
Yuna menghembuskan nafas nya kasar. Seolah tidak ada satu pun keputusan yang tepat untuk ia ambil.
Semakin ia pikirkan, malah semakin membuat masalah nya berbelit-belit.
***
Karena malam yang sudah semakin larut, Yuna pun memutuskan untuk kembali masuk kedalam ruangan ibu nya, lalu mulai merebahkan diri nya di sofa.
Yuna memiringkan badan nya agar lebih mudah untuk melihat ibu nya yang sudah terlelap. Melihat wajah yang selalu memberikan kehangatan baginya, seolah membuat hati Yuna yang tadi sudah hampir menyerah dengan keadaan, seakan mememberikan nya seribu alasan agar tidak menyerah, selama ia masih bisa berjuang
" Yuna janji, Yuna akan terus berjuang demi ibu " Gumam Yuna sambil tersenyum kearah sang ibu yang sudah terlelap.
Tidak lama setelah mengatakan itu Yuna pun terlelap dalam tidur nya, dengan memikul banyak sekali beban, berharap setelah ia bangun besok pagi ia akan mendapatkan jawaban dari masalah-masalah yang ia hadapi.
***
3 hari berlalu~~~
Sudah 3 hari Yuna berada di rumah sakit menemani setiap proses pengobatan yang dilalui oleh Ningsih, dan sudah 3 hari pula ia memikirkan dengan secara matang mengenai pemikiran nya waktu itu, yaitu menggantikan ibu nya bekerja di kediaman mahendra, demi mencicil biaya pengobatan ibu nya, yang dibayar oleh keluarga majikan ibu nya itu
Dan sekarang mungkin sudah saat nya ia mengutarakan isi kepala nya kepada sang ibu, karena setelah 3 hari berlalu kondisi kesehatan Ningsih sudah mengalami peningkatan yang sangat signifikan
" Bu. Sebenarnya selama 3 hari ini Yuna sudah memikirkan cara agar kita tidak terus berhutang kepada keluarga tante Adriana " Ucap Yuna, sambil menyuapi makan siang untuk sang ibu
Ningsih mengerutkan alisnya mendengar apa yang putri nya itu katakan.
" Yuna akan menggantikan ibu bekerja di rumah itu. Dan gajih nya buat mencicil utang biaya pengobatan ibu, sama mereka "
Ningsih meneteskan air mata nya setelah mendengar apa yang Yuna katakan. Ia memang tidak ingin terus berutang kepada keluarga majikan nya itu, tapi bukan cara seperti yang dipikirkan Yuna, yang diinginkan oleh Ningsih
" Apa kamu tidak malu bekerja sebagai pelayan, kamu masih muda dan tidak ada laki-laki di jaman sekarang mau menerima perempuan yang pekerjaan nya menjadi pelayan " Ucap Ningsih dengan deraian air mata nya
__ADS_1
Masih teringat jelas di benak Ningsih, bagaimana keras nya Yuna menangis waktu kecil, di saat dia dibully oleh teman-teman sekolah nya, karena memiliki ibu yang bekerja sebagai pembantu
Dan yang paling tidak pernah terpikirkan oleh nya adalah, Yuna putri satu-satunya menjadi seorang pelayanan, demi dirinya yang sekarang sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi.
" Bu. buat apa Yuna malu, lagi pula Yuna kan nggak mencuri " Jawab Yuna, sambil menggenggam tangan ibu nya
" Dan lagi pula masalah ada atau tidak nya laki-laki yang mau menerima, Yuna nggak perduli karena satu-satunya tujuan Yuna sekarang adalah bisa melihat ibu kembali sembuh " Sambung nya
" Ibu tidak mengizinkan kamu melakukan itu. lebih baik pulang kan saja ibu dari rumah sakit " Ucap Ningsih
Mendengar itu Yuna langsung bangkit dari duduk nya, lalu menatap kedua bola mata ibu nya dengan lekat.
" Yuna nggak suka dengar ibu ngomong begitu. keputusan Yuna sudah bulat, kalau ibu nggak suka lihat Yuna kerja sebagai pelayan, maka nya ibu harus cepat sembuh, kalau ibu sudah sembuh Yuna akan berhenti jadi pelayan, dan akan cari pekerjaan yang lain " Ucap Yuna dengan penuh keyakinan
Seketika ruangan menjadi hening setelah kata-kata terakhir Yuna tadi.
Ningsih tahu kalau tidak ada maksud yuna untuk menyakiti perasaan nya di saat ia mengatakan itu, malahan Yuna mengatakan itu untuk semakin membakar api semangat nya agar bisa cepat sembuh
lagi pula semua itu juga dia lakukan demi dirinya, kalau ia terus menghalang-halangi sama saja ia tidak menghargai perjuangan yang dilakukan oleh sang putri demi dirinya
Ningsih membuang nafas nya panjang, sambil terus mengarahkan pandangan nya kearah sang putri.
" Kalau memang itu keputusan kamu ibu bisa apa, lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu di cafe " Ucap Ningsih
Yuna pun tersenyum akhirnya ibu nya menyetujui nya walau pun ia tahu pasti karena terpaksa, akan tetapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
" Yuna akan mengundurkan diri, nanti Yuna akan minta tolong sama Ayu untuk mengurusnya " Jawab Yuna.
***
Tepat hari ini Arel sudah resmi sebagai CEO menggantikan sang ayah, yang sudah menyerahkan kekuasaan nya kepada nya.
__ADS_1
Ferdinan tidak akan memberikan sedikit pun kesempatan untuk orang lain merebut posisi itu. maka nya setelah Arel pulang dari pendidikan nya, ia langsung mengalihkan kekuasaan itu kepada putra tinggal nya
" Sebentar lagi orang nya akan datang " Ucap Ferdinan, kepada Arel setelah kini mereka sudah berada di ruangan kekuasaan yang sekarang sudah menjadi milik Arel
Tidak ada perasaan senang sama sekali yang dirasakan oleh arel seperti yang orang lain pikirkan, yang ada hanya beban yang sekarang berat yang harus ia pikul
namun apa pun pendapat yang ia utarakan tidak akan mempengaruhi apa pun yang sudah menjadi keputusan sang ayah, yang dapat dia lakukan sekarang lagi-lagi hanya bisa menerima dengan lapang dada
Dan terus berjuang agar tidak mengecewakan kedua orang tua dan keluarga besar nya.
Tokkk...Tokkk suara ketukan pintu terdengar.
Ferdinan bangkit lalu membuka pintu tersebut.
" Selamat siang tuan " Ucap seorang laki-laki yang tadi mengetuk pintu. Ia pun membungkuk kan sedikit badan nya memberi hormat kepada Ferdinan
" Silahkan masuk " Ucap Ferdinan.
Dengan hormat namun penuh dengan wibawa, laki-laki yang kira-kira seusia dengan Arel itu pun masuk kedalam ruangan setelah di perintahkan oleh Ferdinan
" El...Mulai sekarang dia akan menjadi asisten pribadi sekaligus bodyguard kamu " Ucap Ferdinan
Arel bangkit dari duduk nya, lalu mengulurkan tangan nya, yang tentu saja langsung disambut dengan sopan oleh laki-laki yang ke depan nya akan menjadi asisten nya itu
" Arel " Ucap nya memperkenalkan dirinya
" Davin " Jawab laki-laki yang diketahui bernama Davin itu
Setelah itu Ferdinan pun menyuruh Davin untuk duduk dan meminta bawahan nya untuk menyuguhkan air untuk Davin.
" El. Kamu tahu kan Papah tidak akan sembarangan memilihkan orang untuk berada di samping kamu. Dia adalah anak Andika tangan kanan kepercayaan Papah selama ini " Ucap nya
__ADS_1
" Dan saya harap Davin bisa mengikuti langkah ayah nya. Dan untuk masalah kemampuan kamu tidak usah ragu lagi El " Sambung nya