
"Yakin, Nan, nggak mau ikut ekskul? Gue pastin, masa muda lu akan berakhir dengan sia-sia!" cecar Renji seraya berjalan memutari meja. Setelah duduk di sebelah kanan Nan, dia tumpukan kedua telapak tangan di bawah dagu.
Aroma kertas lusuh dan baru menusuk tajam rongga pernapasan, tidak ada sahutan selama lima menit selain lembar kertas yang dibalik Nan. Bangku persegi panjang itu hanya diisi oleh dia dan Renji.
"Bodo amat! Lebih ba—" Belum selesai Nan dengan kalimatnya.
Renji menyambar, "Ayolah, Nan, jangan bersembunyi di balik semboyan itu lagi!" Lalu, menjeda kalimatnya sejanak.
"Dan, elu pun enggak tahu detail kejadiannya seperti apa? Bersikaplah normal, tunjukin ke mama lu, insiden itu enggak akan terulang kembali. Toh, lu udah segede ini. Gue yakin sebelum melakukan hal buruk, itu orang akan lari terbirit-birit lihat tampang lu. Jadi gimana?"
Seraya menoleh lekat ke arah sang teman, Renji memainkan alis tipis kecokelatannya, sabar menunggu tanggapan.
Helaan napas berat terdengar, Nan menutup buku tanpa menghilangkan halaman terakhir yang telah dibaca dengan menyelipkan jempol di antara lembaran itu. Dia sedikit memiringkan kepala saat menoleh ke arah Renji, menatap tajam hingga sang teman mengusap tengkuk sambil berdehem.
"Ya, dan Mama hampir celaka karena keegoisan gue!" Nan mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan napas, tanpa ekspresi selayak foto kartu pelajara. Setelahnya tidak ada percakapan, dia kembali menekuni buku.
Masa sekolah adalah masa paling indah, begitulah kata sebagian besar remaja. Rupanya tidak semua berpikir demikian. Nan salah satunya. Ya, dia tidak berminat menghabiskan masa sekolah dengan main-main saja. Apalagi mengukir kisah romantis. Tentu, hidup seperti itu terasa membosankan.
Empat bulan menjadi murid SMA, dilalui seperti murid-murid pada umumnya. Mereka sudah saling mengenal dan mendaftarkan diri untuk mengikuti ekstrakurikuler. Termasuk Renji, memilih bergabung dalam tim basket. Nan bagaimana? Apakah sama?
Oh, jelas tidak. Mengikuti ekstrakurikuler tidak ada dalam daftar hidupnya. Nonsens! Itu sama saja dengan membuang-buang energi, begitu pikirnya saat ini. Cukup belajar dengan baik dan benar, hidup terasa lebih imbang.
"Lu, gak latihan?" tanya Nan di sela-sela aktivitas membacanya untuk mencairkan suasana yang kaku.
"Enggak."
Tanpa disangka, sebuah buku mendarat tepat di kepala Renji. Seketika itu pula matanya memejam sebentar dengan tangan mengusap belakang kepala yang berdenyut, lalu menoleh ke belakang untuk mengetahui si pelempar.
"Kalian kalau mau ngobrol di luar!" sergah staf perpustakaan.
__ADS_1
Awalnya ingin mengumpat, tetapi Renji justru tergemap mendapat tatapan tajam sang staf, dia pun meninggalkan Nan sendirian sambil mengendap-endap.
Tidak berselang lama bel berbunyi, para murid yang ada di ruangan penuh buku itu meninggalkan tempat. Sebagian terlihat mengeluarkan kartu untuk meminjam buku yang belum rampung dibaca.
...***...
Ruang kelas 10-1 tidak gaduh, suara keras pria berkacamata dengan kumis tebal lebih mendominasi. Nan menatap suasana di luar kelas, dadanya mengembang sebentar lantas mengempis. Merasakan kesejukan angin yang berembus melalui jendela. Daun kering terlihat terbang mengikuti arus angin.
Saat netra menatap ke lapangan, Nan melihat seorang guru mengawasi salah satu murid. Kedua tangan gadis itu berada di belakang kepala sambil berjongkok lalu melompat begitu seterusnya.
"Yang di pojok!" Suara bariton menggema memenuhi ruangan, Pak Pryan menunjuk seseorang. Akan tetapi, murid yang dimaksud tidak mengindahkan sama sekali. Dia tampak asyik dengan dunianya sendiri.
"Stt, woi! Nan!" Salah seorang teman memanggil dan memberi isyarat mata, seperti menjelaskan mengapa memanggilnya.
"Ya!" Kala mengikuti interupsi sang teman, keraguan menyelimuti hati Nan.
"Sepertinya gadis itu lebih menarik daripada materi yang sedang saya terangkan!" Jelas saja, ucapan Pak Pryan mengundang gelak tawa. Sambil melipat tangan di depan dada, beliau menjauhi jendela dan berdiri kembali di depan papan tulis. Guru itu sedari tadi mengamati kesibukan Nan di tengah-tengah jam pelajaran.
"AC kurang dingin, Nan?" ledek seorang teman.
Mendengar gurauan itu, Nan segera menaruh buku di atas meja kemudian membalik-baliknya. Sikap dingingnya takmampu mendinginkan hawa panas yang dirasa. Grogi mulai menggerogoti diri hingga udara sekitar seakan-akan ikut habis.
Beberapa teman di dekat jendela tidak segan mencari tahu, demi menghilangkan rasa penasaran, gadis mana yang menyita perhatian Nan.
"Waah, lumayan tu, Nan. Sikat, Bos!!"
Bak pasar pindah, celetukan itu menambah riuh suasana, mereka tidak peduli dengan perubahan warna pada daun telinga Nan.
"Sudah. Sudah. Jangan ribut!" Mendengar seruan sang guru para murid langsung diam dan mencatat materi yang tertulis di papan.
__ADS_1
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Dentang bel sekolah berbunyi beberapa kali, penanda kegiatan belajar-mengajar telah usai. Seluruh murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Saat berjalan melewati koridor terbuka, Renji berbicara panjang lebar, banyak hal yang menurutnya perlu dibahas. Karena Nan tidak mengikuti ekstrakurikuler sama sekali. Entah itu basket, taekwondo, atau seni teater. Yah, tidak dipungkiri. Renji tahu betul gimana Nan sejak SMP.
"Nan, lo pasti bakalan nyesel, deh, gak ikut ekskul satu pun!" Renji menegaskan kembali pernyataan saat di perpustakaan.
"Enggak akan!"
Setiap kali Renji mengatakan demikian, Nan selalu merespon seperti itu. Memang sejauh ini tidak ada kata menyesal dalam hidupnya.
"Yeah, i see," gumam Renji.
Renji sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebab, temannya tergolong manusia langka. Seolah-olah mengisolasi diri dari ranah pergaulan. Bukan tanpa sebab, kalau ada asap tentu ada api, begitulah istilahnya, karena dulu perah mengalami insiden penculikan anak di bawah umur. Yah, itu cukup dijadikan dasar kedua orangtuanya membuat batasan. Meski sekarang tidak seketat dulu.
Daripada tidak ada bahan obrolan, Renji bertanya kepada Nan perihal gadis di lapangan.
"Lu tahu cewek tadi siapa?"
"Cewek?" Yang semula menatap lurus, Nan kini menoleh ke arah Renji. Kedua alis tebalnya berkerut hampir-hampir menyatu.
"Aih! Yang mengambil alih kesadaran lu di kelas, Bambaaang!!!"
"Bual tanpa dasar!" timpal Nan.
Kaki jenjang berbalut celana abu-abu Nan berhenti, kemudian menatap langit hitam yang meneteskan cairan jernih tidak berbau akibat proses pendinginan udara. Terlihat genangan di mana-mana, angin berembus kencang hingga menggoyang ranting pepohonan.
"Masih gak ngaku?" Renji bersandar pada tiang persegi, lantas mengulurkan tangan di bawah hujan.
"Wajahnya aja gue udah lupa!" Menolak mentah-mentah fakta yang ada, sementara segar dalam ingatan paras ayu serupa candu. Gadis itu sungguh menawan hingga dunia Nan teralihkan.
__ADS_1
Dengan berkacak pinggang Renji berbicara, "Nih, gue kasih tau. Dia, Fer--"