
" Mah jangan menyalahkan diri Mamah ya. Sebaiknya sekarang Mamah fokus untuk pengobatan Bi Ningsih, lagi pula kan penyakit stroke masih bisa di sembuh kan " Kata Arel, yang mencoba memberikan semangat kepada ibu nya yang nampak murung, sejak keluar dari ruangan dokter tadi
***
" Tapi bagaimana saat Yuna mengetahui tentang kondisi ibu nya, pasti dia akan sangat syok " Jawab Adriana, dengan terus mengarahkan pandangan nya ke arah Ningsih yang terbaring di ranjang rumah sakit
' Yuna ' Batin Arel.
Nama yang sangat tidak asing baginya. Setelah beberapa saat Arel berpikir, Ia baru teringat kalau Ningsih mempunyai seorang putri yang bernama Yuna.
Anak kecil yang dulu nya mempunyai gigi kelinci, yang selalu mampu membuat suasana hatinya kembali ceria.
Dimana dia sekarang?, dan bagaimana kondisinya. Bukan kah dulu Yuna tinggal di rumah nya, dan pada saat ia memasuki asrama sekolah Yuna masih tetap tinggal di kediaman keluarga Mahendra.
" Di mana sekarang anak Bi Ningsih Mah, bukan nya dulu dia tinggal di rumah kita, tapi aku tidak melihat nya " Tanya Arel, yang tiba-tiba ingin tahu tentang Yuna
" Dulu saat dia berusia 14 tahun, dia memutuskan untuk tinggal di rumah lama mereka. Dan Ningsih bilang waktu itu, kalau sekarang Yuna bekerja di cafe " Jawab Adriana
" Apa Mamah tau alamat cafe nya dimana, biar aku jemput " Tanya Arel kembali, dengan wajah antusias nya
Adriana pun menggelengkan kepalanya lemah, karena memang ia tidak mengetahui di mana alamat cafe tempat Yuna bekerja
Nampak ada sedikit kekecewaan yang terlihat dari wajah Arel. Entah mengapa di saat ia mengingat kembali akan Yuna, ia sangat ingin bertemu dengan perempuan itu
penasaran seperti apa wajah polosnya yang dulu, apakah telah berubah menjadi gadis dewasa.
***
Pukul 18:00 Sore~~~
Hari yang sangat melelahkan bagi Yuna dan juga Ayu, karena hari ini adalah hari weekend di mana pengunjung cafe akan membeludak, membuat Yuna dan Ayu akan sibuk sepanjang hari
__ADS_1
Dan tiba lah di mana jam pergantian pegawai cafe, yang mana akhirnya bisa membuat Yuna bernafas dengan lega. Ia pun tidak ingin membuang waktu, dia langsung membereskan barang bawaan nya dan bersiap untuk pulang, agar saat diperjalanan pulang nanti tidak terlalu gelap
Namun saat dia baru keluar dari cafe, Tiba-tiba handphone yang ada di dalam tas nya berbunyi, membuat Yuna sontak menghentikan langkah nya lalu mengangkat panggilan telepon dari nomer tidak di kenal itu
" Halo. Ini siapa ya " Tanya Yuna, sesaat setelah ia menerima panggil telpon itu.
" Ini saya Adriana, kamu masih ingatkan " Jawab dari orang yang menghubungi nya.
Tentu saja Yuna sangat mengingat orang yang mempunyai nama Adriana itu, ia adalah majikan di tempat ibu nya bekerja. Yang dulu nya sangat baik kepadanya, saat ia masih tinggal di kediaman keluarga Mahendra
" Iya saya ingat, nyonya majikan ibu saya kan " Sahut Yuna.
" Iya bener. Panggil saya Tante aja ya, jangan panggil saya nyonya "
" Baik tante. Kalau boleh tau, ada apa ya tante menghubungi saya " Tanya Yuna, sambil mulai melangkah kan kakinya, untuk menuju tempat tinggal nya
Tidak ada sahutan beberapa saat dari Adriana saat Yuna menanyakan maksud mengapa dia menghubungi nya, yang ada hanya terdengar suara tarikan nafas yang panjang. Membuat Yuna mengerutkan alisnya bingung
" Sekarang ibu kamu masuk rumah sakit " Ucap Adriana, terdengar sangat berhati-hati agar tidak membuat Yuna syok.
Nafasnya pun terdengar berat, sehingga bisa di dengar oleh Adriana.
" Yuna kamu tenang ya, ibu kamu baik-baik saja kok " Kata Adriana, berusaha untuk mencoba menenangkan Yuna, yang terdengar sangat terpukul mendengar tentang berita ibu nya
" Tante tolong kirim alamat rumah sakit nya, biar Yuna ke sana " Ucap Yuna, kini suara nya terdengar bergetar, karena menahan tangisan nya agar tidak pecah
" Iya saya akan kirim " Jawab Adriana, lalu memutus kan sambungan telpon mereka, setelah itu mengirim lokasi rumah sakit dimana Ningsih dan ia berada sekarang
Yuna telah menerima pesan yang berisikan alamat rumah sakit.
Dengan tubuh yang sudah gemetar karena terus memikirkan kondisi ibu nya, Yuna berusaha mencari taksi untuk membawanya ke rumah sakit dimana ibunya berada
__ADS_1
Karena di jam-jam tanggung seperti ini, dimana matahari yang baru mulai terbenam, mungkin beberapa supir taksi menghentikan aktivitas mereka sesaat. Sehingga sangat jarang bahkan hampir tidak ada taksi yang lewat
Membuat Yuna semakin tidak bisa bersabar lagi. Ia pun memutuskan untuk mulai berlari mengikuti alamat yang telah di kirimkan Adriana kepada nya, tanpa menghiraukan jarak yang lumayan jauh dari posisinya sekarang
***
Setelah hampir 30 menit Yuna berlari. Akhirnya ia telah sampai di depan rumah sakit yang di mana di dalam nya ada ibu nya.
Untung lah Adriana mengirim alamat beserta nomer ruangan ibu nya, membuat Yuna tidak kesusahan untuk mencari ruangan ibu nya. Yuna pun segera mencari ruangan bernomer 203 itu.
Setelah menemukan ruangan nya, Yuna pun lalu mengetuk pintu ruangan itu. Dan tidak lama pintu ruangan itu pun terbuka
" Yuna " Ucap Adriana
" Iy....a...saya.. Yuna Tante " Jawab Yuna, dengan terbata-bata beserta kakinya yang nampak bergetar, akibat berlari terlalu lama
Melihat kondisi Yuna yang sangat memperihatinkan. Bajunya yang basahan akibat keringat, ditambah rambutnya yang berantakan, membuat Adriana menatap Yuna iba.
" Ayo masuk " Suruh Adriana.
Yuna pun masuk kedalam ruangan itu. setelah ia masuk ia pun melihat ibu nya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Yuna pun segera menghampiri ibu nya
" Ibu ini Yuna bu " Ucap Yuna, lalu menggenggam tangan ibu nya
Yuna mengerutkan alisnya saat tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari ibu nya, bahkan Ningsih nampak sama sekali tidak merespon nya
" Tante. Ibu kenapa tidak sadar " Tanya Yuna, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
" Yuna. Kamu duduk dulu ya, nanti saya ceritain kondisi ibu kamu " Ujar Adriana, sambil mengelus lengan Yuna dengan lembut
Adriana pun lalu mengarahkan tubuh Yuna untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, lalu ia menuangkan segelas air putih, kemudian memberikan nya kepada Yuna.
__ADS_1
Dalam sekejap segelas air putih itu ludes di minum oleh Yuna, karena memang ia sangat haus, setelah lari maraton dadakan tadi
" Kamu kenapa bisa berantakan begini, memangnya kamu naik apa " Ucap Adriana, lalu merapikan rambut hitam panjang milik Yuna