinan tetap akan membantu nya nanti. Akan tetapi mungkin hati dan mental nya masih belum siap


Namun ia juga tidak bisa menolak, keputusan yang sudah dibuat ayah nya.


***


Pukul 18:00~~~


Tepat pukul 12 siang tadi, Ningsih sadar dari tidur panjang nya.


Ia pun histeris di saat dia diberitahu oleh Yuna kalau dirinya mengidap penyakit stroke, pantas saja pada saat ia baru sadar, dia tidak bisa sedikit pun menggerakkan anggota tubuh nya sendiri, kecuali bagian kepala nya


Hati Yuna teramat sakit, saat melihat ibu nya yang nampak putus asa saat mengetahui kalau dirinya sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa.


Namun Yuna harus tetap kuat didepan ibu nya. Terus memberikan semangat serta meyakinkan ibu nya, kalau dia akan bisa sembuh, asalkan punya semangat berjuang untuk sembuh.


" Bu. Makan dulu ya, ibu belum makan apa-apa dari tadi " Ucap Yuna, dengan memegang nampan berisi makanan untuk ibu nya


Ningsih menatap wajah lelah sang Putri, yang terus merawat nya, tanpa memperdulikan rasa lelah nya.


" Seenggak nya sedikit saja ya Bu " Ucap Yuna kembali, dengan wajah memelas nya.


Karena biasa nya jika ia sudah memasang wajah memelas nya, maka ibu nya tidak akan pernah bisa menolak nya


Dan benar saja, Ningsih menganggukkan kepala nya pelan.


Dengan senyuman yang terukir di sudut bibir nya. Yuna terlebih dahulu membantu menyandarkan kepala ibu nya di leher ranjang rumah sakit, agar lebih memudahkan Yuna untuk menyuapi Ningsih

__ADS_1


" Bu. Ibu harus yakin kalau ibu akan sembuh, Yuna akan terus menemani ibu disini, jadi ibu juga harus semangat " Ucap Yuna. Ditengah-tengah ia menyuapi Ningsih


__ADS_2