
" Aduh Yuna. Aku tau cowok itu ganteng, tapi kan kamu tau dia udah punya pacar " Ucap Ayu.
" Nggak....nggak bukan begitu maksud nya " Bantah Yuna
***
" Aku juga tidak tahu, saat aku pertama kali melihat laki-laki itu, aku merasa tidak asing. Dan aku tidak ada maksud apa-apa " Ujar Yuna, berusaha menjelaskan mengapa ia tadi terus menatap laki-laki itu
Ayu membuang nafasnya pelan saat melihat sahabatnya itu nampak sedih, mungkin karena tadi dia dilabrak perempuan asing yang salah paham kepadanya. Dan tentu saja itu membuat Yuna menjadi malu, karena di dalam ruangan itu masih ada beberapa orang yang belum keluar, dan melihat kejadian itu
Ayu lalu memindah posisi duduk nya ke samping Yuna, kemudian mengelus lengan sahabat nya itu.
" Iya aku percaya. Mungkin kamu pernah ketemu sama laki-laki itu di suatu tempat, tapi mungkin kamu udah lupa " Kata Ayu.
Yuna mengangguk kan kepalanya sambil melirik kearah sahabatnya. mungkin apa yang Ayu katakan benar.
Karena malam yang sudah semakin larut, Ayu dan Yuna pun bergegas untuk segera pulang, karena besok mereka harus kembali bangun pagi, untuk bekerja.
***
Pukul 06:00 pagi~~~
Alarm milik Ningsih berbunyi, pertanda kalau ia harus segera bangun untuk memulai pekerjaan nya.
Namun saat ia ingin bangkit Ningsih merasakan teramat sakit di kepalanya, ia pun memegangi kepalanya dan tetap memaksakan dirinya untuk bisa bangkit
Dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di wajahnya, Ningsih terus memaksa kan diri untuk bisa bekerja. Karena ia harus memasakkan sarapan untuk majikan nya
Ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawab nya begitu saja.
" Bu Ningsih, ibu kenapa " Tanya Wati salah satu pelayan yang usianya masih muda.
Saat ia melewati dapur ia melihat Ningsih dengan kaki yang gemetar namun terlihat tetap memaksakan dirinya
" Saya tidak apa-apa, cuman sedikit pusing " Jawab Ningsih, bahkan kini suaranya pun terdengar lemas
Tentu saja itu membuat Wati menjadi sangat khawatir, melihat dari kondisi tubuh Ningsih sekarang ia yakin apa yang dirasakan oleh Ningsih bukan lah hanya sakit kepala biasa seperti yang dia ucapkan
__ADS_1
" Bu. Sebaiknya ibu istirahat saja, nanti kalau tetap ibu paksain malah akan semakin parah " Ucap Wati, sambil menahan tubuh Ningsih yang nampak mulai bergetar
Dengan cepat Ningsih menggeleng kan kepala nya, ia nampak sangat keras Kepala dengan kondisi nya yang sekarang, yang sangat tidak memungkinkan untuk dia melanjutkan pekerjaan nya
" Bu, Wati ngerti, tapikan sekarang ibu lagi sakit. Ibu istirahat saja biar Wati yang lanjutin buat masak nya ya " Ucap Wati lagi.
Sebenarnya Ningsih sangat ingin menolak, hanya saja sakit kepala yang sekarang dia rasakan sudah sangat tidak tertahankan lagi. Akhirnya membuat dia menyerah dan pergi kembali ke kamarnya untuk beristirahat, berharap semoga sakit kepala bisa secepatnya sembuh.
Lalu menyerah kan kepada Wati untuk melanjutkan memasak sarapan untuk majikan mereka.
***
" Ningsih di mana " Tanya Adriana, saat kini ia Arel dan sang suami memulai sarapan mereka
Karena biasanya Ningsih lah yang selalu menyiapkan sarapan mereka, dan melayani saat mereka makan. Namun kini ia sama sekali tidak melihat keberadaan Ningsih
" Maaf nyonya saya sudah lancang, tadi saya suruh bu Ningsih untuk istirahat, karena saya tidak tega melihat bu Ningsih kesakitan " Jawab Wati dengan sopan.
" Sakit....Memangnya dia sakit apa " Tanya Adriana kembali, kali ini wajahnya mulai terlihat khawatir
" Tadi bu Ningsih bilang dia sakit kepala nyonya "
Ya. Ferdinan dan Adriana mengetahui kalau Ningsih memiliki tekanan darah tinggi, yang beberapa kali pernah kambuh saat dia bekerja.
Bahkan dia pernah beberapa waktu lalu pingsan, karena terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja. Dan saat diperiksa ke rumah sakit, dokter mengatakan kalau Ningsih memiliki tekanan darah tinggi, apa bila dia tidak menjaga makanan yang dia konsumsi maka bisa saja tekanan darah nya naik
Lalu mengakibatkan kepalanya sakit.
" Mungkin Mas " Jawab Adriana.
" Coba kamu sekarang periksa kondisi Bi Ningsih " Kata Arel
Walau pun ia tidak mengetahui apa-apa, tapi ia juga ikut khawatir, bagaimana pun Ningsih dulu pernah merawat nya waktu kecil, yang menggantikan sosok ibu nya, yang dulu selalu sibuk dengan pekerjaan
Dan saat mendengar Ningsih sakit, ia pun menjadi khawatir.
Wati pun bergegas menuju kamar Ningsih untuk memeriksa kondisinya sekarang.
__ADS_1
Saat Wati mengetuk pintu kamar Ningsih, Wati mengerutkan alisnya karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Ningsih
Karena takut telah terjadi sesuatu, Wati memutuskan untuk langsung masuk, dan untung lah Ningsih tidak mengunci pintu kamar nya.
" Ya ampun Bu Ningsih " Teriak Wati, lalu segera menghampiri Ningsih yang sudah tergeletak di lantai.
Wati lalu berlari menuju meja makan, lalu memberitahu kan tentang kondisi Ningsih, yang sekarang telah pingsan.
" Aku siapin mobil nya ya Mah " Ucap Arel.
Ferdinan dan Adriana segera menyusul Ningsih ke kamarnya, sedangkan Arel pergi menyiapkan mobil untuk membawa Ningsih ke rumah sakit.
***
Kini Adriana dan Arel yang mengantarkan Ningsih ke rumah sakit, di panggil keruangan dokter untuk membicarakan kondisi Ningsih setelah di tangani.
Sedangkan Ferdinan tidak ikut ke rumah sakit, karena ia harus segera berangkat ke kantor.
" Bagaimana dok kondisi Ningsih " Tanya Adriana, sesaat setelah ia di persilahkan untuk duduk
" Saya meminta maaf karena harus mengatakan ini, akan tetapi saya harus jujur mengenai kondisi pasien sekarang " Jawab Dokter laki-laki itu
Mendengar itu Adriana dan Arel semakin tidak karuan, apakah kondisi Ningsih sekarang baik-baik saja atau kritis.
" Sekarang pasien terkena stroke " Ucap dokter, raut wajah nya kini berubah menjadi ikut sedih.
" Apa stroke dok " Ucap Adriana, mencoba kembali memastikan apa yang barusan dia dengar.
Dokter itu pun hanya bisa mengangguk kan kepalanya pelan.
" Tingginya tekanan darah atau hipertensi yang dialami pasien, menyebabkan pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen pecah, sehingga menyebabkan pasien terkena stroke " Ucap Dokter, mencoba menjelaskan mengapa Ningsih bisa tiba-tiba terkena stroke, padahal sebelum nya ia terlihat baik-baik saja
***
Setelah keluar dari ruangan dokter, dan setelah mengetahui kondisi Ningsih sekarang, membuat Adriana tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang menimpa Ningsih sekarang
Andai ia lebih memperhatikan dan selalu menjaga apa yang dikonsumsi oleh Ningsih, agar tidak memicu tekanan darah nya naik, maka ini semua tidak akan terjadi. Itu lah yang terus memenuhi isi kepala nya.
__ADS_1
" Mah jangan menyalahkan diri Mamah ya. Sebaiknya sekarang Mamah fokus untuk pengobatan Bi Ningsih, lagi pula kan penyakit stroke masih bisa di sembuh kan " Kata Arel, yang mencoba memberikan semangat kepada ibu nya yang nampak murung, sejak keluar dari ruangan dokter tadi