Di Nikahi Ceo Tampan

Di Nikahi Ceo Tampan
Eps11_Menggantikan ibu bekerja


__ADS_3

" Bu. Ibu harus yakin kalau ibu akan sembuh, Yuna akan terus menemani ibu disini, jadi ibu juga harus semangat " Ucap Yuna. Ditengah-tengah ia menyuapi Ningsih


***


" Ibu tidak yakin kalau akan sembuh " Sahut Ningsih, dengan suara nya yang masih terdengar lemas.


Mendengar itu Yuna langsung berhenti menyuapi ibu nya, lalu menatap wajah ibu nya yang memang terlihat sangat putus asa


Seumur hidup ini pertama kalinya bagi Yuna, melihat sisi lemah sang Ibu. Sosok perempuan yang setiap hari terlihat kuat, seakan tidak ada beban yang ia pikul. Namun kini ia menunjukkan sisi putus asa nya


" Ibu masih ingat kan, dulu ibu pernah bilang, kalau ibu bisa bertahan sampai sekarang itu karena Yuna. Jadi Yuna mohon ibu harus kuat dan berjuang untuk sembuh, demi Yuna " Ucap Yuna. Kini kedua bola matanya sudah berkaca-kaca


" Yuna nggak mau kalau harus kehilangan ibu, cukup ayah yang pergi ninggalin Yuna " Sambung nya.


Setelah mengatakan itu, Yuna langsung memeluk tubuh ibu nya sambil menumpahkan air matanya, yang sudah tidak bisa lagi ia bendung


Ini pertama kalinya ia mengungkit mendiang ayah nya di depan Ningsih, karena biasanya di saat ia merindukan sosok seorang ayah, maka yang Yuna lakukan hanya memandangi foto ayah nya sambil menangis


Karena dia takut kalau mengungkit mengenai ayah nya di depan sang ibu, maka hanya akan membuat Ningsih ikut bersedih. Dan Yuna pun selalu memendam nya seorang diri.


Namun kini ia sudah tidak tahan lagi. Disaat ia melihat Ningsih yang putus asa, tidak lagi mempunyai semangat berjuang untuk sembuh. Membuat apa yang dia takutkan selama ini menghantui pikiran nya


Ketakutan akan kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya, adalah hal yang paling ia takutkan sampai sekarang.


Membuat Yuna akhirnya terpaksa mengatakan itu, berharap setelah ia mengatakan itu, membangkitkan semangat ibu nya agar berjuang untuk sembuh, setidak nya demi dirinya. Yang sekarang hanya memiliki satu orang tua, dimana sosok seorang ayah sudah meninggal kan nya, di saat dia berusia 4 tahun.


Ningsih tak kuasa melihat putri semata wayang nya yang menangis sambil memeluk tubuh kaku nya, ingin sekali ia mengelus rambut hitam milik Yuna, untuk menenangkan nya. Namun apa boleh buat dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan nya, untuk menyentuh kepala sang putri

__ADS_1


" Tapi bagaimana dengan biaya rumah sakit, pasti akan sangat mahal " Ucap Ningsih.


Itu lah salah satu alasan mengapa Ningsih ingin putus asa. Jika ia terus berada di rumah sakit sampai dia sembuh yang entah sampai kapan, pasti akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan bisa saja uang yang ia tabung selama ini untuk masa depan Yuna, tidak cukup untuk membayar biaya berobat nya


" Ibu jangan memikirkan masalah itu. Tante Adriana bilang kalau mereka yang akan menjamin semua biaya pengobatan ibu, sampai sembuh " Jawab Yuna.


Ningsih terdengar membuang nafas nya berat. Lagi dan lagi ia kembali menyusahkan keluarga majikan nya, yang sudah teramat baik dengan nya selama ini.


Sudah tak terhitung kebaikan yang sudah mereka berikan. Walau pun mereka tidak pernah sama sekali mengungkit nya, namun Ningsih lah yang malah merasa keberatan jika terus menerima kebaikan dari mereka


" Kebaikan mereka yang dulu saja belum mampu ibu balas, kini ibu lagi-lagi menyusahkan mereka " Ucap Ningsih, sambil mengerutkan alisnya


Yuna seketika terdiam setelah mendengar apa yang ibu nya katakan.


Memang benar kebaikan yang dulu saja belum mampu mereka balas, kini mereka harus kembali merepotkan keluarga majikan Ningsih itu.


Namun bagi Yuna apa boleh buat, kalau hanya mengandalkan gajih nya yang tidak seberapa, pasti lah tidak akan cukup untuk membayar biaya pengobatan ibu nya nanti, yang jumlah nya pasti lah tidak akan sedikit


" Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Nanti kalau Yuna sudah punya uang, Yuna akan bayar semua biaya yang dikeluarkan majikan ibu " Ucap Yuna, mencoba meyakinkan ibu nya agar tidak perlu memikirkan masalah itu


Walau pun dia sendiri juga tidak yakin dengan apa yang ia katakan barusan.


Ningsih menatap wajah putri nya itu dengan lekat, sangat terlihat jelas kekhawatiran yang dirasakan oleh Yuna, namun dia berusaha untuk tetap terlihat kuat


Begitulah Yuna. Dia selalu menyembunyikan perasaan nya sendirian, walau pun sebenarnya ia sangat rapuh.


" Yuna mohon ibu harus tetap kuat, Yuna tahu kalau ini berat untuk ibu jalani, tapi Yuna akan selalu menemani ibu " Ucap Yuna kembali terus memberikan Motivasi kepada Ningsih.

__ADS_1


Melihat Yuna yang terus memberikan semangat, membuat Ningsih tergerak hati nya, untuk menumbuhkan bibit-bibit semangat nya berjuang untuk sembuh.


Ningsih mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum kearah sang putri.


" Makasih Bu.... " Kata Yuna, lalu kembali memeluk tubuh sang ibu.


***


Pukul 00:00 Malam~~~


Ningsih sudah terlelap setelah diberikan obat tidur oleh dokter.


Angin malam yang bertiup dengan kencang, membuat surai-surai hitam milik Yuna berterbangan.


Kini ia tengah duduk di kursi taman rumah sakit, melamun dan bertengkar dengan pikiran nya sendiri. Sunyi nya malam seolah menambah kesunyian hati nya selama ini, yang tidak pernah ia ungkap kan kepada siapa pun


" Apa yang harus aku lakukan, agar bisa menghasilkan uang dengan cepat, aku tidak bisa terus bergantung dengan keluarga tante Adriana " Gumam Yuna dengan dirinya sendiri


Itu lah yang terus menghantui pikiran nya. Ia selalu meminta ibu nya untuk tidak perlu memikirkan masalah biaya, padahal dia sendiri pusing karena memikirkan masalah itu


" Ibu kan kerja di rumah itu dan dapat gajih, dan gajih nya jauh lebih besar dibandingkan gajih aku bekerja di cafe..... " Yuna terus bergumam


" Bagaimana kalau aku menggantikan ibu bekerja sebagai pelayan di rumah tante Adriana, dan gajih nya di pakai untuk mencicil utang biaya rumah sakit ibu " Sambung nya


Yuna terdiam sesaat setelah mengatakan apa yang ada dipikiran nya. Terus berpikir apakah keputusan yang dia buat sudah tetap, atau malah hanya akan semakin menambah beban nya saja


" Tapi bagaimana aku nggak bisa ninggalin ibu sendirian di rumah sakit. Kalau aku bekerja di cafe pun juga sama, malah kalau bekerja di cafe akan semakin susah untuk menghubungi ibu "

__ADS_1


Yuna menghembuskan nafas nya kasar. Seolah tidak ada satu pun keputusan yang tepat untuk ia ambil.


Semakin ia pikirkan, malah semakin membuat masalah nya berbelit-belit.


__ADS_2