
Dalam sekejap segelas air putih itu ludes di minum oleh Yuna, karena memang ia sangat haus, setelah lari maraton dadakan tadi
" Kamu kenapa bisa berantakan begini, memangnya kamu naik apa " Ucap Adriana, lalu merapikan rambut hitam panjang milik Yuna
***
Walau pun merasa sedikit tidak nyaman karena Adriana menyentuh rambutnya, namun Yuna tidak menolak nya.
" Saya kesini sambil lari tante " Jawab Yuna, lalu meletakkan gelas yang ada ditangan nya ke meja
Adriana membulatkan matanya sempurna, mendengar jawaban Yuna kalau dia berlari untuk menuju rumah sakit. Pantas saja sekarang baju nya basah karena keringat, dan rambutnya pun berantakan
" Kenapa nggak pesan taksi saja, atau minta tolong sama orang, untuk nganterin kamu kesini " Ucap Adriana
" Tadi taksi nya nggak ada yang lewat tante, jadi saya lari saja kesini " Jawab Yuna, sambil tersenyum malu.
Mendengar jawaban polos dari Yuna di iringi oleh senyum manis nya ditambah dengan gigi kelincinya yang sedikit terlihat, membuat Adriana teringat akan Yuna waktu kecil.
Ia terakhir bertemu dengan Yuna 6 tahun yang lalu, dimana pada saat itu Yuna baru beranjak remaja. Tapi kini ia sudah berubah menjadi wanita yang dewasa, namun kepribadiannya tidak berubah sama sekali
" Kamu pasti capek ya " Ucap Adriana secara tiba-tiba.
" Nggak kok tante " Jawab Yuna, tentu saja dia berbohong.
padahal dia hampir saja ingin pingsan saat ditengah-tengah perjalan, namun dengan membayangkan wajah ibu nya, membuat Yuna seakan mendapatkan energinya kembali.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, yang sontak membuat Adriana dan Yuna menoleh kearah pintu secara bersamaan
Tidak lama setelah itu masuk lah seorang laki-laki berbadan tinggi mengenakan baju kemeja kantor sambil membawa bungkus makanan ditangan kanan nya.
Yuna melotot kan matanya laki-laki yang saat itu ia temui, di saat ia pergi ke bioskop bersama dengan Ayu pada malam itu, dimana saat Yuna melihat laki-laki itu ia merasa tidak asing.
" Yuna. Kamu masih ingat tidak dia siapa " Tanya Adriana, yang memecah lamunan Yuna
__ADS_1
Adriana mengarahkan telunjuknya kepada laki-laki muda yang baru saja masuk itu.
Yuna menjadi semakin salah tingkah, ia bingung harus memberikan jawaban seperti apa, Ia masih belum terlalu yakin kalau laki-laki yang baru masuk itu adalah Arel yaitu teman masa kecil nya. Walau pun hati kecil nya berbicara kalau laki-laki di depan nya itu memang benar Arel
Namun Yuna lebih memilih jalan aman, ia pun menggeleng kan kepala nya sambil menundukkan pandangan nya.
" Ternyata kamu sudah lupa ya. Dia El anak tante, kalian berdua dulu selalu main bersama " Kata Adriana.
' Ternyata dia Yuna. Aku harus minta maaf, karena malam itu jasmine sudah salah paham sama dia ' Batin Arel
Arel juga sama terkejut nya, saat melihat perempuan yang pada malam itu sempat dilabrak oleh kekasihnya yaitu jasmine, ternyata dia adalah Yuna teman masa kecil nya.
Arel lalu memberikan makanan yang tadi dia bawa untuk makan malam ibu nya, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di seberang posisi Yuna
Mata nya terus menatap Yuna dari mulai ujung kaki sampai dengan ujung kepala, entah apa yang dipikirkan nya.
Membuat Yuna semakin tidak nyaman, dia pun terus menundukkan kepala nya.
Yuna menggenggam tangan Adriana lalu menatap mata nya dengan lekat. Membuat Adriana kaget dibuat nya
" Tante belum cerita, bagaimana kondisi ibu sekarang, kenapa ibu tidak sadar " Tanya Yuna, dengan tatapan matanya yang sedih
Adriana menelan saliva nya, lalu melirik kearah putra nya yang duduk di depan nya.
Entah mengapa ia menjadi sangat takut jika harus memberitahu kan Yuna mengenai kondisi Ningsih yang sebenarnya, namun dia juga tidak bisa kalau harus merahasiakan nya
Sehingga membuatnya mau tidak mau harus menceritakan nya kepada Yuna, apa pun nanti akibat nya. Entah itu Yuna menyalahkan nya akibat kelalaian nya menjaga Ningsih, itu lah yang mungkin ditakutkan oleh Adriana.
" Sebenarnya....Ibu kamu terkena stroke " Ucap Adriana.
Lagi-lagi jantung nya bagaikan ingin meledak saat mendengar kalau ibu nya terkena stroke. Bahkan kini tatapan nya menjadi buram, dan badan nya pun menjadi lemas
Air matanya sudah tidak dapat lagi dia bendung, sehingga tangisan nya pun pecah di depan Adriana dan Arel, yang tentu saja sangat tidak diinginkan oleh Yuna itu terjadi.
__ADS_1
Dengan cepat Adriana langsung menarik tubuh Yuna untuk masuk kedalam dekapan nya, membuat Yuna menangis di dalam pelukan nya.
Arel yang melihat Yuna menangis di depan mata nya itu, membuat ia sangat ingin rasanya memeluk tubuh kurus Yuna, memberikan dia kehangatan sekaligus kekuatan
Seperti yang sering dia lakukan saat kecil dulu. Dimana saat Yuna tengah menangis, maka dia akan langsung memeluk nya, lalu membiarkan Yuna menangis sampai dia puas, lalu berhenti dengan sendirinya.
Namun arel sadar kalau itu dulu, sekarang tidak bisa dia lakukan lagi, karena mereka sudah sama-sama berubah menjadi laki-laki dan wanita dewasa
Yang mana tidak mungkin sebuah pelukan terjadi, kalau tidak ada hubungan yang terjalin di dalam nya.
" Yuna. Ibu kamu masih bisa sembuh kok " Ucap Adriana, sambil menyeka air mata Yuna yang sudah membasahi pipi nya.
" Apa itu benar tante " Jawab Yuna sambil tersedu-sedu
" Iya. Tante janji akan terus berusaha untuk memberikan pengobatan terbaik untuk ibu kamu, dan menjamin semua biaya pengobatan nya, agar bisa kembali sembuh, dan bisa kembali seperti semula " Kata Adriana, tatapan matanya sangat terlihat kalau dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya
Membuat Yuna tergerak hatinya, untuk mempercayai kata-kata Adriana kalau ibu nya akan sembuh.
Karena dia sadar kalau dia hanya terus menangis, maka itu tidak akan menyelesaikan apa-apa.
Yang harusnya dia lakukan sekarang adalah tetap kuat demi ibu nya, dan selalu memberikan semangat agar ibu nya berjuang untuk sembuh
" Terima kasih tante " Ucap Yuna, setelah ia selesai dari pergulatan batin nya sendiri
Yuna dengan tiba-tiba memeluk tubuh Adriana. Sesosok perempuan yang sangat berarti di hidup nya, bukan hanya selalu baik kepada nya waktu dia kecil, namun kebaikan nya terus berlanjut sampai sekarang
Dengan senang hati Adriana membalas peluk kan dari Yuna.
Karena dari dulu sebenarnya dia sudah menganggap Yuna seperti Putri nya sendiri, dulu dia sangat ingin mempunyai anak perempuan, namun sesaat setelah melahirkan arel, rahimnya harus diangkat karena kangker yang dia derita.
Namun setelah masuk nya Yuna kekediaman keluarga Mahendra, sedikit mengobati luka hati Adriana. Yang membuat dia bisa merasakan mempunyai anak perempuan
Walau pun tidak pernah dia cerita kan kepada siapa pun tentang isi hatinya.
__ADS_1