
Kegiatan di sekolah berjalan dengan semestinya. Dentang bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar dari kelas.
"Nan, kantin yuk!" Renji mengajak Nan untuk pergi bersama.
"Boleh gabung nggak?" tanya Jen.
"Ya, ayo! Nggak perlu gendong juga!" pungkas Renji.
Di antara kedua pemuda itu Renji-lah yang paling mudah bergaul, sifat humorisnya banyak disukai teman seangkatan. Kini, teman nongkrong di kantinnya bertambah, ada Jen yang selalu ada di antara mereka.
Keberadaan Jen cukup memancing perhatian beberapa pasang mata ketika tanpa sengaja berpapasan, terutama murid laki-laki. Karena dia sejak awal berbeda, rambut panjang sebatas siku berwarna pirang alami, mata lebar seperti bola pingpong, hidung mancung bak paruh burung. Seperti awal-awal jadi murid baru, Jen selalu jadi idola. Namun, itu tidak berlaku terhadap Nan—si hemat energi. Jen sedikit heran, sebelum ini tidak ada seorang pun mampu mengabaikannya. Sesuatu yang langka dalam perjalanan hidupnya.
Angin yang bertiup kencang membawa aroma permen karet dan bersamaan dengan itu pula seseorang menabrak Nan.
"Sorry," ucapnya lantas berlalu begitu saja.
Sekilas Nan menoleh ke belakang. Dahinya mengerut sebab teringat sesuatu, gadis pembawa malapetaka, tetapi dalam diam dia rindukan. Itu yang ada di benaknya akhir-akhir ini dan terdengar gila.
Nan menggeleng singkat sambil menggaruk sisi hidung. Lalu, mencebikkan bibir hingga kedua sudutnya turun sebentar. Dia tidak ingin terlalu larut ke dalam perasaan yang menghasilkan imajinasi sesat.
Ketika hendak melanjutkan langkah, ujung sepatu Nan seperti menendang sesuatu.
"Kayaknya punya dia, deh. Hobi banget itu cewek lari-lari udah kayak film India aja," gerutu Renji sambil memungut buku itu lantas menatap kedua temannya secara bergantian, yang hanya ditanggapi dengan kedikkan bahu tanpa berkomentar kemudian melanjutkan tujuan awal.
Begitu tiba, mata dan hidung disuguhi pemandangan serta bau-bau yang umum tercium di area kafetaria. Susana gaduh para murid menjadi musik tersendiri karena saling bersautan memesan makanan.
Karena tidak ingin berdesakan dengan murid lain, Nan memilih tempat di luar. Jam-jam istirahat awal memang selalu rame.
"Silakan!" Renji menarik kursi agar Jen duduk dengan nyaman.
"Terima kasih." Senyum melengkung di kedua sudut bibir Jen.
Nan melirik aktifitas kedua temannya, kemudian memilih duduk di sebelah Renji. Karibnya ini sungguh pandai memainkan emosi seorang gadis. Renji memang supel dan penuh perhatian, jago main basket pula. Banyak gadis yang jatuh cinta dan patah hati karenanya. Sudah ada empat mantan pacar di sekolah selama kurang dari satu semester, berbagai alasan digunakan untuk memutuskan hubungan.
Saat ini, Renji sedang jomlo, dia agaknya menyiapkan trik jitu untuk menggaet gadis pirang itu.
Karena perut sudah keroncongan, Nan segera memesan makanan dan kebetulan ibu kantin berada tidak terlalu jauh dari tempatnya. "Bu! Mi instan rebus pakai telor kasih tiga cabe, ya!" seru Nan.
__ADS_1
"Siap! Minumnya?" sahut ibu kantin.
"Air mineral aja."
"Jen, mau pesan apa?" tanya Renji.
"Aku diet, jadi pesen jus apel aja, deh," jawab Jen. Pantas saja postur Jen tinggi langsing kayak biola. Sebab pola makan amat dijaga.
"Oke. Bu! Jus apel satu, bakso satu, sama jeruk anget satu, ya!" seru Renji.
Sebelum pergi untuk menyiapkan pesanan ibu kantin menjawab, "Asiiap!"
Aroma masakan menyeruak, menusuk tajam pada rongga pernapasan. Perut berasa disko menunggu pesanan datang. Cuap-cuap para murid kian riuh saja.
Beberapa menit kemudian pesanan datang, Nan menyantap makanannya tanpa berbicara. Berbeda dengan Renji yang asyik berbincang dengan Jen. Nan tidak ingin terlibat obrolan keduanya.
Sesekali Jen melirik ke arah Nan, kenapa sikapnya seperti antipati banget kepadanya? Padahal pertemanan mereka sudah berjalan hampir satu semester.
Ketika berada dalam situasi seperti itu, Renji merasa tidak nyaman, merasa kehadirannya tidak berarti, ada rasa dongkol di hati. Tanpa sengaja, dia menyenggol buku yang tadi dibawanya. Sebuah kartu khusus untuk meminjam di perpustakaan mencuat dari sana.
Sambil memungut buku dan kartu itu Renji berbicara, dia melihat tanggal pengembalian buku tersebut. "Tadi yang tabrak lu, Feronika, 'kan? Duh, kalau jodoh memang enggak ke mana, setiap kali ketemu sosor-sosoran mulu," kelakar Renji.
"Seminggu yang lalu. Elu, sih, buru-buru pulang waktu itu. Padahal, kejadiannya roman—" Renji menjeda kalimatnya menyadari tatapan horor sang karib, kemudian mengubah topik. "Buku ini harus dibalikin dua hari lagi. Masih lama, nanti ajalah gue balikin."
Pilihan yang bijak! kalau sampai itu mulut banyak omong, pulang tinggal nama lu, Ren! gumam Nan dalam hati.
Mata sipit Nan kembali menekuri mangkok dan menyantap mi yang tinggal sesuap. Setelah menenggak habis air mineral, dia pun pamit meninggalkan kantin. "Gue duluan!"
"Eh, Nan! Ke perpus, kan? Sekalian lu bawa buku ini, deh. Siapa tau ketemu sama dia."
"Tadikan lu yang mau balikin, kenapa jadi gue?"
"Udahlah sekalian temu kangen," kata Renji setengah berbisik, takut kena amukan Nan.
Helaan napas Nan terdengar berat sebelum menyahuti, "Okay!"
"Okay? Cie, cie, sohib gue ada kemajuan."
__ADS_1
"Sinting lu!" hardik Nan sebelum berlalu.
Jen melihat kepergian Nan dengan tatapan penuh tanya, buru-buru sekali padahal jam istirahat masih lama. Dia mengaduk-aduk jus lantas menghentakkan sendok hingga berdenting menghantam dasar gelas.
"Kenapa? Kurang manis?" tanya Renji, menyadari sikap sebal Jen.
"Manis, kok."
"Terima kasih," ucap Renji kemudian diiringi senyum lebar, kedua sudut bibir ketarik dari kuping kiri sampai kanan hingga barisan gigi putihnya terlihat.
"Hah! Kumat pedenya!" Respon spontan Jen mengetahui inti candaan Renji, diikuti tawa hingga air bening menggenangi sudut mata, pun sama dengan pemuda itu.
"Lanjuti dulu, Ren, awas tersedak!"
Senyum masih menghiasi raut wajah Jen, merasa terhibur oleh kelakuan Renji yang kerap mencairkan suasana.
"Eun, Ren. Boleh tanya sesuatu?"
"Heem." Renji mengangguk karena mulutnya baru mendapat sesuap bakso.
Begitu makanan berpindah semua ke dalam perut, Renji berbicara, "Tanya aja. Gratis buat, lu." Lalu, menyeruput es jeruk.
"Lu, kan, temenan sama Nan dari SMP. Eem, kreteria cewek dia tuh kayak gimana, sih?"
Mendengar pertanyaan Jen, es jeruk yang belum sampai ke tenggorokan tersembur, buru-buru Renji mengambil tisu.
"Lu gak apa-apa, Ren?" tanya Jen, cemas.
"Kenapa tiba-tiba ingin tahu? Lu suka Nan?" Bukannya menjawab, Renji justru memberondong gadis pirang itu dengan pertanyaan langsung ke poinnya.
"Hah! Gue suka, Nan? Ha-ha-ha." Jen tertawa canggun mendengar pertanyaan Renji yang tepat akurat.
Alis Renji berkedut, lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Dipandangi Jen lamat-lamat sampai gadis itu mengubah posisi duduknya sambil melipat lengan di dada.
"Dia pernah suka sama seorang cewek, cinta pertama. Gue rasa Nan belum bisa move on dari cewek itu. Buktinya sampai detik ini betah menjomlo," terang Renji sebelum menyeruput es jeruknya lagi. Dia mengamati perubahan pada raut wajah gadis di depannya. Susah, dirinya bukan psikolog yang bisa membaca ekspresi seseorang. Jadi, tidak tahu pasti bagaimana perasaan Jen setelah mendengar penuturan barusan.
"Lu enggak lagi bercanda, kan?"
__ADS_1
"Serius Jen! Kalau enggak percaya, ya, terserah," ucap Renji sebelum meninggalkan Jen untuk membayar pesanan mereka.
"Jen, ayo!" seru Renji yang menyadari gadis itu masih duduk termangun.